Sunday, December 8, 2019

Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan


Pada 14 & 15 Desember 2018, ISRN mengoperasikan tiga buah sensor untuk mendeteksi kehadiran fajar di Balikpapan, Kaltim. Kami menggunakan dua buah SQM (lama dan baru), dan sebuah DSLR camera NIKON.

Dalam studi di Balikpapan ini (sebetulnya kami juga memperoleh temuan yang sama di Manokwari, dan Bitung), kami dapat buktikan bahwa untuk mendeteksi kehadiran fajar, alat SQM tidak perlu dikalibrasi. Kehadiran fajar dapat ditentukan dengan melihat perubahan intensitas cahaya (magnitudo) relatif. Tidak diperlukan magnitudo absolut. Baru jika kita akan meneliti perilaku satwa liar (misal: burung), kita akan memerlukan SQM yang harus dikalibrasi karena kita harus melakukan benchmark pada kondisi kegelapan langit asli di hutan.


Kasus fajar di Balikpapan ini juga menunjukkan bahwa fajar belum muncul saat astronomical dawn, apalagi pada -20 derajat seperti subuh resmi kita saat ini. Silahkan ikuti video di atas.

Video menarik lain:
1) Fajar belum muncul saat astronomical dawn;
2) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440H;
3) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;

0 comments: