Monday, July 23, 2012

Mengapa rukyah sangat rawan kesalahan?

Dalam situsnya, Umm al-Qura University (UaQU) menyebutkan 42 kali Kalender Islam yang disusunnya (berdasar hisab) dianulir oleh Mahkamah Agung Arab Saudi akibat ada laporan bahwa seseorang telah melihat hilal (berumpah). Padahal, dalam perhitungan hisab UaQU, Bulan sebetulnya telah tenggelam mendahului Matahari pada hari tesebut (berarti ketinggian hilal masih negatif). Artinya, secara astronomis sebetulnya pergantian bulan Islam belum terjadi karena syarat seperti yang diberikan oleh Ya-Sin: 38-40 tidak terpenuhi. Lihat video berikut:






Namun, dari 42 kali tersebut menurut situs UaQU, ternyata lebih dari 50% setelah dilakukan cek, orang in telah melihat sesuatu benda yang bersinar mirip hilal. Benda itu mungkin bintang yang sedikit besar, atau planet Venus, atau bahkan contrail pesawat yang menjelang mendarat di ufuk barat pada lokasi yang berdekatan dengan posisi Bulan. Kita ingat pada sekitar tahun 2006 atau 2007 lalu, Arab Saudi mengumumkan hari Arafah sehari lebih cepat dari perhitungan hisab mayoritas umat Islam, termasuk Indonesia. Inilah sebetulnya kerawanan merukyat hilal. Perukyat dapat melihat benda lain yang dianggap hilal, atau hilal telalu tipis (meskipun ada) tapi tidak kelihatan. Secara statistik dikatakan: ada probabilitas 50% orang akan melakukan kesalahan sebesar 100% (ada tapi tak kelihatan, atau kelihatan tapi sebetulnya bendanya lain). Jadi lebih dari 50% kesalahan dari 42 kali dianulirnya hasil hisab UaQU oleh Mahkamah Agung Arab Saudi ternyata sangat cocok dengan probabilitas 50% teoretis yang saya sebutkan di atas.


Pada kelas Spring 1982 (Maret-Juni 1982), ketika saya mengambil program pasca sarjana dalam bidang Geodetic Science di Ohio State University (OSU) Amerika Serikat, saya mengambil mata kuliah wajib Geodetic Astronomy. Dosennya adalah, Prof. Ivan I. Mueller, yang sangat reputable secara internasional. Buku teksnya yang berjudul Geodetic Astronomy yang dapat dibuat bantal tidur, merupakan bible bagi orang yang belajar Geodesy di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pada intinya, Geodetic Astronomy mempelajari cara penentuan posisi (navigasi) di permukaan Bumi melalui pengamatan bintang. 


Dalam awal kuliahnya, beliau mengatakan: "Ini adalah kuliah Geodetic Astronomy yang terakhir, karena ilmu ini menjelang obsolete. Tahun depan, kuliah ini akan diganti dengan Global Positioning System (GPS)". Saat itu, GPS yang semula dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika, telah mulai dirilis untuk penggunaan sipil. Saya sempat melihat generasi pertama GPS receiver ini dalam sebuah pameran di Washington DC tahun itu juga. Dalam kuliah ini ada sebuah praktikum yang sangat melelahkan. Kami diminta untuk menentukan sebuah posisi di atas gedung tempat kami kuliah. Alat yang digunakan adalah Theodolite Wild-T3 buatan Switzerland yang sangat sensitif karena akurasinya yang sangat tinggi. Hasil akhirnya sebetulya adalah sangat sederhana: koordinat lintang dan bujur tempat kami mendirikan Theodolite T3 dengan akurasinya yang sangat tinggi. Secara teoretis, jika ada orang yang menggeser paku tempat berdirinya T3 ini sebesar 5 cm saja, maka kami akan mampu mendeteksinya. Tentu saja dengan melakukan ulang pekerjaan kami.


Dalam kelompok kami ada tiga orang, lab partners saya adalah dari Taiwan dan Polandia. Maka dimulailah kesengsaraan kami selama tiga minggu merukyat bintang karena: 


  1. Meski bintang sebetulnya jutaan juga bertebaran pada siang hari, tapi bintang hanya kelihatan pada malam hari. Maka kami harus merukyatnya pada malam hari.
  2. Musim spring di daerah mid-west seperti Ohio itu juga masih menyisakan dinginnya winter (Desember-Maret). Siang hari memang sering panas, tapi malam hari temperatur bisa sampai di bawah titik beku.
  3. Hari pertama malam berawan, hari kedua mendung, hari ketiga hujan, hari keempat mendung lagi...dst. Bintang jelas ngumpet terus, jadi ga mungkin melakukan rukyah. Begitu kami dapat hari bagus...eh...salah mengidentifikasi bintang. Karena pada detik tertentu kami mengarahkan teropong ke azimut dan ketinggian tertentu, maka ada mungkin belasan bintang yang masuk dalam teropong kami. Kami bingung, salah merukyat, dan pekerjaan harus diulang.
Jadi lengkaplah kami memerlukan waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan praktikum Geodetic Astronomy ini saja. Padahal tugas praktikum mata kuliah lain juga berjibun. Di OSU sistem perkuliahan adalah sistem quarter (10 minggu). Itupun terdiri atas: 9 minggu kuliah dan minggu ke 10 adalah ujian. Para profesor di OSU tentu saja tidak peduli bahwa kami kehilangan malam selama tiga minggu. The show must go on . . . . tugas lain harus diselesaikan, ujian harus siap.

Jadi, untuk menentukan koordinat lintang dan bujur satu titik ini saja dengan cara rukyah, kami harus menghabiskan waktu 3 minggu.

Sekarang, melalui GPS receiver, seorang surveyor hanya memerlukan waktu paling lama satu jam untuk memperoleh koordinat sebuah titik di Bumi dengan tingkat ketelitian yang mungkin jauh lebih baik. Mengapa? Karena bintang2 itu telah digantikan dengan satelit2 navigasi yang bertebaran. Seperti bintang2 itu juga, posisi satelit navigasi ini deketahui posisinya setiap detik. Satelit2 ini memancarkan signal aktif, sehingga praktis pengukuran navigasi dapat dilakukan hampir dalam kondisi cuaca apapun. Serorang supir yang tidak mengerti . . . ba . . bi . . bu nya navigasipun dapat mengoperasikan GPS navigasi untuk menjelajah pelosok kota dengan hiruk pikuk jalan satu arah, traffic light, round about yang bercabang-cabang sampai lima. Dan itu berarti melibatkan jutaan titik navigasi!! Semuanya dilakukan nyaris tanpa melakukan kesalahan. Mengapa?

  1. Karena filosofi pengembangan teknologi untuk keperluan manusia adalah untuk mempermudah manusia penggunanya. Daripada susah2 merukyat bintang selama 3 minggu, sekarang orang dapat melakukannya hanya dalam hitungan puluhan menit.
  2. Daripada melakukannya hanya pada malam hari karena siang hari tidak mungkin melihat bintang, orang dapat melakukannya kapan saja. Kata orang Barat: "24/7" yang berarti "24 hours a day, 7 days a week". Malam tetap untuk tidur. Dalam cuaca apapun. Bahkan sambil merokok, cengengesan dan tidur2 an pun bisa.
  3. Daripada orang melakukan kesalahan identifikasi bintang seperti yang terjadi pada kami, sekarang orang tidak perlu melakukan itu karena satelit yang manapun (sekarang ini sudah puluhan satelit yang tersedia) otomatis dapat terdidentifikasi begitu sinyalnya masuk ke receiver.
Jadi kata kuncinya, untuk mengatasi kesalahan manusia (personal error) yang dapat sangat fatal, maka diciptakanlah teknologi yang beroperasi secara otomatis. Bukan cuma urusan navigasi. Bahkan timbangan pun telah dibuat dijital dan otomatis, supaya orang enggak salah catat 2,5 kg daging di pasar, padahal berat sesungguhnya cuma 2,2 kg. Untuk melindungi konsumen dan pedagangnya sendiri agar jangan rugi. Ini kan justru sesuai dengan pesan "al-Muthaffifin"?


Jadi sunguh sukar dimengerti bahwa orang masih bersikukuh untuk melakukan rukyatul hilal padahal kesalahan seperti yang disebutkan dalam situs UaQU itu sangat mudah saja terjadi. Dengan perhitungan hisab, kesalahan2 seperti itu akan diminimalisasi, dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih baik sebetulnya. Tapi malah ditolak habis2 an justru oleh para ulama yang seharusnya sangat concerned dengan kepastian ibadahnya. Supaya ibadahnya lebih pasti dengan kesalahan yang minimum. Kalau tidak salah, Menteri Agama RI beberapa tahun lalu pernah mengatakan: "Orang sudah menginjak-injak Bulan, kok kita masih ribut Bulan ada di mana?" Ini betul, tapi mengapa dalam prakteknya kok malah jadi terbelakang? Dan tidak sesuai dengan arahan beliau yang technology savvy ini? Sungguh menyedihkan. Wallahu a'lam.

3 comments:

Dian Kelana said...

Semua karena Duit dan EGO. Kalau ada sidang hisbat ada duit yang di bagi-bagi ada proyek untuk bancakan. EGO BESAR karena takut dianggap jadi pengekor

Anonymous said...

http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/kesaksian-hilal-yang-bertentangan-dengan-ilmu-astronomi/

Anonymous said...

rukyat yang baik adalah rukyat yang tidak meninggalkan hisab sebagai basis. Kesalahan merukyat pada zulhijah 2007 adalah sama bodohnya dengan merukyat di tengah bulan (mid-month). Imkanur rukyat sebagai jalan tengah bisa menjadi solusi ASAL, ulama dan astronomi duduk bersama dalam satu team untuk melakukan observasi selama bertahun2 (setiap awal bulan), lalu ditabulasikan dan dibuat statistik sehingga ditemukan angka yang mendekati "kebenaran" akan keterlihatan hilal setiap awal bulan.