Tuesday, July 30, 2019

Less Sleep in Tacoma

Salam,

June 2019 marked a very important moment for ISRN that started GOING GLOBAL

Not only that we are commencing the collection of the world’s astronomical data for studying the global pattern for dawn and dusk, but it also started developing international collaboration.
We consider that our research on the beginning of the Fajr and Isha in Indonesia is conclusive and final. Statistically, the results have been stabilizing with high reliability. 

It is our first serial video about The Global Twilight Network and Project (GTNP) entitled Less Sleep in Tacoma. GTNP has its centers in Jakarta (Indonesia), Tacoma (USA), and Birmingham (UK). We might develop further this temporary unofficial communication group to become an official group in the future. It is a not-to-profit organization, and it will be open internationally for those who are interested in the study of the dawn and the dusk.


Tuesday, July 23, 2019

Memburu Fajar ke Seattle

Serial Global Twilight Network and Project-1

Juni 2019 ini merupakan momen penting bagi Islamic Science Research Network (ISRN) - UHAMKA karena kami mulai GO GLOBAL

Karena riset tentang awal waktu subuh dan isya di Indonesia telah kami anggap final, maka kami mulai memikirkan untuk memberikan kontribusi pada penelitian awal subuh dan isya di dunia. 


Ada dua tahapan yang kami lakukan. Pertama adalah melakukan pengamatan data astronomis perdana di sekitar Seattle antara 14-26 Juni 2019. Kedua, kami kemudian membangun kajian awal subuh dan isya dalam lingkup internasional dan kami beri nama: Global Twilight Network and Project. Pusat kajian ini ada di tiga tempat: 1) ISRN di Jakarta, 2) OpenFajr Project di Birmingham, Inggris, dan 3) Islamic Center of Tacoma, di Washington State, USA. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut ini: 

http://youtu.be/Sw2wcUB2jU8?hd=1 

Saturday, July 20, 2019

Premature Dawn in Indonesia

Assalamualaykum

Pada tanggal 3 Juli 2019, saya diundang sebagai salah satu Keynote Speakers dalam seminar nasional berjudul Falak Kontemporari Kebangsaan 2019 yang diselenggarakan bersama oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM), the Royal Institution Surveyor Malaysia (RISM), Jabatan Ukur Pemetaan Malaysia (JUPEM - semacam gabungan BIG dan BPN di Indonesia), dan Mufti Johor.

Selain saya, beberapa Keynote Speakers sebelum saya di antaranya adalah Mufti Johor (Menteri Agama di tingkat Negara Bagian Johor), Ketua JUPEM, dan Ketua Persatuan Falak Shar'i Malaysia. 

Bagi yang tertarik, ini adalah makalah asli saya dalam bahasa Inggris yang berjudul: Prematute Dawn di Indonesia. Versi cetak yang tersedia dalam proceedings resmi adalah versi Bahasa Melayu yang diterjemahkan oleh Penyelenggara karena mayoritas dari sekitar 700 peserta seminar tidak berbicara bahasa Inggris.

Makalah asli dapat diunduh di: https://drive.google.com/open?id=1XhYB2Im2QaJanKF7xSZkdA5HJSOeQtKt  

Semoga bermanfaat, salam.

Friday, June 7, 2019

Hadis Ayyamul Bidh kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global


Untuk yang kesekian kalinya, ummat Islam bukan saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia terpecah dalam menetapkan 1 Syawwal 1440-H. Sebagian menetapkan 1 Syawwal 1440-H jatuh pada 3 Juni 2019, tapi sebagian yang lain pada 4 Juni 2019.

Problem utamanya adalah akibat masing-masing wilayah menghendaki dapat melihat hilal sebagai syarat untuk memasuki bulan baru dalam Kalender Hijriah.

Upaya para ahli astronomi dunia untuk mempersatukan ini dengan membangun Kalender Islam Global (KIG) seperti yang dikongreskan pada 2016 lalu di Turki, tampaknya tidak menyurutkan hasrat masing-masing negara untuk memiliki kriteria imkan-rukyat lokal, atau melalui rukyatul hilal langsung di lapangan.

Video ini menjelaskan bahwa hadis tentang Ayyamul Bidh (Hari-Hari Putih) ternyata sangat kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global (KIG). Silahkan ikuti melalui:



Tuesday, June 4, 2019

Sudah saatnya, ummat Islam mengadopsi Kalender Islam Global


Saya berusaha agar pesan ini sampai ke Bapak/ Ibu tepat jam 7:11, tanggal 4 Juni 2019 WIB. Mengapa?

Karena pada saat itu, di atas ufuk timur Jakarta terdapat hilal dengan data astronomis sebagai berikut:

  • Ketinggian hilal 164.1 derajat (dari ufuk barat);
  • Elongasi 11 derajat
  • Ketebalan penyinaran hilal 1%;
  • Umur hilal 0.9 hari.
Di detik yang sama di Mexico City, saat itu jam 19:11, tanggal 3 Juni 2019, persis maghrib. Hilal yang sama dengan yang ada di Jakarta, di Mexico City memiliki data astronomis sebagai berikut:
  • Ketinggian hilal 6.3 derajat;
  • Elongasi 8.3 derajat;
  • Ketebalan penyinaran hilal 0.4%;
  • Umur hilal 0.5 hari.
Kedua data hilal itu, saya ambil dari Stellarium dan dapat dilihat di link ini:

Adakah yang dapat menjelaskan mengapa hilal yang di Jakarta yang tebalnya 1%, elongasinya 11 derajat, dll. itu tidak boleh diakui sebagai hilal, sedangkan yang di Mexico City yang tebalnya hanya 0.4%, elongasinya cuma 8 derajat, dan umurnya 0.5 hari dll. itu harus diakui sebagai hilal?

Inilah kekacauan jika kita menggunakan kriteria imkan-rukyat lokal seperti 2-3-8 nya MABIMS atau kriteria IR lokal yang lain. Nalar akademisnya jadi kacau balau.

Ada konsekuensi yang lebih serius lagi. 

Sepanjang masa, seharusnya, Muslim di Indonesia melaksanakan ibadah mahdohnya 12 jam sebelum Muslim di Mexico karena kita ada di sebelah timur Mexico. Tapi, mendadak untuk selama sebulan penuh Syawwal 1440-H, Muslim Indonesia malah melakukan ibadah mahdohnya jadi 12 jam lebih lambat daripada Muslim Mexico. Mengapa? Karena Muslim Indonesia mengalami 30 Ramadan, sedangkan Muslim Mexico masuk Syawwal langsung dari 29 Ramadan.

Itulah kekacauan akibat imkan-rukyat lokal. Makanya, sudah saatnya seluruh ummat Islam di dunia mengadopsi Kalender Islam Global (KIG) Turki yang sebetulnya telah disepakati oleh sebagian besar perwakilan ummat Islam dunia yang menghadiri Kongres KIG di Turki 2016 lalu. Kita harus segera menghentikan kekacauan sistem manajemen waktu ummat Islam.


Friday, May 24, 2019

Data Subuh Labuanbajo Milik ISRN dan THR Kemenag


Pada 24 April 2018, sebuah think-tank group Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag mengirimkan sekitar 20 tenaga ahlinya untuk mengambil data subuh di Labuanbajo, NTT. Dari misi ini hanya diperoleh satu saja data subuh. THR mengklaim bahwa fajar dapat terdeteksi ketika Matahari berada pada dip -19,5 derajat. Mendekati apa yang selama ini direkomendasikan oleh Kemenag yang menyatakan bahwa fajar terbit saat Matahari berada pada dip -20 derajat. Sayangnya, setelah kami lihat secara teliti, ternyata data milik THR ini cacat, di samping prosesnya juga sangat manipulatif.

Padahal, dengan dana riset yang mungkin kurang dari sepersepuluh biaya THR ke Labuanbajo, ISRN telah memperoleh lebih dari 150 data. 

Sebagai salah satu upaya untuk membuktikan bahwa data THR ini cacat dan prosesnya tidak sesuai dengan kaidah akademik yang reliable, pada 12 Mei 2018, ISRN mengirimkan hanya seorang stafnya juga ke Labuanbajo. Dari data SQM yang kami koleksi di Labuanbajo ini, kami memperoleh bahwa fajar muncul saat Matahari berada pada dip -14,5 derajat. Jauh dari hasil hitungan THR yang hanya dilakukan dengan cara kira-kira dan manipulatif.

Video ini menjelaskan perbedaan jauh tentang kualitas data, cara proses, dan hasil perhitungan dip saat fajar muncul di Labuanbajo. 

Silahkan ikuti melalui



Wednesday, May 22, 2019

Untuk data subuh dan isya tidak perlu SQM yang terkalibrasi


Ada misconception yang dihembuskan oleh anggota Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag, seolah-olah data SQM yang kurang dari 21 magnitudo, akan menyebabkan pembelokkan sinar yang mengakibatkan kehadiran fajar menjadi terhambat.

Video ini membantah itu. Pengukuran sky brightness untuk studi lingkungan (misalnya meneliti perilaku satwa liar) memang memerlukan hasil pengukuran sky brightness absolut karena harus membandingkannya dengan kondisi gelap yang sesungguhnya di alam liar.

Namun, untuk penelitian awal waktu subuh, kita hanya memerlukan pengukuran sky brightness relatif. Bertambah gelap atau terangnya langit diukur relatif terhadap base point yang telah ditetapkan. Langit yang bertambah cerlang akibat kehadiran fajar pun diukur relatif terhadap base point yang sama.


Kami memiliki data pendukung untuk klaim ini. Ada data sky brightness yang diambil menggunakan dua buah SQM di empat lokasi: Bitung, Manokwari, Balipapan, dan Batusangkar. Data di video ini juga membuktikan bahwa dip subuh tidak pernah menyentuh bahkan -17 derajat. Ini semakin membuktikan bahwa dip -19.5 derajat klaim THR Kemenag sebetulnya adalah sebuah blunder. Silahkan ikuti videonya, atau klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=P2gLqemDMS0 


Tuesday, May 7, 2019

Pengamatan Fajar di Padang


Setelah kunjungan dan pengamatan astronomis subuh di Batusangkar, pada 3-4 Mei 2019, saya selanjutnya bertugas ke Padang.

Menjelang subuh 3 Mei, bersama dengan Dr. Zulkarnaini (UIN Padang), kami mengambil data astronomis di halaman Asrama Haji Padang. Kondisi tempat pengamatan sebetulnya kurang ideal karena tidak cukup waktu untuk melakukan survey pandahuluan pada siang harinya. Namun data yang diperoleh cukup baik. Menurut data SQM kami, fajar baru muncul pada pukul 5:18:54. Sementara subuh pemerintah telah terjadi pada pukul 4:53:16. Dengan demikian, twilight (rentang subuh) pada pagi itu seharusnya hanya sekitar 53 menit.

Pada pagi pukul 9:00, 3 Mei tersebut, saya diminta memberikan Kuliah Umum di depan dosen dan mahasiwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), juga dalam topik koreksi waktu subuh dan isya tersebut. Saya merasa gembira karena sambutan atas hasil penelitian ini begitu baik. Malah, Bapak Rektor UMSB sangat tertarik untuk membangun Pusat Studi Falak dan menyelenggarakan pelatihan falak di waktu yang akan datang.

Menjelang subuh 4 Mei nya, masih bersama Dr. Zulkarnaini, kami kembali mengambil data astronomi subuh. Kali ini dilakukan di lantai 3 Kampus UMSB yang kondisinya lebih baik. Menurut data SQM, fajar muncul pada pukul 5:14:12, sementara adzan resmi terjadi pada pukul 4:53:03. Dengan demikian, twilight pada pagi itu seharusnya hanya 57.5 menit saja. 

Pada pagi hari 4 Mei, sekali lagi saya memberikan Kuliah Umum di hadapan pengurus Muhammadiyah (PWM dan PDM) se Sumatera Barat. Sekali lagi, antusiasme begitu tinggi. Diskusi sangat produktif dan segera akan disusun rencana kerjasama untuk melakukan penelitian bersama di masa yang akan datang.

Hasil pengamatan data subuh di Padang ini dapat di-download melalui: https://drive.google.com/open?id=1c8IYLIZWb8cBqN4mUH9sNZrMTdjyri5b. Semoga bermanfaat, dan wassalam.
5:18:54

Pengamatan Fajar di Batusangkar




Pada 30 April - 2 Mei 2019 lalu, saya memenuhi undangan IAIN Batusangkar untuk menjelaskan hasil penelitian ISRN tentang awal subuh dan isya.

Menjelang subuh tanggal 1 Mei, bersama dengan sepuluh dosen Fakultas Syariah IAIN Batusangkar, kami mengambil data subuh. Sayang, pemilihan lokasi pengambilan datanya kurang bagus karena berada di tepi jalan umum. Meskipun pada pagi buta, lalu lalang kendaraan (motor dan mobil) sangat mengganggu. Lampu mobil dan motor menyebabkan terlalu banyak noise (gangguan) pada data sky brightness yang diperoleh. Misi pagi tersebut gagal karena data tidak mungkin diproses.


Pada malam berikutnya, 2 Mei 2019, bersama rombongan yang sama, kami mengambil data di Bukit Shaduali, tidak jauh dari Kota Batusangkar. Tempatnya sangat ideal di ketinggian. Meskipun jauh dari laut, kami dapat mengamati kehadiran fajar di sebelah timur ufuk. Kami mengoperasikan tiga instrumen pendeteksi fajar. Dua buah SQM (satu milik ISRN-UHAMKA yang saya bawa dari Jakarta, dan satu milik IAIN Batusangkar), dan sebuah kamera CANON EOS-D80 DSLR camera milik ISRN-UHAMKA.


SQM kami operasikan dengan resolusi temporal 3 detik sejak pukul 4:25, atau sekitar 20 menit sebelum subuh resmi pemerintah. Sedangkan kamera CANON kami operasikan dengan resolusi temporal 6 detik.


Hasil analisis data subuh di Bukit Shaduali ini saya lampirkan sebagai format PDF. Yang tertarik, silahkan men-downloaD dari alamat berikut:  https://drive.google.com/open?id=1FByyGQRJDa3L9vw88iGGytlJ6ztMDl7i. 


Kami juga sedang menyiapkan laporan dalam format video yang akan kami upload dalam beberapa hari ke depan. Semoga bermanfaat dan salam.


Artikel dan video lain:

Thursday, April 4, 2019

Subuh yang terlalu awal di beberapa spot di sekitar Jakarta


Riset ISRN-UHAMKA tentang awal waktu subuh dan isya telah kami anggap conclusive yang ditunjukkan oleh telah stabilnya hasil hitungan sun depression angle (dip) sejak kami menggunakan 28 data (hari) sampai dengan 206 hari untuk subuh. Sedangkan untuk isya, dip juga telah stabil sejak kami menggunakan 28 hari sampai dengan 153 hari. Ini berarti, secara statistik, sample telah merepresentasikan seluruh populasi. Untuk selanjutnya, fokus penelitian ISRN akan dialihkan pada penyusunan pola penyebaran twilight global, di dunia. 

Namun demikian, pengambilan data di Indonesia tetap dilakukan untuk mendukung aktifitas pendidikan. Yaitu untuk praktek para mahasiswa dan para santri yang belajar Ilmu Falak. Hasil-hasilnya kami berikan dalam video berikut ini:



Monday, February 25, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (5)


For long, some astronomers have a presumption that the light pollution (in addition to air pollution) might delay the presence of dawn. In this fifth video, based on the real astronomical data, we proved that the presumption is groundless. 

ISRN-UHAMKA used an SQM to collect the sky-brightness data in two different places in Yogyakarta on May 5 and 6, 2018. The data collection took place in two different places, Krakal Beach and Panguk Hill when the moon phase was a waning gibbous moon, only 4-5 days after the full moon. 

The estimated dips from the SQM data on these two days were -16.7 degrees and -15.1 degrees, in spite of the fact that the sky was highly light polluted. The illuminated parts of the moon were 78% and 70% respectively. The above-mentioned dips are much deeper than the average dip of -13.3 degrees estimated from 206 days of the SQM data.



To verify the results, we used a high-resolution DSLR camera Nikon D5100 capable of producing an image with more than 16 million pixels. Some image processing techniques confirm the presence of the SQM's dawns. Therefore, the present Fajr call is really too early. Please, check the enclosed video. 

Previous video:

1) Why is dawn in Indonesia too early? (1)
2) Why is dawn in Indonesia too early? (2)

3) Why is dawn in Indonesia too early? (3)
4) Why is dawn in Indonesia too early? (4)

Tuesday, February 19, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (4)


ISRN has been using four sensors to detect the presence of dawn to mark the commencement of the Fajr prayer for Muslims in Indonesia. The main instrument is a Sky Quality Meter (SQM) which records the sky-brightness data. In the first video, we demonstrated the use of 198 data for the Fajr and 149 data for the Isha to conclude that the dawn actually occurs when the sun is at the dip of -13.3 degrees, not at -20 degrees like what we have been practicing for tens of years. This simply implies that our Fajr call is actually about 26 minutes too early. On the contrary, the Isha call is about 26 minutes too late. The latter might not be as crucial as the former one. However, it is becoming dangerous for those who perform their Maghreb prayer too late because the timings might have belonged to the Isha time.

In our second video, we showed a verification process using an All Sky Camera (ASC) to detect the presence of the real dawn, whilst in the third video, a verification process by an independent third party is explained.


In this fourth video, we used a low-cost gadget camera to verify the presence of the real dawn. All these verification processes further confirm that the SQM detected dawn is compliant with the actual physical data. Please check the above video.

Previous video:

1) Why is dawn in Indonesia too early? (1)
2) Why is dawn in Indonesia too early? (2)
3) Why is dawn in Indonesia too early? (3)

Monday, February 11, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (3)


On August 21, 2017, The Jakarta Islamic Center (JIC) in Jakarta invited us to present our interim results regarding the issue of the presence of dawn before an assembly of experts from different expertise. There were around 80 invitees which are generally sharia experts (hadith, interpretation, Islamic Astronomy, etc.). 

Two days later, on August 23, 2017, JIC sent its dawn observation team to photograph the dawn on Pramuka Island, Thousand Islands Regency. For this, the JIC observation team used an ordinary DSLR camera. This video explains the verification process by the third party. Visually, the JIC observation team did not witness the presence of dawn when the Fajr prayer call was echoed by the local mosque at 4:41, the official timing as suggested by the government. The team only confessed to witnessing the presence of dawn at about 5:15 which is about 14 minutes late as the estimated dawn using the SQM data occurred at 5:00:54. 

Furthermore, image processing analyses of the imageries taken by the team show that the real dawn only occurred at 5:20 which is 19 minutes later than the dawn calculated using the SQM data. This simply proves that the SQM sensor is apparently much more sensitive than the naked eyes. However, this report further convinced us that with better geometric and temporal resolutions, a DSLR camera might be a good instrument to verify the presence of dawn in the future. If this is of interest to you, please follow this link:



Previous video:

1) Why is dawn in Indonesia too early? (1)
2) Why is dawn in Indonesia too early? (2)

Friday, February 1, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (2)


ISRN-UHAMKA has been using five different sensors to detect the presence of dawn, although we have concluded that the SQM is actually our main instrument. As you will see from the following video presentations, SQM is a very versatile instrument for such tasks.

In this second video, ISRN-UHAMKA is presenting a verification process of the presence of dawn detected by the SQM data using an All Sky Camera (ASC). ASC is a reliable instrument for many environmentalists. It is basically an ordinary DSLR camera equipped with a fisheye lens capable of capturing half of the hemisphere. An Open Fajr Project initiated by Muslims in Birmingham, UK has used an ASC as the main (and the sole) sensor to rectify the commencement of the Fajr prayer.  A Consensus Panel consisting of 19 experts was formed to analyze hundreds of ASC imageries manually (i.e. visually). They conclude that the new dip for Birmingham is -13.4 degrees. It is unclear whether or not this new dip is then adopted by all Muslims in the UK. 

ISRN's approach is different in the sense that we used ASC only for the verification process to confirm the SQM detected dawn. Furthermore, ISRN applied the digital analysis to the ASC images using image processing techniques. Please check it through:



Previous video:
1) Why is dawn in Indonesia too early? (1)

Tuesday, January 29, 2019

Why is dawn in Indonesia too early? (1)


As of today, January 29, 2019, almost 117,000 people have accessed my articles and videos regarding the commencement of the Fajr prayer.

Obviously, Indonesians are atop with 64,486 readers and watchers (55.1%) because all my articles and videos are in Indonesian. The second group comes from the US with 8,940 readers (7.6%) because there might be hundreds of thousands of Indonesians are studying and working in the US. Here it comes the peculiar one as the third group comes from Russia with 8,614 readers (7.4%). I keep wondering why Russia? The number is even a lot larger than readers in Malaysia (5,208 or 4.5%) in the 5th rank after Belgium at 4th with 7,183 (6.1%).

If there are really Russians who speak Indonesian for academic reasons, how should Russians be interested in Islamic Science? This is the next question deserves an explanation.

After all, instead of struggling with unanswered astonishment, I began to think about creating the English version of the articles and videos. Here it is . . . the first English version of my video entitled: Why is dawn in Indonesia too early? (1). Please enjoy it through this address: 



Wednesday, January 23, 2019

Mengeksplorasi pola twilight global di dunia


Sudah semakin jelas bahwa penentuan dip sebagai indikasi hadirnya sinar pertama tanda masuknya waktu subuh di dunia ternyata tampaknya dilakukan tanpa data astronomi yang akurat. Ini tampak dari pola penentuan dipnya yang random (acak).

Pada tahun 2019 ini, Insya Allah, ISRN-UHAMKA akan melanjutkan riset tentang awal waktu subuh dan isya dengan obyektif untuk melihat pola penyebaran kemunculan fajar dan menghilangnya sinar syafaq secara global di seluruh belahan Bumi.

Sebagai tahap pertama, insya Allah, kami akan mengambil data astronomis di Stockholm (Swedia), Seattle (USA), Ankara (Turki), Cairo (Mesir), Hanoi dan Ho Chi Minh City (Vietnam). Mengapa kami memerlukan data di tempat-tempat ini, silahkan ikuti penjelasan saya pada video berikut: