Saturday, May 10, 2014

Analisis awal Ramadan 1435-H

Seperti telah saya sampaikan sekitar dua tahun lalu, dalam tiga tahun berturut-turut (2012, 2013, dan 2014), umat Islam kembali mengalami "perpecahan" dalam mengawali ibadah Ramadannya. Melihat kondisi astronomis Bulan pada akhir Sya'ban 1435-H (27 Juni 2014) yang akan datang, rasanya perpecahan itupun akan terjadi lagi.

Secyara umum, ada tiga pendapat besar yang telah menyebabkan perbedaan awal Ramadan kali ini dan beberapa kali sebelumnya. Ketiganya memiliki dasar syariah sendiri.


  1. Kelompok yang berpendapat bahwa hilal untuk mengawali Bulan Qomariah itu harus dapat terlihat dengan mata. Pendapat ini sudah sedikit berubah karena melihat dengan mata itu dapat juga dilakukan dengan bantuan teleskop, bahkan teodolit. Kelompok ini dinamakan kelompok Rukyatul Hilal (RH);
  2. Kelompok kedua berpendapat bahwa, hilal itu tidak perlu dilihat karena keberadaannya dapat dihitung (hisab) dengan akurat persis seperti menghitung saat terjadinya gerhana. Pertimbangannya karena kondisi hilal yang dapat dilihat itu hanya berada pada window (rentang waktu) yang sangat sempit sekali. Untuk maghrib 27 Juni 2014 yang akan datang, window itu hanya sekitar 3 menit (waktu) saja karena ketinggian hilal akan hanya sekitar 0.7 derajat (busur). Artinya, 3 menit setelah Matahari tenggelam (maghrib), Bulan dan hilalpun akan tenggelam, dan tidak mungkin dapat dilihat lagi. Menurut kelompok ini, tidaklah adil menisbahkan kegagalan melihat hilal pada window yang hanya 3 menit, tapi kemudian umat Islam harus melewatkan puasanya. Padahal hilal secara geometris terus membesar dari waktu ke waktu sepanjang 24 jam sampai maghrib hari berikutnya. Kelompok ini dinamakan kelompok Wujudul Hilal (WH). Pendapat kelompok WH sebetulnya dari waktu ke waktu semakin kuat karena teknologi imaging terahir yang dilakukan oleh Thierry Legault (astronom Perancis) dan Martin Elsasser (astronom Jerman) telah membuktikan bahwa hilal pada siang hari dan kondisi Matahari terang benderangpun ternyata dapat dipotret. Dengan kemajuan ini window yang hanya 3 menit itu kini dapat diperlebar menjadi sekitar 12 jam.
  3. Kelompok ketiga adalah yang mengklaim berusaha menengahi perbedaan kedua kelompok di atas. Kelompok ini menggunakan landasan perhitungan (hisab) persis seperti kelompok WH, tapi kemudian mempersyaratkan tiga kondisi astronomis minimum yaitu tinggi hilal (altitude), jarak Bulan dan Matahari saat maghrib (elongasi), dan umur Bulan sejak terjadinya konjungsi (ijtimak). Bila kondisi minimum di atas tidak terpenuhi, maka digenapkanlah umur bulan Syaban menjadi 30 hari karena pada maghrib tanggal 28 Juni 2014, ketiga kriteria astronomis di atas pasti akan terpenuhi. Kelompok ini dinamakan kelompok Imkan-Rukyat (IR).
Animasi sederhana berikut menjelaskan mengapa hilal itu tidak harus tampak. Silahkan download file power point show berikut: 
https://onedrive.live.com/redir?resid=69BB9406C840FCCD!449&authkey=!AEmA-STEAllxCXE&ithint=file%2c.ppsx

Bagi yang hanya memerlukan file pdf saja, silahkan download dari:
https://onedrive.live.com/redir?resid=69BB9406C840FCCD!450&authkey=!AB-ENLN6FqcBPzU&ithint=file%2c.pdf


Semoga bermanfaat dan wassalam.

0 comments: