Wednesday, July 15, 2020

Sekali lagi: polusi tidak dapat menahan kehadiran fajar


Ini mungkin video ke tiga untuk membuktikan bahwa polusi cahaya dan udara tidak mungkin dapat menahan kehadiran fajar. Menahan beberapa fraksi detik mungkin saja terjadi. Namun, kalau sampai menahan kehadiran fajar sampai puluhan menit, itu sangat tidak masuk akal.

Video ini mendemonstrasikan serangkain foto yang aslinya highly light polluted karena hadirnya sumber sinar yang sangat kuat menghadap ke kamera CANON yang digunakan. 

Kasus pertama ketika foto asli digunakan. Kasus kedua, ketika sumber polusi cahaya sebagian besar dihilangkan. Kemudian keduanya digunakan untuk menghitung kapan terjadinya fajar. Kedua kasus ini ternyata menghasilkan titik kehadiran fajar yang sama. Karena di rangkaian foto juga ada mendung yang cukup tebal, ini membuktikan bahwa bahkan kombinasi polusi udara dan cahaya tidak dapat menghambat kehadiran fajar. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:

Monday, July 13, 2020

Rekor terjadi di Medan: fajar saat Matahari -7.7 derajat


Rekor kehadiran fajar saat Matahari hanya pada kedalaman -7.7 derajat di bawah ufuk terjadi di Medan. Itu terjadi pada 30 Juni 2020 lalu, dan merupakan hasil kerjasama OIF-UMSU, Medan dan ISRN-UHAMKA, Jakarta.

Untuk mendeteksi kehadiran fajar, OIF-UMSU menggunakan dua alat: kamera DSLR CANON dan All-Sky. Hasil hitungan di atas, langsung diverifikasi dengan menggunakan teknik 3D surface modeling citra-citra yang dihasilkan.

Logika statistik sederhana menyimpulkan bahwa penggunaan sudut depresi Matahari -18 apalagi -20 derajat, memang harus dikoreksi. Silahkan ikuti video kami di:

Friday, July 10, 2020

Drone merekam fajar di Cimanggis




Video ini merupakan salah satu contoh terbaik yang membuktikan bahwa polusi cahaya, polusi udara, bahkan awan tebal tidak dapat menghambat kehadiran fajar. 

Data yang diambil menggunakan drone ini akan menjadi Proyek Tugas Akhir (TA) tiga mahasiswa Departemen Teknik Elektro, UHAMKA di Jakarta. Setiap mahasiswa akan menggunakan 15 data subuh yang diambil menggunakan drone. Ada tambahan, juga 5 data untuk mengevaluasi waktu isya. Mereka harus menganalisis data tersebut menggunakan teknik image processing, termasuk kemudian melakukan kajian statistik atas hasil hitungan yang mereka peroleh.

Dari lebih dari 730 hari data subuh milik ISRN-UHAMKA yang tersebar di dunia termasuk Indonesia (~ 290 hari), Malaysia, Mesir, Turki, Saudi Arabia, Amerika Serikat, dan Inggris (422 hari), fajar shadiq rata-rata muncul saat Matahari berada pada sudut kedalaman (dip) -13 derajat.

Bagi yang tertarik, silahkan ikuti laporan kami melalui YouTube ini: 

Monday, July 6, 2020

The Potential Use of Drones for Fajr Research


This video demonstrates the potential use of drones for fajr research. It might be the first attempt to use a drone to scrutinize the presence of fajr. The results are promising.


The benefits of using drones are, among others:

  • One does not have to go an altitude to see the horizon.
  • A variety of drones with flying height and flying time capabilities are available in the market. 
  • 3D surface analysis of the image generated from a drone has significant advantages over the 2D data produced from an SQM.
  • The 3D surface model is an excellent verification tool, and an SQM cannot provide.


Should you be interested in this report, please follow this link to watch this video:


Other videos:

9) Premature fajr in Indonesia (5).



Sunday, July 5, 2020

Fajar di Gunung Bromo



Video ini adalah contoh kerjasama melalui skema crowdsourcing penelitian fajar. Data diambil oleh Bapak Bahrul Ulum dari Universitas Muhammadiyah Surabaya yang juga Pengurus PDM Pasuruan. Sementara ISRN yang memproses datanya di Jakarta.

Data diambil di Kecamatan Tosari sekitar 17 km dari Gunung Bromo pada 23-27 Juni 2020. Lokasi pengambilan bebas polusi cahaya, dan tingkat polusi udaranya juga sangat rendah. Video ini juga mendemonstrasikan bahwa tingkat polusi (cahaya dan udara) tidak juga menyebabkan fajar muncul lebih awal. ISRN mengajak umat Islam di dunia untuk memberikan kontribusi pengambilan data fajar di tempat masing-masing untuk memperbaiki jadwal sholat subuh dan isya di dunia. In syaa Allah, kami akan bantu memproses datanya, gratis . . . tanpa biaya.

Dengan lima hari tambahan data fajar, kini ISRN memiliki 282 hari data fajar Indonesia, dan sekitar 730 hari data fajar dunia. Harga rerata sudut kedalaman matahari dunia tetap pada kisaran -13 derajat dan standard deviasi 1.4 derajat.

Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut: 

Wednesday, July 1, 2020

Mengkaji ulang munculnya fajar di dunia


Untuk penelitian waktu subuh, sampai dengan 19 Juni 2020 lalu, ISRN-UHAMKA telah memiliki sekitar 730 hari data subuh dunia. Data tersebut tersebar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Inggris. 

Memang, yang telah membentuk populasi baru Indonesia dan Yorkshire (Inggris) yang masing-masing memiliki 277 dan 422 hari data fajar.

Sementara itu, ISRN-UHAMKA telah menggunakan belasan sensor yang meliputi non-imaging dan imaging sensors, termasuk drone. 

Video ini menganalisis semua hasil perhitungan kemunculan fajar berdasarkan data fajar dunia tersebut. Dalam grup penelitian internasional kami the Global Twilight Project, kami semakin yakin bahwa penetapan awal waktu subuh oleh organisasi-organisasi besar dunia tampaknya harus dikaji ulang.

Silahkan ikuti video berikut ini:


Jika tertarik dengan hasil penelitian kami yang lain, silahkan ikuti video-video berikut juga. Semoga bermanfaat.