Friday, May 24, 2019

Data Subuh Labuanbajo Milik ISRN dan THR Kemenag


Pada 24 April 2018, sebuah think-tank group Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag mengirimkan sekitar 20 tenaga ahlinya untuk mengambil data subuh di Labuanbajo, NTT. Dari misi ini hanya diperoleh satu saja data subuh. THR mengklaim bahwa fajar dapat terdeteksi ketika Matahari berada pada dip -19,5 derajat. Mendekati apa yang selama ini direkomendasikan oleh Kemenag yang menyatakan bahwa fajar terbit saat Matahari berada pada dip -20 derajat. Sayangnya, setelah kami lihat secara teliti, ternyata data milik THR ini cacat, di samping prosesnya juga sangat manipulatif.

Padahal, dengan dana riset yang mungkin kurang dari sepersepuluh biaya THR ke Labuanbajo, ISRN telah memperoleh lebih dari 150 data. 

Sebagai salah satu upaya untuk membuktikan bahwa data THR ini cacat dan prosesnya tidak sesuai dengan kaidah akademik yang reliable, pada 12 Mei 2018, ISRN mengirimkan hanya seorang stafnya juga ke Labuanbajo. Dari data SQM yang kami koleksi di Labuanbajo ini, kami memperoleh bahwa fajar muncul saat Matahari berada pada dip -14,5 derajat. Jauh dari hasil hitungan THR yang hanya dilakukan dengan cara kira-kira dan manipulatif.

Video ini menjelaskan perbedaan jauh tentang kualitas data, cara proses, dan hasil perhitungan dip saat fajar muncul di Labuanbajo. 

Silahkan ikuti melalui



0 comments: