Sunday, July 5, 2020

Fajar di Gunung Bromo



Video ini adalah contoh kerjasama melalui skema crowdsourcing penelitian fajar. Data diambil oleh Bapak Bahrul Ulum dari Universitas Muhammadiyah Surabaya yang juga Pengurus PDM Pasuruan. Sementara ISRN yang memproses datanya di Jakarta.

Data diambil di Kecamatan Tosari sekitar 17 km dari Gunung Bromo pada 23-27 Juni 2020. Lokasi pengambilan bebas polusi cahaya, dan tingkat polusi udaranya juga sangat rendah. Video ini juga mendemonstrasikan bahwa tingkat polusi (cahaya dan udara) tidak juga menyebabkan fajar muncul lebih awal. ISRN mengajak umat Islam di dunia untuk memberikan kontribusi pengambilan data fajar di tempat masing-masing untuk memperbaiki jadwal sholat subuh dan isya di dunia. In syaa Allah, kami akan bantu memproses datanya, gratis . . . tanpa biaya.

Dengan lima hari tambahan data fajar, kini ISRN memiliki 282 hari data fajar Indonesia, dan sekitar 730 hari data fajar dunia. Harga rerata sudut kedalaman matahari dunia tetap pada kisaran -13 derajat dan standard deviasi 1.4 derajat.

Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut: 

Wednesday, July 1, 2020

Mengkaji ulang munculnya fajar di dunia


Untuk penelitian waktu subuh, sampai dengan 19 Juni 2020 lalu, ISRN-UHAMKA telah memiliki sekitar 730 hari data subuh dunia. Data tersebut tersebar di Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Inggris. 

Memang, yang telah membentuk populasi baru Indonesia dan Yorkshire (Inggris) yang masing-masing memiliki 277 dan 422 hari data fajar.

Sementara itu, ISRN-UHAMKA telah menggunakan belasan sensor yang meliputi non-imaging dan imaging sensors, termasuk drone. 

Video ini menganalisis semua hasil perhitungan kemunculan fajar berdasarkan data fajar dunia tersebut. Dalam grup penelitian internasional kami the Global Twilight Project, kami semakin yakin bahwa penetapan awal waktu subuh oleh organisasi-organisasi besar dunia tampaknya harus dikaji ulang.

Silahkan ikuti video berikut ini:


Jika tertarik dengan hasil penelitian kami yang lain, silahkan ikuti video-video berikut juga. Semoga bermanfaat. 

 

Friday, June 26, 2020

Potensi penggunaan drone untuk penelitian fajar


Lockdown selama pandemik Covid-19 telah memberikan kesempatan pada ISRN untuk melakukan inovasi penggunaan drone untuk penelitian fajar. Mungkin, ini adalah drone pertama di dunia yang digunakan untuk penelitian fajar. Sebagai percobaan pertama, kami menggunakan drone terkecil dengan bobot 249 gram (termasuk batere). FAA memberikan batas berat minimum adalah 250 gram. Dengan demikian, in syaa Allah, jika ISRN akan melakukan pengambilan data subuh di luar negeri, kami akan terbebas dari persyaratan minimum harus memiliki lisensi menerbangkan drone.

Data pertama yang kami sampaikan dalam video ini diambil pada subuh 24 Juni 2020 lalu, di daerah Kali Angke, Jakarta Barat. Hasilnya cukup bagus. Karenanya, penggunaan drone untuk penelitian fajar tampaknya memiliki potensi yang cukup cerah. Kami juga sudah mengkomunikasikan hasil ini dengan teman-teman peneliti yang tergabung dalam the Global Twilight Project. Mereka menyambut inovasi ISRN ini dengan sangat antusias.

Yang tertarik melihat hasil penggunaan drone dalam penelitian fajar, silahkan ikuti video berikut:

Wednesday, May 13, 2020

Fajar belum muncul saat nautical dawn di Labuanbajo


Video ini sekali lagi membuktikan bahwa fajar belum muncul saat nautical dawn (-18 derajat) di Labuanbajo pada 24 April 2018 lalu. Dengan demikian, video ini membantah Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag yang mengklaim bahwa fajar hari itu muncul pada -19.5 derajat.

Data yang digunakan untuk membantah klain Tim BHR adalah foto-foto digital yang dikoleksi oleh Tim BHR sendiri. Ada 52 foto digital yang diambil pada resolusi temporal 31 detik. Dalam satu foto, ada sekitar 2.4 juta pixel, Berarti, resolusi geometrisnya juga cukup baik. Dari pemodelan matematik, diperoleh hasil fajar ternyata baru muncul saat matahari berada pada sun depression angle -17.4 derajat. Bukan pada -19.5 derajat. 

Hasil hitungan ISRN diperkuat dengan hasil analisis 3D surface modeling foto-foto digital tersebut. Silahkan ikuti melalui video berikut: 



Video lain yang terkait:





Saturday, May 2, 2020

Jadwal sholat kota-kota dunia dan konvergensi sun depression angle subuh


Meskipun ISRN telah menyatakan menghentikan pengambilan data fajar di Indonesia, beberapa keadaan telah memaksa pengambilan data subuh tetap dilakukan secara terbatas. Tanpa disadari, data kami telah 698 hari data. Itu hanya meliputi data subuh Indonesia dan Yorkshire (koreksi dari OpenFajr: bukan Birmingham) yang telah kami buktikan sebetulnya berasal dari populasi statistik yang sama. Data di atas belum termasuk 21 data subuh yang kami koleksi di Tacoma (USA), Cairo, Istanbul, dan sumbangan data Bapak Ahmad Rizal dari Madinah. Hasil hitungan sun depression angle dari 698 hari data di atas terus konvergen ke angka -13 derajat. Silahkan ikuti laporan videonya di:





Sementara itu, permintaan jadwal sholat kota-kota besar dunia berdatangan. Misalnya untuk kota Brussels, Berlin, Moscow, dll. Artikel dan video kami ini menjelaskan status data dan statistik 698 hari data di atas. Sedangkan kota-kota dunia (termasuk kota di Indonesia) yang telah kami hitung jadwal sholatnya menggunakan harga sun depression angle baru tersebut adalah:


Washington DC, USA   

Tuesday, April 28, 2020

3D Surface Modeling for fajr verification in Medina


On February 5, 2020, while performing Umrah, Mr. Ahmad Rizal collected a series of images about fajr in Medina. He used the Realme-2 gadget camera with the Lapse-It application. His data are one of the best among the 700 data that ISRN currently has.

In the previous video, ISRN has explained the detailed mathematical modeling on how to determine the presence of dawn accurately.
This video explains how the 3D-Surface Modeling technique can accurately verify the presence of the dawn.

Besides, this video also explains how to use the Lapse-It application on a gadget to obtain remote sensing data to determine the presence of dawn.

ISRN invites all Muslims in the world to take remote sensing data about fajr in their respective places for the preparation of global twilight patterns. Their contributions will be very invaluable for the development of Islamic civilization in the world. Please follow the following video:



Other videos:
8) Premature fajr in Indonesia (5).

Sunday, April 26, 2020

3D Surface Modeling fajar Madinah


Pada 5 Februari 2020 lalu, saat melaksanakan umrah, Bapak Ahmad Rizal melakukan pemotretan fajar di Madinah. Beliau menggunakan kamera gadget Realme-2 dengan aplikasi Lapse-It. Hasil beliau merupakan salah satu yang terbaik di antara 700 data yang ISRN miliki saat ini.

Dalam video sebelumnya, ISRN telah menjelaskan detil proses pemodelan matematik bagaimana kami dapat menentukan kehadiran fajar secara akurat. 

Pada video kali ini, kami akan jelaskan bagaimana teknik 3D-Surface Modeling dapat memverifikasi secara akurat kehadiran fajar tersebut. 

Video ini juga menjelaskan bagaimana cara penggunaan aplikasi Lapse-It pada gadget untuk memperoleh data remote sensing untuk menentukan kehadiran fajar.

ISRN mengundang semua ummat Islam di dunia untuk mengambil data remote sensing fajar di tempat masing-masing untuk penyusunan pola twilight global. Kontribusi Tuan-Tuan dan Puan-Puan akan sangat berguna untuk pengembangan peradaban ummat Islam di dunia. Silahkan ikuti video berikut: 


Video lain yang menarik:

7) Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar;

Friday, April 24, 2020

3D Surface Modeling untuk memverifikasi kehadiran fajar


Memanfaatkan Pembatasan Sosial Berskala Besar lokal (Jabotedabek) dan juga nasional, ISRN mengambil data remote sensing pada 6-23 April 2020. Saat itu, kondisi lingkungan memiliki tingkat polusi terendah. Kondisi ini mungkin hanya merupakan siklus 100 atau bahkan 500 tahunan.

Dari 17 hari pengambilan data tersebut, kami memilih data pada 17 April sebagai contoh melakukan analisis 3D-surface modeling untuk memverifikasi kehadiran fajar.



Yang versi bahasa Inggris telah diupload beberapa jam lalu. Jika Anda tertarik pada yang versi bahasa Indonesia, silahkan ikuti link di atas.

Video dan artikel lain:

6) Mendung dan polusi udara tidak menghambat kehadiran fajar;

3D Surface Modeling for Fajr Verification


ISRN-UHAMKA has made use of the national lockdown in an attempt to combat the COVID-19 pandemic. We tried to collect remote sensing data for research on dawn from 6-23 April 2020. Environmental conditions with the lowest pollution levels may only occur in the 500-year cycle.

Of the seventeen days of data collection, April 17 was chosen as a sample to conduct 3D-Surface Modeling analysis to verify the presence of the dawn.

Currently, only available in the English version. Insha' Allah, the Indonesian version will be uploaded soon. Should you be interested, please follow the above link. 


Tuesday, April 14, 2020

Fajar di lingkungan Jakarta dalam siklus 600-tahunan



Jika wabah dahsyat yang melanda dunia pada abad ke-14 kita jadikan sebagai benchmark, maka wabah Covid19 merupakan siklus 600-tahunan yang memprorak-porandakan peradaban manusia. Coba bayangkan, adakah sebuah kekuatan yang mampu menghentikan dan memaksa manusia di sekitar 200 negara didunia untuk tetap tinggal di rumah, pabrik-pabrik penyebab polusi udara untuk menghentikan operasinya seperti apa yang terjadi dalam dua bulan terakhir?

Namun, selalu ada hikmah yang tersimpan dari setiap peristiwa yang Allah ciptakan. Salah satu di antaranya: lingkungan yang sedikit lebih bersih akibat berhenti operasinya sumber polusi yang telah membebani Bumi kita selama ratusan tahun.



ISRN-UHAMKA memanfaatkan udara dengan polusi rendah ini dengan pengambilan data Remote Sensing dan Astronomi sejak 6 sampai dengan 14 April 2020. Misi ini akan terus dilanjutkan sampai PSBB berakhir, in syaa Allah. Bagaimana hasil pengamatan fajar pada periode delapan hari tersebut, silahkan ikuti video di atas.  

Video dan artikel lain:


Saturday, March 28, 2020

Crowdsourcing: strategi baru arah riset ISRN-UHAMKA dalam penelitian fajar global

Coronavirus tampaknya akan melumpuhkan hampir semua sendi kehidupan manusia di Bumi. IMF sudah menyatakan pandemi ini telah mengarah pada krisis ekonomi dan keuangan global. Konon, mungkin akan lebih parah dari krisis ekonomi 1998. Pengangguran di Amerika diprediksi akan menyentuh 3 juta orang . . . astagrifullah. Kongres Amerika telah menyetujui stimulus ekonomi sebesar US$ 2 triliun sebagai langkah mitigasi. Mungkin, angka itu setara dengan sekitar dua kali jumlah total hutang seluruh dunia Muslim pada badan keuangan dunia (WB, IMF, dll) pada tahun 2012. Belum ada prediksi yang mendekati akurat untuk Indonesia memang, namun, diperkirakan juga akan devastating. Coronavirus juga jelas akan menyebabkan perubahan strategi penelitian ISRN-UHAMKA tentang waktu subuh. 

Alhamdulillah, tahun lalu, UHAMKA telah begitu generous memberikan dana riset pada ISRN-UHAMKA. Dengan dana itulah ISRN-UHAMKA telah mampu mengumpulkan data astronomi di Tacoma (Washington State), Cairo (Mesir), dan Istanbul (Turki). Beberapa kolega sampai sering bercanda kalau kami ketemu dalam rapat: “loh lagi kebetulan ada di Indonesia ya?” Candaan ini, betul-betul menyentuh karena saya merasa bahwa UHAMKA telah terlalu memanjakan ISRN-UHAMKA dalam hal ini. Dalam kesempatan ini, atas nama ISRN-UHAMKA, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Artikel selengkapnya dapat diperoleh di sini.

Friday, March 27, 2020

Undangan diskusi virtual tentang Fajar Global




Ini adalah video pertama hasil kerjasama Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA dengan OpenFajr Project, Inggris Raya. Meskipun sebetulnya, kami telah bekerjasama sejak Juni 2019 lalu. Video yang sama versi bahasa Inggris telah kami publikasikan pada 21 Maret 2020 lalu (lihat di sini).

Saat ini, ISRN memiliki 245 hari data astronomi yang dikumpulkan dari 2015 hingga 2020 untuk menentukan kehadiran fajar. Dari data ini, kami memperoleh harga rerata kemunculan fajar adalah pada dip -13,24 derajat dengan deviasi standar 1.81 derajat. Sementara itu, Proyek OpenFajr, Inggris memiliki 422 hari data astronomi dan memberikan harga rerata -12.98 derajat dengan standar deviasi 0.99 derajat.

Video ini menjelaskan bahwa secara statistik, kedua populasi ini sebenarnya sama. Dengan demikian, kita dapat menggabungkan mereka menjadi satu populasi yang memberikan rerata populasi akhir -13.05 derajat dan deviasi standar 1.32 derajat. Fakta ilmiah di atas mengarah pada Null Hypothesis baru yang menyatakan bahwa kehadiran subuh sebenarnya sama di seluruh dunia, yaitu saat Matahari berada pada sudut depresi sekitar -13 derajat. Data astronomi terbatas yang dikumpulkan di Tacoma (Washington State), Kairo, Istanbul, dan Madinah (Arab Saudi) untuk sementara mendukung Null Hipotesis baru ini.

Karena itu, kami mengundang kolaborasi internasional untuk mengembangkan skema pengumpulan data crowdsourcing. Kami akan dengan senang hati membantu jika Anda membutuhkan bantuan teknis tentang cara mengumpulkan dan memproses data. Jika Anda tertarik, silakan ikuti tautan ini:



Video lain yang menarik: