Tuesday, January 29, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (1)


As of today, January 29, 2019, almost 117,000 people have accessed my articles and videos regarding the commencement of the Fajr prayer.

Obviously, Indonesians are atop with 64,486 readers and watchers (55.1%) because all my articles and videos are in Indonesian. The second group comes from the US with 8,940 readers (7.6%) because there might be hundreds of thousands of Indonesians are studying and working in the US. Here it comes the peculiar one as the third group comes from Russia with 8,614 readers (7.4%). I keep wondering why Russia? The number is even a lot larger than readers in Malaysia (5,208 or 4.5%) in the 5th rank after Belgium at 4th with 7,183 (6.1%).

If there are really Russians who speak Indonesian for academic reasons, how should Russians be interested in Islamic Science? This is the next question deserves an explanation.

After all, instead of struggling with unanswered astonishment, I began to think about creating the English version of the articles and videos. Here it is . . . the first English version of my video entitled: Why is dawn in Indonesia too early? (1). Please enjoy it through this address: 



Wednesday, January 23, 2019

Mengeksplorasi pola twilight global di dunia


Sudah semakin jelas bahwa penentuan dip sebagai indikasi hadirnya sinar pertama tanda masuknya waktu subuh di dunia ternyata tampaknya dilakukan tanpa data astronomi yang akurat. Ini tampak dari pola penentuan dipnya yang random (acak).

Pada tahun 2019 ini, Insya Allah, ISRN-UHAMKA akan melanjutkan riset tentang awal waktu subuh dan isya dengan obyektif untuk melihat pola penyebaran kemunculan fajar dan menghilangnya sinar syafaq secara global di seluruh belahan Bumi.

Sebagai tahap pertama, insya Allah, kami akan mengambil data astronomis di Stockholm (Swedia), Seattle (USA), Ankara (Turki), Cairo (Mesir), Hanoi dan Ho Chi Minh City (Vietnam). Mengapa kami memerlukan data di tempat-tempat ini, silahkan ikuti penjelasan saya pada video berikut:




Wednesday, January 2, 2019

Jadwal sholat tahun 2019 dengan sun depression angle baru


Dari lebih 112,000 pengunjung blog saya, artikel tentang Jadwal sholat untuk beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru menempati ranking keempat pengunjung paling banyak dengan jumlah pengunjung 3,162 (per 2 Januari 2019). Padahal artikel ini saya upload pada 30 Oktober 2018. Sedangkan artikel dengan 7,280 pengunjung (tertinggi) adalah Analisis Awal Syawwal 1436-H yang saya upload pada 10 Juli 2015, tiga setengah tahun lalu.

Ini menunjukkan penjelasan-penjelasan saya tentang koreksi awal waktu subuh dan isya dan bukti-bukti saintifik yang saya berikan, baik berbentuk artikel dan video, dapat diterima oleh ummat, meskipun pengakuan resmi dari pemerintah belum ada. Nyaris tidak ada juga protes baik dari kalangan ahli Ilmu Falak (Astronomi) maupun kalangan awam yang berupaya membantah penjelasan atas data, metode, algoritma, quality control, dan verifikasi atas hasil yang ISRN hasilkan (berupa artikel maupun video). 

Cuma ada satu orang yang terus ngeyel mencela bahwa ISRN belum melakukan filter atas data yang penuh dengan noise. Atas komentar ini sudah saya tanggapi, tapi tetap ngeyel. Bagaimana mungkin kami tidak melakukan filter padahal jumlah data kami selama dua tahun untuk subuh hanya 206 hari. Kalau kami tidak hilangkan data yang penuh noise, seharusnya kami punya data setidaknya 700 hari selama dua tahun. Kalau pembaca ini juga mau memahami analisis statistik dalam penjelasan-penjelasan di atas, pembaca ini seharusnya dapat menyimpulkan bahwa data yang penuh noise (baca: yang menghasilkan systematic dan gross errors) pasti akan tertolak menjadi anggota himpunan 206 data di atas.

Jadwal sholat dengan sun depression angle baru kali ini akan saya upload secara bertahap sesuai dengan permintaan pengunjung blog saya. Sementara, saya tampilkan kota-kota sebagai berikut:

INDONESIA
1) Balikpapan
2) Banda Aceh
3) Bandar Lampung
4) Bandung
5) Banten
6) Batam
7) Batusangkar
8) Bekasi
9) Bengkulu
10) Berau
11) Biak
12) Bitung
13) Bogor
14) Bontang
15) Cianjur
16) Cirebon
17) Denpasar
18) Grobogan
19) Jakarta
20) Jambi
21) Jayapura
22) Kendal
23) Kupang
24) Kutai Kartanegara
25) Lamongan
26) Makassar
27) Malang
28) Manado
29) Manokwari
30) Mataram
31) Medan
32) Mojokerto
33) Padangsidempuan
34) Palembang
35) Pamekasan
36) Parepare
37) Pekalongan
38) Pekanbaru
39) Pontianak
40) Purwokerto
41) Samarinda
42) Semarang
43) Serang
44) Subang
45) Sukoharjo
46) Sumenep
47) Surabaya
48) Surakarta
49) Tangerang Selatan
50) Tegal
51) Yogyakarta

MALAYSIA, SINGAPURA, BRUNEI
1) Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam
2) Batupahat, Johor, Malaysia
3) Ipoh, Perak, Malaysia
4) Johore Bahru, Johor, Malaysia
5) Kota Bahru, Kelantan, Malaysia
6) Kuala Lumpur, Malaysia
7) Kuala Terengganu, Terengganu, Malaysia
8) Kuantan, Pahang, Malaysia
9) Kuching, Serawak, Malaysia
10) Singapura. Singapura

Kota-kota lain segera menyusul sesuai dengan permintaan, atau saya lakukan secara bertahap secara alfabetis sesuai dengan daftar untuk tahun 2018 lalu. 

Karena jadwal sholat adalah murni representasi perjalanan Matahari, untuk sementara, jadwal yang telah tersedia untuk tahun 2018 lalu dapat digunakan karena perubahannya dengan tahun 2019 hanya pada satuan detik (waktu). Wallahu a'lam.