Monday, February 17, 2020

Fajar Madinah yang tertangkap kamera gadget


Pada 3 Februari 2020 lalu, Bapak Ahmad Rizal mengirim pesan WA melalui WAG Jakarta Islamic Center. Intinya, beliau ingin merekam kenampakan fajar di Madinah selama beliau melaksanakan ibadah umrah.

Saya kemudian sarankan beliau mengunduh aplikasi Lapse-It. Ada dua pilihan, yang berbayar dengan harga sekitar Rp 60 ribu mampu menghasilkan resolusi sekitar 1000 x 800 pixel. Opsi kedua yang tidak berbayar, tapi maksimum resolusi geometrisnya hanya 640 x 480 pixel. Beliau memilih opsi yang kedua ini.

Ternyata jepretan Bapak Ahmad Rizal adalah contoh yang nyaris sempurna untuk mendemonstrasikan fajar. Dari sekitar hampir 700 hari data yang ISRN miliki, hasil Pak Ahmad Rizal ini merupakan salah satu yang terbaik.

Kenyataan penting lain membuktikan bahwa membuat selang antara adzan dan iqomah sekitar 30-35 menit, tampaknya betul-betul telah dipikirkan oleh ulama-ulama Saudi Arabia. Kenampakan fajar shodiq dapat disaksikan bertepatan dengan waktu sholat subuh didirikan. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:




Semoga amal Bapak Ahmad Rizal memperoleh pahala yang berlimpah dari Allah swt. Selama beliau beribadah, beliau juga ikut berkontribusi membangun peradaban ummat Islam.

Video menarik lainnya:



3 comments:

ppk garum said...

Videonya sangat menarik Prof. Jika besuk hari selasa jadwal Adzan Kota Blitar pukul 04:15 Matahari -20ᵒ maka Iqomah mulai dikumandangkan pukul 04:40 Matahari -14ᵒ sehingga Shalat bisa didirikan tepat 04:42 Matahari -13ᵒ35', begitu kira-kira jika jedah mulai Adzan dan mulai shalat 27 menit.

Center for Islamic Studies Indonesia said...

Yang paling gampang sebetulnya, lihat waktu syuruqnya. Dikurangi 52 menit (13x4 menit). Maka itulah waktu kemunculan fajar shadiq.

ppk garum said...

berarti masih sekitar 20ᵒ