Monday, August 17, 2015

Analisis Iedul Adha 1436H

Pada akhir bulan Dzulqo’dah 1436H yang bertepatan dengan 13 September 2015 yang akan datang, ijtimak toposentris (referensi Jakarta) akan terjadi pada jam 15:13 WIB. Kemudian, pada saat maghrib (pukul 17:51), Bulan akan berada pada posisi yang sangat rendah, hanya sekitar 0.7 derajat. Jika Departemen Agama RI masih konsisten mengadopsi kriteria imkan-rukyat (IR) MABIMS 2-3-8, sebaiknya Departemen Agama tidak usah menyebar perukyat untuk merukyat hilal di tanah air. Bulan juga akan tenggelam hanya sekitar 3 menit setelah maghrib sehingga hampir mustahil para perukyat akan dapat merukyat hilal. Apalagi sudut elongasinya hanya sekitar 1.5 derajat, dan ketebalan hilal nyaris 0 menit. Namun harus diingat bahwa hilal sejak ijtimak dengan referensi Jakarta terus membesar dengan tingkat pertumbuhan 0.013 menit/jam karena pada maghrib 14 September, ketebalannya akan 0.32 menit. Upaya merukyat hilal pada maghrib 13 September di tanah air, insya Allah, akan merupakan tindakan sia-sia dan mubazir.

Namun seperti analisis saya sebelum ini, untuk memverifikasi kehadiran hilal, umat Islam harus berfikir dalam skala ruang angkasa (space scale). Daripada mengirim puluhan perukyat ke pelosok tanah air yang hampir pasti gagal, verifikasilah kehadiran hilal dengan mengirim hanya beberapa perukyat ke kota-kota Porto Alegre (Brazil GMT-3), Santiago (Chile GMT-4), Lima (Peru GMT-5), dan Guatemala (Guatemala GMT-6).


Extended Visibility

Maghrib di Porto Alegre pada 13 September 2015 akan terjadi pada jam 18:16 waktu lokal. Sementara Bulan akan tenggelam 27 menit kemudian sehingga ketinggian hilal saat maghrib akan sekitar 5.8 derajat dan ketebalan hilal 0.08 menit. Dengan sudut elongasi yang sekitar 5.45 derajat, hilal akan mudah dirukyat. Sementara itu, di detik yang sama saat maghrib di Porto Alegre, di Jakarta (GMT+7) telah jam 4:16 menjelang subuh tanggal 14 September 2015. Dengan pertumbuhan hilal yang 0.013 menit per jam. Ketebalan hilal dengan referensi Jakarta berarti sudah sekitar 0.13 menit atau sekitar 63% lebih besar daripada hilal di Porto Alegre. Jadi, kalau orang mendefinisikan hilal di Poto Alegre, maka yang di Jakarta pun harus didefinisikan hilal karena secara geometri jelas lebih besar meskipun tidak tampak karena tertutup bola Bumi. Inilah esensi hadis “Summu lirukyatihi, faafthiru rirukyatihi. Fain ghumma ‘alaikum faqdurulahu” (berpuasalah ketika melihatnya (hilal), dan berbukalah ketika melihatnya, jika kalian terhalangi atasnya, maka hitunglah). Terhalang di sini meliputi terhalang oleh awan, mendung, dan juga bola Bumi.

Pada saat maghrib di Santiago jam 18:33 waktu lokal, hilal akan berada pada ketinggian 6.3 derajat dan ketebalan 0.09 menit. Sudut elongasinya sekitar 6.26 derajat sehingga akan mudah dirukyat. Di detik yang sama, di Jakarta telah jam 5:33 pagi menjelang syuruq tanggal 14 September. Dengan demikian, dengan pertumbuhan hilal 0.013 menit per jam, hilal akan memiliki ketebalan 0.143 menit (referensi Jakarta). Memang hilal dengan referensi Jakarta tidak mungkin kelihatan karena terhalang bola Bumi. Jadi, kalau di Santiago perukyat melihat hilal, maka hilal yang sama juga ada dengan referensi Jakarta, bahkan dengan ketebalan yang hampir 60% lebih besar.

Saat maghrib di Lima jam 18:05 waktu lokal, hilal akan berada pada ketinggian 6.4 derajat dengan ketebalan 0.10 menit. Sudut elongasinya sekitar 6.31 derajat sehingga akan dapat dengan mudah dirukyat jika tidak tertutup awan atau mendung. Di detik yang sama, di Jakarta telah masuk tanggal 14 September jam 6:05 pagi. Dengan pertumbuhan ketebalan hilal 0.013 menit per jam, hilal dengan referensi Jakarta telah memiliki ketebalan 0.156 menit meskipun tidak akan tampak karena masih terhalang bola Bumi. Namun hilal di Jakarta adalah sekitar 58% lebih tebal daripada hilal yang tampak di Lima. Jadi, kalau di Lima dinamakan hilal, maka pasti hilal yang sama lah yang ada di Jakarta meskipun tidak kelihatan.

Selanjutnya, saat maghrib di Guantemala jam 18:05 waktu lokal, hilal memiliki ketinggian 5.2 derajat dan ketebalan 0.12 menit. Sudut elongasinya 7.15 derajat sehingga akan dapat dirukyat dengan mudah. Di detik yang sama, di Jakarta sudah jam 7:05 pagi tanggal 14 September. Dengan demikian, hilal di Jakarta tidak terhalang lagi oleh bola Bumi karena ia telah terbit Kembali di ufuk timur Jakarta sejak jam 6:16 WIB. Namun, meskipun hilal di Jakarta telah memiliki ketebalan 0.169 menit (41% lebih tebal daripada hilal di Guatemala), hilal tetap tidak kelihatan karena sinarnya kalah oleh sinar Matahari yang telah terbit mendahului Bulan, pada jam 5:47. Maka, hilal yang dilihat perukyat di Guatemala, pasti juga merupakan hilal yang sama yang ada di bola langit Jakarta meskipun tidak kelihatan. Kamera untuk memotret hilal siang hari pasti juga dapat digunakan untuk memverifikasi kehadiran hilal di langit Jakarta pada sepanjang siang hari 14 September ini.

Seperti penjelasan saya sebelumnya (lihat http://cis-saksono.blogspot.com/2015/08/menggugat-kriteria-imkan-rukyat-lapan.html), jika jarak antara Jakarta ke empat kota Porto Alegre, Santiago, Lima, dan Guatemala kita skala menjadi hanya seperti jarak antara kedua mata kita yang hanya 7cm, jarak Bumi ke Bulan hanya sekitar 3m. Sangat tidak masuk akal jika kita melihat tulisan kata “hilal” pada kertas yang kita tempatkan 3m di depan mata kita, namun kita menyangkal karena yang melihat hanya mata kiri, sementara mata kanan kita sakit dan tertutup perban. Dari analisis extended visibility di empat kota di benua Amerika di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanggal 14 September telah masuk 1 Dzulhijjah 1436, dan karenanya, Iedul Adha akan jatuh pada tanggal 23 September 2015.


Kalender Islam Global ECFR

Kalender Islam Global yang digagas oleh the European Council for Fatwa and Research (ECFR) menganut pada ketentuan imkan-rukyat global. Jika ada satu titik saja di muka Bumi yang telah mengalami imkan-rukyat dengan ketentuan: Somewhere on the globe, altitude > 5°, elongation > 8°, maka seluruh dunia telah dianggap masuk ke dalam bulan Islam baru. Untuk menganalisis masuknya awal Dzulhijjah 1436H, mari kita lihat titik di ujung paling Barat di bola Bumi kita. Untuk itu saya ambil satu titik di Papeete, Polynesia yang masuk ke dalam teritori politik Perancis.

Pada maghrib 13 September 2015 yang akan datang, Matahari akan tenggelam jam 17:54 waktu lokal Papeete. Saat itu hilal akan berada pada ketinggian 8.7 derajat dengan sudut elongasi sekitar 8.7 derajat. Dengan demikian, persyaratan ECFR di atas telah terpenuhi dan oleh karenanya 14 September akan masuk 1 Dzulhijjah, dan Iedul Adha akan jatuh pada 23 September 2015. Negara-negara di Eropa yang telah mengadopsi Kalender Islam Global ini meliputi Irlandia, Perancis, Jerman, Itali, Luxembourg, dan Turki. Pusat ECFR sendiri adalah di kota Dublin di Irlandia.

Sangat menarik untuk melihat kondisi hilal di ibukota negara-negara yang mengadopsi Kalender Islam Global ini. Di Dublin (Irlandia), pada maghrib 13 September 2015 yang akan datang, hilal sebetulnya akan masih di bawah ufuk dengan ketinggian -0.1 derajat. Sementara itu, berturut-turut hilal akan memiliki ketinggian: +0.2 derajat di Paris (Perancis), -0.2 derajat di Berlin (Jerman), +0.7 derajat di Roma (Itali), +0.1 derajat di Luxembourg, +0.5 derajat di Ankara (Turki). Tampak dengan jelas bahwa rukyat di enam negara Eropa tersebut tidak mungkin dilakukan karena ketinggian hilal hanya di bawah 1 derajat. Di Dublin dan di Berlin bahkan posisi hilal masih di bawah ufuk ketika maghrib pada 13 September yang akan datang. Dapat disimpulkan kenampakan hilal tidak lagi disyaratkan lokal, tapi sudah merupakan extended visibility seperti yang dijelaskan di atas.


Kalender Wujudul Hilal Lokal

Ada beberapa organisasi besar umat Muslim yang masih menganut wujudul hilal lokal di dunia. Tiga di antaranya dijelaskan singkat di sini.

Pertama adalah Umm al-Qura University (UQU) di Saudi Arabia yang telah menyusun kalender Islam bahkan untuk beberapa tahun ke depan. Kriteria WH nya memiliki referensi hitungan untuk kota Mekkah. Pada 13 September 2015 yang akan datang, hilal di Mekkah akan memiliki ketinggian 1.5 derajat, ketebalan 0.03 menit, dan sudut elongasi 3.5 derajat. Secara teoretis, akan sukar untuk merukyat hilal dengan kondisi ini. Di zaman Rasul, di akhir Sya’ban dan Ramadan tercatat ketinggian hilal yang hanya sekitar 1.7 derajat, dan Rasul lebih banyak melaksanakan saum Ramadan 29 hari. Dengan demikian, dapat disimpulkan hilal dengan kisaran ketinggian di bawah 2 derajatpun ternyata dapat dirukyat di zaman itu. Dalam situsnya, UQU telah menetapkan Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015 (lihat http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/ummalqura_principal.htm). Kalender Islam UQU ini telah resmi digunakan oleh Kerajaan Arab Saudi, satu-satunya negara di dunia yang menggunakan Kalender Islam untuk keperluan manajemen waktu negaranya. Namun, Mahkamah Agung Arab Saudi masih sering menganulir Kalender UQU dengan menerima sumpah orang yang telah melihat hilal, khususnya untuk akhir bulan-bulan Sya’ban, Ramadan dan Dzulqo’dah. Sumpah kenampakan hilal yang sering salah (melihat benda lain yang dikira hilal), dan sering menimbulkan kekacauan manakala ketinggian hilal berdasarkan hisab sebetulnya berada pada posisi negatif (masih di bawah ufuk). Namun, karena pada 13 September nanti posisi hilal +1.5 derajat, insya Allah, tidak akan terjadi kesalahan merukyat hilal.

Yang kedua adalah Islamic Society of North America (ISNA), organisasi Muslim untuk wilayah Amerika Serikat dan Kanada. The Fiqh Council of North America (FQNA) sebagai badan fatwa ISNA telah menetapkan perhitungan hisabnya menggunakan Mekah sebagai referensi. Memang keputusan ini (baca keputusan politik) agak aneh karena menggunakan referensi kota Mekah yang justru terletak di sebelah Timur benua Amerika. Dengan demikian, tidak akan terjadi perbedaan antara  Kalender FQNA dan UQU, insya Allah. Dalam situsnya, FQNA juga telah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1436H akan jatuh pada 14 September, dan karenanya, Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015 (lihat http://moonsighting.com/calendars/2015fcna.html).

Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, yang memiliki sekitar 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah (SD sampai SMA), ratusan rumah sakit dan panti asuhan, telah menetapkan Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 23 September 2015. Keputusan itu dikeluarkan berupa maklumat yang dikeluarkan pada 28 April 2015 oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM), berdasarkan Hasil Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PPM pada 6 April 2015. Perhitungannya adalah berdasarkan posisi lokal kota Yogyakarta di mana MTT berdomisili.


Imkan-Rukyat

Dengan kriteria IR MABIMS 2-3-8 jelas hilal akan dianggap tidak mungkin dapat dilihat karena bahkan di ujung paling Barat Indonesia pun (Banda Aceh), ketinggian hilal pada maghrib 13 September 2015 nanti akan hanya sekitar +0.7 derajat juga. Biasanya, Departemen Agama RI bahkan menetapkan jika ada laporan bersumpah bahwa perukyat dapat melihat hilal pada maghrib 13 September pun, maka pengakuan itu biasanya akan digugurkan karena dianggap tidak mungkin. Apalagi jika kriteria IR LAPAN yang mempersyaratkan tinggi hilal minimum 4 derajat dan sudut elongasi minimum 6.4 derajat. Dengan kriteria IR ini (MABIMS dan LAPAN), maka bulan Dzulqo’dah akan digenapkan 30 hari (istikmal) sehingga 1 Dzulhijjah akan jatuh pada 15 September 2015. Konsekuensinya, Iedul Adha 1436H akan jatuh pada 24 September.

Jelaslah bahwa kriteria imkan-rukyat baik MABIMS apalagi LAPAN, sebetulnya tidak sesuai dengan kaidah saintifik yang standar dan adil. Umat Islam di belahan Bumi di sebelah Barat akan harus menunggu sekitar 24 jam, meskipun hilal di wilayah itu sudah sangat besar, karena kebersamaan itu dilakukan justru dengan menarik ke arah extrim Timur. Dengan kata lain, umat Islam di sebelah Barat harus mengundurkan awal Dzulhijjah-nya meskipun secara astronomis seharusnya sudah tanggal 2 Dzulhijjah. Ini jelas tidak cocok dengan kecenderungan dunia Muslim dunia yang justru menghendaki Kalender Islam Global yang menarik ke arah extrim Barat.

Sekali lagi, sudah saatnya organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU untuk menyatukan visi keduanya untuk mengaplikasikan prinsip Kalender Islam Global sesuai dengan kriteria IR Global atau extended visibility seperti yang dijelaskan di atas. Wallahu a’lam dan semoga bermanfaat.

Monday, August 10, 2015

Menggugat Kriteria Imkan-Rukyat LAPAN

Pendahuluan

Kita bersyukur bahwa pada penetapan 1 Syawal 1436H (17 Juli 2015) lalu tidak terjadi perbedaan yang terlalu mengganggu ukhuwah islamiyah umat Islam Indonesia. Dua organisasi besar umat Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, bersama-sama dengan pemerintah sepakat untuk ber-Iedul Fitri pada 17 Juli 2015. Padahal pada beberapa hari sebelumnya (8 Juli 2015), Ketua LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin (TD) memberikan pendapat yang dikutip oleh Merdeka.com dan menyatakan "Lapan sebut Idul Fitri kemungkinan jatuh tanggal 18 Juli 2015.  Pendapat ini berdasarkan analisis TD dengan menggunakan hanya 11 data pengamatan hasil rukyat Departemen Agama (1962-1997). Sebetulnya ada 38 data pengamatan, namun hanya 11 yang dianggap tanpa bias. Dari hasil pengamatan inilah muncul Kriteria Imkan-Rukyat (IR) LAPAN yang berujung pada persyaratan minimum ketinggian hilal 4 derajat dan elongasi (jarak antara Bulan dan Matahari) minimum 6,4 derajat. Hanya PERSIS yang pada 1 Juni 2015 secara resmi telah mengumumkan Iedul Fitri akan jatuh pada 18 Juli 2015 berdasarkan kriteria IR-LAPAN ini, meskipun secara resmi sebetulnya pemerintah telah mengadopsi kriteria IR-MABIMS 2-3-8 (tinggi hilal minimum 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur hilal sejak ijtimak 8 jam). Untung, PERSIS kemudian mengkoreksi keputusannya tersebut setelah perukyat di beberapa tempat di Jawa bersedia disumpah telah melihat hilal pada maghrib 16 Juli lalu.

Saya memperoleh kesan bahwa kriteria IR-LAPAN ini sedikit gegabah. Pertama: harus dipertanyakan, apakah betul ini merupakan hasil penelitian LAPAN sebagai institusi? Kalau memang demikian, kita harus dapat melacak apakah betul sumber dana penelitian ini resmi merupakan dana penelitian LAPAN dari sumber RAPBN yang disetujui oleh DPR? Siapakah tim penelitinya selain TD? Kalau ini hanya merupakan hasil penelitian TD sebagai Ketua LAPAN, apakah memang boleh Ketua LAPAN mengatasnamakan lembaga tempat dia bekerja? Kedua: data yang digunakan adalah hanya 11 data hasil pengamatan (5 pengamatan awal Ramadan dan 6 awal Syawal), tampaknya kurang komprehensif untuk menghasilkan sebuah hasil penelitian yang representatif. Ketiga: pengumuman hasil penelitian ini tidak didahului melalui uji akademis di hadapan para pakar hisab nasional (syariah, astronomi, fisika, matematik geodesi, dll), padahal ini menyangkut syah tidaknya akhir sebuah prosesi ibadah ratusan juta umat Islam Indonesia. Pengujian akademis hanya di hadapan ahli astronomi saja tidak cukup karena masih banyak ilmu-ilmu lain yang terkait dengan astronomi yang terlibat dengan cara perhitungan hisab agar hasilnya betul-betul adil dan tidak menyalahi kaidah saintifik yang terpercaya. Keempat: TD seharusnya sadar bahwa dengan menggunakan kriteria IR MABIMS saja, sering terjadi perbedaan. Apalagi jika menggunakan kriteria IR LAPAN yang dua kali lebih besar. Dengan upaya merevisi kritria MABIMS dengan kriteria yang lebih memperuncing perbedaan ini, jadi sebetulnya siapa yang tafarruq?


Domain syariah dan saintifik

Banyak orang mengira bahwa imkan-rukyat adalah representasi sunnah yang harus diikuti dan harus diterima tanpa pertanyaan akan rasionalitasnya. Pendapat seperti ini sebetulnya keliru. Sunnah Rasul yang menyangkut domain syariah sebetulnya hanya dua, yaitu rukyat dan hisab. Hadis-hadis rukyat yang diikuti oleh perintah menggenapkan bilangan bulan menjadi 30 hari (istikmal) diriwayatkan oleh dua perawi yaitu Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Sedangkan hadis-hadis rukyat yang diikuti dengan perintah menghisab (faqdurulahu) diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Ketiga kelompok hadis ini sama-sama merupakan hadis yang sahih (dapat dipercaya). Namun, ketika perintah kewajiban puasa diturunkan pada tahun 2H, Ibnu Abbas baru berumur sekitar 4 tahun. Beliau sendiri bersama orang tuanya tidak ikut hijrah ke Madinah saat Rasul diperintah hijrah pada tahun 1H. Sementara itu, Abu Hurairah baru masuk Islam pada sekitar tahun 7H, atau sekitar 3 tahun sebelum Rasul wafat. Dengan demikian meskipun hadis-hadisnya sahih, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah tidak pernah mendengar hadis perintah puasa langsung dari Rasul. Untuk itulah hadis rukyat yang diikuti dengan perintah menghisab (faqdurulahu) dengan perawi Ibnu Umar dianggap memiliki maqam yang lebih tinggi karena Ibnu Umar adalah sahabat Rasul yang ikut berjuang pra-hijrah di Mekah, ikut hijrah dari Mekah ke Madinah, dan paska hijrah di Madinah.

Jadi IR sebetulnya adalah interpretasi saintifik yang berupaya mengkompromikan cara perhitungan astronomis (hisab) dengan metoda rukyat yang melihat hilal dengan mata oleh sahabat di zaman Rasul. Itulah sebabnya, hasilnya adalah kriteria-kriteria IR (kemungkinan dapat dilihat) seperti kriteria 2-3-8 MABIMS seperti disebutkan di atas. Dengan demikian, penyanggahan atas kriteria IR adalah murni domain saintifik, sama sekali tidak ada kaitan dengan domain syariah. Dua hari setelah TD mengeluarkan pendapatnya melalui Merdeka.com, saya mengeluarkan pengujian saintifik atas penyataannya dan saya muat dalam blog saya ini (lihat http://cis-saksono.blogspot.com/2015/07/analisis-awal-syawal-1436h.html)

Space Scale

Sebetulnya, secara saintifik, metoda IR ini bermuara pada hasil penelitian ahli astronomi Perancis, Andre-Louis Danjon, yang mempublikasikan hasil penelitiannya pada awal tahun 1930-an. Penelitian Danjon menyimpulkan bahwa agar sebuah anak Bulan (hilal) dapat dilihat, maka sudut elongasinya harus minimum 7 derajat. Tidak ada syarat lain seperti ketinggian dan umur hilal. Penelitian ini sebetulnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan persyaratan nampaknya hilal sesuai dengan kaidah-kaidah syari untuk penentuan awal bulan qamariyah dalam Islam.  Danjon sendiri bukan seorang Muslim. Adalah sarjana astronomi Muslim yang kemudian mengkaitkan itu dengan persyaratan syari penentuan awal bulan Islam dengan menambahkan syarat tambahan berupa ketinggian minimum hilal terhadap ufuk dan umur anak Bulan minimum. Maka lahirlah kriteria Odeh (Jordania), Turki, Arab Saudi, dan MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura), yang semuanya bervariasi dan diklaim sebagai hasil penelitian yang panjang.

Dua hari setelah TD berpendapat di Merdeka.com, saya melakukan analisis dan ternyata syarat IR-LAPAN ini sangat tidak konsisten dengan kaidah-kaidah saintifik yang standar. Bahkan syarat ini tidak sesuai dengan logika awam yang sangat mendasar. Misalnya:

Pertama, saat Matahari tenggelam jam 17:53 (waktu Jakarta) pada 16 Juli 2015 lalu, ketebalan hilal adalah sekitar 0,08 menit. Bulan sendiri tenggelam pada sekitar jam 18:08 (15 menit setelah Matahari tenggelam), dan hilal sebetulnya semakin membesar dengan pertumbuhan 0,02 menit per jam. Ini berarti, sekitar 4 jam kemudian pada jam 22:37, ketebalan hilal dengan referensi Jakarta adalah 0,17 menit meskipun tidak tampak karena Bulan tertutup oleh bola Bumi. Di detik yang sama, di Dodoma (Tanzania) adalah waktu maghrib pada waktu lokal jam 18:37. Hilal saat itu memiliki ketinggian 4,8 derajat dan ketebalan 0,13 menit. Anehnya, hilal di Dodoma yang tebalnya hanya 0,13 menit diakui sebagai hilal untuk memulai awal Syawal pada 17 Juli, tetapi di Jakarta yang tebalnya telah 0,17 menit tidak diakui karena tidak tampak (terhalang bola Bumi).

Kedua, pada saat maghrib di Luanda (Angola) jam 18:03 16 Juli 2015, hilal berada pada ketinggian 5,8 derajat dengan ketebalan 0,15 menit. Di Jakarta, di detik yang sama kita telah masuk tanggal 17 Juli 2015 jam 24:03, dan hilal telah miliki ketebalan 0,21 menit. Sekali lagi, hilal di Luanda yang tebalnya hanya 0,15 menit diakui sebagai hilal, tapi hilal di Jakarta yang tebalnya 0,21 menit tidak diakui sebagai hilal hanya karena tidak tampak (masih terhalang bola Bumi).

Ketiga, saat jam 6:23 pagi jam 17 Juli 2015, sebetulnya hilal telah terbit kembali di ufuk Timur Jakarta. Namun, Matahari telah terbit jam 6:04 sehingga hilal tetap tidak tampak meskipun ketebalannya sudah sekitar 0,34 menit. Di detik yang sama, di Quito (Uruguay) saat itu maghrib jam 18:23 tanggal 16 Juli 2015. Saat itu, hilal di Quito memiliki ketinggian 10,8 derajat dan ketebalan 0,27 menit. Dengan demikian, sebetulnya hilal sekarang berada di bola langit yang sama antara Quito dan Jakarta meskipun di Quito masih maghrib 16 Juli sedangkan di Jakarta sudah tanggal 17 Juli pagi. Tapi tetap, hilal setebal 0,34 menit di Jakarta tidak boleh disebut hilal karena kalah oleh intensitas sinar Matahari (tidak tampak), sementara di Quito meskipun tebalnya hanya 0,27 menit diakuai sebagai hilal.

Sekarang lihat perbandingkan berikut. Dalam space scale, jika jarak Jakarta ke tiga kota tersebut (Dodoma, Luanda, dan Quito) kita skala seperti jarak antara kedua mata kita yang sekitar 7 cm, maka jarak Bumi ke Bulan hanya sekitar 3 meter. Letakkan sebuah kertas bertulisan hilal pada jarak sekitar 3 meter dari mata kita, dan tutup salah satu mata kita dengan perban. Apakah kita tetap akan menolak tulisan hilal itu hanya karena yang mampu melihat tulisan itu mata kiri, sedangkan mata kanan kita tertutup perban? Penolakan seperti ini sungguh tidak masuk akal kemampuan kognitif manusia.

JIka kita melakukan sampling di sebanyak mungkin titik di atas permukaan Bumi seperti dicontohkan di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa sains dan teknologi sebetulnya telah mampu membuktikan kehadiran hilal selama sekitar 23 jam 45 menit antara dua maghrib 16 dan 17 Juli 2015. Hanya dalam rentang waktu yang 15 menit saja (antara maghrib dan Bulan tenggelam pada 16 Juli lalu), sains dan teknologi dianggap (oleh kriteria IR LAPAN) tidak akan mampu memverifikasi kehadiran hilal. Jadi, bagaimana mungkin fakta yang hanya sekitar 1% ini dapat menganulir fakta saintifik yang sekitar 99%? Nah, pengujian-pengujian akademis yang lintas disiplin seperti inilah yang sebetulnya harus dilakukan oleh LAPAN dengan mengundang semua pemangku kepentingan agar keputusan saintifiknya betul-betul kredibel. Pertanyaan-pertanyaan untuk memuaskan logika awam seperti di atas harus dapat dijawab secara saintifik.


Kalender Islam Global

Jelaslah bahwa dalam memahami kehadiran hilal, umat Islam harus berfikir dalam domain space (ruang angkasa). Jika kerangka berfikir kita masih lokal, maka bagaimanapun perbaikan kriteris IR dilakukan, maka ia akan tetap bermasalah dan tidak akan konsisten dengan kaidah saintifik yang baku dan adil.

Pertanyaannya, apakah imkan-rukyat masih relevan? Ya, ia masih relevan seandainya diaplikasikan dalam kerangka Kalender Islam yang universal. Ini sesuai dengan sifat Islam yang rahmatan lil alamin, yang universal, yang tidak disekat dalam domain politik yang sangat rentan dan dapat berubah setiap saat. Ingat, negara superpower seperti Uni Sovyet pun bisa hancur berekping-keping menjadi negara-negara Balkan seperti saat ini. Sebaliknya, sebuah negara yang berdaulat saat ini dapat saja diokupasi oleh negara lain yang letak geografisnya ribuan kilometer di masa yang akan datang. Dengan demikian, penyusunan Kalender Islam harus terbebas dari political interest, dari sekat-sekat politik.

Saat ini, beberapa negara Eropa telah memulai mengaplikasikan Kelender Islam Global berdasarkan kriteria IR yang global. Jika ada satu titik saja di muka Bumi ini yang telah memenuhi syarat imkan-rukyat global, maka seluruh dunia telah dianggap masuk ke bulan Islam baru. Gerakan yang dimotori oleh President European Council for Fatwa and Research (ECFR), Prof. Yusuf Qaradawi, telah mempu menyatukan beberapa negara di Eropa. Perancis, Jerman, Irlandia, Itali, Luxemburg, dan Turki telah mengadopsi kriteria ini. Jumlah negara-negara ini semakin bertambah setiap tahun karena mereka semakin menyadari prinsip space domain dalam penyusunan Kalender Islam yang tidak boleh lagi terkotak-kotak dalam bingkai teritori politik. Kriteria IR yang diadopsi saat ini adalah: Somewhere on the globe, altitude > 5°, elongation > 8°.

Sudah saatnya dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU memotori penyusunan Kalender Islam yang universal ini. Hikmah sosialnya, tidak akan ada yang dipermalukan, termasuk pemerintah Indonesia (Departemen Agama dan MUI). Kriteria imkan-rukyat tetap berlaku, namun kriteria ini kemudian ditarik ekstrim ke arah Barat. Inilah momentum untuk menyatukan semua kepentingan dengan bingkai terbentuknya Kalender Islam Global. Masih ada beberapa detil persyaratan yang harus didiskusikan oleh para pakar hisab pemerintah dan organisasi Islam yang ada. Namun, itu akan terlalu teknis didiskusikan dalam forum untuk pembaca umum seperti Koran dan majalah umum. Jika ini dapat diterima, maka insya Allah, sebuah Kalender Islam pemersatu umat akan terbentuk. Bukan saja pemersatu umat Islam Indonesia, tapi juga merupakan pemersatu umat Islam dunia. Semoga bermanfaat.