Friday, May 25, 2018

Awal Subuh dan Isya: Tinjauan Berbagai Teknologi dan Proses

Alhamdulillah, pada 5-6 Mei lalu, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah (MTTM) pusat menyelenggarakan Halaqah Nasional Ahli Hisab Muhammadiyah. Selain Ahli Hisab di internal Muhammadiyah dari Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM), MTTM juga mengundang para Ahli Hisab dari Lajnah Falakiyah Nahdatul Ulama (LFNU), dan beberapa anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag dan pegiat astronomi yang tergabung dalam Rukyatul Hilal Indonesia (RHI). Dua topik besar menjadi bahasan dan halaqah tersebut yaitu tentang Kalender Islam Global dan Awal Waktu Subuh dan Isya.

Ini adalah pembahasan secara resmi pertama yang diorganisasi oleh MTTM untuk mendiskusikan hasil riset ISRN tentang evaluasi awal subuh dan isya sejak Maret 2017 lalu. Insya Allah, ini merupakan langkah awal pengakuan MTTM atas hasil kerja ISRN-UHAMKA selama ini, setelah dilanda isu seolah-olah MTTM tidak merestui penelitian ini karena dianggap akan menyebabkan kegaduhan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa MTTM sudah siap untuk mengeluarkan fatwa perubahan tentang awal waktu subuh dan isya. Jalan masih cukup panjang karena dalam pertemuan 5-6 Mei lalu, MTTM belum mengundang para Ahli Hadis, Ahli Tafsir, dan Ahli Fikih Muhammadiyah. Namun, setidak-tidaknya, hasil penelitian awal waktu subuh dan isya telah masuk menjadi agenda resmi yang harus didiskusikan secara nasional oleh MTTM.

Dalam pertemuan itu, ISRN menyampaikan makalah berjudul: Awal Subuh dan Isya: Tinjauan Berbagai Teknologi dan Proses. Namun harus diingat bahwa ini bukan laporan perkembangan terakhir hasil penelitian ISRN karena pada tanggal 4-5 Mei nya, ISRN telah memanfaatkan pengambilan data astronomi di dua lokasi terpisah di Yogyakarta (Pantai Krakal, Kab. Gunung Kidul dan Bukit Panguk, Kab. Bantul). Pengambilan data di kedua tempat ini bertepatan dengan tanggal Komariah 18 dan 19 Sya'ban 1439, dimana Bulan dalam kondisi waning gibbous moon dengan penyinarannya yang masih di atas 75%. Hasil proses datanya membuktikan bahwa polusi cahaya ternyata sama sekali tidak menyebabkan keterlambatan munculnya fajar. Insya Allah, hasilnya akan kami gabungkan menjadi sebuah laporan dalam journal article yang akan kami submit ba'da Ramadan.

Untuk makalah dalam Halaqah Nasional Ahli Hisab Muhammadiyah, dapat diakses di sini.


Thursday, May 17, 2018

Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (2)

Pada 8 Mei 2018 lalu, saya meluncurkan tulisan berjudul Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (1) yang menjelaskan ketidakcermatan analisis data SQM yang dilakukan oleh Pak TD (lihat tulisan 8 Mei 2018). Untuk mengklarifikasi tulisan tersebut, pada Senin 14 Mei 2018 lalu, UHAMKA mengundang Pak TD untuk berdiskusi di Kampus FEB-UHAMKA. Dalam acara diskusi tersebut, saya sampaikan kembali keberatan saya dalam tulisan sebelumnya.
Secara umum, seperti dugaan saya sebelumnya, Pak TD bersikukuh bahwa dia sudah melakukannya dengan profesional sebagai seorang profesor riset, bukan sebagai Ketua LAPAN.
Alhamdulillah, pagi ini, saya memperoleh data SQM yang kami persoalkan di atas melalui Sdr. Adi Damanhuri (Sekretaris ISRN). Data tersebut langsung saya proses. Analisis data SQM yang saya lakukan kembali membuktikan bahwa Pak TD telah bertindak tidak cermat dalam analisisnya. Laporan selengkapnya silahkan ikuti dalam tulisan berjudul: Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (2).

Lampiran data dapat dilihat pada:
Window-3
Window-5
Window-7


Artikel Lain:

1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)

10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru


Tuesday, May 8, 2018

Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)

Dua minggu terakhir, telah menjadi viral di kalangan pegiat astronomi, tulisan Pak Thomas Djamaluddin (TD) tentang hasil analisis data kecerlangan langit Labuanbajo, NTT. Intinya, TD ingin membantah hasil penelitian ISRN yang merekomendasikan perubahan nilai dip subuh dari -20o (~ 80 menit sebelum syuruq) menjadi -13.4o (~ 54 menit sebelum syuruq) yang diperoleh sebagai harga rerata sekitar 160 hari pengamatan di Depok. TD ingin membuktikan bahwa dip subuh -20o seperti yang dipraktekkan saat ini sudah betul. Dengan kata lain, TD ingin mengatakan bahwa hasil ISRN tidak bisa diterima karena data yang digunakan adalah data astronomi dimana polusi cahaya sangat tinggi di wiayah Jawa. Labuanbajo di NTT dianggap paling ideal karena polusi cahaya (dan udaranya) dianggap paling kecil di wilayah Indonesia. Gambar 1 berikut menunjukkan hasil analisis TD yang menunjukkan bahwa fajar muncul pada tanda panah merah pada dip -19.5o. Sayangnya, TD tidak menunjukkan algoritma yang digunakan untuk mendukung hasil analisisnya tersebut. Hasil di atas memiliki kelemahan yang sangat mendasar yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang astronom senior. Berikut tanggapan saya dengan judul: 

Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo.

Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
10) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru
11) Evaluasi awal subuh dan isya: perspektif sains, teknologi dan syariah