Friday, September 18, 2015

Problem yang lebih besar dari hanya sekedar beda Iedul Adha

1 Pendahuluan

Akibat perselisihan dalam mendefinisikan hilal sebagai penentu awal bulan Islam, mungkin sudah sekitar seribu tahun umat Islam tidak pernah memiliki sebuah Kalender Islam yang universal, proleptik, dan kredibel. Akibatnya, umat Islam khususnya kalangan bisnis, secara pragmatis menggunakan Kalender Gregorian, yang sekitar 11.5 hari lebih panjang, sebagai pengganti sistem manajemen waktu dan basis akuntansi bisnisnya. Anehnya, umat Islam tidak menyadari konsekuensi syariah akibat penggunaan Kalender Gregorian ini. Akibat yang paling nyata adalah: jika laporan laba rugi bisnis Muslim dilakukan menurut Kalender Gregorian, maka operasi bisnis yang 11.5 hari ini tidak terzakati. Ini berarti, jika bisnis Muslim tersebut beroperasi selama 30 tahun, maka zakatnya selama setahun tidak terbayar. Padahal, fenomena ini telah berlaku umum di seluruh dunia Muslim tanpa disadari. Buktinya, hampir semua bank syariah di dunia ternyata menggunakan Kalender Gregorian sebagai basis sistem akuntansinya [1]. Akumulasi zakat yang tak terbayar ini terus menggelembung, besarnya sebanding dengan dua parameter utamanya, yaitu: lama operasi bisnis tanpa menggunakan sistem akuntansi berbasis Kalender Islam, dan total aset umat Islam di dunia. Angka hipotesis hutang peradaban ini diperkirakan telah mencapai antara US$ 5-10 triliun; sebuah angka yang jauh lebih besar dari yang diperlukan untuk menghapuskan kemiskinan di lingkungan umat Islam di seluruh dunia.


2 Hutang Peradaban

Untuk menghitung jumlah total hutang peradaban umat Islam akibat zakat yang tak terbayarkan ini tentu saja tidak sederhana, karena:

  • Pertama, perlu diketahui berapa lama sebetulnya umat Islam telah meninggalkan Kalender Islam sebagai basis sistem akuntansi bisnisnya.
  • Kedua, diperlukan data keuangan bisnis umat Islam di dunia untuk menghitung total aset umat Islam.


    Dari dua parameter inilah baru dapat diperkirakan secara akurat berapa jumlah total hutang peradaban tersebut. Jika angka ini telah diperoleh, maka perlu disusun sebuah roadmap dan rencana strategis untuk melakukan pembayaran hutang peradaban ini. Ini merupakan tugas raksasa yang harus dipikirkan oleh semua ilmuwan Muslim. Judul makalah ini dibuat untuk membangkitkan kesadaran kita semua bahwa ada tugas raksasa yang sangat besar daripada kita hanya berkutat dengan pendefinisian hilal untuk mengawali Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Inilah tugas raksasa yang sangat penting dan Indonesia harus menjadi pionir dalam membangkitkan kesadaran umat Islam dan kerja besar ini.

    Dalam tahapan yang masih dini, Saksono [1-3], telah membangun model ekonomoetrik (econometric model) untuk menunjukkan bahwa hutang peradaban akibat kesalahan pendefinisan sistem akuntansi bisnis Muslim ini memang nyata dan angkanya memang fantastis. Secara diagramatik, proses tersebut diberikan pada Gambar-1.

    Gambar 1: Diagram alir pemodelan ekonometrik

    Pemodelan ini kemudian digunakan pada dua jenis aset dan lama kepemilikan yaitu:
    • Simulasi kepemilikan kolektif aset kertas (paper assets) dengan durasi kepemilikan bervariasi dari 4.5 sampai 19.4 tahun;
    • Simulasi penggunaan laporan keuangan 22 perusahaan multinasional dengan durasi bisnis operasi rata-rata 10.5 tahun. Data ini digunakan karena laporan keuangan bank syariah ternyata tidak tersedia di domain publik meskipun mereka telah listed dan menjadi perusahaan publik.


    Dengan dua jenis aset dan durasi kepemilikan maksimum 19.4 tahun saja, dapat dilihat bahwa defisit pembayaran zakatnya telah mendekati US$ 400 juta (gabungan Tabel 1 dan 2). Jika pemodelan ini digunakan untuk menghitung kesalahan akibat pendefinisian sistem akuntansi seluruh bisnis umat Islam yang telah berlangsung seribu tahun, angka hipotesis US$ 5-10 triliun hutang zakat di atas mungkin memang betul.

     Tabel 1: Defisit pembayaran zakat atas kepemilikan lima jenis paper assets

    Tabel 2: Defisit pembayaran zakat jika korporasi dalam tabel adalah bisnis Muslim

    Dua fakta permulaan di atas, seharusnya merupakan alarm bagi umat Islam bahwa perdebatan tentang definisi hilal segera harus diakhiri. Hutang peradaban ini terus menggelinding menjadi bola salju yang semakin besar seiring dengan waktu dan semakin besarnya aset umat Islam.

    Fakta di atas juga seharusnya menyadarkan kita bahwa problem besar yang kita hadapi adalah problem universal umat Islam sehingga analisis atas penyebabnya juga harus global, tidak sektoral, apalagi terkungkung oleh sekat-sekat politik yang sangat rapuh. Seperti akan dijelaskan pada bagian berikut dalam makalah ini, cara pendefinisian hilal dan penentuan awal bulan qomariyah pun memang harus menggunakan pendekatan yang global, dalam skala keruangangkasaan (space scale). Cara pandang yang lokal dan sektoral meskipun dibungkus dengan semangat nasionalisme, ternyata menjadi rancu bahkan erratic secara saintifik.


    3 Analisis Awal Dzulhijjah 1436H

    Agar analisisnya konsisten, referensi hitungan pada penjelasan ini menggunakan koordinat Jakarta.

    Pada 13 September 2015 (akhir bulan Dzulqo’dah 1436H), ijtimak toposentris terjadi pada jam 15:13 WIB. Saat maghrib (pukul 17:51), Bulan berada pada posisi yang sangat rendah, hanya sekitar 0.7 derajat. Sudut elongasinya hanya sekitar 1.5 derajat, dan ketebalan hilal nyaris 0 menit[1]. Jika Departemen Agama RI konsisten mengadopsi kriteria imkan-rukyat (IR) MABIMS 2-3-8, sebetulnya Departemen Agama tidak usah menyebar perukyat untuk merukyat hilal di tanah air. Bulan juga tenggelam hanya sekitar 3 menit setelah maghrib sehingga hampir mustahil para perukyat dapat merukyat hilal. Namun harus diingat bahwa, tampak maupun tidak nampak, hilal dengan referensi Jakarta terus membesar dengan tingkat pertumbuhan 0.013 menit/jam. Buktinya, pada maghrib 14 September, ketebalan hilal 0.32 menit. Upaya merukyat hilal pada maghrib 13 September di tanah air merupakan tindakan sia-sia dan mubazir.

    Untuk memverifikasi kehadiran hilal, umat Islam harus berfikir dalam skala ruang angkasa (space scale). Daripada mengirim puluhan perukyat ke pelosok tanah air yang hampir pasti gagal, verifikasilah kehadiran hilal dengan mengirim hanya beberapa perukyat ke kota-kota Porto Alegre (Brazil GMT-3), Santiago (Chile GMT-4), Lima (Peru GMT-5), dan Guatemala (Guatemala GMT-6). Inilah yang dinamakan prinsip extended visibility.



    [1] Di beberapa software (missal: Stellarium), besaran ini diberikan dalam angka persentasi bagian permukaan Bulan yang bercahaya dengan memperhitungkan angka 100% terjadi saat purnama.


    3.1 Extended Visibility

    Maghrib di Porto Alegre (GMT-3) pada 13 September 2015 terjadi pada jam 18:16 waktu lokal. Sementara Bulan tenggelam 27 menit kemudian. Ketinggian hilal saat maghrib sekitar 5.8o, ketebalan hilal 0.08’ (menit sudut), dan sudut elongasi sekitar 5.45o. Dengan demikian, hilal mudah dirukyat. Di detik yang sama saat maghrib di Porto Alegre, di Jakarta (GMT+7) telah jam 4:16 menjelang subuh tanggal 14 September 2015. Dengan pertumbuhan hilal yang 0.013’ per jam, ketebalan hilal dengan referensi Jakarta berarti sudah sekitar 0.13’ atau sekitar 63% lebih besar daripada hilal di Porto Alegre. Artinya, kalau orang mendefinisikan hilal di Poto Alegre, maka yang di Jakarta pun harus didefinisikan hilal karena secara geometri jelas lebih besar meskipun tidak tampak karena tertutup bola Bumi. Inilah esensi hadis “…..fain ghumma ‘alaikum faqdurulahu” (…..jika kalian terhalangi atasnya, maka hitunglah). Terhalang di sini meliputi terhalang oleh awan, mendung, dan apa saja termasuk bola Bumi.

    Pada saat maghrib di Santiago jam 18:33 waktu lokal, hilal berada pada ketinggian 6.3o, ketebalan 0.09’, dan sudut elongasinya sekitar 6.26o sehingga mudah dirukyat. Di detik yang sama, di Jakarta telah jam 5:33 pagi menjelang syuruq tanggal 14 September. Dengan demikian, dengan pertumbuhan hilal 0.013’ per jam, hilal memiliki ketebalan 0.143’ (referensi Jakarta). Memang hilal dengan referensi Jakarta tidak mungkin kelihatan karena masih terhalang bola Bumi. Namun, kalau di Santiago perukyat melihat hilal, maka hilal yang sama juga ada dengan referensi Jakarta, bahkan dengan ketebalan yang hampir 60% lebih besar.

    Saat maghrib di Lima jam 18:05 waktu lokal, hilal berada pada ketinggian 6.4o, ketebalan 0.10’, dan sudut elongasinya sekitar 6.31o. Dengan demikian, hilal dapat dengan mudah dirukyat jika tidak tertutup awan atau mendung. Di detik yang sama, di Jakarta telah masuk tanggal 14 September jam 6:05 pagi. Dengan pertumbuhan ketebalan hilal 0.013’ per jam, hilal dengan referensi Jakarta telah memiliki ketebalan 0.16’ (sekitar 58% lebih tebal daripada hilal yang tampak di Lima), meskipun tidak tampak karena masih terhalang bola Bumi. Jadi, kalau di Lima dinamakan hilal, maka pasti hilal yang sama lah yang ada di Jakarta meskipun tidak kelihatan.

    Selanjutnya, saat maghrib di Guantemala jam 18:05 waktu lokal, hilal memiliki ketinggian 5.2o, ketebalan 0.12’, dan sudut elongasi 7.15o, sehingga dapat dirukyat dengan mudah. Di detik yang sama, di Jakarta sudah jam 7:05 pagi tanggal 14 September. Hilal di Jakarta ini tidak lagi terhalang lagi oleh bola Bumi karena ia telah terbit kembali di ufuk timur Jakarta sejak jam 6:16 WIB. Namun, meskipun hilal di Jakarta telah memiliki ketebalan 0.17’ (41% lebih tebal daripada hilal di Guatemala), hilal tetap tidak kelihatan karena sinarnya kalah oleh sinar Matahari yang telah terbit mendahului Bulan, pada jam 5:47. Tidak bisa disangkal, hilal yang dilihat perukyat di Guatemala, pasti juga merupakan hilal yang sama yang ada di bola langit Jakarta meskipun tidak kelihatan.

    Jika jarak antara Jakarta ke empat kota Porto Alegre, Santiago, Lima, dan Guatemala kita skala menjadi hanya seperti jarak antara kedua mata kita yang hanya 7cm, berarti jarak Bumi ke Bulan hanya sekitar 3m saja. Sangat tidak masuk akal jika kita melihat tulisan kata “hilal” pada kertas yang kita tempatkan 3m di depan mata kita, namun kita menyangkal karena yang melihat hanya mata kiri, sementara mata kanan kita sakit dan tertutup perban (lihat Gambar-2). Dari analisis extended visibility di empat kota di benua Amerika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanggal 14 September telah masuk 1 Dzulhijjah 1436, dan karenanya, Iedul Adha jatuh pada tanggal 23 September 2015.

    Gambar 2: Posisi segitiga ruang (space triangle) Jakarta-Porto Alegre-Bulan
    (tidak diskala)

    Lebih dari itu, kamera astrofotografi yang telah dimiliki oleh beberapa organisasi pecinta astronomi di Indonesia dapat digunakan untuk memotret hilal siang hari untuk memverifikasi kehadiran hilal di langit Jakarta pada sepanjang siang hari sejak jam 7:00 pagi sampai menjelang maghrib 14 September 2015.

    Jika kita dapat memilih ratusan/ribuan titik sampel di permukaan Bumi yang memenuhi prinsip extended visibility seperti yang dicontohkan di atas, maka sebetulnya, sains dan teknologi telah dapat membuktikan kehadiran hilal selama 23 jam 55 menit antara dua maghrib 13 dan 14 September 2015. Hanya pada rentang waktu yang kurang dari 5 menit (antara maghrib dan Bulan tenggelam pada maghrib 13 September) saja, sains dan teknologi dianggap (oleh pendukung imkan-rukyat) tidak mampu membuktikan kehadiran hilal. Jadi, bagaimana mungkin fakta saintifik yang kurang dari 1% ini dapat menganulir fakta saintifik yang >99%? Kalau ini dibiarkan maka semua bangunan sosial, sains, teknologi, bahkan ilmu pengetahuan menjadi hancur. Kalau masih ada saintis yang mengatakan bahwa hilal yang ditunjukkan dengan 99% fakta ilmiah itu bukan hilal yang syar’i, lalu bagaimana juga dengan firman Allah dalam Yasin: 39 sebagai berikut:

    وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
    Dan bulan, Kami telah tetapkan dalam lintasannya, sampai ia kembali seperti tangkai kering yang melengkung.

    Bila awal manzilah pertama yang dianggap syar’i adalah pada maghrib 14 Sepember, adakah yang dapat membuktikan bahwa kenampakan permukaan Bulan yang tersinari antara dua maghrib 13 dan 14 September yang diuraikan di atas merupakan ‘urjunil qadim sesuai dengan Ya-Sin: 39 di atas? Bagaimana mungkin kita membohongi kecerdasan umat dengan melakukan transaksi yang tidak adil dengan menyangkal fakta ilmiah dan syariah di atas hanya dengan dalih bahwa Departemen Agama adalah otoritas tunggal yang berwenang menetapkan kapan dan bagaimana hilal itu harus didefinisikan? Bukankah ini bertentangan dengan firman Allah dalam al-Muthoffifin yang mengharuskan semua transaksi itu dilakukan secara adil?


    3.2 Kalender Islam Global E
    CFR


    Kalen
    der Islam Global diperkenalkan di antaranya oleh the European Council for Fatwa and Research (ECFR) menganut pada ketentuan imkan-rukyat global. Jika ada satu titik saja di muka Bumi yang telah mengalami imkan-rukyat dengan ketentuan: Somewhere on the globe, altitude > 5°, elongation > 8°, maka seluruh dunia telah dianggap masuk ke dalam bulan Islam baru. Untuk menganalisis masuknya awal Dzulhijjah 1436H, mari kita lihat titik di ujung paling Barat di bola Bumi kita, yaitu Papeete, Polynesia (Perancis).

    Pada maghrib 13 September 2015, Matahari tenggelam jam 17:54 waktu lokal Papeete. Saat itu hilal berada pada ketinggian 8.7 derajat dan sudut elongasi sekitar 8.7o. Dengan demikian, persyaratan ECFR di atas telah terpenuhi dan oleh karenanya 14 September masuk 1 Dzulhijjah, dan Iedul Adha jatuh pada 23 September 2015. Negara-negara di Eropa yang telah mengadopsi Kalender Islam Global ini meliputi Irlandia, Perancis, Jerman, Itali, Luxembourg, dan Turki. Pusat ECFR sendiri adalah di kota Dublin di Irlandia.

    Sekarang kita lihat kondisi hilal di ibukota negara-negara yang mengadopsi Kalender Islam Global ini. Di Dublin (Irlandia), pada maghrib 13 September 2015, hilal masih di bawah ufuk dengan ketinggian -0.1o. Berturut-turut hilal memiliki ketinggian: +0.2o di Paris (Perancis), -0.2o di Berlin (Jerman), +0.7o di Roma (Itali), +0.1o di Luxembourg, +0.5o di Ankara (Turki). Tampak dengan jelas bahwa rukyat di enam negara Eropa tersebut tidak mungkin dilakukan karena ketinggian hilal hanya di bawah 1o. Di Dublin dan di Berlin bahkan posisi hilal masih di bawah ufuk ketika maghrib pada 13 September 2015. Dapat disimpulkan kenampakan hilal tidak lagi disyaratkan lokal, tapi sudah merupakan extended visibility seperti yang dijelaskan di atas.


    3.3 Kalender Wujudul Hilal Lokal

    Ada beberapa organisasi besar umat Muslim yang masih menganut wujudul hilal lokal di dunia. Tiga di antaranya dijelaskan singkat di sini.

    Pertama adalah Umm al-Qura University (UQU) di Saudi Arabia yang telah menyusun kalender Islam bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Kriteria WH nya memiliki referensi hitungan untuk kota Mekkah. Pada 13 September 2015, hilal di Mekkah memiliki ketinggian 1.5o, ketebalan 0.03’, dan sudut elongasi 3.5o. Dalam situsnya, UQU telah menetapkan Iedul Adha 1436H jatuh pada 23 September 2015 [4]. Kalender Islam UQU ini telah resmi digunakan oleh Kerajaan Arab Saudi, satu-satunya negara di dunia yang menggunakan Kalender Islam untuk keperluan manajemen waktu negaranya.

    Yang kedua adalah Islamic Society of North America (ISNA), organisasi Muslim untuk wilayah Amerika Serikat dan Kanada. The Fiqh Council of North America (FQNA) sebagai badan fatwa ISNA telah menetapkan perhitungan hisabnya menggunakan Mekah sebagai referensi. Dengan demikian, tidak terjadi perbedaan antara  Kalender FQNA dan UQU, insya Allah. Dalam situsnya, FQNA juga telah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1436H jatuh pada 14 September, dan karenanya, Iedul Adha 1436H jatuh pada 23 September 2015 [5].

    Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yang memiliki sekitar 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah (SD sampai SMA), ratusan rumah sakit dan panti asuhan, telah menetapkan Iedul Adha 1436H jatuh pada 23 September 2015. Keputusan itu dikeluarkan berupa maklumat yang dikeluarkan pada 28 April 2015 oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM), berdasarkan Hasil Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PPM pada 6 April 2015. Perhitungannya adalah berdasarkan posisi lokal kota Yogyakarta di mana MTT berdomisili [6].


    3.4 Ayyami al-bidh

    Bulan purnama terjadi ketika posisi Bulan berada pada posisi diametral dimana Matahari, Bumi, dan Bulan terletak pada satu bidang meridian langit. Dalam posisi ini, bulan telah menempuh setengah orbitnya mengelilingi Bumi, dan bagian Bulan yang bercahaya menghadap secara sempurna ke arah kita di permukaan bumi. Dalam posisi ini, Bulan terbit sekitar 12 jam lebih lambat dari Matahari. Dengan kata lain, Bulan terbit di ufuk lokal timur di mana pada saat yang hampir sama Matahari terbenam di ufuk barat.

    Ini merupakan fenomena astronomi yang istimewa karena bagian tertentu dari Bumi akan terang benderang siang dan malam. Sangat menarik, Nabi Muhammad diriwayatkan mendorong umat beliau untuk berpuasa sunnah pada tanggal 13, 14, dan ke-15 setiap bulan pada apa yang disebut sebagai hari-hari putih (ayyami al-bidh). Dalam tiga hari berturut-turut ini, bagian tertentu dari Bumi akan tersinari terus karena sebelum Matahari terbenam di barat, Bulan purnama terbit di timur.

    Hadis: “Nabi meminta kami untuk berpuasa pada tiga hari putih, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan, dan dia bersabda: "Yang demikian itu seperti puasa sepanjang tahun"”. [Sahih An-Nasa'i (1 / 328-329), Ibnu Hibban (943), Baihaqi (4/294) dan Ahmad (5/152 dan 177)].

    Tabel-3 menunjukkan bahwa ayyami al-bidh pada 25, 26, dan 27 September 2015 hanya mungkin terjadi jika tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada maghrib 13 September 2015.

    Tabel 3: Hari-hari Putih pada 25, 26, dan 27 September


    3.4 Imkan-Rukyat

    Dengan kriteria IR MABIMS 2-3-8 jelas hilal dianggap tidak mungkin dapat dilihat karena ketinggian hilal pada maghrib 13 September 2015 nanti hanya sekitar +0.7o. Umumnya, jika ada laporan bersumpah bahwa perukyat dapat melihat hilal pada maghrib 13 September pun, Departemen Agama menggugurkannya karena dianggap tidak mungkin. Dengan kriteria IR ini, maka bulan Dzulqo’dah digenapkan 30 hari (istikmal) sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada 15 September 2015. Konsekuensinya, Iedul Adha 1436H jatuh pada 24 September.

    Jelaslah bahwa kriteria imkan-rukyat sebetulnya tidak sesuai dengan kaidah saintifik yang standar dan adil. Umat Islam diminta untuk menyangkal kehadiran hilal meskipun prinsip extended visibility yang dijelaskan pada 3.1 telah membuktikan kehadiran dan visibilitas hilal sepanjang lebih dari 23 jam 55 menit di Indonesia sejak maghrib 13 September 2015. Umat Islam juga diminta untuk menerima fakta ilmiah yang hanya sekitar 1% dan harus menggugurkan fakta ilmiah yang 99% tentang kehadiran hilal. Ini berarti umat Islam diminta berpura-pura sebagai umat yang ummiy meskipun kita telah menguasai sains dan teknologi yang cukup canggih untuk membuktikan kehadiran dan visibilitas hilal. Dapat disimpulkan bahwa imkan-rukyat yang bersifat lokal sebetulnya merupakan sebuah scientific blunder karena menyalahi karakteristik sains dan syariah yang adil.


    4 Analisis Kalender Hijrah Global tahun 1437H

    Ada 4 model Kalender Islam Global (KIG) yang saat ini sedang dikaji oleh pakar-pakar Ilmu Falak di dunia. Salah satu modelnya adalah yang dianut oleh European Council for Fatwa and Research (EFCR) yang dipimpin oleh Prof. Yusuf Qaradawi seperti Kalender Islam Global pada bagian 3.2 di atas. Untuk memahami prinsip extended visibility dalam penyusunan Kalender Hijrah Global ini, penelitian awal dengan menganalisis kondisi awal bulan Islam selama 1437H yang akan datang diberikan pada Tabel-4 berikut. Kajian untuk ketiga model yang lain akan diberikan pada waktu yang akan datang.

    Tabel 4: Proposal salah satu model Kalender Islam Global


    Tabel-4 menganalisis kondisi wujudul hilal di tiga titik spot di belahan Bumi yaitu, Jakarta, Mekah, dan Papeete. Kolom-8 pada tabel adalah daftar kota-kota yang digunakan untuk memverifikasi kehadiran hilal seperti yang dijelaskan pada 3.1. Analisis untuk bulan Safar 1437H terletak pada elemen matrix (2,8) atau (Baris-2, Kolom-8), misalnya, menjelaskan kondisi hilal yang dapat dirukyat saat maghrib di kota Lima (PERU) dengan ketebalan 0.04’. Di detik yang sama, hilal dengan referensi Jakarta telah setebal 0.16’ (300% lebih tebal) meskipun tidak kelihatan. Sementara ketika hilal di Papeete dapat dirukyat dengan ketebalan 0.08’, di detik yang sama, hilal yang sama ada dengan referensi Jakarta dengan ketebalan 0.22’ (175% lebih tebal). Jadi jelas, jika orang mengakui hilal di Lima dan Papeete, maka hilal yang sama sebetulnya ada di Jakarta bahkan dengan ketebalan yang jauh lebih besar.

    Untuk awal Syawal 1437, dapat dilihat pada elemen matrix (10,8). Elemen matrix ini menjelaskan:
    1. Hilal di Santiago (CHILE) dapat dirukyat dengan ketebalan 0.10’, sementara di detik yang sama, hilal dengan referensi Jakarta telah setebal 0.16’ (60% lebih tebal);
    2. Dengan ketebalan 0.14’, hilal dapat dirukyat saat maghrib di Easter Island (CHILE), sementara di detik yang sama, hilal dengan referensi Jakarta telah setebal 0.16’ (14% lebih tebal.
    3. Saat maghrib di Adamstown (PITCAIRN ISLAND) hilal dapat dirukyat dengan ketebalan 0.17’, sementara di detik yang sama, hilal telah memiliki ketebalan 0.21’ (24% lebih tebal) dengan referensi Jakarta.


    Dari Tabel-4 di atas, dapat dilihat bahwa bila hilal di ujung barat bola Bumi terlalu rendah, maka prinsip extended visibility tidak mampu untuk memverifikasi kehadirannya. Ini diperlihatkan pada baris 1, 9, dan 11 (lihat lingkaran merah). Sedangkan threshold ketinggian hilal minimum sebesar 4 derajat menunjukkan bahwa prinsip extended visibility dapat diterapkan untuk memverifikasi kehadiran hilal di Jakarta. Lihat baris, 2, 3, 5, 8, 10, dan 12. Dengan demikian, kriteria imkan-rukyat global (IRG) dengan minimum altitude 4o sebetulnya dapat diaplikasikan (bandingkan dengan 5o yang dipersyaratkan oleh ECFR seperti dijelaskan di atas. Namun, harus disadari bahwa analisis yang dilakukan dalam makalah ini belum memperhitungkan kondisi extended visibility di titik-titik lebih ke timur dari Jakarta. Dapat disimpulkan bahwa angka ketinggian hilal minimum 5o yang ditetapkan oleh ECFR tampaknya sudah cukup konservatif untuk mengakomodasi kondisi extended visibility di wilayah timur ini.

    Referensi

    m.
    5




    [1] Di beberapa software (missal: Stellarium), besaran ini diberikan dalam angka persentasi bagian permukaan Bulan yang bercahaya dengan memperhitungkan angka 100% terjadi saat purnama.

    8 comments:

    zulfanzamzuri said...

    Prof kalo PCIM Malaysia bisa dapatkan PDF Version kan lebih mudah kami sebarkan dalam pengajian Bulanan beserta TKI< Expats dan pemegang IC merah.

    Tono Saksono said...
    This comment has been removed by the author.
    Tono Saksono said...

    Boleh....tolong beri alamat emailnya

    Tono Saksono said...

    Boleh....tolong beri alamat emailnya

    Tono Saksono said...

    Ini link unt artikel dalam PDF format https://drive.google.com/open?id=0B7t1e2Z_T0_-a19tMjVaaHI5WlE

    zainul arifin said...

    alhamdulillah

    Budi Syahbirin said...

    Tulisan yg menarik prof.
    Mohon maaf pertanyaan saya ini kalau dianggap terlalu awam.
    Selama ini ummat memakai dalil hadits yg diakhir kalimatnya (kurang lebih artinya): "kalau terhalang, maka sempurnakanlah" maksudnya kalau hilal tak nampak, maka akhir bulan di tambah 1 hari lagi.
    Lalu bagaimana penerapannya dalam metode extended visibility ini?

    Tono Saksono said...

    Pak Budi Syahbirin.
    Maaf baru balas. Bunyi hadisnya adalah: "fain ghumma 'alaikum faqdurulahu" itu artinya "kalau kalian terhalang atasnya (maka) perkirakanlah (hitunglah)". Hadis pertama ini diriwayatkan oleh Ibn Umar. Ada memang hadis lain (kedua) yang mengatakan "sempurnakanlah". Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan juga Abu Hurairah. Kedua hadis di atas memang sahih. Namun harus diingat ketika perintah puasa diturunkan (tahun 2H), Ibn Abbas baru berumur 4 tahun karena ketika Rasul hijrah, beliau masih berumur 3 tahun. Orang tua Ibn Abbas dan Ibn Abbas tidak ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Sementara itu, Abu Hurairah baru masuk Islam pada tahun 7H. Dengan demikian Ibn Abbas dan Abu Hurairah tidak mendengar hadis di atas langsung dari Rasul. Hadis Ibn Umar memiliki maqam yang lebih tinggi karena Ibn Umar adalah sahabat Rasul ketika di Mekah, ikut hijrah ke Madinah dan terus berjuang bersama Rasul di Madinah. Dengan kata lain, Ibn Umar mendengar langsung hadis tentang puasa ini dari Rasul SAW.