Friday, July 10, 2015

Analisis Awal Syawal 1436H

Tulisan ini adalah sebagai tanggapan atas pendapat Prof. Thomas Djamaluddin yang dimuat pada Merdeka.com 8 Juli 2015 dengan judul Lapan sebut Idul Fitri kemungkinan jatuh tanggal 18 Juli 2015. Mari kita lihat detil analisis astronomi berikut ini.

Dengan referensi Jakarta, ijtimak yang menandai berakhirnya siklus sinodik Bulan yang terdekat akan terjadi adalah pada tanggal 16 Juli 2015 jam 6:37 WIB. Fenomena astronomis ini menandai berakhirnya bulan Ramadan 1436H. Ketika Matahari tenggelam pada jam 17:53 di hari yang sama, hilal sebetulnya telah terbentuk dengan ketebalan 0.08 menit (baca: menit busur). Ketinggian hilal sendiri adalah 2.5 derajat. Salah satu faktor sukarnya merukyat hilal pada saat itu adalah karena, dalam window yang hanya 15 menit setelah Matahari tenggelam, Bulan pun akan tenggelam. Dengan demikian untuk sekitar 12 jam berikutnya, kenampakan hilal akan terhalang oleh bola Bumi. Namun demikian, tampak maupun tidak, hilal akan semakin bertambah besar dengan tingkat pertumbuhan 0.02 menit (busur) per jam, karena 24 jam kemudian pada maghrib 17 Juli 2015, ketebalan hilal akan menjadi 0.59 menit.

Dengan demikian, dengan referensi Jakarta, pada jam 22:37 WIB (sekitar 4 jam kemudian), hilal akan memiliki ketebalan sekitar 0.17 menit, namun hilal tidak akan kelihatan karena terhalang oleh bola Bumi. Bagaimana cara melihat hilal saat itu? Lihatlah (verifikasilah) di Dodoma (Tanzania). Pada saat di Jakarta jam 22:37, di Dodoma adalah tepat saat maghrib jam 18:37. Ketinggian hilal saat itu di Dodoma akan sekitar 4.8 derajat (mudah dirukyat) sementara ketebalan hilal sekitar 0.13 menit. Ada dua hal yang aneh di sini.

  1. Dengan referensi Jakarta, meskipun fisik hilal sudah lebih besar (0.17 menit), hilal ini tidak diakui sebagai hilal karena tidak tampak (terhalang bola Bumi). Sementara hilal yang di Dodoma, meskipun ketebalannya hanya 0.13 menit, tapi ini diakui sebagai hilal karena tampak oleh mata.
  2.  Jakarta, Dodoma, dan Bulan membentuk sebuah segitiga ruang. Jarak Jakarta-Dodoma adalah sekitar 7,800 km, sementara jarak Bumi ke Bulan sekitar 390,000 km. Jika Jakarta-Dodoma kita skala menjadi seperti jarak antara kedua mata kita yang hanya 7 cm, maka jarak Bumi-Bulan hanya sekitar 3.5 meter saja. Inilah analoginya: Kita menempatkan sebuah kertas bertuliskan kata “hilal” sekitar 3,5 meter dari mata kita. Namun kita menyangkal tulisan “hilal” tersebut hanya karena yang melihat cuma mata kiri, sedangkan mata kanan kita tertutup perban. Apakah penyangkalan ini masuk akal?
  3. Jadi sebetulnya, hilal yang tampak saat maghrib di Dodoma itu sebetulnya adalah hilal yang sama dengan referensi Jakarta meskipun dari Jakarta, hilal tersebut tidak tampak.

Kita dapat menggunakan sampel kedua. Dengan pertumbuhan ketebalan hilal yang 0.02 menit per jam, pada jam 24:03 dengan referensi Jakarta (sudah masuk 17 Juli), hilal akan memiliki ketebalan 0.21 menit. Namun, hilal masih belum juga dapat dilihat karena posisi Bulan masih berada di bawah ufuk Jakarta (masih terhalang oleh bola Bumi). Bagaimana agar hilal dapat diverifikasi? Lihatlah hilal saat maghrib jam 18:03 tanggal 16 Juli 2015 di Luanda (Angola). Ketinggian hilal di Luanda akan sekitar 5.8 derajat dengan ketebalan 0.15 menit. Hilal itulah hilal yang sama dengan referensi Jakarta yang sebetulnya lebih tebal (0.21 menit). Argumen yang sama diberikan karena Jakarta, Luanda, dan Bulan membentuk segitiga ruang. Jarak Jakarta-Luanda adalah sekitar 10,300 km. Dengan demikian, jika jarak Jakarta-Luanda kita skala seperti jarak kedua mata kita, jarak Bumi dan Bulan hanya sekitar 2.7 meter saja. Menyangkal kehadiran tulisan “hilal” pada kertas yang kita tempatkan sejauh 2.7 meter hanya karena salah satu mata kita diperban, sungguh tidak masuk akal.

Dua sampel di atas dengan logika segitiga ruang yang dibentuk oleh dua titik di Bumi dan Bulan inilah yang dinamakan prinsip extended visibility.

Untuk sampel ketiga, kita gunakan titik yang lebih ke Barat yaitu kota Quito di Equador (GMT-5). Saat maghrib jam 18:23 tanggal 16 Juli 2015 di Quito, di Jakarta (GMT+7) sudah jam 6:23 pagi tanggal 17 Juli 2015. Ketinggian hilal di Quito saat maghrib adalah 10.8 derajat sementara ketebalan hilal adalah 0.27 menit. Dengan referensi Jakarta, ketebalan hilal malah lebih besar yaitu 0.34 menit. Hilal memang sudah tidak terhalang oleh bola Bumi lagi karena sudah terbit di ufuk Timur Jakarta. Sayangnya, Matahari telah terbit mendahului pada sekitar jam 6:04 WIB. Dengan demikian, meskipun hilal sudah berada di hemisfir Jakarta, namun hilal tidak akan tampak oleh mata telanjang akibat terlalu kuatnya intensitas sinar Matahari. Namun, yakinlah bahwa hilal yang tampak di Quito itu membuktikan kehadiran hilal yang sama di langit Jakarta pada pagi hari itu meskipun tidak kelihatan. Ada opsi lain untuk dapat melihat hilal siang hari di langit Jakarta. Kamera dan teknik image processing yang digunakan oleh dua astronomer Martin Elsasser (Jerman) dan Thierry Legault (Perancis) telah membuktikan dapat memotret hilal siang hari ini. Sudut elongasinya pada jam 6:23 adalah 10.7 derajat. Jadi teknik yang telah digunakan oleh kedua ahli astronomi itu akan dengan mudah memotret hilal.

Dengan demikian, untuk waktu sekitar 12 jam setelah Bulan terbit kembali di ufuk Timur Jakarta pada pagi 17 Juli 2015, hilal dapat diverifikasi kehadirannya (diportret) sampai dengan menjelang maghrib hari itu. Bila hilal yang dapat dipotret selama sekitar 12 jam tersebut tidak diakui juga sebagai hilal, maka apakah hilal yang muncul tepat pada saat maghrib 17 Juli 2015 dianggap begitu saja “mecotot” dari langit? Ini sangat tidak masuk akal. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa hilal yang dapat dipotret selama sekitar 12 jam pada siang tanggal 17 Juli nanti itu adalah hilal yang betul-betul hilal. Kalau ini disangkal, maka silahkan cari referensi dalam buku teks Astronomi, apa nama benda tersebut kalau bukan hilal. Dalam buku teks Astronomi, bahkan sampai hari ke-5 setelah terbentuknya hilal masih disebut crescent baik kelihatan maupun tidak kelihatan. Dalam bahasa Arab, crescent adalah hilal. Pada dasarnya, kita dapat mengambil titik sampel sebanyak-banyaknya dalam rentang meridian Jakarta terus ke arah Barat untuk membuktikan kehadiran hilal. Dengan demikian selama rentang waktu 23 jam 45 menit kita dapat membuktikan kehadiran hilal antara dua maghrib 16 Juli dan 17 Juli 2015.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa untuk memverifikasi kehadiran hilal tidak perlu merukyat. Meyakini kehadiran hilal itulah sebetulnya yang diperlukan. Saat kita mulai berpuasa di waktu subuh, hilal berada jauh di bawah ufuk dan tidak kelihatan. Jadi kita berpuasa bukan karena melihat hilal. Merukyat hilal pada saat maghrib sebelumnya tidak lain adalah upaya untuk meyakini kehadiran hilal. Jika kita telah mampu melakukan perhitungan saat kehadiran hilal, maka merukyat sudah tidak diperlukan lagi. Tulisan ini membuktikan bahwa maghrib 16 Juli 2015 telah syah masuk awal Syawwal 1436H, dan karenanya Iedul Fitri jatuh pada 17 Juli 2015. Kegagalan merukyat hilal pada window yang hanya 15 menit antara maghrib 16 Juli (jam 17:53) dan Bulan tenggelam (jam 18:08) tidak dapat menganulir scientific evidence kehadiran hilal selama 23 jam dan 45 menit seperti diuraikan di atas. Menunda sampai 18 Juli berarti telah masuk ke hari kedua bulan Syawwal 1436H. Dapat disimpulkan, Imkan-Rukyat sebetulnya adalah sebuah scientific blunder karena hanya menggunakan window yang hanya 15 menit (1.04%), untuk menganulir scientific evidence yang 23 jam 45 menit (98.96%). Sungguh tidak dapat diterima oleh logika akademik yang paling mendasar.

Islam adalah agama yang rasional. Itulah sebabnya, bahkan untuk soal akidah yang paling mendasar, Nabi Ibrahim AS memberikan contoh menggunaan nalarnya. Dikisahkan, beliau menghancurkan berhala-berhala dengan sebuah kapak. Namun kemudian beliau meninggalkan satu berhala yang paling besar, dan beliau mengkalungkan kapak tersebut pada behala ini. Ketika kaumnya menuduh Nabi Ibrahim telah menhancurkan sesembahan mereka, maka Nabi Ibrahim mengatakan bahwa si Berhala Besar itulah yang telah melakukannya. Ketika kaumnya mengatakan bahwa itu tidak mungkin, maka justru beliau berbalik mengatakan: “Kalau si Berhala Besar itu tidak akan mampu melakukan sesuatu, jadi mengapa pula kalian menyembah berhala yang kalian buat sendiri?” Jadi beragama memang harus menggunakan nalar akademik. Ini tentu saja tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua bisa dirasionalkan, karena kemampuan manusia pun dibatasi oleh Allah. Penglihatan manusia misalnya hanya mampu mengindera dalam spectrum visible light dengan rentang panjang gelombang 400-700 nm (nanometer). Di luar rentang itu (dari sinar Gamma sampai dengan ELF (extremely low frequency), manusia memerlukan bantuan sensor tertentu. Padahal, hal-hal ghaib sebetulnya malah berada di luar lingkup gelombang elektromagnetik yang selama ini dikenal manusia. Jadi rasional itu tidak juga membabi buta karena pada dasarnya manusia itu penuh dengan keterbatasan. Wallahu a’lam.

Catatan: Penjelasan yang lebih komprehensif tentang uraian dalam tulisan ini dapat dibaca dalam buku yang saya tulis, berjudul: Pseudo Shariah Economy and Muslims' Civilization Debt.