Tuesday, August 28, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (3)


Sebagai rangkaian Analisis Iedul Adha 1439-H (3), tulisan ini sekali lagi menjelaskan bahwa sains dan teknologi dapat digunakan untuk memverifikasi bahwa ritual Iedul Adha 1439-H lalu seharusnya dapat dilakukan pada satu hari yang sama di seluruh dunia, yaitu pada 21 Agustus 2018.

Penggunaan dua software Accurate Times dan Stellarium dapat membuktikan bahwa meskipun hilal di Indonesia tidak kelihatan pada maghrib 11 Agustus 2018 lalu, namun sejatinya hilal di Indonesia itu selalu lebih besar daripada wilayah di sebelah timurnya (termasuk Mekah). Artikel selengkapnya berupa file PDF dan dapat diunduh melalui: Analisis Iedul Adha 1439-H (3).

Ada beberapa gambar yang mungkin terlalu kecil pada artikel tersebut. Bila diperlukan gambar dalam skala aslinya, silahkan unduh melalui ling berikut:

Hilal pada 11/08/18 pukul 20:06:48 di Mexico City
Hilal pada 12/08/18 pukul 09:06:48 di Jakarta
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 12:06:50
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 17:55:02


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar



Thursday, August 23, 2018

Korelasi antara polusi dengan kehadiran fajar


Sejak ISRN menerbitkan buku hasil penelitian berjudul Evaluasi Awal Waktu Subuh dan Isya: Perspektif Sains, Teknologi dan Syariah, muncullah opini dan isu untuk mengecilkan hasil penelitian ini. Kelihatannya, tujuannya sama yaitu untuk membuktikan bahwa hasil penelitian ISRN itu salah, dan penetapan dip subuh sebesar -20 derajat (sekitar 80 menit sebelum syuruq) dan dip isya sebesar -18 derajat (72 menit setelah maghrib) yang selama ini dianut oleh Kemenag telah benar adanya. Maka muncullah sebuah diagram teoritis hasil rekaan untuk menggambarkan terbiasnya sinar fajar dan menyebabkan terlambatnya kemunculan fajar.

Anehnya, seharusnya grafik seperti ini adalah hasil sebuah pemodelan ribuan data fisik hasil pengamatan yang cukup kompleks yang dikoleksi dan diteliti di berbagai lokasi dengan tingkat polusi cahaya dan udara yang berbeda. Tapi nyatanya, grafik di atas malah hanya dibuat sebagai hasil hayalan tanpa menggunakan satupun data. Jelas ini merupakan diagram hasil rekaan yang penuh bias. 

Tulisan ini membuktikan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara polusi dengan kemunculan fajar. Silahkan ikuti melalui Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar.


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha 1439-H (1)
2) Analisis Iedul Adha 1439-H (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Hijriah Global: imkan-rukyat global vs imkan-rukyat lokal
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2) 

Wednesday, August 22, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (2)

Dalam dua minggu terakhir telah terjadi "perang dalil" para ulama atas apa yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam menghadapai perbedaan Iedul Adha 1439-H antara Indonesia dan Arab Saudi. Melalui Mahkamah Agungnya, Arab Saudi telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1439-H jatuh pada tanggal 12 Agustus 2018, sehingga tanggal 10 Dzulhijjah 1439-H bertepatan dengan Selasa, 21 Agustus 2018. Sementara Kementerian Agama dan sebagaian organisasi besar Islam Indonesia telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1439-H jatuh pada 13 Agustus 2018, sehingga tanggal 10 Dzulhijjah 1439-H bertepatan dengan Rabu, 22 Agustus 2018.

Perbedaan ini menjadi sangat krusial karena pada 9 Dzulhijjah, umat Islam disunnatkan melaksanakan Puasa Arafah saat jamaah haji di Mekkah sedang melaksanakan ritual wukuf di Padang Arafah. Problemnya, karena perbedaan penetapan awal Dzulhijjah di atas, Puasa Arafah di Indonesia akibatnya jatuh pada 10 Dzulhijjah menurut perhitungan Arab Saudi. Padahal, pada 10 Dzulhijjah, umat Islam justru diharamkan berpuasa.

Dalam tulisan ini, saya berikan salah satu contoh penggunaan sains dan teknologi untuk memverifikasi kehadiran fenomena astronomis yang sangat jelas dan dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik penetapan 1 Dzulhijjah 1439-H di atas. Silahkan unduh PDF file Analisis Iedul Adha (2) berikut ini.

Tuesday, August 14, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (1)


Untuk kesekian kalinya, terjadi perbedaan penetapan hari Iedul Adha 1439-H. Berdasarkan Kalender Islam Global (KIG) yang telah ditetapkan dua tahun lalu di Turki, Iedul Adha jatuh di seluruh dunia pada 21 Agustus 2018. 

Para ahli falak Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhammadiyah sebetulnya telah menyepakati untuk menerima KIG. Namun, sebagai organisasi yang sudah terlanjur gemuk, keputusan formal masih menunggu Munas Tarjih yang akan mendengarkan pendapat para ahli syariah seperti hadis, tafsir, dan lain-lain. Sementara belum ditetapkan oleh Munas Tarjih, maka Muhammadiyah masih tetap menggunakan kriteris lokal wujudul hilal yang telah lama digunakan, sehingga telah memutuskan Iedul Adha jatuh pada 22 Agustus 1439-H.

Pemerintah Indonesia (Kemenag), yang tetap kukuh dengan rukyatul hilal lokal dan belum mau menerima KIG juga menyimpulkan bahwa Iedul Adha jatuh pada 22 Agustus 2018.

Karena perbedaan tersebut, saya memperoleh banyak pertanyaan mengapa perbedaan ini terjadi. Berikut adalah analisis saya: Analisis Iedul Adha 1439-H.