Monday, May 24, 2021

Memperkenalkan proyek prestisius: Crowd’s Blind Initiatives

 


Tono Saksono[1] (ISRN-UHAMKA, Jakarta)

Bana Handaga[2] (UMS, Surakarta)

 

Pendahuluan

Kalau di dunia artikel jurnal ada blind reviewer, maka Crowd’s Blind Initiatives adalah proyek baru ISRN yang sangat inovatif dan prestisius. Bekerjasama dengan Fakultas Komunikasi dan Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Secara singkat, ISRN-UHAMKA dan UMS akan mempublikasikan situs internet yang dapat diakses di seluruh dunia. Situs ini, in syaa Allah, akan dibuat dalam tiga bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Dari situs ini, crowd (umat) dapat mengakses cloud yang berisi ratusan (bahkan mungkin ribuan) video yang berisi data twilight subuh di seluruh dunia. Video ini diambil sejak waktu tertentu sampai sekitar syufuq. Durasinya berkisar antara 1 jam lebih sampai dengan 2.5 jam.

Setelah Umat (crowd) memilih dokumen video yang akan dilihat, kemudian Umat dimohon kesediannya untuk melakukan identifikasi secara visual kapan fajar pertama kali mulai muncul. Hasil identifikasi ini berupa informasi waktu yang dinyatakan dalam bentuk jj:mm:dd. Informasi jj:mm:dd ini menunjukkan rentang waktu berapa jam (jj), menit (mm), dan detik (dd) sejak video ini mulai direkam, informasi ini dapat dilihat dari penunjuk waktu pada video player yang digunakan. Sedangkan informasi absolut mengenai waktu, tanggal, dan lokasi video ini dibuat sengaja dirahasiakan (blind) untuk menghindari bias yang merupakan musuh utama peneliti. Umat hanya mengklik atau mengetik informasi posisi waktu pada video player yang menunjukkan fajar mulai muncul dengan format jj:mm:dd dan men-submit-nya ke dalam sistem yang telah kami siapkan.

Dari voting yang dilakukan umat ini, ISRN-UHAMKA dan UMS kemudian akan mengkonversikan data jj:mm:dd ini menjadi informasi waktu dalam bentuk  hh:mm:ss sebenarnya, karena kami menyimpan semua informasi mengenai lokasi dan waktu (lintang, bujur, dan tanggal) dari video ini direkam. Data hh:mm:ss ini selanjutnya akan kami konversikan lagi menjadi informasi sudut depresi matahari di lokasi dan hari tertentu pula. Beberapa analisis akan kami lakukan yang di antaranya meliputi:

a)      Hit atas sudut depresi matahari hasil analisis visual umat ini kemudian kami bandingkan dengan hasil hitungan ISRN dengan menggunakan teknik image processing (Saksono Algorithm) yang sudah dilakukan sebelumnya. Tentu akan terjadi perbedaan. Namun, perbedaan ini, in syaa Allah, merupakan penyimpangan yang bersifat stokastik. Dengan membandingkan saat kehadiran fajar secara manual (visual) dan hasil intelligent system (computer algorithm), kami ingin menganalisis secara statistik berapa anomali antara kedua teknik ini. Test yang kami lakukan sepanjang tahun di Birmingham (Inggris), perbedaannya tidak signifikan. Langkah perbandingan ini penting juga dilakukan untuk mencegah masuknya intruder yang mungkin berniat mengacau.

b)      Hasil hit atas sudut depresi matahari secara visual oleh umat ini akan kami kelompokkan berdasarkan wilayah yang sesuai (benua). Kami kemudian akan melakukan analisis statistiknya secara komprehensif.

c)      Saat ini, ISRN telah memiliki puluhan data video yang telah diproses tersebut. Jumlah data ini akan terus menggelembung menjadi ratusan bahkan ribuan. In syaa Allah, dalam waktu tidak lama, kami akan publikasikan ke umat. Jika jumlah data video sudah terlalu banyak, mungkin kami hanya akan menampilkan maksimum 100 video per hari. Jadi, setiap hari 100 video ini berubah yang akan dipilih secara random. Ini akan kami pertimbangkan secara matang sambil berjalan.

Contoh

Video yang tersimpan pada google drive berikut adalah contoh video yang diambil di wilayah ASEAN. Lokasi persis, tanggal dan waktu pengambilannya sengaja kami rahasiakan. Video ini diambil sejak sekitar menjelang subuh resmi di wilayah tersebut. Umat dapat mengakses video ini melalui link https://drive.google.com/drive/folders/1GCmxnFRnwsJPqTtQZP3aFSgr2PA7rJP0?usp=sharing. Durasi video ini sekitar 1 jam 20 menit. Untuk mengidentifikasi kehadiran fajar, umat tidak harus memutar video ini secara penuh. Ingat durasi video ini sekitar 1 jam 20 menit. Umat dapat menggeser (drag) tombol penunjuk waktu (jj:mm:dd) pada video player sampai menurut pengamatan visualnya fajar mulai muncul. Setiap orang tentu memiliki sensitifitas mata dan judgement yang berbeda. Tidak ada masalah dengan perbedaan seperti ini. Yang penting, keputusan diambil secara independen dan tidak terpengaruh oleh orang lain. Inilah pentingnya kondisi bebas dari bias. Untuk kami, fajar secara visual muncul pada contoh video ini pada 00:52:06 (jj:mm:dd). Ini berarti fajar muncul pada 52 menit dan 06 detik sejak gambar video ini pertama kali diambil.

Data 00:52:06 inilah yang kemudian kami konversikan ke waktu lokal dimana video tersebut dibuat karena kami memiliki catatan pukul berapa video ini pertama kali direkam (waktu lokal). Atas dasar informasi waktu lokal ini, kami kemudian dapat menghitung posisi matahari di bawah ufuk saat fajar pertama kali dapat terdeteksi.

Dari satu video ini saja dapat dilihat bahwa fajar sesungguhnya baru muncul sekitar 52 menit kemudian sejak waktu subuh resmi di lokasi ini. Sebelumnya, langit masih gelap total yang membuktikan bahwa selama sekitar 52 menit sebelumnya tidak pernah ada fajar. Padahal, ufuk merupakan latar belakang lautan yang luas. Tidak perlu ada yang dibantah dan ditutup-tutupi. Ini adalah fakta saintifik yang perlu diungkap untuk menyingkap kebenaran masuknya waktu subuh (dan juga isya) di seluruh dunia. Ini untuk perbaikan kualitas ibadah 1.8 milyar umat Islam di dunia.

Allahu a’lam, semoga bermanfaat.


[1] Ph.D dalam Remote Sensing.

[2] Ph.D dalam Computer Science.


0 comments: