Tuesday, June 12, 2018

Analisis data subuh Labuanbajo 13 Mei 2018


Pemrosesan data subuh Labuanbajo tanggal 13 Mei termasuk kategori yang agak sukar. Penyebabnya karena saat survey mulai dilakukan pada sekitar pukul 4:26, Bulan waning gibbous baru saja terbit sekitar pukul 3:32. Pada saat survey dimulai, data moon ephemeris menunjukkan posisi Bulan ada di altitud +11:36:16 dan azimuth 85:24:41 (lihat slide no. 3 pada lampiran). Meskipun kondisi iluminasinya hanya sekitar 8%, tapi ini menunjukkan polusi cahaya yang cukup berat karena kamera betul-betul menghadap waning gibbous moon ini.

Akibatnya, data SQM yang kami peroleh, sejak sekitar pukul 3:00 telah menunjukkan tren penurunan (lihat silde no. 2 pada lampiran). Untuk data seperti ini, pemodelan polinomial untuk data SQM akan gagal. Namun, tidak berarti kami kemudian main tunjuk cara tebak-tebak buah manggis. Maka, kami mendekatinya dengan pemodelan moving slope analysis (MSA) dengan lebar window 3, 5, dan 7. Dengan pemodelan MSA ini fajar dapat dihitung muncul pada pukul 5:09:26. Ini ekivalen dengan dip = -13.72 (lihat slide no. 16).

Hasil temuan ini perlu diverifikasi dengan analisis histogram atas 1,250 citra Nikon-5100 yang kami peroleh. Analisis edge detection dan image adjustment kurang berhasil karena polusi cahaya waning gibbous. Proses image processing dilakukan dengan metode progressive sampling sehingga analisis histogram tidak perlu dilakukan atas semua citra yang ada. Dari hasil analisis histogram citra-citra Nikon-5100, maka dapat dikonfirmasi kehadiran fajar terindikasi dari perubahan signifikan histogram yang ada dan muncul antara citra no. 513 (pukul 5:09:16) dan citra no. 516 (pukul 5:09:31). Dengan demikian, hasil analisis data SQM di atas dapat diverifikasi secara akurat secara visual.

Sekali lagi, ini adalah bukti bahwa kehadiran polusi cahaya sama sekali tidak berpengaruh pada waktu terdeteksinya fajar. Fajar muncul ketika Matahari berada di bawah ufuk pada kisaran 13-14 derajat. Fail pps hasil analisisnya dapat didownload dari sini.

Analisis data subuh Labuanbajo 12 Mei 2018


Alhamdulillah, pada 11-13 Mei 2018 lalu, ISRN telah menugaskan Sekretaris ISRN, Sdr. Adi Damanhuri, untuk mengambil data subuh dan isya di Labuanbajo, NTT. ISRN menggunakan dua teknologi sensor dalam survey kali ini yaitu: SQM (sky quality meter) dan Kamera DSLR Nikon-5100. Mengingat dana riset kami yang sangat terbatas, ISRN memang berusaha beroperasi secara cost effective. Bandingkan dengan operasi Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag yang memberangkatkan sekitar 20-an ahli (dalam tim, ada beberapa Kyai, beberapa Profesor, dan beberapa Doktor) yang memang dibiayai negara.

Secara bertahap, analisis data Labuanbajo ini kami laporkan. Untuk kali ini, kami laporkan berupa file power point show (pps) untuk data subuh 12 Mei 2018.

Dengan pemodelan polinomial derajat 4 atas data SQM, kami dapat mendeteksi kehadiran fajar pada jam 05:06:09 . Dari sini diperoleh hitungan dip = -14.53 derajat. Sementara itu, dengan menggunakan dip -20 derajat, seharusnya fajar telah muncul pada jam 04:43:17 (lihat slide no 17).

Proses image processing atas data Kamera Nikon-5100 kami lakukan dengan algoritma canny edge detection. Pada sisi kiri setiap slide file pps tercantum nomor citra dan jam pengambilannya (ada 981 8-bit color image yang masing-masing memiliki resolusi geometris 3,264 pixel (baris) x 4,928 pixel (kolom)). Proses image processing dilakukan dengan metode progressive sampling sejak citra no. 268 (jam 04:55:42) sampai citra no. 437 (jam 5:09:47). Pada citra no. 268 ini saja, jelas belum tampak ada indikasi kehadiran fajar. Apalagi pada saat Matahari masih pada dip -20 derajat pada jam 04:43:17 seperti yang kita percayai selama ini.

Hasil canny edge detection ini secara akurat dapat mengidentifikasi perbedaan jumlah sebaran detil partikel-partikel cahaya fajar yang terdeteksi antara citra no. 390 (jam 05:05:52) dengan citra no. 400 (jam 05:06:42). Dengan demikian kehadiran fajar menurut analisis data SQM yang muncul pada 05:06:09 dapat diverifikasi.

Yang tertarik mempelajari hasil analisis tersebut, silahkan download file pps kami di sini. Semoga bermanfaat, dan wassalam.

Monday, June 4, 2018

Kalender Hijriah Global: Imkan-Rukyat Global vs Imkan-Rukyat Lokal

Saya sedang menulis sebuah buku berjudul Membongkar Dogma Imkan-Rukyat. Sayangnya, proses penulisannya agak tersendat karena terpecah dengan pelaksanaan penelitian tentang awal waktu subuh dan isya yang juga sangat menyita waktu.

Pada 30 Mei 2018 lalu lalu, PWM Muhammadiyah DKI Jakarta minta saya memberikan kajian bulanan tentang Kalender Islam Global. Sebagian kecil isi buku tersebut saya tuliskan dengan isi yang saya jelaskan pada artikel ini. Mudah-2 an bermanfaat untuk memahami kekacauan manajemen waktu umat Islam akibat konsep imkan-rukyat lokal seperti IR-MABIMS yang saat ini resmi diadopsi oleh Kemenag. Apalagi, ada pembisik-pembisik yang terus saja membujuk agar Kemenag menerima kriteria IR-MABIMS yang baru yang akan menambah kekacauan manajemen waktu umat Islam.

Yang tertarik, silahkan download: Kalender Hijriah Global: IR-Global vs IR-Lokal.