Tuesday, May 8, 2018

Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)

Dua minggu terakhir, telah menjadi viral di kalangan pegiat astronomi, tulisan Pak Thomas Djamaluddin (TD) tentang hasil analisis data kecerlangan langit Labuanbajo, NTT. Intinya, TD ingin membantah hasil penelitian ISRN yang merekomendasikan perubahan nilai dip subuh dari -20o (~ 80 menit sebelum syuruq) menjadi -13.4o (~ 54 menit sebelum syuruq) yang diperoleh sebagai harga rerata sekitar 160 hari pengamatan di Depok. TD ingin membuktikan bahwa dip subuh -20o seperti yang dipraktekkan saat ini sudah betul. Dengan kata lain, TD ingin mengatakan bahwa hasil ISRN tidak bisa diterima karena data yang digunakan adalah data astronomi dimana polusi cahaya sangat tinggi di wiayah Jawa. Labuanbajo di NTT dianggap paling ideal karena polusi cahaya (dan udaranya) dianggap paling kecil di wilayah Indonesia. Gambar 1 berikut menunjukkan hasil analisis TD yang menunjukkan bahwa fajar muncul pada tanda panah merah pada dip -19.5o. Sayangnya, TD tidak menunjukkan algoritma yang digunakan untuk mendukung hasil analisisnya tersebut. Hasil di atas memiliki kelemahan yang sangat mendasar yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang astronom senior. Berikut tanggapan saya dengan judul: 

Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo.

Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
10) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru
11) Evaluasi awal subuh dan isya: perspektif sains, teknologi dan syariah

0 comments: