Friday, June 7, 2019

Hadis Ayyamul Bidh kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global


Untuk yang kesekian kalinya, ummat Islam bukan saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia terpecah dalam menetapkan 1 Syawwal 1440-H. Sebagian menetapkan 1 Syawwal 1440-H jatuh pada 3 Juni 2019, tapi sebagian yang lain pada 4 Juni 2019.

Problem utamanya adalah akibat masing-masing wilayah menghendaki dapat melihat hilal sebagai syarat untuk memasuki bulan baru dalam Kalender Hijriah.

Upaya para ahli astronomi dunia untuk mempersatukan ini dengan membangun Kalender Islam Global (KIG) seperti yang dikongreskan pada 2016 lalu di Turki, tampaknya tidak menyurutkan hasrat masing-masing negara untuk memiliki kriteria imkan-rukyat lokal, atau melalui rukyatul hilal langsung di lapangan.

Video ini menjelaskan bahwa hadis tentang Ayyamul Bidh (Hari-Hari Putih) ternyata sangat kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global (KIG). Silahkan ikuti melalui:



Tuesday, June 4, 2019

Sudah saatnya, ummat Islam mengadopsi Kalender Islam Global


Saya berusaha agar pesan ini sampai ke Bapak/ Ibu tepat jam 7:11, tanggal 4 Juni 2019 WIB. Mengapa?

Karena pada saat itu, di atas ufuk timur Jakarta terdapat hilal dengan data astronomis sebagai berikut:

  • Ketinggian hilal 164.1 derajat (dari ufuk barat);
  • Elongasi 11 derajat
  • Ketebalan penyinaran hilal 1%;
  • Umur hilal 0.9 hari.
Di detik yang sama di Mexico City, saat itu jam 19:11, tanggal 3 Juni 2019, persis maghrib. Hilal yang sama dengan yang ada di Jakarta, di Mexico City memiliki data astronomis sebagai berikut:
  • Ketinggian hilal 6.3 derajat;
  • Elongasi 8.3 derajat;
  • Ketebalan penyinaran hilal 0.4%;
  • Umur hilal 0.5 hari.
Kedua data hilal itu, saya ambil dari Stellarium dan dapat dilihat di link ini:

Adakah yang dapat menjelaskan mengapa hilal yang di Jakarta yang tebalnya 1%, elongasinya 11 derajat, dll. itu tidak boleh diakui sebagai hilal, sedangkan yang di Mexico City yang tebalnya hanya 0.4%, elongasinya cuma 8 derajat, dan umurnya 0.5 hari dll. itu harus diakui sebagai hilal?

Inilah kekacauan jika kita menggunakan kriteria imkan-rukyat lokal seperti 2-3-8 nya MABIMS atau kriteria IR lokal yang lain. Nalar akademisnya jadi kacau balau.

Ada konsekuensi yang lebih serius lagi. 

Sepanjang masa, seharusnya, Muslim di Indonesia melaksanakan ibadah mahdohnya 12 jam sebelum Muslim di Mexico karena kita ada di sebelah timur Mexico. Tapi, mendadak untuk selama sebulan penuh Syawwal 1440-H, Muslim Indonesia malah melakukan ibadah mahdohnya jadi 12 jam lebih lambat daripada Muslim Mexico. Mengapa? Karena Muslim Indonesia mengalami 30 Ramadan, sedangkan Muslim Mexico masuk Syawwal langsung dari 29 Ramadan.

Itulah kekacauan akibat imkan-rukyat lokal. Makanya, sudah saatnya seluruh ummat Islam di dunia mengadopsi Kalender Islam Global (KIG) Turki yang sebetulnya telah disepakati oleh sebagian besar perwakilan ummat Islam dunia yang menghadiri Kongres KIG di Turki 2016 lalu. Kita harus segera menghentikan kekacauan sistem manajemen waktu ummat Islam.