Wednesday, October 21, 2020

ARABIC VERSION: 3D-Surface Modeling for fajr verification in Medina


This video demonstrates the use of a gadget camera to record fajr in Medina. At the same time, it shows that the global twilight pattern can be developed through a crowdsourcing collaboration scheme. Furthermore, the 3D-Surface Modeling technique can be used to verify the birth of the fajr which occurs when the sun was at its depression angle of -10.4 degrees, not -18.5 degrees as officially stipulated. Saudi Arabia's ulemas have been correct in putting the delay about 30 minutes from the fajr call recitation to the iqamah. Otherwise, the true fajr hasn't been born when Muslims perform the fajr prayer.

Please check it out through this link:


Other relevant videos:


Wednesday, October 7, 2020

ARABIC VERSION: A gadget camera records the true fajr in Medina

This is a new development for the Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA, Jakarta in disseminating out research outcomes about the True Fajr. We are presently attempting to publish the Arabic version of our existing videos. And this is the first video entitled: Arabic Version - Fajr Sodiq in Medina.

We herewith request your assistance to propagate it to our comrades and sisters who speak Arabic wherever they are. For those who are willing to offer feedback for further enhancement of our video, we highly appreciate it.

Please follow the appropriate link below:


Other videos:

Friday, August 28, 2020

Korelasi antara Polusi dan Kehadiran Fajar

 

Video kali ini menjelaskan tiga buah analisis statistik yang membuktikan bahwa polusi tidak mungkin menghambat kehadiran fajar secara signifikan. Secara teoritis, memang ada korelasi antara polusi dan kehadiran fajar. Namun, korelasi itu secara statistik tidak berarti. Sangat lemah.

Karena lemah, mungkin saja polusi akan menghambat kehadiran fajar dalam satuan detik. Atau bahkan hanya dalam fraksi detik. Tapi, apa gunanya ini didiskusikan? Jadwal sholat itu disusun dengan akurasi menit. Jadi, kalau kehadiran fajar terhambat 2-3 detik, misalnya, what is the big deal about that?

Yang tertarik, silahkan ikuti ini:


Video menarik lainnya:





Saturday, August 15, 2020

Fajar Panguk dalam polusi cahaya waning gibous 79%

 

Dua hari pengambilan data subuh di Yogyakarta (Pantai Krakal dan Bukit Panguk) adalah contoh ideal untuk membuktikan bahwa polusi cahaya tidak dapat menghambat kehadiran fajar.

Di Pantai Krakal, polusi cahaya datang dari waning gibous moon 86%. Namun, fajar justru muncul jauh lebih awal dari rerata nilai sun depression angle nasional yang -13.2 derajat. 

Di Bukit Panguk, selain polusi cahaya waning gibous 79%, ada juga kabut tebal yang memang terkenal menjadi atraksi turis di sana. Namun, fajar kembali muncul pada dip -16.8 derajat, jauh lebih awal dari rerata nasional yang -13.2 derajat. Ini berarti sekitar 15 menit lebih awal. Jadi, terbukti bahwa polusi cahaya dan udara tidak dapat menghambat kehadiran fajar.

Silahkan ikuti video berikut:


Video menarik lainnya:

Wednesday, August 12, 2020

Fajar di hari dengan polusi cahaya tertinggi

 

Per hari ini 12 Agustus 2020, ISRN memiliki data penelitian awal waktu subuh dan isya mendekati 1,000 hari di dunia (data subuh dan isya). Dari sekian hari data tersebut, data dengan polusi cahaya tertinggi terjadi pada subuh 4 Mei 2018 yang kami ambil di Pantai Krakal, Yogyakarta.

Hari itu bertepatan dengan tanggal 18 Sya'ban 1439-H sehingga penyinaran Bulan (waning gibous) adalah 86.3% (100% saat purnama), sehingga polusi cahaya sangat tinggi sekali. Bulan pada malam itu terbit pada sekitar pukul 21:00, sehingga saat foto pertama kami ambil pada pukul 4:25:23, Bulan hanya sekitar 2 jam setelah mencapai titik kulminasinya pada pukul 2:38.

Namun, di malam yang polusi cahayanya sangat tinggi ini, fajar justru terdeteksi jauh lebih awal dari harga rerata 311 hari data subuh kami. Padahal, kalau memang polusi cahaya menghambat kehadiran fajar, fajar harus lebih lambat dari harga rerata tersebut.

Yang tertarik, silahkan ikuti:




Thursday, August 6, 2020

Pseudo Shariah Economy



Empat isu besar pada pembangunan Ekonomi Syariah adalah: riba, gharar (ada tidaknya komoditas yang haram misal: khamr), maysir (unsur perjudian), dan nisab (nilai aset minimum yang harus dikenai zakat). Padahal ada isu yang lebih dahsyat yang telah menyebabkan hutang peradaban umat Islam, yaitu isu haul.

Karena umat Islam tidak pernah memiliki Kalender Islam yang kredibel, maka semua bisnis umat Islam menggunakan Kalender Masehi yang 365 hari sebagai basis haulnya. Padahal seharusnya menggunakan Kalender Islam yang hanya 354 hari.

Akibat kekeliruan penggunaan haul yang salah, maka setiap tahun, 11 hari selisih kedua kalender di atas tidak terzakati. Hutang zakat ini telah terakumulasi mungkin sekitar 1,200 tahun oleh semua bisnis umat Islam di dunia. Sehingga telah menumpuk menjadi hutang peradaban yang sangat besar. Video berikut menunjukkan berapa besar zakat yang tak terbayarkan akibat penggunaan Kalender Masehi sebagai basis haul umat Islam.

Silahkan ikuti video berikut:

Monday, August 3, 2020

Drone memantau hilangnya syafaq


Awal waktu isya tidak terlalu menjadi perhatian para peneliti. Sebetulnya untuk waktu isya-nya sendiri memang tidak terlalu bermasalah. Namun, statistik dengan menggunakan 171 hari data isya, ISRN memperoleh harga rerata dip isya yang -13 derajat. Bukan -18 derajat seperti ketetapan resmi pemerintah saat ini.

Jadi, potensi problemnya justru pada waktu maghribnya. Umat mungkin mengira masih waktu maghrib, padahal waktu maghrib telah habis.

Video ini menjelaskan penggunaan drone untuk pemantauan hilangnya sinar syafaq sebagai tanda masuknya waktu isya pada 22 dan 24 Juli 2020 lalu. Selain itu, dibahas juga statistik dari 171 hari data isya yang telah dikumpulkan di Indonesia.

Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut:

Wednesday, July 15, 2020

Sekali lagi: polusi tidak dapat menahan kehadiran fajar


Ini mungkin video ke tiga untuk membuktikan bahwa polusi cahaya dan udara tidak mungkin dapat menahan kehadiran fajar. Menahan beberapa fraksi detik mungkin saja terjadi. Namun, kalau sampai menahan kehadiran fajar sampai puluhan menit, itu sangat tidak masuk akal.

Video ini mendemonstrasikan serangkain foto yang aslinya highly light polluted karena hadirnya sumber sinar yang sangat kuat menghadap ke kamera CANON yang digunakan. 

Kasus pertama ketika foto asli digunakan. Kasus kedua, ketika sumber polusi cahaya sebagian besar dihilangkan. Kemudian keduanya digunakan untuk menghitung kapan terjadinya fajar. Kedua kasus ini ternyata menghasilkan titik kehadiran fajar yang sama. Karena di rangkaian foto juga ada mendung yang cukup tebal, ini membuktikan bahwa bahkan kombinasi polusi udara dan cahaya tidak dapat menghambat kehadiran fajar. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut: