Monday, February 10, 2020

Analisis statistik waktu subuh Indonesia dan Birmingham


Sejak Maret 2017 sampai akhir 2018, ISRN melakukan penelitian awal waktu subuh di Indonesia. Secara geografis, wilayah cakupan telah meliputi belasan kota yang tersebar di seluruh Indonesia dan sedikit Malaysia. Total jumlah data yang kami miliki adalah 226 hari untuk subuh. Alat utama yang kami gunakan adalah sky quality meter (SQM) yang merekam nilai kecerlangan langit. Resolusi temporal yang kami gunakan adalah 3 detik. Hasilnya telah konvergen sejak kami hanya menggunakan data sekitar 30 hari pada nilai dip -13.3 derajat, dengan standard deviasi 1.85 derajat. Karena hasilnya telah stabil (konvergen), kami memutuskan untuk menghentikan pengambilan data di Indonesia, dan mulai melakukan pengambilan data global. Untuk itu, kami telah berhasil juga mengkoleksi data astronomis di Tacoma (Washington), Kairo, dan Istanbul.

Pada pertengahan 2019, tiba-tiba kami menerima permintaan tolong untuk memproses data astronomis sekepompok Muslim di Birmingham. Datanya diambil menggunakan alat all-sky camera (ASC). Total ada 554 hari data astronomis. Meskipun pertolongan ini bersifat sukarela, tentu saja kami sangat senang sekali karena tiba-tiba kami punya sekitar 554 hari data astronomis. Padahal untuk mengkoleksi data sekitar satu bulan di Tacoma, Kairo, dan Istanbul saja, UHAMKA telah mengeluarkan dana riset ratusan juta rupiah. Akhirnya, dari 554 hari, data yang reliable hanya 423 hari. Hasil rerata kehadiran fajar di Birmingham ini ternyata sedikit berbeda. Harga rerata yang diperoleh adalah -12.98 derajat dengan standard deviasi 0.99 derajat.

Menariknya, setelah kami lakukan tes statistik, populasi dip Indonesia dan Birmingham itu ternyata sama. Kami memilih 256 sampel masing-masing berisi 40 pengamatan yang dipilih secara random. Hasilnya meyakinkan, populasi dip Indonesia dan Birmingham ini ternyata equal (sama). Temuan penting ini menumbuhkan keyakinan bahwa kehadiran fajar di seluruh dunia itu sebetulnya sama yaitu saat Matahari berada pada sudut kedalaman -13 derajat. Hasil perhitungan dip subuh di Tacoma, Kairo, dan Istanbul juga mendukung hipotesis kami ini. Kami sedang mencari dana riset melalui lembaga-lembaga internasional untuk membuktikan Null Hypothesis kami ini. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:  


Semoga Allah memberikan pertolongan pada upaya penting yang sedang kami lakukan.

Video lain yang menarik:
1) Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar;
2) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
3) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
4) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
5) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
6) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.

0 comments: