Monday, October 1, 2018

Masih perlukah perselisihan arah Kiblat?


Arah kiblat selalu menjadi diskusi yang enggak pernah berhenti. Sebetulnya, sudah banyak software dan aplikasi yang dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat. Tapi, masih banyak juga ulama dan sarjana Muslim yang selalu mempersoalkan akurasinya. Apalagi dengan banyaknya gempa bumi yang terjadi, banyak ulama dan sarjana Muslim yang berspekulasi bahwa arah kiblat telah berubah. Pada tahun 2010-an, banyak masjid/musholla, dan kuburan yang dibongkar karena spekulasi ini. Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya?

Arah kiblat saat sholat ummat islam adalah ke arah Ka'bah di Mekah. Jarak Jakarta ke Ka'bah adalah sekitar 7,922 km sedangkan ukuran Ka'bah hanya sekitar 12 m x 13 m. Inilah problem besarnya. Menghitung arah kiblat (azimuth Jakarta-Ka'bah) bukanlah hal yang sulit. Hitungan geodetis dengan pemodelan Bumi yang paling akurat dapat menghitung arah kiblat sampai dengan 0.1" (sepersepuluh detik sudut). 

Persoalan besar yang terjadi adalah dalam proses reverse engineeringnya. Setelah kita dapat menghitung arah kiblat sampai akurasi 01", kita perlu menetapkannya di lapangan. Dalam Teknik Sipil ini dinamakan, staking out yang tidak mungkin seakurat hitungan teoretis. Secara empiris, proses staking out ini bisa menyebabkan kesalahan sebesar 10 derajat dengan sangat mudah. Secara matematik, kalau kita salah melakukan staking out sebesar 1" (satu detik sudut) saja dari Jakarta, maka arah kiblat di ujung Mekah sana akan menyimpang sebesar 38.4 meter. Jadi, kalau kesalahannya 10 derajat maka kesalahan arah di ujung Mekah sana adalah sebesar 10x3600x38.4 meter = 1,382 kilometer! Jadi secara teoretis, tidak mungkin ada orang Islam di Jakarta ini yang dapat menghadap Ka'bah saat sholat. Bahkan dari Madinah pun, insya Allah tidak mungkin. Jadi, saran saya, lebih baik energi umat Islam lebih fokus digunakan untuk mendiskusikan saat awal waktu subuh dan isya. Dengan menggunakan empat jenis sensor dan ratusan data yang kami miliki, ISRN telah dapat membuktikan bahwa awal subuh di Indonesia jauh  terlalu awal, sedangkan awal isya kita jauh terlalu lambat.

Penjelasan grafis yang sederhana dapat dilihat pada file berikut: Analisis atas perselisihan arah Kiblat

Bagi yang tertarik dengan hitungan yang lebih teliti dan sangat teknis, dapat baca artikel saya berikut: Geodetic analysis of disputed accurate qibla direction

Allahu a'lam, semoga bermanfaat.

Artikel menarik lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)

10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru



2 comments:

Sutrisno Muchtar said...

Tks Prof.Tono sangat memberikan pencerahan utk umat. Smg terus berkarya utk umat. Salam, sm

Tono Saksono said...

Terima kasih, Lud