Wednesday, May 22, 2019

Untuk data subuh dan isya tidak perlu SQM yang terkalibrasi


Ada misconception yang dihembuskan oleh anggota Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag, seolah-olah data SQM yang kurang dari 21 magnitudo, akan menyebabkan pembelokkan sinar yang mengakibatkan kehadiran fajar menjadi terhambat.

Video ini membantah itu. Pengukuran sky brightness untuk studi lingkungan (misalnya meneliti perilaku satwa liar) memang memerlukan hasil pengukuran sky brightness absolut karena harus membandingkannya dengan kondisi gelap yang sesungguhnya di alam liar.

Namun, untuk penelitian awal waktu subuh, kita hanya memerlukan pengukuran sky brightness relatif. Bertambah gelap atau terangnya langit diukur relatif terhadap base point yang telah ditetapkan. Langit yang bertambah cerlang akibat kehadiran fajar pun diukur relatif terhadap base point yang sama.


Kami memiliki data pendukung untuk klaim ini. Ada data sky brightness yang diambil menggunakan dua buah SQM di empat lokasi: Bitung, Manokwari, Balipapan, dan Batusangkar. Data di video ini juga membuktikan bahwa dip subuh tidak pernah menyentuh bahkan -17 derajat. Ini semakin membuktikan bahwa dip -19.5 derajat klaim THR Kemenag sebetulnya adalah sebuah blunder. Silahkan ikuti videonya, atau klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=P2gLqemDMS0 


0 comments: