Thursday, December 12, 2019

Belum ada fajar saat astronomical dawn di Bitung 12 Sep 2018


Masih banyak yang bertanya, mengapa kita harus menggunakan harga dip rerata hasil hitungan dip? Mengapa tidak cukup diukur sekali dan langsung diambil kesimpulan seperti yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat (TRH) Kemenag? Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan segamblang mungkin.

Kalau kita menabung uang Rp. 1 juta saja ke bank, bank teller pasti akan menceknya minimal dua kali meskipun kita yakinkan bahwa kita sudah menghitungnya berkali-kali. Bank teller ini sebetulnya sedang mencari redundancy (sering dinamakan degrees of freedom - DF). Semakin besar DF, maka semakin reliable hasilnya. 

Alam semesta bersifat stokastik (stochastic). Katakanlah, kita menimbang beras dan diperoleh 2.15 kg. Kalau kita ulangi lagi, mungkin akan diperoleh 2.18 kg. Kalau kita timbang 10 kali, maka mungkin akan diperoleh 10 nilai berat yang masing-masing berbeda. Berapakah berat beras yang sebenarnya. Jawaban singkatnya adalah: hanya Allah-lah yang tahu. Kalau ditimbang 100 atau 1000 kali, angka berat itupun terus berubah. Tugas statistik bukan mencari harga yang benar, tapi mencari the most plausible value (nilai yang paling masuk akal), itulah harga rerata (mean).

Demikian pula harga perhitungan dip subuh yang melibatkan kondisi alam yang sangat kompleks. Bagaimana mungkin untuk hal sepenting ini hanya diukur sekali padahal untuk transaksi Rp 1 juta rupiah saja orang harus menghitungnya berkali-kali?

Jadi, yang telah ISRN lakukan dengan memiliki 226 hari data subuh adalah sebetulnya dalam rangka memperbesar degrees of freedom agar hasil keputusannya reliable. Dua parameter statistik yang penting dan harus diumumkan pada ummat adalah harga mean (rerata) dan standard deviation. Dengan dua unbiased estimators statistik ini, kiat dapat melakukan kajian bagaimana sifat populasi statistiknya. 


Di Bitung pada 12 September 2018 lalu, harga dip subuh yang diperoleh adalah -16.78 derajat. Jauh lebih besar dari harga rerata nasional yang -13.27 derajat. Bagaimanakah menganalisis kehadiran fajar saat astronomical dawn -18 derajat, dan berapa probabilitas kemunculannya? Silahkan ikuti videonya.

Video menarik yang lain:
1) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
2) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
3) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
5) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.


Sunday, December 8, 2019

Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan


Pada 14 & 15 Desember 2018, ISRN mengoperasikan tiga buah sensor untuk mendeteksi kehadiran fajar di Balikpapan, Kaltim. Kami menggunakan dua buah SQM (lama dan baru), dan sebuah DSLR camera NIKON.

Dalam studi di Balikpapan ini (sebetulnya kami juga memperoleh temuan yang sama di Manokwari, dan Bitung), kami dapat buktikan bahwa untuk mendeteksi kehadiran fajar, alat SQM tidak perlu dikalibrasi. Kehadiran fajar dapat ditentukan dengan melihat perubahan intensitas cahaya (magnitudo) relatif. Tidak diperlukan magnitudo absolut. Baru jika kita akan meneliti perilaku satwa liar (misal: burung), kita akan memerlukan SQM yang harus dikalibrasi karena kita harus melakukan benchmark pada kondisi kegelapan langit asli di hutan.


Kasus fajar di Balikpapan ini juga menunjukkan bahwa fajar belum muncul saat astronomical dawn, apalagi pada -20 derajat seperti subuh resmi kita saat ini. Silahkan ikuti video di atas.

Video menarik lain:
1) Fajar belum muncul saat astronomical dawn;
2) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440H;
3) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;

Thursday, December 5, 2019

Fajar belum muncul saat Astronomical Dawn


Banyak umat Islam yang sukar menerima kenyataan bahwa subuh kita selama ini ternyata jauh terlalu awal dari seharusnya. Ada sebagian yang percaya, namun, masih terpaku pada astronomical dawn (fajar astronomi) yaitu saat kedudukan Matahari berada pada posisi -18 derajat di bawah ufuk. Sikap seperti ini bias. Padahal sama sekali tidak didukung oleh fakta dan data. 

ISRN sampai saat ini telah memiliki data subuh sebanyak 228 hari, sehingga telah menjadi sebuah populasi sendiri. Dip rerata yang kami peroleh dari 228 data tersebut adalah -13.27 derajat dengan standard deviation -1.85 derajat. Dalam 99.9% confidence interval, maka dip subuh di Indonesia berada pada rentang antara -12.87 derajat dan -13.67 derajat. 


Video berikut ini menjelaskan juga probabilitas kemunculan fajar pada berbagai dip (dari 15 sampai dengan 20 derajat). Yang tertarik, silahkan ikuti video di atas.