Friday, November 16, 2018

Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (6)


Data subuh Labuanbajo, BHR Kemenag

Pada 24 April 2018, Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag mengirimkan sekitar 20 ahlinya, di antaranya, untuk mengambil data subuh di Labuanbajo NTT. Pengambilan data ini bertujuan untuk membuktikan bahwa keterlambatan awal waktu subuh hasil hitungan ISRN yang hanya sekitar -13 derajat itu adalah akibat data SQM nya yang penuh dengan polusi (cahaya dan sinar) di Pulau Jawa. BHR berpendapat, di wilayah dengan tingkat polusi yang rendah, awal subuh tetap akan terjadi pada dip -20 derajat. Itulah sebabnya BHR Kemenag berupaya mengambil sampel datanya di Labuanbajo NTT yang dianggap tingkat polusinya paling rendah di Indonesia.

Sayangnya, data yang diambil BHR di Labuanbajo itu ternyata termasuk kategori early aborted atau dihentikan sebelum masanya sehingga sedikit cacat secara saintifik. Yang lebih parah, cara menganalisis datanya juga cenderung serampangan dengan mengabaikan kaidah saintifik yang unbiased, obyektif, dan reliable. Silahkan ikuti melalui:




Artikel lain:
1) Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (1)
2) Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (2)
3) Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (3)
4) Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (4)
5) Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (5)
6) Analisis Iedul Adha (1)
7) Analisis Iedul Adha (2)
8) Analisis Iedul Adha (3)
9) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
10) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
11) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
12) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
13) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
14) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
15) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
15) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru

0 comments: