Monday, August 11, 2014

Buku "Pseudo Shariah Economy" telah terbit

Alhamdulillah, setelah sekitar setahun bolak balik ke penerbit, buku saya yang berjudul “Pseudo Shariah Economy and Muslims’ Civilization Debt” akhirnya terbit juga. Dua orang blind reviewers sendiri, sebelumnya, juga memerlukan waktu sekitar setahun untuk mereview draft buku ini. Jadi total waktu yang diperlukan untuk proses sampai naik cetak adalah dua tahun. Sungguh sangat melelahkan. Saya panjatkan puji syukur pada Allah atas pelajaran yang saya peroleh dalam proses yang panjang tersebut. Ada hidden hands yang membimbing mengapa proses itu begitu lama. Karena seandainya lebih cepat, sebetulnya justru akan menyebabkan ketidaknyamanan akibat kesalahan teknis kecil pada awal2 penelitian ini dilakukan. Akhirnya semuanya itu saya sebut sebagai hikmah dari Allah.

Buku ini secara garis besar terdiri atas dua bagian.


Bagian pertama adalah topik Ekonometri (Econometrics). Berawal dari sebuah curiosity yang menghasilkan pertanyaan apakah sebetulnya dampak dari tidak adanya kalender Islam bagi kehidupan umat Islam? Beberapa proposal riset gagal menghasilkan research money karena pada awalnya saya hanya berkutat dengan isu Kalender Islam per se. Ini rupanya terlalu sempit. Belakangan saya merubah strateginya dengan membuat proposal penelitian tentang dampak ekonomi dari ketiadaan Kalender Islam dalam kehidupan ekonomi umat Islam. Ternyata ini berhasil, dan research money dapat diperoleh. Maka proses penelitian dan penulisan buku inipun terus bergulir. Minat saya pada ilmu dasar Theory of Errors khususnya dalam aplikasi Least Squares telah membantu saya lebih cepat memahami teori2 Ekonometri, yang pada umumnya menyangkut kajian atas sebuah over-determined system dan statistik dalam ilmu ekonomi. Selain itu, ilmu dasar itu juga memberikan keuntungan yang lebih nyata karena dengan pengalaman saya sebagai praktisi dalam bidang rekayasa (professional engineer) selama empat belas tahun telah memberikan enhancement pada analisis ekonometri yang sedikit berbeda daripada apa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan ahli ekonomi. Saya menyebutnya dengan an engineering touch pada analisis ekonometri yang saya lakukan dalam penelitian ini. Dengan panel para professor dalam bidang Ekonomi, saya telah memenangi dua buah best paper awards pada konferensi internasional tentang economy, finance, dan banking . . . . alhamdulillah. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa topik yang saya angkat sebagai sesuatu yang genuine dan sound. Salah satu anggota panel penilai yang profesor Ekonomi mengatakan: "It is quite interesting . . . you can see something that we are unable to see. You developed the algorithm, and you proved it". Jadi ada baiknya, para ahli ekonomi (konvensional maupun syariah) juga membaca buku ini untuk melihat sisi engineering topping pada analisis ekonometri yang saya sebutkan di atas. Mengkritisinya bila memang ditemukan kelemahan.

Bagian kedua buku ini membahas tentang analisis astronomi dalam pembangunan kalender Islam. Dari belasan data kajian astronomi yang saya lakukan, akhirnya saya menyimpulkan bahwa Imkan-Rukyat (IR) sebagai kriteria visibilitas hilal untuk penetapan awal bulan qomariah sebetulnya adalah sebuah scientific blunder. Blunder itu sebetulnya telah cukup nyata dari filosofi dan cara pendekatan para ahli astronomi pendukung IR ini. Kita lihat jargon2 mereka yang sering dikampanyekan seperti:

  1. Serahkanlah pada ahlinya, bila tidak tunggulah datangnya kehancuran. Dengan jargon seperti ini, para ahli astronomi tampaknya ingin mengatakan: “kalau Anda bukan sarjana asronomi, enggak usahlah Anda ngomong tentang kriteria astronomi untuk penyusunan kalender Islam. Karena kalau urusan tentang Bumi, Bulan dan Matahari, dan semua yang ada di langit maka itu hanya domain sarjana astronomi.”
  2. Dalam perdebatan teknis, kata2 ini selalu muncul: “Anda kan cuma orang yang sok tahu tentang astronomi, padahal Anda bukanlah seorang ahli astronomi, dan Anda tidak paham tentang astronomi”.
  3. Atau yang semacam ini: “Pendapat Anda kok aneh, padahal kalau menurut ahli astronomi yang asli, pendapatnya begini . . . .”. Artinya orang ini hanya ingin mengatakan bahwa “Anda kan cuma ahli astronomi jadi2 an”.

Dari jargon2 di atas, maka sejak awal saya bisa menyimpulkan bahwa pusat kosmos bagi para ahli astronomi pendukung IR adalah hanya dirinya dan kelompoknya. Ini adalah sebuah klaim kelompok ilmuwan yang hanya bisa bergaul secara eksklusif di kalangan mereka sendiri tanpa memperdulikan interest, aspirasi, dan kepentingan ilmuwan lain. Sangat narrow minded. Yang lebih parah lagi, mereka bahkan telah melupakan interest, aspirasi, dan kepentingan masyarakat luas sebagai pengguna produk ilmiah yang mereka hasilkan. Keberhasilan atas teori2 ilmiah mereka juga hanya diukur oleh hadirnya scientific articles pada jurnal2 astronomi yang dibaca oleh kalangan sempit mereka sendiri. Menurut situs Ikatan Alumni Astronomi ITB (astroitb.org pada 2013), jumlah alumni Jurusan Astronomi ITB adalah sekitar 200 orang. Sudah sangat umum terjadi, tidak semua alumni sebuah jurusan konsisten berada di jalur disiplin ilmunya. Misalnya, banyak yang kemudian berkarir sebagai wartawan, bekerja di bank, jadi pengusaha dll yang tidak lagi konsisten dengan mengembangkan ilmu dasarnya. Jadi diperkirakan sarjana astronomi yang tetap berkarir di jalur utamanya sebagai ahli astronomi mungkin hanya sekitar 50 orang saja. Sementara yang terkenal vokal dengan jargon2 di atas mungkin hanya 1-2 orang saja, meskipun sering mengatasnamakan "semua ahli astronomi di dunia". Maka, tidak lain, ini hanyalah sebuah proses on**i (maaf) dalam kehidupan ilmiah dari segelintir ahli astronomi pendukung imkan-rukyat.

Padahal sebuah karya ilmiah seharusnya justru menjadikan masyarakat luas sebagai pusat kosmos dari karyanya, karena masyarakat luas inilah end users karya ilmiah mereka. Seorang insyinur tidak akan membuat sebuah jembatan yang hanya kelihatan cantik dan agung sebagai karya arsitektur menurut penilaian dirinya saja. Sebagai salah satu bagian dari street furniture, tentu saja disain jembatan harus tampak cantik dan mempesona. Namun, jauh lebih mendasar dan penting dari hanya sekedar nilai estetika, jembatan itu harus kokoh agar mampu menolong masyarakat luas mengalihkan produk ekonomi dari kota yang terletak di satu sisi sungai ke kota lain yang terletak di seberang sungai yang lain dengan aman. Bila maksimum tonnage kendaraan yang diizinkan adalah 10 ton misalnya, maka jembatan itu harus mampu mendukung beberapa kali lipat nilai tonnage tersebut, karena mungkin saja akan terdapat 10 kendaraan dengan tonnage sama yang beriringan menyeberangi jembatan tersebut dalam waktu yang bersamaan. Jika insinyur ini menempatkan masayarakat luas sebagai pusat kosmosnya, maka keamanan dan kenyamanan masyarakat luas sebagai pengguna jembatan ini menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan dalam rancangannya. Apakah ia berhenti hanya pada kekuatan konstruksi jembatan itu agar aman? Tentu tidak. Karena jembatan itu akan dibangun dengan menggunakan dana yang berasal dari masyarakat pembayar pajak. Maka selain cantik dan aman, jembatan itu harus dibangun dengan prinsip2 ekonomi yang ekonomis, tepat dan cermat anggaran. Tidak bisa hanya karena ingin kuat maka jembatan itu harus dapat menampung beban ribuan ton, padahal sektor ekonomi yang disasar pada pertumbuhan ekonomi wilayah itu hanya memerlukan pergerakan barang yang maksimum tonnage-nya cuma 10 ton. Efisiensi anggaran akan memungkinkan dibangunnya jembatan2 lain di wilayah lain, tidak mubazir diaplikasikan pada satu jembatan hanya demi keamanan. Mungkin ada lagi faktor2 lain yang harus diperhitungkan. Semuanya, dalam rangka menempatkan masyarakat luas sebagai pusat kosmos dengan segala kepentingannya yang harus dijadikan faktor mengapa dan bagaimana jembatan tersebut harus dibangun.

Dengan demikian, kajian2 astronomi yang dilakukan dalam buku sayapun adalah dengan memperhatikan common sense masyarakat luas sebagai end users kalendar Islam yang harus dibangun. Dengan kata lain, kriteria apapun yang dianut, maka ia bukan cuma harus akurat, tapi ia juga harus konsisten dengan common sense 
dan rasa keadilan masyarakat luas yang sebagain besar tidak mengerti astronomi. Ia juga harus konsisten dengan kaidah2 dasar ilmu2 lain, karena astronomi sebagai ilmu pengetahuan bukanlah pusat kosmos, meskipun ia secara khusus mempelajari ilmu kosmologi. Ilmu astronomi hanya salah satu kosmos, sementara banyak lagi kosmos2 lain yang juga harus diperhitungkan sebagai seluruh ilmu Allah yang terintegrasi sebagai sunnatullah. Kalau para pendukung IR beralibi bahwa ia bernaung pada landasan syariah (sunnah), maka sudah dapat diyakini bahwa kelompok ini sebetulnya salah dalam menginterpretasikan landasan syariah yang digunakan. Karena bila interpretasinya betul, pastilah ia akan konsisten dengan common sense dan rasa keadilan umat secara luas, bukannya menempatkan ummat hanya sebagai obyek yang harus tunduk pada scientific desire dari hanya segelintir ahli astronomi pendukung imkan-rukyat. Sayangnya, karena sebagain besar umat tidak pernah belajar dan bahkan takut mempelajari astronomi, maka mereka hanya pasrah dan tunduk pada ancaman2 terjadinya disintergarsi nasional sebagai akibat tidak seragamnya mengawali bulan Ramadan atau ber-Iedul Fitri. Keengganan umat untuk mempelajari astronomi justru telah dimanfaatkan oleh pendukung IR dengan berkata "maka serahkan saja semuanya pada ahlinya". Buku saya berupaya untuk membangkitkan kesadaran awam bahwa ilmu apapun yang mendasari pembangunan kalender Islam, ia tidak boleh bertentangan dengan common sense dan rasa keadilan masyarakat luas.

Dengan demikian, statemen yang mengatakan bahwa selain ahli astronomi dilarang membahas ilmu astronomi, it is a blunder in itself. Tugas seorang peneliti adalah mencari sebuah missing puzzle yang dengannya, ia mampu menghubungkan beberapa pemikiran besar yang sebelumnya tidak terkoneksi akibat missing puzzle tersebut. Prinsip ini harus ditanamkan khususnya untuk para peneliti di negera berkembang dimana dana riset sangat terbatas. Secanggih apapun seorang peneliti IT di negara berkembang, misalnya, akan sangat sukar baginya untuk menyaingi para genius yang bekerja di Silicon Valley, yang telah memiliki sejarah dan tradisi keilmuan yang panjang dan dengan dana riset yang nyaris tanpa batas. Jadi, seorang peneliti di negara berkembang harus jeli dalam merangkai riset2 aplikatif yang mampu menjembatani kebutuhan2 yang inter (bahkan cross) disiplin. Dalam bidang IT, misalnya, ia harus mencari aplikasi2 IT untuk bidang kedokteran, pertanian, dll, sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya yang paling dekat dengannya. Buku yang saya tulis, misalnya, ia menjelaskan missing puzzles yang belum terfikirkan oleh para ahli ekonomi (termasuk ahli ekonomi syariah), tanpa harus mengklaim bahwa saya adalah ahli ekonomi. Begitu juga hasil2 kajian dalam astronomi dalam buku tersebut juga adalah pemikiran2 yang bersifat cross-disciplines yang insya Allah belum terfikirkan oleh para ahli astronomi, tanpa saya harus mengklaim sebagai ahli astronomi.

Semoga buku ini memberikan sedikit sumbangan untuk pembangunan umat Islam. 


P.S
Untuk pemesanan, silahkan menghubungi Pemasaran Penerbit UTHM:
En. Mohammad Ahyar bin Zulkefli
Penolong Pegawai Penerbitan
Telp: +607-4537051
Email: ahyar@uthm.edu.my
Harga buku adalah RM 52.00 (255 halaman, soft cover)