Friday, January 12, 2018

Evaluasi Awal Subuh dan Isya: Perspektif Sains, Teknologi, dan Syariah

Alhamdulillah, meskipun terlambat enam hari, akhirnya buku saya tentang evaluasi awal waktu subuh dan isya terbit juga. The Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA yang baru berdiri kurang dari dua tahun sangat berbahagia dapat menyelesaikan tahap pertama tugas penelitian yang sangat penting ini. Kami menggunakan dua sensor pendeteksi fajar generasi terakhir, mengkoleksi ratusan hari-pengamatan data, membangun beberapa algoritma pemrosesan data, melakukan pengujian statistik secara robust, dan menerima testimoni dari beberapa pihak independen dalam penelitian ini. Kesemuanya menyimpulkan bahwa sudah cukup banyak fakta saintifik yang membuktikan bahwa Muslim di Indonesia melakukan sholat subuhnya terlalu awal sekitar 26 menit, dan sholat isyanya terlalu lambat juga sekitar 26 menit. Akibat yang terakhir ini, orang mungkin masih mengira masih cukup waktu melakukan sholat maghrib, padahal waktunya telah habis karena telah masuk waktu isya.


Angka dip (sun depression angle atau sudut kedalaman Matahari dihitung dari ufuk) yang kami peroleh adalah -13.4 derajat untuk subuh dan -11.5 derajat untuk isya. Setiap satu derajat, pergerakan semu Matahari memerlukan waktu sekitar 4 menit. Sementara itu, untuk wilayah Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura), pada umumnya menggunakan dip -20 derajat untuk subuh dan -18 derajat untuk isya. Data yang kami gunakan memang baru untuk wilayah Depok dan Medan. Angka dip untuk seluruh wilayah nasional memang belum kami peroleh karena mungkin akan diperlukan sepuluh tahunan untuk menyelesaikannya. Namun demikian, diperkirakan angkanya tidak akan meleset jauh dari yang telah kami peroleh. Sementara itu, penggunaan angka dip yang sekarang ini sudah harus segera dikoreksi. 

Ada beberapa fakta saintifik lain. Ulama-ulama klasik pada abad pertengahan sebetulnya umumnya memperoleh harga dip -18 derajat untuk subuh dan -16 derajat untuk isya untuk wilayah Timur Tengah. Alat-alat yang mereka gunakan pada umumnya adalah astrolabe untuk pengukurannya, sedangkan untuk pemrosesannya menggunakan rubu mujayyab. Seharusnya, di wilayah equator secara nominal, angka dip-nya lebih rendah. Dalam kasus ini, temuan hasil penelitian kami konsisten dengan prinsip astronomi dasar di atas. Tapi anehnya, kita di Asia Tenggara saat ini justru menggunakan angka dip yang secara nominal lebih besar dari angka di lintang tinggi seperti Timur Tengah. Ini memang aneh. Tidak ada rujukan saintifik pada penetapan angka dip yang sekarang ini kita gunakan. Semoga buku ini memberikan sumbangan untuk pembangunan peradaban umat Islam.

Bagi yang tertarik, untuk pemesanan buku dapat diperoleh dari UHAMKA PRESS melalui nara hubung Sdr. Alfian di +62-838-7266-8742.



2 comments:

jessie widyarti said...

harganya berapa pak?

Tono Saksono said...

Soal harga, silahkan hubungi Sdr. Alfian di +62-838-7266-8742.