Thursday, December 12, 2019

Belum ada fajar saat astronomical dawn di Bitung 12 Sep 2018


Masih banyak yang bertanya, mengapa kita harus menggunakan harga dip rerata hasil hitungan dip? Mengapa tidak cukup diukur sekali dan langsung diambil kesimpulan seperti yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat (TRH) Kemenag? Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan segamblang mungkin.

Kalau kita menabung uang Rp. 1 juta saja ke bank, bank teller pasti akan menceknya minimal dua kali meskipun kita yakinkan bahwa kita sudah menghitungnya berkali-kali. Bank teller ini sebetulnya sedang mencari redundancy (sering dinamakan degrees of freedom - DF). Semakin besar DF, maka semakin reliable hasilnya. 

Alam semesta bersifat stokastik (stochastic). Katakanlah, kita menimbang beras dan diperoleh 2.15 kg. Kalau kita ulangi lagi, mungkin akan diperoleh 2.18 kg. Kalau kita timbang 10 kali, maka mungkin akan diperoleh 10 nilai berat yang masing-masing berbeda. Berapakah berat beras yang sebenarnya. Jawaban singkatnya adalah: hanya Allah-lah yang tahu. Kalau ditimbang 100 atau 1000 kali, angka berat itupun terus berubah. Tugas statistik bukan mencari harga yang benar, tapi mencari the most plausible value (nilai yang paling masuk akal), itulah harga rerata (mean).

Demikian pula harga perhitungan dip subuh yang melibatkan kondisi alam yang sangat kompleks. Bagaimana mungkin untuk hal sepenting ini hanya diukur sekali padahal untuk transaksi Rp 1 juta rupiah saja orang harus menghitungnya berkali-kali?

Jadi, yang telah ISRN lakukan dengan memiliki 226 hari data subuh adalah sebetulnya dalam rangka memperbesar degrees of freedom agar hasil keputusannya reliable. Dua parameter statistik yang penting dan harus diumumkan pada ummat adalah harga mean (rerata) dan standard deviation. Dengan dua unbiased estimators statistik ini, kiat dapat melakukan kajian bagaimana sifat populasi statistiknya. 


Di Bitung pada 12 September 2018 lalu, harga dip subuh yang diperoleh adalah -16.78 derajat. Jauh lebih besar dari harga rerata nasional yang -13.27 derajat. Bagaimanakah menganalisis kehadiran fajar saat astronomical dawn -18 derajat, dan berapa probabilitas kemunculannya? Silahkan ikuti videonya.

Video menarik yang lain:
1) Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan;
2) Catatan dari Birmingham, menuju penyusunan pola twilight global;
3) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440-H;
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;
5) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo.


Sunday, December 8, 2019

Tiga sensor pendeteksi fajar di Balikpapan


Pada 14 & 15 Desember 2018, ISRN mengoperasikan tiga buah sensor untuk mendeteksi kehadiran fajar di Balikpapan, Kaltim. Kami menggunakan dua buah SQM (lama dan baru), dan sebuah DSLR camera NIKON.

Dalam studi di Balikpapan ini (sebetulnya kami juga memperoleh temuan yang sama di Manokwari, dan Bitung), kami dapat buktikan bahwa untuk mendeteksi kehadiran fajar, alat SQM tidak perlu dikalibrasi. Kehadiran fajar dapat ditentukan dengan melihat perubahan intensitas cahaya (magnitudo) relatif. Tidak diperlukan magnitudo absolut. Baru jika kita akan meneliti perilaku satwa liar (misal: burung), kita akan memerlukan SQM yang harus dikalibrasi karena kita harus melakukan benchmark pada kondisi kegelapan langit asli di hutan.


Kasus fajar di Balikpapan ini juga menunjukkan bahwa fajar belum muncul saat astronomical dawn, apalagi pada -20 derajat seperti subuh resmi kita saat ini. Silahkan ikuti video di atas.

Video menarik lain:
1) Fajar belum muncul saat astronomical dawn;
2) Kalender Islam Global, studi kasus: 1 Syawwal 1440H;
3) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag;

Thursday, December 5, 2019

Fajar belum muncul saat Astronomical Dawn


Banyak umat Islam yang sukar menerima kenyataan bahwa subuh kita selama ini ternyata jauh terlalu awal dari seharusnya. Ada sebagian yang percaya, namun, masih terpaku pada astronomical dawn (fajar astronomi) yaitu saat kedudukan Matahari berada pada posisi -18 derajat di bawah ufuk. Sikap seperti ini bias. Padahal sama sekali tidak didukung oleh fakta dan data. 

ISRN sampai saat ini telah memiliki data subuh sebanyak 228 hari, sehingga telah menjadi sebuah populasi sendiri. Dip rerata yang kami peroleh dari 228 data tersebut adalah -13.27 derajat dengan standard deviation -1.85 derajat. Dalam 99.9% confidence interval, maka dip subuh di Indonesia berada pada rentang antara -12.87 derajat dan -13.67 derajat. 


Video berikut ini menjelaskan juga probabilitas kemunculan fajar pada berbagai dip (dari 15 sampai dengan 20 derajat). Yang tertarik, silahkan ikuti video di atas. 

Wednesday, November 13, 2019

Analisis statistik awal subuh di Indonesia dengan sun depression angle baru


Kerjasama ISRN-UHAMKA dengan OpenFajr Project (OFP) Birmingham tampaknya semakin berkembang. Apalagi, saat ini OFP juga telah bekerjasama dengan the Royal Observatory Greenwich untuk menempatkan beberapa sensor pendeteksi fajar di Peterborough, Yorkshire, dan London sebagai tambahan yang sudah terpasang lama di Birmingham. Selain data morning twilight untuk menyempurnakan awal subuh, akan direkam juga data evening twilight untuk perbaikan awal waktu isya.

Sementara itu, untuk data lama yang dikoleksi pada tahun 2017 dan 2018 ada sekitar 554 hari data subuh, meskipun ISRN-UHAMKA baru menyelesaikan proses sekitar 200 hari. In syaa Allah, dalam waktu dekat ISRN-UHAMKA akan melakukan anlisis statistik untuk data yang telah rampung diproses.

Untuk sementara, analisis statistik hasil perhitungan sun depression angle baru untuk wilayah Asia Tenggara (Indonesia dan sedikit Malaysia) disajikan dalam video berikut ini. Yang tertarik, silahkan mengikutinya dari:



Video menarik lainnya:
1) Catatan dari Birmingham: Menuju penyusunan pola twilight global
2) Premature dawn in Indonesia
3) Kalender Islam Global: studi kasus Idul Fitri 1440-H
4) Data subuh Labuanbajo milik ISRN dan THR Kemenag



Friday, November 1, 2019

Catatan dari Birmingham: Menuju Penyusunan Pola Twilight Global


Juni 2019 merupakan momen penting bagi kemajuan penelitian awal waktu subuh dan isya oleh ISRN-UHAMKA. Saat itulah, kami mulai Go Global. Karena hasil penelitian awal subuh dan isya di Indonesia telah mencapai statistical saturation. Artinya, untuk Indonesia sudah tidak diperlukan data lagi karena sebanyak apapun data yang ditambahkan, secara statistik, hasilnya tidak akan berubah.

Pada Juni 2019 tersebut, bukan saja ISRN mulai melakukan pengkoleksian data fajar dan syafaq  di Tacoma, WA, USA, ternyata ISRN juga menerima kiriman sebanyak 554 hari data subuh dari sebuah komunitas Muslim di Birmingham, Inggris. Datanya berupa sekitar 56,400 foto digital rekaman kamera All-Sky Camera sepanjang tahun 2017-2018. 

Bagaimana kami mengembangkan algoritma pemrosesan datanya, dan bagaimana hasilnya, dapat diikuti melalui video berikut ini.


Previous videos:

1) Premature Dawn in Indonesia (1)
2) Premature Dawn in Indonesia (2)

3) Premature Dawn in Indonesia (3)
4) Premature Dawn in Indonesia (4)

Wednesday, September 25, 2019

Kalender Islam Global, Studi kasus: 1 Syawwal 1440-H


Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada 6 September 2019 lalu, saya diminta untuk mengisi Pengajian Bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya, Jakarta. 

Pengajian ini diliput langsung oleh TVMu (TV Muhammadiyah) dan videonya tersedia di situs TVMu. Namun, bagi yang tidak hadir langsung dalam acara pengajian tersebut, mungkin presentasi saya kurang jelas. Oleh karena itu, kembali saya buatkan video berikut agar dapat diikuti langsung oleh yang berminat.

Video ini menjelaskan firman Allah, Al-Baqarah: 189 yang menghendaki tata-waktu ummat Islam yang dapat digunakan baik untuk keperluan muamalah maupun ibadah. Tata waktu itu ternyata berisi dua komponen besar yaitu: tata-waktu harian dan tata-waktu bulanan. Keduanya memang independen, namun keduanya harus berjalan secara harmonis dan sinkron. Jika salah satunya tidak berjalan, bukan saja akan rusak sistem tata-waktu ummat Islam, tapi mungkin rusak pula sumber kehidupan semua maskhluk.

Secara singkat, video ini menjelaskan bahwa sebagai salah satu tanda hari Kiamat nanti, dikatakan ketika Matahari terbit dari sebelah barat. Rupanya peristiwa itu akan sangat mudah bagi Allah untuk menciptakannya. Tanpa menghancurkan Bumi-pun, in syaa Allah, semua makhluk hidup tidak akan mampu bertahan hidup ketika Matahari dan Bulan telah terbit dari barat.

Silahkan ikuti penjelasan saya melalui: 



Tuesday, July 30, 2019

Less Sleep in Tacoma

Salam,

June 2019 marked a very important moment for ISRN that started GOING GLOBAL

Not only that we are commencing the collection of the world’s astronomical data for studying the global pattern for dawn and dusk, but it also started developing international collaboration.
We consider that our research on the beginning of the Fajr and Isha in Indonesia is conclusive and final. Statistically, the results have been stabilizing with high reliability. 

It is our first serial video about The Global Twilight Network and Project (GTNP) entitled Less Sleep in Tacoma. GTNP has its centers in Jakarta (Indonesia), Tacoma (USA), and Birmingham (UK). We might develop further this temporary unofficial communication group to become an official group in the future. It is a not-to-profit organization, and it will be open internationally for those who are interested in the study of the dawn and the dusk.


Tuesday, July 23, 2019

Memburu Fajar ke Seattle

Serial Global Twilight Network and Project-1

Juni 2019 ini merupakan momen penting bagi Islamic Science Research Network (ISRN) - UHAMKA karena kami mulai GO GLOBAL

Karena riset tentang awal waktu subuh dan isya di Indonesia telah kami anggap final, maka kami mulai memikirkan untuk memberikan kontribusi pada penelitian awal subuh dan isya di dunia. 


Ada dua tahapan yang kami lakukan. Pertama adalah melakukan pengamatan data astronomis perdana di sekitar Seattle antara 14-26 Juni 2019. Kedua, kami kemudian membangun kajian awal subuh dan isya dalam lingkup internasional dan kami beri nama: Global Twilight Network and Project. Pusat kajian ini ada di tiga tempat: 1) ISRN di Jakarta, 2) OpenFajr Project di Birmingham, Inggris, dan 3) Islamic Center of Tacoma, di Washington State, USA. Yang tertarik, silahkan ikuti video berikut ini: 

http://youtu.be/Sw2wcUB2jU8?hd=1 

Saturday, July 20, 2019

Premature Dawn in Indonesia

Assalamualaykum

Pada tanggal 3 Juli 2019, saya diundang sebagai salah satu Keynote Speakers dalam seminar nasional berjudul Falak Kontemporari Kebangsaan 2019 yang diselenggarakan bersama oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM), the Royal Institution Surveyor Malaysia (RISM), Jabatan Ukur Pemetaan Malaysia (JUPEM - semacam gabungan BIG dan BPN di Indonesia), dan Mufti Johor.

Selain saya, beberapa Keynote Speakers sebelum saya di antaranya adalah Mufti Johor (Menteri Agama di tingkat Negara Bagian Johor), Ketua JUPEM, dan Ketua Persatuan Falak Shar'i Malaysia. 

Bagi yang tertarik, ini adalah makalah asli saya dalam bahasa Inggris yang berjudul: Prematute Dawn di Indonesia. Versi cetak yang tersedia dalam proceedings resmi adalah versi Bahasa Melayu yang diterjemahkan oleh Penyelenggara karena mayoritas dari sekitar 700 peserta seminar tidak berbicara bahasa Inggris.

Makalah asli dapat diunduh di: https://drive.google.com/open?id=1XhYB2Im2QaJanKF7xSZkdA5HJSOeQtKt  

Semoga bermanfaat, salam.

Friday, June 7, 2019

Hadis Ayyamul Bidh kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global


Untuk yang kesekian kalinya, ummat Islam bukan saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia terpecah dalam menetapkan 1 Syawwal 1440-H. Sebagian menetapkan 1 Syawwal 1440-H jatuh pada 3 Juni 2019, tapi sebagian yang lain pada 4 Juni 2019.

Problem utamanya adalah akibat masing-masing wilayah menghendaki dapat melihat hilal sebagai syarat untuk memasuki bulan baru dalam Kalender Hijriah.

Upaya para ahli astronomi dunia untuk mempersatukan ini dengan membangun Kalender Islam Global (KIG) seperti yang dikongreskan pada 2016 lalu di Turki, tampaknya tidak menyurutkan hasrat masing-masing negara untuk memiliki kriteria imkan-rukyat lokal, atau melalui rukyatul hilal langsung di lapangan.

Video ini menjelaskan bahwa hadis tentang Ayyamul Bidh (Hari-Hari Putih) ternyata sangat kompatibel dengan prinsip Kalender Islam Global (KIG). Silahkan ikuti melalui:



Tuesday, June 4, 2019

Sudah saatnya, ummat Islam mengadopsi Kalender Islam Global


Saya berusaha agar pesan ini sampai ke Bapak/ Ibu tepat jam 7:11, tanggal 4 Juni 2019 WIB. Mengapa?

Karena pada saat itu, di atas ufuk timur Jakarta terdapat hilal dengan data astronomis sebagai berikut:

  • Ketinggian hilal 164.1 derajat (dari ufuk barat);
  • Elongasi 11 derajat
  • Ketebalan penyinaran hilal 1%;
  • Umur hilal 0.9 hari.
Di detik yang sama di Mexico City, saat itu jam 19:11, tanggal 3 Juni 2019, persis maghrib. Hilal yang sama dengan yang ada di Jakarta, di Mexico City memiliki data astronomis sebagai berikut:
  • Ketinggian hilal 6.3 derajat;
  • Elongasi 8.3 derajat;
  • Ketebalan penyinaran hilal 0.4%;
  • Umur hilal 0.5 hari.
Kedua data hilal itu, saya ambil dari Stellarium dan dapat dilihat di link ini:

Adakah yang dapat menjelaskan mengapa hilal yang di Jakarta yang tebalnya 1%, elongasinya 11 derajat, dll. itu tidak boleh diakui sebagai hilal, sedangkan yang di Mexico City yang tebalnya hanya 0.4%, elongasinya cuma 8 derajat, dan umurnya 0.5 hari dll. itu harus diakui sebagai hilal?

Inilah kekacauan jika kita menggunakan kriteria imkan-rukyat lokal seperti 2-3-8 nya MABIMS atau kriteria IR lokal yang lain. Nalar akademisnya jadi kacau balau.

Ada konsekuensi yang lebih serius lagi. 

Sepanjang masa, seharusnya, Muslim di Indonesia melaksanakan ibadah mahdohnya 12 jam sebelum Muslim di Mexico karena kita ada di sebelah timur Mexico. Tapi, mendadak untuk selama sebulan penuh Syawwal 1440-H, Muslim Indonesia malah melakukan ibadah mahdohnya jadi 12 jam lebih lambat daripada Muslim Mexico. Mengapa? Karena Muslim Indonesia mengalami 30 Ramadan, sedangkan Muslim Mexico masuk Syawwal langsung dari 29 Ramadan.

Itulah kekacauan akibat imkan-rukyat lokal. Makanya, sudah saatnya seluruh ummat Islam di dunia mengadopsi Kalender Islam Global (KIG) Turki yang sebetulnya telah disepakati oleh sebagian besar perwakilan ummat Islam dunia yang menghadiri Kongres KIG di Turki 2016 lalu. Kita harus segera menghentikan kekacauan sistem manajemen waktu ummat Islam.


Friday, May 24, 2019

Data Subuh Labuanbajo Milik ISRN dan THR Kemenag


Pada 24 April 2018, sebuah think-tank group Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag mengirimkan sekitar 20 tenaga ahlinya untuk mengambil data subuh di Labuanbajo, NTT. Dari misi ini hanya diperoleh satu saja data subuh. THR mengklaim bahwa fajar dapat terdeteksi ketika Matahari berada pada dip -19,5 derajat. Mendekati apa yang selama ini direkomendasikan oleh Kemenag yang menyatakan bahwa fajar terbit saat Matahari berada pada dip -20 derajat. Sayangnya, setelah kami lihat secara teliti, ternyata data milik THR ini cacat, di samping prosesnya juga sangat manipulatif.

Padahal, dengan dana riset yang mungkin kurang dari sepersepuluh biaya THR ke Labuanbajo, ISRN telah memperoleh lebih dari 150 data. 

Sebagai salah satu upaya untuk membuktikan bahwa data THR ini cacat dan prosesnya tidak sesuai dengan kaidah akademik yang reliable, pada 12 Mei 2018, ISRN mengirimkan hanya seorang stafnya juga ke Labuanbajo. Dari data SQM yang kami koleksi di Labuanbajo ini, kami memperoleh bahwa fajar muncul saat Matahari berada pada dip -14,5 derajat. Jauh dari hasil hitungan THR yang hanya dilakukan dengan cara kira-kira dan manipulatif.

Video ini menjelaskan perbedaan jauh tentang kualitas data, cara proses, dan hasil perhitungan dip saat fajar muncul di Labuanbajo. 

Silahkan ikuti melalui



Wednesday, May 22, 2019

Untuk data subuh dan isya tidak perlu SQM yang terkalibrasi


Ada misconception yang dihembuskan oleh anggota Tim Hisab Rukyat (THR) Kemenag, seolah-olah data SQM yang kurang dari 21 magnitudo, akan menyebabkan pembelokkan sinar yang mengakibatkan kehadiran fajar menjadi terhambat.

Video ini membantah itu. Pengukuran sky brightness untuk studi lingkungan (misalnya meneliti perilaku satwa liar) memang memerlukan hasil pengukuran sky brightness absolut karena harus membandingkannya dengan kondisi gelap yang sesungguhnya di alam liar.

Namun, untuk penelitian awal waktu subuh, kita hanya memerlukan pengukuran sky brightness relatif. Bertambah gelap atau terangnya langit diukur relatif terhadap base point yang telah ditetapkan. Langit yang bertambah cerlang akibat kehadiran fajar pun diukur relatif terhadap base point yang sama.


Kami memiliki data pendukung untuk klaim ini. Ada data sky brightness yang diambil menggunakan dua buah SQM di empat lokasi: Bitung, Manokwari, Balipapan, dan Batusangkar. Data di video ini juga membuktikan bahwa dip subuh tidak pernah menyentuh bahkan -17 derajat. Ini semakin membuktikan bahwa dip -19.5 derajat klaim THR Kemenag sebetulnya adalah sebuah blunder. Silahkan ikuti videonya, atau klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=P2gLqemDMS0 


Tuesday, May 7, 2019

Pengamatan Fajar di Padang


Setelah kunjungan dan pengamatan astronomis subuh di Batusangkar, pada 3-4 Mei 2019, saya selanjutnya bertugas ke Padang.

Menjelang subuh 3 Mei, bersama dengan Dr. Zulkarnaini (UIN Padang), kami mengambil data astronomis di halaman Asrama Haji Padang. Kondisi tempat pengamatan sebetulnya kurang ideal karena tidak cukup waktu untuk melakukan survey pandahuluan pada siang harinya. Namun data yang diperoleh cukup baik. Menurut data SQM kami, fajar baru muncul pada pukul 5:18:54. Sementara subuh pemerintah telah terjadi pada pukul 4:53:16. Dengan demikian, twilight (rentang subuh) pada pagi itu seharusnya hanya sekitar 53 menit.

Pada pagi pukul 9:00, 3 Mei tersebut, saya diminta memberikan Kuliah Umum di depan dosen dan mahasiwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), juga dalam topik koreksi waktu subuh dan isya tersebut. Saya merasa gembira karena sambutan atas hasil penelitian ini begitu baik. Malah, Bapak Rektor UMSB sangat tertarik untuk membangun Pusat Studi Falak dan menyelenggarakan pelatihan falak di waktu yang akan datang.

Menjelang subuh 4 Mei nya, masih bersama Dr. Zulkarnaini, kami kembali mengambil data astronomi subuh. Kali ini dilakukan di lantai 3 Kampus UMSB yang kondisinya lebih baik. Menurut data SQM, fajar muncul pada pukul 5:14:12, sementara adzan resmi terjadi pada pukul 4:53:03. Dengan demikian, twilight pada pagi itu seharusnya hanya 57.5 menit saja. 

Pada pagi hari 4 Mei, sekali lagi saya memberikan Kuliah Umum di hadapan pengurus Muhammadiyah (PWM dan PDM) se Sumatera Barat. Sekali lagi, antusiasme begitu tinggi. Diskusi sangat produktif dan segera akan disusun rencana kerjasama untuk melakukan penelitian bersama di masa yang akan datang.

Hasil pengamatan data subuh di Padang ini dapat di-download melalui: https://drive.google.com/open?id=1c8IYLIZWb8cBqN4mUH9sNZrMTdjyri5b. Semoga bermanfaat, dan wassalam.
5:18:54

Pengamatan Fajar di Batusangkar




Pada 30 April - 2 Mei 2019 lalu, saya memenuhi undangan IAIN Batusangkar untuk menjelaskan hasil penelitian ISRN tentang awal subuh dan isya.

Menjelang subuh tanggal 1 Mei, bersama dengan sepuluh dosen Fakultas Syariah IAIN Batusangkar, kami mengambil data subuh. Sayang, pemilihan lokasi pengambilan datanya kurang bagus karena berada di tepi jalan umum. Meskipun pada pagi buta, lalu lalang kendaraan (motor dan mobil) sangat mengganggu. Lampu mobil dan motor menyebabkan terlalu banyak noise (gangguan) pada data sky brightness yang diperoleh. Misi pagi tersebut gagal karena data tidak mungkin diproses.


Pada malam berikutnya, 2 Mei 2019, bersama rombongan yang sama, kami mengambil data di Bukit Shaduali, tidak jauh dari Kota Batusangkar. Tempatnya sangat ideal di ketinggian. Meskipun jauh dari laut, kami dapat mengamati kehadiran fajar di sebelah timur ufuk. Kami mengoperasikan tiga instrumen pendeteksi fajar. Dua buah SQM (satu milik ISRN-UHAMKA yang saya bawa dari Jakarta, dan satu milik IAIN Batusangkar), dan sebuah kamera CANON EOS-D80 DSLR camera milik ISRN-UHAMKA.


SQM kami operasikan dengan resolusi temporal 3 detik sejak pukul 4:25, atau sekitar 20 menit sebelum subuh resmi pemerintah. Sedangkan kamera CANON kami operasikan dengan resolusi temporal 6 detik.


Hasil analisis data subuh di Bukit Shaduali ini saya lampirkan sebagai format PDF. Yang tertarik, silahkan men-downloaD dari alamat berikut:  https://drive.google.com/open?id=1FByyGQRJDa3L9vw88iGGytlJ6ztMDl7i. 


Kami juga sedang menyiapkan laporan dalam format video yang akan kami upload dalam beberapa hari ke depan. Semoga bermanfaat dan salam.


Artikel dan video lain:

Thursday, April 4, 2019

Subuh yang terlalu awal di beberapa spot di sekitar Jakarta


Riset ISRN-UHAMKA tentang awal waktu subuh dan isya telah kami anggap conclusive yang ditunjukkan oleh telah stabilnya hasil hitungan sun depression angle (dip) sejak kami menggunakan 28 data (hari) sampai dengan 206 hari untuk subuh. Sedangkan untuk isya, dip juga telah stabil sejak kami menggunakan 28 hari sampai dengan 153 hari. Ini berarti, secara statistik, sample telah merepresentasikan seluruh populasi. Untuk selanjutnya, fokus penelitian ISRN akan dialihkan pada penyusunan pola penyebaran twilight global, di dunia. 

Namun demikian, pengambilan data di Indonesia tetap dilakukan untuk mendukung aktifitas pendidikan. Yaitu untuk praktek para mahasiswa dan para santri yang belajar Ilmu Falak. Hasil-hasilnya kami berikan dalam video berikut ini: