Saturday, January 4, 2020

Jadwal sholat tahun 2020 dengan sun depression angle baru



Banyak sekali yang mengirim pesan melalui messenger maupun whatsapp, menanyakan tentang jadwal sholat tahun 2020 dengan sun depression angle (dip) baru. Ini menunjukkan semakin besarnya minat ummat Islam yang sadar bahwa jadwal sholat subuh dan isya selama ini memang bermasalah. Untuk memverifikasi kehadiran fajar sebetulnya sangat mudah karena Rasul dan para sahabat dengan teknologi yang paling sederhanapun dapat mudah melakukannya. Pergilah ke pinggir pantai yang mengarah ke timur, atau ke bukit yang dapat melihat jelas ke arah matahari terbit di timur. Dalam kasus yang kedua ini, tidak juga harus dapat melihat ufuk karena sinar fajar akan muncul di balik perbukitan. Persoalannya, sebagian besar ummat Islam memang memiliki etos keingintahuan yang sangat rendah. Sehingga ketimbang berupaya membuktikan apakah betul fajar telah muncul saat adzan subuh, misalnya, mereka berdalih pemerintah telah memiliki segala perangkat saat menentukan waktu subuh, sehingga lebih baik percayakan saja pada ulil amri. Ada lagi yang mengambil sikap ulama terdahulu tidak mungkin melakukan kesalahan (maksum), sehingga apa yang telah ditetapkan tidak mungkin salah. Ini agak aneh juga karena kalau demikian, apa bedanya ulama dengan Nabi?

Tiga mingu terakhir ini memang sangat padat untuk kami di ISRN. Tanggal 13-21 Desember lalu, saya bertugas ke Cairo, Mesir. Tanggal 21-26 Desember saya lanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Keduanya dalam rangka pengambilan data astronomi untuk memperkuat program kami menyusun twilight global. Selama di Cairo, saya banyak berdiskusi dengan National Research Institute of Astronomy and Geophysics (NRIAG-HELWAN) dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sekitar Cairo. 

Pada 17 Desember 2019, ISRN mempresentasikan hasil riset kami di depan NRIAG-HELWAN yang juga dihadiri oleh dua profesor astronomi dari Al-Azhar University dan Cairo University. Banyak kemiripan antara hasil penelitian waktu subuh NRIAG dengan ISRN. Setelah penelitian sekitar empat tahun, NRIAG memperoleh harga rerata dip subuh -14.7 derajat, sementara ISRN memperoleh -13.3 derajat. Perbedaan ini terus kami diskusikan dalam bentuk kerjasama riset di masa yang akan datang. Tapi yang jelas, angka-angka dip yang kami peroleh secara saintifik jauh dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah masing-masing. Pemerintah Indonesia menggunakan -20 derajat sementara Mesir menggunakan -19.5 derajat. In syaa Allah, ISRN akan diundang dalam sebuah seminar internasional di Cairo agar riset kami menuju konvergensi.

Pada 19 Desember 2019, NRIAG dan ISRN melakukan observasi fajar bersama ke padang pasir terbuka di Fayyoum (Faiyum) sekitar 100 km dari Cairo. Dalam tarikh, di Fayyoum inilah Nabi Yusuf membagi ummatnya menjadi 365 kelompok dalam rangka menghadapi tujuh tahun peceklik yang akan dihadapi oleh kerajaan. Setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk menanam bahan pangan yang dapat menghidupi seluruh negeri satu hari saja. Sehingga 365 kelompok itu tepat dapat menjamin pangan bagi seluruh negeri selama satu tahun. Di Fayyoum ini juga terdapat sebuah danau sebagai sumber air yang kemudian diangkat dengan teknologi tertentu untuk mengairi ladang kaum Nabi Yusuf ini. Dari sini, tampak pengetahuan musim dan teknologi yang sudah cukup canggih di masa itu. 

Pada 20 Desember 2019 petang, ISRN melakukan diskusi dengan mahasiswa/i Indonesia yang sedang kuliah di Cairo. Acara diskusi diselenggarakan di hall MD Inn, sebuah inn milik PCIM (Pengurus Cabang Istimewa Muhammdiyah) Mesir dimana saya tinggal selama seminggu di Cairo. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa Al-Azhar University sejak jenjang S1 sampai dengan S3. Alhamdulillah, diskusi yang sangat menarik telah terjadi, apalagi, ternyata cukup banyak mahasiswa/i yang tertarik mendalami Ilmu Falak. Semua kegiatan selama di Cairo juga selalu melibatkan pengurus PCIM Mesir di Cairo. Dengan ini ISRN mengucapkan terima kasih atas semua bantuan PCIM Mesir.

Pada 22 Desember 2019, ISRN melakukan diskusi yang serius dengan Prof. Adnan Okten, seorang profesor astronomi dari Istanbul University. Yang membuat surprise, Prof. Okten justru berpendapat bahwa dip -13.3 derajat yang kami perolehpun ternyata masih terlalu rendah. Karena setelah 100 kali lebih pengamatan dengan mata telanjang, beliau berpendapat bahwa fajar itu baru muncul pada dip -10 bahkan -9 derajat. Setelah diskusi panjang di cafe City Burger milik putera kedua beliau di distrik kuliner yang sangat ramai di Kabatas, akhirnya kami dapat menyimpulkan dimana letak perbedaannya. ISRN mendefinisikan fajar sebagai sinar twilight pertama yang terdeteksi oleh sensor (referensi: Al-Baqarah: 187), sedangkan beliau mendefinisakn fajar saat sinar kemerahaan (reddish light) telah menyebar (referensi: beberapa hadis). Diskusi ini kami lanjutkan lagi di ruang kerja beliau di Istanbul University pada keesokan harinya. Beliau mendemonstrasikan beberapa software astronomi mutakhir yang digunakan untuk penelitian beliau.

Ada perkembangan hasil riset yang juga tidak kalah menarik. Seperti telah kami laporkan, ISRN telah menyelesaikan perhitungan dip subuh untuk sekitar 226 hari data fajar di Indonesia. Namun, ISRN juga telah menyelesaikan sekitar 420 hari data fajar Birmingham, Inggris. Untuk Birmingham, kami memperoleh dip rerata -12.8 derajat (baca: dip rerata Indonesia -13.3 derajat). Namun, test statistik yang kami lakukan beberapa hari lalu membuktikan bahwa populasi statistik Indonesia dan Birmingham tersebut ternyata equal (sama). Ini adalah fenomena yang sangat menarik dari kacamata statistik karena konsekuensinya, kedua populasi ini sebetulnya dapat digabung dan dicari harga common average (harga rerata gabungan). Fakta ini semakin menumbuhkan keyakinan kami bahwa di seluruh dunia, kehadiran fajar itu sebetulnya sama yaitu saat matahari berada pada depression angle sekitar 13 derajat. Artinya, tidak ada perbedaan bahwa Amerika Utara harus menggunakan -17.5 derajat, Mesir -19.5, Malaysia -18, Indonesia -20 derajat dan sebagainya. Tentu saja kami masih memerlukan pengumpulan data astronomi yang lebih banyak lagi untuk membuktikan hipotesis kami ini.

Selain itu, ISRN juga sedang menyiapkan laporan lengkap hasil penelitian twilight global ini dalam bentuk buku. Karena ISRN pernah menerbitkan buku laporan pertama dalam bahasa Indonesia, laporan kami yang kedua ini, in syaa Allah, akan dalam bahasa Inggris.

In syaa Allah, jadwal sholat beberapa kota di dunia akan saya tambahkan secara bertahap. Terutama jika ada permintaan dari pengunjung blog ini. Berikut adalah daftar sementara:





0 comments: