Monday, August 17, 2015

Analisis Iedul Adha 1436H

Pada akhir bulan Dzulqo’dah 1436H yang bertepatan dengan 13 September 2015 yang akan datang, ijtimak toposentris (referensi Jakarta) akan terjadi pada jam 15:13 WIB. Kemudian, pada saat maghrib (pukul 17:51), Bulan akan berada pada posisi yang sangat rendah, hanya sekitar 0.7 derajat. Jika Departemen Agama RI masih konsisten mengadopsi kriteria imkan-rukyat (IR) MABIMS 2-3-8, sebaiknya Departemen Agama tidak usah menyebar perukyat untuk merukyat hilal di tanah air. Bulan juga akan tenggelam hanya sekitar 3 menit setelah maghrib sehingga hampir mustahil para perukyat akan dapat merukyat hilal. Apalagi sudut elongasinya hanya sekitar 1.5 derajat, dan ketebalan hilal nyaris 0 menit. Namun harus diingat bahwa hilal sejak ijtimak dengan referensi Jakarta terus membesar dengan tingkat pertumbuhan 0.013 menit/jam karena pada maghrib 14 September, ketebalannya akan 0.32 menit. Upaya merukyat hilal pada maghrib 13 September di tanah air, insya Allah, akan merupakan tindakan sia-sia dan mubazir.

Namun seperti analisis saya sebelum ini, untuk memverifikasi kehadiran hilal, umat Islam harus berfikir dalam skala ruang angkasa (space scale). Daripada mengirim puluhan perukyat ke pelosok tanah air yang hampir pasti gagal, verifikasilah kehadiran hilal dengan mengirim hanya beberapa perukyat ke kota-kota Porto Alegre (Brazil GMT-3), Santiago (Chile GMT-4), Lima (Peru GMT-5), dan Guatemala (Guatemala GMT-6).


Extended Visibility

Maghrib di Porto Alegre pada 13 September 2015 akan terjadi pada jam 18:16 waktu lokal. Sementara Bulan akan tenggelam 27 menit kemudian sehingga ketinggian hilal saat maghrib akan sekitar 5.8 derajat dan ketebalan hilal 0.08 menit. Dengan sudut elongasi yang sekitar 5.45 derajat, hilal akan mudah dirukyat. Sementara itu, di detik yang sama saat maghrib di Porto Alegre, di Jakarta (GMT+7) telah jam 4:16 menjelang subuh tanggal 14 September 2015. Dengan pertumbuhan hilal yang 0.013 menit per jam. Ketebalan hilal dengan referensi Jakarta berarti sudah sekitar 0.13 menit atau sekitar 63% lebih besar daripada hilal di Porto Alegre. Jadi, kalau orang mendefinisikan hilal di Poto Alegre, maka yang di Jakarta pun harus didefinisikan hilal karena secara geometri jelas lebih besar meskipun tidak tampak karena tertutup bola Bumi. Inilah esensi hadis “Summu lirukyatihi, faafthiru rirukyatihi. Fain ghumma ‘alaikum faqdurulahu” (berpuasalah ketika melihatnya (hilal), dan berbukalah ketika melihatnya, jika kalian terhalangi atasnya, maka hitunglah). Terhalang di sini meliputi terhalang oleh awan, mendung, dan juga bola Bumi.

Pada saat maghrib di Santiago jam 18:33 waktu lokal, hilal akan berada pada ketinggian 6.3 derajat dan ketebalan 0.09 menit. Sudut elongasinya sekitar 6.26 derajat sehingga akan mudah dirukyat. Di detik yang sama, di Jakarta telah jam 5:33 pagi menjelang syuruq tanggal 14 September. Dengan demikian, dengan pertumbuhan hilal 0.013 menit per jam, hilal akan memiliki ketebalan 0.143 menit (referensi Jakarta). Memang hilal dengan referensi Jakarta tidak mungkin kelihatan karena terhalang bola Bumi. Jadi, kalau di Santiago perukyat melihat hilal, maka hilal yang sama juga ada dengan referensi Jakarta, bahkan dengan ketebalan yang hampir 60% lebih besar.

Saat maghrib di Lima jam 18:05 waktu lokal, hilal akan berada pada ketinggian 6.4 derajat dengan ketebalan 0.10 menit. Sudut elongasinya sekitar 6.31 derajat sehingga akan dapat dengan mudah dirukyat jika tidak tertutup awan atau mendung. Di detik yang sama, di Jakarta telah masuk tanggal 14 September jam 6:05 pagi. Dengan pertumbuhan ketebalan hilal 0.013 menit per jam, hilal dengan referensi Jakarta telah memiliki ketebalan 0.156 menit meskipun tidak akan tampak karena masih terhalang bola Bumi. Namun hilal di Jakarta adalah sekitar 58% lebih tebal daripada hilal yang tampak di Lima. Jadi, kalau di Lima dinamakan hilal, maka pasti hilal yang sama lah yang ada di Jakarta meskipun tidak kelihatan.

Selanjutnya, saat maghrib di Guantemala jam 18:05 waktu lokal, hilal memiliki ketinggian 5.2 derajat dan ketebalan 0.12 menit. Sudut elongasinya 7.15 derajat sehingga akan dapat dirukyat dengan mudah. Di detik yang sama, di Jakarta sudah jam 7:05 pagi tanggal 14 September. Dengan demikian, hilal di Jakarta tidak terhalang lagi oleh bola Bumi karena ia telah terbit Kembali di ufuk timur Jakarta sejak jam 6:16 WIB. Namun, meskipun hilal di Jakarta telah memiliki ketebalan 0.169 menit (41% lebih tebal daripada hilal di Guatemala), hilal tetap tidak kelihatan karena sinarnya kalah oleh sinar Matahari yang telah terbit mendahului Bulan, pada jam 5:47. Maka, hilal yang dilihat perukyat di Guatemala, pasti juga merupakan hilal yang sama yang ada di bola langit Jakarta meskipun tidak kelihatan. Kamera untuk memotret hilal siang hari pasti juga dapat digunakan untuk memverifikasi kehadiran hilal di langit Jakarta pada sepanjang siang hari 14 September ini.

Seperti penjelasan saya sebelumnya (lihat http://cis-saksono.blogspot.com/2015/08/menggugat-kriteria-imkan-rukyat-lapan.html), jika jarak antara Jakarta ke empat kota Porto Alegre, Santiago, Lima, dan Guatemala kita skala menjadi hanya seperti jarak antara kedua mata kita yang hanya 7cm, jarak Bumi ke Bulan hanya sekitar 3m. Sangat tidak masuk akal jika kita melihat tulisan kata “hilal” pada kertas yang kita tempatkan 3m di depan mata kita, namun kita menyangkal karena yang melihat hanya mata kiri, sementara mata kanan kita sakit dan tertutup perban. Dari analisis extended visibility di empat kota di benua Amerika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanggal 14 September telah masuk 1 Dzulhijjah 1436, dan karenanya, Iedul Adha akan jatuh pada tanggal 23 September 2015.


Kalender Islam Global ECFR

Kalender Islam Global yang digagas oleh the European Council for Fatwa and Research (ECFR) menganut pada ketentuan imkan-rukyat global. Jika ada satu titik saja di muka Bumi yang telah mengalami imkan-rukyat dengan ketentuan: Somewhere on the globe, altitude > 5°, elongation > 8°, maka seluruh dunia telah dianggap masuk ke dalam bulan Islam baru. Untuk menganalisis masuknya awal Dzulhijjah 1436H, mari kita lihat titik di ujung paling Barat di bola Bumi kita. Untuk itu saya ambil satu titik di Papeete, Polynesia yang masuk ke dalam teritori politik Perancis.

Pada maghrib 13 September 2015 yang akan datang, Matahari akan tenggelam jam 17:54 waktu lokal Papeete. Saat itu hilal akan berada pada ketinggian 8.7 derajat dengan sudut elongasi sekitar 8.7 derajat. Dengan demikian, persyaratan ECFR di atas telah terpenuhi dan oleh karenanya 14 September akan masuk 1 Dzulhijjah, dan Iedul Adha akan jatuh pada 23 September 2015. Negara-negara di Eropa yang telah mengadopsi Kalender Islam Global ini meliputi Irlandia, Perancis, Jerman, Itali, Luxembourg, dan Turki. Pusat ECFR sendiri adalah di kota Dublin di Irlandia.

Sangat menarik untuk melihat kondisi hilal di ibukota negara-negara yang mengadopsi Kalender Islam Global ini. Di Dublin (Irlandia), pada maghrib 13 September 2015 yang akan datang, hilal sebetulnya akan masih di bawah ufuk dengan ketinggian -0.1 derajat. Sementara itu, berturut-turut hilal akan memiliki ketinggian: +0.2 derajat di Paris (Perancis), -0.2 derajat di Berlin (Jerman), +0.7 derajat di Roma (Itali), +0.1 derajat di Luxembourg, +0.5 derajat di Ankara (Turki). Tampak dengan jelas bahwa rukyat di enam negara Eropa tersebut tidak mungkin dilakukan karena ketinggian hilal hanya di bawah 1 derajat. Di Dublin dan di Berlin bahkan posisi hilal masih di bawah ufuk ketika maghrib pada 13 September yang akan datang. Dapat disimpulkan kenampakan hilal tidak lagi disyaratkan lokal, tapi sudah merupakan extended visibility seperti yang dijelaskan di atas.


Kalender Wujudul Hilal Lokal

Ada beberapa organisasi besar umat Muslim yang masih menganut wujudul hilal lokal di dunia. Tiga di antaranya dijelaskan singkat di sini.

Pertama adalah Umm al-Qura University (UQU) di Saudi Arabia yang telah menyusun kalender Islam bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Kriteria WH nya memiliki referensi hitungan untuk kota Mekkah. Pada 13 September 2015 yang akan datang, hilal di Mekkah akan memiliki ketinggian 1.5 derajat, ketebalan 0.03 menit, dan sudut elongasi 3.5 derajat. Secara teoretis, akan sukar untuk merukyat hilal dengan kondisi ini. Di zaman Rasul, di akhir Sya’ban dan Ramadan tercatat ketinggian hilal yang hanya sekitar 1.7 derajat, dan Rasul lebih banyak melaksanakan saum Ramadan 29 hari. Dengan demikian, dapat disimpulkan hilal dengan kisaran ketinggian di bawah 2 derajatpun ternyata dapat dirukyat di zaman itu. Dalam situsnya, UQU telah menetapkan Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015 (lihat http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/ummalqura_principal.htm). Kalender Islam UQU ini telah resmi digunakan oleh Kerajaan Arab Saudi, satu-satunya negara di dunia yang menggunakan Kalender Islam untuk keperluan manajemen waktu negaranya. Namun, Mahkamah Agung Arab Saudi masih sering menganulir Kalender UQU dengan menerima sumpah orang yang telah melihat hilal, khususnya untuk akhir bulan-bulan Sya’ban, Ramadan dan Dzulqo’dah. Sumpah kenampakan hilal yang sering salah (melihat benda lain yang dikira hilal), dan sering menimbulkan kekacauan manakala ketinggian hilal berdasarkan hisab sebetulnya berada pada posisi negatif (masih di bawah ufuk). Namun, karena pada 13 September nanti posisi hilal +1.5 derajat, insya Allah, tidak akan terjadi kesalahan merukyat hilal.

Yang kedua adalah Islamic Society of North America (ISNA), organisasi Muslim untuk wilayah Amerika Serikat dan Kanada. The Fiqh Council of North America (FQNA) sebagai badan fatwa ISNA telah menetapkan perhitungan hisabnya menggunakan Mekah sebagai referensi. Memang keputusan ini (baca keputusan politik) agak aneh karena menggunakan referensi kota Mekah yang justru terletak di sebelah Timur benua Amerika. Dengan demikian, tidak akan terjadi perbedaan antara  Kalender FQNA dan UQU, insya Allah. Dalam situsnya, FQNA juga telah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1436H akan jatuh pada 14 September, dan karenanya, Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015 (lihat http://moonsighting.com/calendars/2015fcna.html).

Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yang memiliki sekitar 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah (SD sampai SMA), ratusan rumah sakit dan panti asuhan, telah menetapkan Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015. Keputusan itu dikeluarkan berupa maklumat yang dikeluarkan pada 28 April 2015 oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM), berdasarkan Hasil Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PPM pada 6 April 2015. Perhitungannya adalah berdasarkan posisi lokal kota Yogyakarta di mana MTT berdomisili.


Imkan-Rukyat

Dengan kriteria IR MABIMS 2-3-8 jelas hilal akan dianggap tidak mungkin dapat dilihat karena bahkan di ujung paling Barat Indonesia pun (Banda Aceh), ketinggian hilal pada maghrib 13 September 2015 nanti akan hanya sekitar +0.7 derajat juga. Biasanya, Departemen Agama RI bahkan menetapkan jika ada laporan bersumpah bahwa perukyat dapat melihat hilal pada maghrib 13 September pun, maka pengakuan itu biasanya akan digugurkan karena dianggap tidak mungkin. Apalagi jika kriteria IR LAPAN yang mempersyaratkan tinggi hilal minimum 4 derajat dan sudut elongasi minimum 6.4 derajat. Dengan kriteria IR ini (MABIMS dan LAPAN), maka bulan Dzulqo’dah akan digenapkan 30 hari (istikmal) sehingga 1 Dzulhijjah akan jatuh pada 15 September 2015. Konsekuensinya, Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 24 September.

Jelaslah bahwa kriteria imkan-rukyat baik MABIMS apalagi LAPAN, sebetulnya tidak sesuai dengan kaidah saintifik yang standar dan adil. Umat Islam di belahan Bumi di sebelah Barat akan harus menunggu sekitar 24 jam, meskipun hilal di wilayah itu sudah sangat besar, karena kebersamaan itu dilakukan justru dengan menarik ke arah extrim Timur. Dengan kata lain, umat Islam di sebelah Barat harus mengundurkan awal Dzulhijjah-nya meskipun secara astronomis seharusnya sudah tanggal 2 Dzulhijjah. Ini jelas tidak cocok dengan kecenderungan dunia Muslim dunia yang justru menghendaki Kalender Islam Global yang menarik ke arah extrim Barat.

Sekali lagi, sudah saatnya organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU untuk menyatukan visi keduanya untuk mengaplikasikan prinsip Kalender Islam Global sesuai dengan kriteria IR Global atau extended visibility seperti yang dijelaskan di atas. Wallahu a’lam dan semoga bermanfaat.

1 comments:

Bakri syam said...

untuk prof Tono Saksono pada umumnya semua orang telah menyadari bahwa bumi ini bulat seperti bola , sebagai alat hitung (hisab) dari revolusi bulan mengelilingi bumi yang terdiri dari face-face yang posisinya seperti lingkaran.
dalam rentang waktu 24 jam posisi bulan itu bergeser / tertinggal oleh posisi matahari 12,2 derajat. tentu kalau semua di permukaan bumi ini di lakukan pengamatan posisi bulan tentu hasilnya berbeda-beda pula.(sipatnya lokal)
sebaiknya tinggalkan hisab lokal dan pakai hisab global, yaitu posisi pengamatan (posisi bulan) di lakukan di garis batas perubahan hari dan tanggal yang tetap (di IDL)
Pada hari Ahad 1 zulkaedah 1436 H = 16 Agustus 2015 M.
dengan demikian maka hari Ahad 13 september 2015 M = 29 Zulkaedah 1436 H .
pada hari Ahad 29 zulkaedah 1436 H di lakukan pengamatan posisi bulan di IDL saat terbenamnya matahari (magrib) dengan stelarium , maka terlihat posisi bulan di saat itu masih mendahului posisi matahari.
maka jumlah hari di bulan zulkaedah menjadi 30 hari.
dan oleh sebab itu 1 zulhijah 1436 H jatuh pada hari selasa tgl 15 september 2015 M.
untuk pelaksanaan ukuf di padang arafah (9 zulhijah) jatuh pada hari RABU tgl 23 september 2015 M.
dalam hal waktu pelaksanaan ibadah, bermula dari mekah (padang arafah) berikut ke arah baratnya sampai ke wilayah sebelum mekah (dalam rentang waktu 24 jam).
dengan kesimpulan waktu pelaksanaan ibadah solat aidil adha (10 zulhijah) untuk wilayah mekah yang sewaktu dengannya berikut ke arah baratnya sampai ke IDL jatuh pada hari KAMIS tgl 24 september 2015 M.
dan untuk wilayah mulai dari IDL berikut ke arah baratnya sampai ke sebelum mekah pengamalan solat aidil adha 1436 H jatuh pada hari jum'at tgl 25 september 2015 M.