Saturday, March 28, 2020

Crowdsourcing: strategi baru arah riset ISRN-UHAMKA dalam penelitian fajar global

Coronavirus tampaknya akan melumpuhkan hampir semua sendi kehidupan manusia di Bumi. IMF sudah menyatakan pandemi ini telah mengarah pada krisis ekonomi dan keuangan global. Konon, mungkin akan lebih parah dari krisis ekonomi 1998. Pengangguran di Amerika diprediksi akan menyentuh 3 juta orang . . . astagrifullah. Kongres Amerika telah menyetujui stimulus ekonomi sebesar US$ 2 triliun sebagai langkah mitigasi. Mungkin, angka itu setara dengan sekitar dua kali jumlah total hutang seluruh dunia Muslim pada badan keuangan dunia (WB, IMF, dll) pada tahun 2012. Belum ada prediksi yang mendekati akurat untuk Indonesia memang, namun, diperkirakan juga akan devastating. Coronavirus juga jelas akan menyebabkan perubahan strategi penelitian ISRN-UHAMKA tentang waktu subuh. 

Alhamdulillah, tahun lalu, UHAMKA telah begitu generous memberikan dana riset pada ISRN-UHAMKA. Dengan dana itulah ISRN-UHAMKA telah mampu mengumpulkan data astronomi di Tacoma (Washington State), Cairo (Mesir), dan Istanbul (Turki). Beberapa kolega sampai sering bercanda kalau kami ketemu dalam rapat: “loh lagi kebetulan ada di Indonesia ya?” Candaan ini, betul-betul menyentuh karena saya merasa bahwa UHAMKA telah terlalu memanjakan ISRN-UHAMKA dalam hal ini. Dalam kesempatan ini, atas nama ISRN-UHAMKA, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Artikel selengkapnya dapat diperoleh di sini.

Friday, March 27, 2020

Undangan diskusi virtual tentang Fajar Global




Ini adalah video pertama hasil kerjasama Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA dengan OpenFajr Project, Inggris Raya. Meskipun sebetulnya, kami telah bekerjasama sejak Juni 2019 lalu. Video yang sama versi bahasa Inggris telah kami publikasikan pada 21 Maret 2020 lalu (lihat di sini).

Saat ini, ISRN memiliki 245 hari data astronomi yang dikumpulkan dari 2015 hingga 2020 untuk menentukan kehadiran fajar. Dari data ini, kami memperoleh harga rerata kemunculan fajar adalah pada dip -13,24 derajat dengan deviasi standar 1.81 derajat. Sementara itu, Proyek OpenFajr, Inggris memiliki 422 hari data astronomi dan memberikan harga rerata -12.98 derajat dengan standar deviasi 0.99 derajat.

Video ini menjelaskan bahwa secara statistik, kedua populasi ini sebenarnya sama. Dengan demikian, kita dapat menggabungkan mereka menjadi satu populasi yang memberikan rerata populasi akhir -13.05 derajat dan deviasi standar 1.32 derajat. Fakta ilmiah di atas mengarah pada Null Hypothesis baru yang menyatakan bahwa kehadiran subuh sebenarnya sama di seluruh dunia, yaitu saat Matahari berada pada sudut depresi sekitar -13 derajat. Data astronomi terbatas yang dikumpulkan di Tacoma (Washington State), Kairo, Istanbul, dan Madinah (Arab Saudi) untuk sementara mendukung Null Hipotesis baru ini.

Karena itu, kami mengundang kolaborasi internasional untuk mengembangkan skema pengumpulan data crowdsourcing. Kami akan dengan senang hati membantu jika Anda membutuhkan bantuan teknis tentang cara mengumpulkan dan memproses data. Jika Anda tertarik, silakan ikuti tautan ini:



Video lain yang menarik:


Saturday, March 21, 2020

Call for a virtual discussion about the global fajr


Global Fajr: It occurs when the sun is at its depression angle of -13 degrees.


It is the first official video published as a collaboration between the Islamic Science Research Network (HAMKA Muhammadiyah University, Indonesia), and OpenFajr Project Team, United Kingdom. Although, we have been collaborating since June 2019.

Currently, ISRN has 245 days of astronomical data collected from 2015 to 2020 for the estimation of the occurrence of the Fajr. It gives the population-mean of -13.24 degrees with a standard deviation of 1.81 degrees. Meanwhile, the OpenFajr Project, UK has 422 days of astronomical data to give the population-mean of -12.98 degrees with a standard deviation of 0.99 degrees.

This video explains that statistically, these two populations are actually equal. As such, we can combine them into a single population which gives the final population-mean of -13.05 degrees and the standard deviation of 1.32 degrees. The above scientific fact leads to further research inquiries to state that the presence of the Fajr is actually the same in the world; that is when the sun is at its depression angle of about -13 degrees. Limited astronomical data collected in Tacoma (Washington State), Cairo, Istanbul, and Medina (Saudi Arabia) temporarily support this Null Hypothesis.

We, therefore, call for international collaboration to develop a crowdsourcing data collection scheme. We will be more than happy to help if you need technical assistance as to how to collect and process the data. If you are interested, please follow this link:


Other videos:



Thursday, February 27, 2020

A gadget camera recorded the real fajr in Medina



On February 5, 2020, Mr. Ahmad Rizal took a series of photos of the fajr in Medina while he was performing umrah. He used Lapse-It application running on his Realme C2, an Android-based gadget camera.

Despite the use of a free version of the Lapse-It with only gives a maximum geometric resolution of 480 pixels, his recording is one of the best of the approximately 700 data that ISRN has.

The following video demonstrates the occurrence of the real fajr when the sun was at its depression angle of -10.24 degrees below the horizon. The ulemas of Saudi Arabia seem to have carefully considered the delay between athan and iqama about thirty minutes to allow the real fajr to occur. The fajr was already present when the muezzin recited iqama, and worshipers began to pray.

Should you be interested, please click the YouTube link, or copy-paste the following link to your browser:



https://screencast-o-matic.com/watch/cYnthEw8Zl




Other videos:


Monday, February 17, 2020

Fajar Madinah yang tertangkap kamera gadget


Pada 3 Februari 2020 lalu, Bapak Ahmad Rizal mengirim pesan WA melalui WAG Jakarta Islamic Center. Intinya, beliau ingin merekam kenampakan fajar di Madinah selama beliau melaksanakan ibadah umrah.

Saya kemudian sarankan beliau mengunduh aplikasi Lapse-It. Ada dua pilihan, yang berbayar dengan harga sekitar Rp 60 ribu mampu menghasilkan resolusi sekitar 1000 x 800 pixel. Opsi kedua yang tidak berbayar, tapi maksimum resolusi geometrisnya hanya 640 x 480 pixel. Beliau memilih opsi yang kedua ini.

Ternyata jepretan Bapak Ahmad Rizal adalah contoh yang nyaris sempurna untuk mendemonstrasikan fajar. Dari sekitar hampir 700 hari data yang ISRN miliki, hasil Pak Ahmad Rizal ini merupakan salah satu yang terbaik.

Kenyataan penting lain membuktikan bahwa membuat selang antara adzan dan iqomah sekitar 30-35 menit, tampaknya betul-betul telah dipikirkan oleh ulama-ulama Saudi Arabia. Kenampakan fajar shodiq dapat disaksikan bertepatan dengan waktu sholat subuh didirikan. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:




Semoga amal Bapak Ahmad Rizal memperoleh pahala yang berlimpah dari Allah swt. Selama beliau beribadah, beliau juga ikut berkontribusi membangun peradaban ummat Islam.

Video menarik lainnya:



Friday, February 14, 2020

Polusi cahaya tidak menghambat kehadiran fajar


Video berikut juga merupakan jawaban atas keraguan bahwa polusi cahaya akan menghambat kehadiran fajar. Namun sekali lagi, isu seperti ini selalu saja terlalu normatif. Tidak ada yang dapat memberikan fakta dan data. Misalnya, polusi cahaya tingkat satu akan menghambat kehadiran fajar sekian detik. Polusi cahaya tingkat dua akan menghambat fajar sekian menit . . . dsb.

Sementara itu, saya berpendapat berdasarkan fakta dan kenyataan lapangan. Gelombang energi Matahari itu bergelombang semakin besar setiap saat. Begitu fajar dapat terdeteksi, maka gelombang energi Matahari akan meningkat mengikuti fungsi eksponensial. Jadi, mungkin saja polusi menghambat kehadiran fajar satu detik; namun, pada detik berikutnya energinya akan jauh lebih dahsyat untuk dapat dihambat oleh polusi cahaya. Persoalannya, terhambat satu detik itu, untuk perhitungan waktu solat adalah sangat trivial karena waktu sholat itu disusun paling dalam akurasi menit saja.

Silahkan ikuti video berikut ini:



Video menarik lainnya:




Monday, February 10, 2020

Analisis statistik waktu subuh Indonesia dan Birmingham


Sejak Maret 2017 sampai akhir 2018, ISRN melakukan penelitian awal waktu subuh di Indonesia. Secara geografis, wilayah cakupan telah meliputi belasan kota yang tersebar di seluruh Indonesia dan sedikit Malaysia. Total jumlah data yang kami miliki adalah 226 hari untuk subuh. Alat utama yang kami gunakan adalah sky quality meter (SQM) yang merekam nilai kecerlangan langit. Resolusi temporal yang kami gunakan adalah 3 detik. Hasilnya telah konvergen sejak kami hanya menggunakan data sekitar 30 hari pada nilai dip -13.3 derajat, dengan standard deviasi 1.85 derajat. Karena hasilnya telah stabil (konvergen), kami memutuskan untuk menghentikan pengambilan data di Indonesia, dan mulai melakukan pengambilan data global. Untuk itu, kami telah berhasil juga mengkoleksi data astronomis di Tacoma (Washington), Kairo, dan Istanbul.

Pada pertengahan 2019, tiba-tiba kami menerima permintaan tolong untuk memproses data astronomis sekepompok Muslim di Birmingham. Datanya diambil menggunakan alat all-sky camera (ASC). Total ada 554 hari data astronomis. Meskipun pertolongan ini bersifat sukarela, tentu saja kami sangat senang sekali karena tiba-tiba kami punya sekitar 554 hari data astronomis. Padahal untuk mengkoleksi data sekitar satu bulan di Tacoma, Kairo, dan Istanbul saja, UHAMKA telah mengeluarkan dana riset ratusan juta rupiah. Akhirnya, dari 554 hari, data yang reliable hanya 423 hari. Hasil rerata kehadiran fajar di Birmingham ini ternyata sedikit berbeda. Harga rerata yang diperoleh adalah -12.98 derajat dengan standard deviasi 0.99 derajat.

Menariknya, setelah kami lakukan tes statistik, populasi dip Indonesia dan Birmingham itu ternyata sama. Kami memilih 256 sampel masing-masing berisi 40 pengamatan yang dipilih secara random. Hasilnya meyakinkan, populasi dip Indonesia dan Birmingham ini ternyata equal (sama). Temuan penting ini menumbuhkan keyakinan bahwa kehadiran fajar di seluruh dunia itu sebetulnya sama yaitu saat Matahari berada pada sudut kedalaman -13 derajat. Hasil perhitungan dip subuh di Tacoma, Kairo, dan Istanbul juga mendukung hipotesis kami ini. Kami sedang mencari dana riset melalui lembaga-lembaga internasional untuk membuktikan Null Hypothesis kami ini. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:  


Semoga Allah memberikan pertolongan pada upaya penting yang sedang kami lakukan.

Video lain yang menarik:
1) Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar;
2) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
3) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
4) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
5) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
6) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.

Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar


Ada beberapa pembaca artikel dan video yang kami produksi yang sering berpendapat bahwa polusi (udara maupun cahaya) menghambat kehadiran fajar. Mereka berpendapat, keterlambatan kehadiran fajar hasil hitungan ISRN adalah akibat polusi semacam ini. Hanya saja, yang berpendapat seperti ini juga tampaknya hanya berdasarkan dugaan, tanpa data. Buktinya, tidak ada yang dapat menunjukkan, misalnya: 
1) Jika polusi tingkat 1, maka akan menimbulkan fajar terhambat sekian sekian detik;
2) Jika polusi tingkat 2, maka akan menimbulkan fajar terhambat sekian menit  . . . dsb.

Sudah ada beberapa visdo yang kami terbitkan bahwa polusi cahaya tidak menghambat kehadiran fajar. Dalam video kali ini, kami memberikan kasus mendung tebal pada 5 Novemver 2018, ternyata tidak menghambat kehadiran fajar. Contoh kasusnya terjadi di Birmingham, Inggris. Silahkan ikuti video berikut



Video menarik lainnya:
1) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
2) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
3) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
5) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.