Saturday, November 10, 2018

Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (4)


Gunakan gadget Anda untuk mendeteksi kehadiran fajar

Dalam Video-4 dalam serial Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? ini ISRN memverifikasi kehadiran fajar menggunakan gadget camera Lenovo. Dengan contoh video ini, umat Islam dapat melakukan sendiri perekaman kehadiran fajar di wilayah masing-2. Ada yang programnya gratis dan ada yang berbayar (lebih baik). Memang harus belajar beberapa proses image processing agar mampu memproses citra-2 yang dihasilkan. Tapi, itu dapat dipelajari dengan mudah oleh siapapun.

Silahkan ikuti melalui:



Wednesday, October 31, 2018

Monday, October 1, 2018

Masih perlukah perselisihan arah Kiblat?


Arah kiblat selalu menjadi diskusi yang enggak pernah berhenti. Sebetulnya, sudah banyak software dan aplikasi yang dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat. Tapi, masih banyak juga ulama dan sarjana Muslim yang selalu mempersoalkan akurasinya. Apalagi dengan banyaknya gempa bumi yang terjadi, banyak ulama dan sarjana Muslim yang berspekulasi bahwa arah kiblat telah berubah. Pada tahun 2010-an, banyak masjid/musholla, dan kuburan yang dibongkar karena spekulasi ini. Bagaimana sebetulnya duduk perkaranya?

Arah kiblat saat sholat ummat islam adalah ke arah Ka'bah di Mekah. Jarak Jakarta ke Ka'bah adalah sekitar 7,922 km sedangkan ukuran Ka'bah hanya sekitar 12 m x 13 m. Inilah problem besarnya. Menghitung arah kiblat (azimuth Jakarta-Ka'bah) bukanlah hal yang sulit. Hitungan geodetis dengan pemodelan Bumi yang paling akurat dapat menghitung arah kiblat sampai dengan 0.1" (sepersepuluh detik sudut). 

Persoalan besar yang terjadi adalah dalam proses reverse engineeringnya. Setelah kita dapat menghitung arah kiblat sampai akurasi 01", kita perlu menetapkannya di lapangan. Dalam Teknik Sipil ini dinamakan, staking out yang tidak mungkin seakurat hitungan teoretis. Secara empiris, proses staking out ini bisa menyebabkan kesalahan sebesar 10 derajat dengan sangat mudah. Secara matematik, kalau kita salah melakukan staking out sebesar 1" (satu detik sudut) saja dari Jakarta, maka arah kiblat di ujung Mekah sana akan menyimpang sebesar 38.4 meter. Jadi, kalau kesalahannya 10 derajat maka kesalahan arah di ujung Mekah sana adalah sebesar 10x3600x38.4 meter = 1,382 kilometer! Jadi secara teoretis, tidak mungkin ada orang Islam di Jakarta ini yang dapat menghadap Ka'bah saat sholat. Bahkan dari Madinah pun, insya Allah tidak mungkin. Jadi, saran saya, lebih baik energi umat Islam lebih fokus digunakan untuk mendiskusikan saat awal waktu subuh dan isya. Dengan menggunakan empat jenis sensor dan ratusan data yang kami miliki, ISRN telah dapat membuktikan bahwa awal subuh di Indonesia jauh  terlalu awal, sedangkan awal isya kita jauh terlalu lambat.

Penjelasan grafis yang sederhana dapat dilihat pada file berikut: Analisis atas perselisihan arah Kiblat

Bagi yang tertarik dengan hitungan yang lebih teliti dan sangat teknis, dapat baca artikel saya berikut: Geodetic analysis of disputed accurate qibla direction

Allahu a'lam, semoga bermanfaat.

Artikel menarik lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)

10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru



Tuesday, September 4, 2018

Analisis Ekonometrika: Korelasi Personal Income dengan Health Expenditure (komparasi untuk analisis korelasi polusi dengan kehadiran fajar)

Artikel saya berjudul Korelasi antara tingkat polusi dengan kemunculan fajar (http://cis-saksono.blogspot.com/2018/08/korelasi-antara-polusi-dengan-kehadiran.html) menimbulkan tanggapan pembaca yang cenderung ngeyel. Menurutnya, tetap saja kehadiran polusi telah menyebabkan terlambatnya kehadiran fajar. Padahal, dalam artikel tersbut, saya sudah menjelaskan empat kali bahwa memang terdapat korelasi, namun korelasi itu sangat tidak signifikan. Dengan demikian, mendiskusikannya hanya akan membuang waktu tanpa manfaat.

Yang tertarik melihat analisis komparasinya dengan kasus dalam Ekonometrika, silahkan ikuti Analisis Korelasi Personal Income dan Health Expenditure berikut ini.

Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru
12) Evaluasi awal subuh dan isya: perspektif sains, teknologi dan syariah

Tuesday, August 28, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (3)


Sebagai rangkaian Analisis Iedul Adha 1439-H (3), tulisan ini sekali lagi menjelaskan bahwa sains dan teknologi dapat digunakan untuk memverifikasi bahwa ritual Iedul Adha 1439-H lalu seharusnya dapat dilakukan pada satu hari yang sama di seluruh dunia, yaitu pada 21 Agustus 2018.

Penggunaan dua software Accurate Times dan Stellarium dapat membuktikan bahwa meskipun hilal di Indonesia tidak kelihatan pada maghrib 11 Agustus 2018 lalu, namun sejatinya hilal di Indonesia itu selalu lebih besar daripada wilayah di sebelah timurnya (termasuk Mekah). Artikel selengkapnya berupa file PDF dan dapat diunduh melalui: Analisis Iedul Adha 1439-H (3).

Ada beberapa gambar yang mungkin terlalu kecil pada artikel tersebut. Bila diperlukan gambar dalam skala aslinya, silahkan unduh melalui ling berikut:

Hilal pada 11/08/18 pukul 20:06:48 di Mexico City
Hilal pada 12/08/18 pukul 09:06:48 di Jakarta
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 12:06:50
Hilal di Jakarta pada 12/08/18 pukul 17:55:02


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar



Thursday, August 23, 2018

Korelasi antara polusi dengan kehadiran fajar


Sejak ISRN menerbitkan buku hasil penelitian berjudul Evaluasi Awal Waktu Subuh dan Isya: Perspektif Sains, Teknologi dan Syariah, muncullah opini dan isu untuk mengecilkan hasil penelitian ini. Kelihatannya, tujuannya sama yaitu untuk membuktikan bahwa hasil penelitian ISRN itu salah, dan penetapan dip subuh sebesar -20 derajat (sekitar 80 menit sebelum syuruq) dan dip isya sebesar -18 derajat (72 menit setelah maghrib) yang selama ini dianut oleh Kemenag telah benar adanya. Maka muncullah sebuah diagram teoritis hasil rekaan untuk menggambarkan terbiasnya sinar fajar dan menyebabkan terlambatnya kemunculan fajar.

Anehnya, seharusnya grafik seperti ini adalah hasil sebuah pemodelan ribuan data fisik hasil pengamatan yang cukup kompleks yang dikoleksi dan diteliti di berbagai lokasi dengan tingkat polusi cahaya dan udara yang berbeda. Tapi nyatanya, grafik di atas malah hanya dibuat sebagai hasil hayalan tanpa menggunakan satupun data. Jelas ini merupakan diagram hasil rekaan yang penuh bias. 

Tulisan ini membuktikan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara polusi dengan kemunculan fajar. Silahkan ikuti melalui Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar.


Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha 1439-H (1)
2) Analisis Iedul Adha 1439-H (2)
3) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
5) Kalender Hijriah Global: imkan-rukyat global vs imkan-rukyat lokal
6) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
7) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2) 

Wednesday, August 22, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (2)

Dalam dua minggu terakhir telah terjadi "perang dalil" para ulama atas apa yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam menghadapai perbedaan Iedul Adha 1439-H antara Indonesia dan Arab Saudi. Melalui Mahkamah Agungnya, Arab Saudi telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1439-H jatuh pada tanggal 12 Agustus 2018, sehingga tanggal 10 Dzulhijjah 1439-H bertepatan dengan Selasa, 21 Agustus 2018. Sementara Kementerian Agama dan sebagaian organisasi besar Islam Indonesia telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1439-H jatuh pada 13 Agustus 2018, sehingga tanggal 10 Dzulhijjah 1439-H bertepatan dengan Rabu, 22 Agustus 2018.

Perbedaan ini menjadi sangat krusial karena pada 9 Dzulhijjah, umat Islam disunnatkan melaksanakan Puasa Arafah saat jamaah haji di Mekkah sedang melaksanakan ritual wukuf di Padang Arafah. Problemnya, karena perbedaan penetapan awal Dzulhijjah di atas, Puasa Arafah di Indonesia akibatnya jatuh pada 10 Dzulhijjah menurut perhitungan Arab Saudi. Padahal, pada 10 Dzulhijjah, umat Islam justru diharamkan berpuasa.

Dalam tulisan ini, saya berikan salah satu contoh penggunaan sains dan teknologi untuk memverifikasi kehadiran fenomena astronomis yang sangat jelas dan dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik penetapan 1 Dzulhijjah 1439-H di atas. Silahkan unduh PDF file Analisis Iedul Adha (2) berikut ini.

Tuesday, August 14, 2018

Analisis Iedul Adha 1439-H (1)


Untuk kesekian kalinya, terjadi perbedaan penetapan hari Iedul Adha 1439-H. Berdasarkan Kalender Islam Global (KIG) yang telah ditetapkan dua tahun lalu di Turki, Iedul Adha jatuh di seluruh dunia pada 21 Agustus 2018. 

Para ahli falak Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhammadiyah sebetulnya telah menyepakati untuk menerima KIG. Namun, sebagai organisasi yang sudah terlanjur gemuk, keputusan formal masih menunggu Munas Tarjih yang akan mendengarkan pendapat para ahli syariah seperti hadis, tafsir, dan lain-lain. Sementara belum ditetapkan oleh Munas Tarjih, maka Muhammadiyah masih tetap menggunakan kriteris lokal wujudul hilal yang telah lama digunakan, sehingga telah memutuskan Iedul Adha jatuh pada 22 Agustus 1439-H.

Pemerintah Indonesia (Kemenag), yang tetap kukuh dengan rukyatul hilal lokal dan belum mau menerima KIG juga menyimpulkan bahwa Iedul Adha jatuh pada 22 Agustus 2018.

Karena perbedaan tersebut, saya memperoleh banyak pertanyaan mengapa perbedaan ini terjadi. Berikut adalah analisis saya: Analisis Iedul Adha 1439-H.

Tuesday, June 12, 2018

Analisis data subuh Labuanbajo 13 Mei 2018


Pemrosesan data subuh Labuanbajo tanggal 13 Mei termasuk kategori yang agak sukar. Penyebabnya karena saat survey mulai dilakukan pada sekitar pukul 4:26, Bulan waning gibbous baru saja terbit sekitar pukul 3:32. Pada saat survey dimulai, data moon ephemeris menunjukkan posisi Bulan ada di altitud +11:36:16 dan azimuth 85:24:41 (lihat slide no. 3 pada lampiran). Meskipun kondisi iluminasinya hanya sekitar 8%, tapi ini menunjukkan polusi cahaya yang cukup berat karena kamera betul-betul menghadap waning gibbous moon ini.

Akibatnya, data SQM yang kami peroleh, sejak sekitar pukul 3:00 telah menunjukkan tren penurunan (lihat silde no. 2 pada lampiran). Untuk data seperti ini, pemodelan polinomial untuk data SQM akan gagal. Namun, tidak berarti kami kemudian main tunjuk cara tebak-tebak buah manggis. Maka, kami mendekatinya dengan pemodelan moving slope analysis (MSA) dengan lebar window 3, 5, dan 7. Dengan pemodelan MSA ini fajar dapat dihitung muncul pada pukul 5:09:26. Ini ekivalen dengan dip = -13.72 (lihat slide no. 16).

Hasil temuan ini perlu diverifikasi dengan analisis histogram atas 1,250 citra Nikon-5100 yang kami peroleh. Analisis edge detection dan image adjustment kurang berhasil karena polusi cahaya waning gibbous. Proses image processing dilakukan dengan metode progressive sampling sehingga analisis histogram tidak perlu dilakukan atas semua citra yang ada. Dari hasil analisis histogram citra-citra Nikon-5100, maka dapat dikonfirmasi kehadiran fajar terindikasi dari perubahan signifikan histogram yang ada dan muncul antara citra no. 513 (pukul 5:09:16) dan citra no. 516 (pukul 5:09:31). Dengan demikian, hasil analisis data SQM di atas dapat diverifikasi secara akurat secara visual.

Sekali lagi, ini adalah bukti bahwa kehadiran polusi cahaya sama sekali tidak berpengaruh pada waktu terdeteksinya fajar. Fajar muncul ketika Matahari berada di bawah ufuk pada kisaran 13-14 derajat. Fail pps hasil analisisnya dapat didownload dari sini.

Analisis data subuh Labuanbajo 12 Mei 2018


Alhamdulillah, pada 11-13 Mei 2018 lalu, ISRN telah menugaskan Sekretaris ISRN, Sdr. Adi Damanhuri, untuk mengambil data subuh dan isya di Labuanbajo, NTT. ISRN menggunakan dua teknologi sensor dalam survey kali ini yaitu: SQM (sky quality meter) dan Kamera DSLR Nikon-5100. Mengingat dana riset kami yang sangat terbatas, ISRN memang berusaha beroperasi secara cost effective. Bandingkan dengan operasi Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag yang memberangkatkan sekitar 20-an ahli (dalam tim, ada beberapa Kyai, beberapa Profesor, dan beberapa Doktor) yang memang dibiayai negara.

Secara bertahap, analisis data Labuanbajo ini kami laporkan. Untuk kali ini, kami laporkan berupa file power point show (pps) untuk data subuh 12 Mei 2018.

Dengan pemodelan polinomial derajat 4 atas data SQM, kami dapat mendeteksi kehadiran fajar pada jam 05:06:09 . Dari sini diperoleh hitungan dip = -14.53 derajat. Sementara itu, dengan menggunakan dip -20 derajat, seharusnya fajar telah muncul pada jam 04:43:17 (lihat slide no 17).

Proses image processing atas data Kamera Nikon-5100 kami lakukan dengan algoritma canny edge detection. Pada sisi kiri setiap slide file pps tercantum nomor citra dan jam pengambilannya (ada 981 8-bit color image yang masing-masing memiliki resolusi geometris 3,264 pixel (baris) x 4,928 pixel (kolom)). Proses image processing dilakukan dengan metode progressive sampling sejak citra no. 268 (jam 04:55:42) sampai citra no. 437 (jam 5:09:47). Pada citra no. 268 ini saja, jelas belum tampak ada indikasi kehadiran fajar. Apalagi pada saat Matahari masih pada dip -20 derajat pada jam 04:43:17 seperti yang kita percayai selama ini.

Hasil canny edge detection ini secara akurat dapat mengidentifikasi perbedaan jumlah sebaran detil partikel-partikel cahaya fajar yang terdeteksi antara citra no. 390 (jam 05:05:52) dengan citra no. 400 (jam 05:06:42). Dengan demikian kehadiran fajar menurut analisis data SQM yang muncul pada 05:06:09 dapat diverifikasi.

Yang tertarik mempelajari hasil analisis tersebut, silahkan download file pps kami di sini. Semoga bermanfaat, dan wassalam.

Monday, June 4, 2018

Kalender Hijriah Global: Imkan-Rukyat Global vs Imkan-Rukyat Lokal

Saya sedang menulis sebuah buku berjudul Membongkar Dogma Imkan-Rukyat. Sayangnya, proses penulisannya agak tersendat karena terpecah dengan pelaksanaan penelitian tentang awal waktu subuh dan isya yang juga sangat menyita waktu.

Pada 30 Mei 2018 lalu lalu, PWM Muhammadiyah DKI Jakarta minta saya memberikan kajian bulanan tentang Kalender Islam Global. Sebagian kecil isi buku tersebut saya tuliskan dengan isi yang saya jelaskan pada artikel ini. Mudah-2 an bermanfaat untuk memahami kekacauan manajemen waktu umat Islam akibat konsep imkan-rukyat lokal seperti IR-MABIMS yang saat ini resmi diadopsi oleh Kemenag. Apalagi, ada pembisik-pembisik yang terus saja membujuk agar Kemenag menerima kriteria IR-MABIMS yang baru yang akan menambah kekacauan manajemen waktu umat Islam.

Yang tertarik, silahkan download: Kalender Hijriah Global: IR-Global vs IR-Lokal.

Friday, May 25, 2018

Awal Subuh dan Isya: Tinjauan Berbagai Teknologi dan Proses

Alhamdulillah, pada 5-6 Mei lalu, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah (MTTM) pusat menyelenggarakan Halaqah Nasional Ahli Hisab Muhammadiyah. Selain Ahli Hisab di internal Muhammadiyah dari Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM), MTTM juga mengundang para Ahli Hisab dari Lajnah Falakiyah Nahdatul Ulama (LFNU), dan beberapa anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag dan pegiat astronomi yang tergabung dalam Rukyatul Hilal Indonesia (RHI). Dua topik besar menjadi bahasan dan halaqah tersebut yaitu tentang Kalender Islam Global dan Awal Waktu Subuh dan Isya.

Ini adalah pembahasan secara resmi pertama yang diorganisasi oleh MTTM untuk mendiskusikan hasil riset ISRN tentang evaluasi awal subuh dan isya sejak Maret 2017 lalu. Insya Allah, ini merupakan langkah awal pengakuan MTTM atas hasil kerja ISRN-UHAMKA selama ini, setelah dilanda isu seolah-olah MTTM tidak merestui penelitian ini karena dianggap akan menyebabkan kegaduhan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa MTTM sudah siap untuk mengeluarkan fatwa perubahan tentang awal waktu subuh dan isya. Jalan masih cukup panjang karena dalam pertemuan 5-6 Mei lalu, MTTM belum mengundang para Ahli Hadis, Ahli Tafsir, dan Ahli Fikih Muhammadiyah. Namun, setidak-tidaknya, hasil penelitian awal waktu subuh dan isya telah masuk menjadi agenda resmi yang harus didiskusikan secara nasional oleh MTTM.

Dalam pertemuan itu, ISRN menyampaikan makalah berjudul: Awal Subuh dan Isya: Tinjauan Berbagai Teknologi dan Proses. Namun harus diingat bahwa ini bukan laporan perkembangan terakhir hasil penelitian ISRN karena pada tanggal 4-5 Mei nya, ISRN telah memanfaatkan pengambilan data astronomi di dua lokasi terpisah di Yogyakarta (Pantai Krakal, Kab. Gunung Kidul dan Bukit Panguk, Kab. Bantul). Pengambilan data di kedua tempat ini bertepatan dengan tanggal Komariah 18 dan 19 Sya'ban 1439, dimana Bulan dalam kondisi waning gibbous moon dengan penyinarannya yang masih di atas 75%. Hasil proses datanya membuktikan bahwa polusi cahaya ternyata sama sekali tidak menyebabkan keterlambatan munculnya fajar. Insya Allah, hasilnya akan kami gabungkan menjadi sebuah laporan dalam journal article yang akan kami submit ba'da Ramadan.

Untuk makalah dalam Halaqah Nasional Ahli Hisab Muhammadiyah, dapat diakses di sini.


Thursday, May 17, 2018

Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (2)

Pada 8 Mei 2018 lalu, saya meluncurkan tulisan berjudul Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (1) yang menjelaskan ketidakcermatan analisis data SQM yang dilakukan oleh Pak TD (lihat tulisan 8 Mei 2018). Untuk mengklarifikasi tulisan tersebut, pada Senin 14 Mei 2018 lalu, UHAMKA mengundang Pak TD untuk berdiskusi di Kampus FEB-UHAMKA. Dalam acara diskusi tersebut, saya sampaikan kembali keberatan saya dalam tulisan sebelumnya.
Secara umum, seperti dugaan saya sebelumnya, Pak TD bersikukuh bahwa dia sudah melakukannya dengan profesional sebagai seorang profesor riset, bukan sebagai Ketua LAPAN.
Alhamdulillah, pagi ini, saya memperoleh data SQM yang kami persoalkan di atas melalui Sdr. Adi Damanhuri (Sekretaris ISRN). Data tersebut langsung saya proses. Analisis data SQM yang saya lakukan kembali membuktikan bahwa Pak TD telah bertindak tidak cermat dalam analisisnya. Laporan selengkapnya silahkan ikuti dalam tulisan berjudul: Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo (2).

Lampiran data dapat dilihat pada:
Window-3
Window-5
Window-7


Artikel Lain:

1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)
9) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)

10) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
11) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru


Tuesday, May 8, 2018

Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (1)

Dua minggu terakhir, telah menjadi viral di kalangan pegiat astronomi, tulisan Pak Thomas Djamaluddin (TD) tentang hasil analisis data kecerlangan langit Labuanbajo, NTT. Intinya, TD ingin membantah hasil penelitian ISRN yang merekomendasikan perubahan nilai dip subuh dari -20o (~ 80 menit sebelum syuruq) menjadi -13.4o (~ 54 menit sebelum syuruq) yang diperoleh sebagai harga rerata sekitar 160 hari pengamatan di Depok. TD ingin membuktikan bahwa dip subuh -20o seperti yang dipraktekkan saat ini sudah betul. Dengan kata lain, TD ingin mengatakan bahwa hasil ISRN tidak bisa diterima karena data yang digunakan adalah data astronomi dimana polusi cahaya sangat tinggi di wiayah Jawa. Labuanbajo di NTT dianggap paling ideal karena polusi cahaya (dan udaranya) dianggap paling kecil di wilayah Indonesia. Gambar 1 berikut menunjukkan hasil analisis TD yang menunjukkan bahwa fajar muncul pada tanda panah merah pada dip -19.5o. Sayangnya, TD tidak menunjukkan algoritma yang digunakan untuk mendukung hasil analisisnya tersebut. Hasil di atas memiliki kelemahan yang sangat mendasar yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang astronom senior. Berikut tanggapan saya dengan judul: 

Kesalahan Mendasar Cara Menganalisis Data Subuh Labuanbajo.

Artikel Lain:
1) Analisis Iedul Adha (1)
2) Analisis Iedul Adha (2)
3) Analisis Iedul Adha (3)
4) Analisis data subuh Labuanbajo (1)
5) Analisis data subuh Labuanbajo (2)
6) Kalender Islam Global, imkan-rukyat lokal vs imkan-rukyat global
7) Awal subuh & isya: tinjauan berbagai teknologi dan proses
8) Kesalahan mendasar cara menganalisis data subuh Labuanbajo (2)
9) Korelasi antara polusi dan kehadiran fajar
10) Jadwal sholat beberapa kota tahun 2018 dengan sun depression angle baru
11) Evaluasi awal subuh dan isya: perspektif sains, teknologi dan syariah

Sunday, April 15, 2018

Memahami “perseteruan” antara IDI dan Dr. Terawan

Pada periode 2005-2008, saya terpilih menjadi Ketua Umum sebuah organisasi keinsinyuran INTAKINDO (www.intakindo.or.id). Karena tugas saya ke Malaysia, jabatan tersebut saya lepaskan. Sepulang dari Malaysia, melalui Munas INTAKINDO tahun 2017 lalu, saya diminta untuk memimpin Dewan Pakar Dewan Pengurus Nasional INTAKINDO. Kasus "perseteruan" antara organisasi profesi IDI dengan Dr. Terawan menarik untuk dikaji. Maka kemudian saya tulis dalam sebuah essay berjudul:

Memahami "perseteruan" antara IDI dan Dr. Terawan.

Tulisan ini sangat relevan bagi publik di berbagai profesi keahlian yang ingin mengetahui, mengapa hal yang tampaknya sangat jelas ini menjadi rumit?

Semoga bermanfaat.

Siahkan unduh juga tulisan tersebut dari alamat berikut: 
https://drive.google.com/file/d/1789L-lrLHbI8eiJnyZxsOMT9YXsmW-vI/view?usp=sharing

Tuesday, March 13, 2018

Perkaya fungsi gadget Anda sebagai alat untuk mengoleksi Data Remote Sensing dan Astronomi sekaligus!

Salah satu hasil temuan terpenting dalam Program Perdana Gerakan Umat Mencari Fajar (GUMF) di Cirebon 5-6 Maret 2018 lalu adalah: kita dapat menggunakan gadget kita menjadi sebuah versatile instrument untuk mengoleksi data remote sensing dan astronomi sekaligus.

Ini betul-betul real. Anda tidak perlu membeli alat Sky Quality Meter (SQM). Cukup Anda fungsikan gadget Anda sesuai dengan petunjuk teknis yang kami berikan berikut.

Saat ini memang pemrosesan datanya kami yang lakukan. Namun, jika Anda tertarik, kami bisa memberikan pelatihan bagaimana melakukan proses datanya. Agak sedikit rumit untuk memahami filosofinya. Namun, secara praktis bisa kami ajarkan dengan mudah ... insya Allah. 

Silahkan ikuti petunjuk teknisnya melalui: https://drive.google.com/open?id=1ThtdUcVXAzH2eGzSDTwvhJR0X-okfVhGhttps://drive.google.com/open?id=1LEywSg-O3BRNueoUnreYhmVDslGbKMzl 

Salam,
Tono Saksono