Monday, July 16, 2012

Mengapa 1 Ramadan jatuh pada 20 Juli 2012?



Umat Islam tampaknya akan mengalami perbedaan penentuan awal bulan Ramadan bahkan dalam tiga tahun berturut-turut: 2012, 2013, dan 2014 yang akan datang. Tulisan ini akan menganalisis mengapa 1 Ramadan 1433 akan jatuh pada 20 Juli 2012 yang akan datang. Analisis ini dilakukan berdasarkan hasil perhitungan beberapa software perhitungan astronomi: di antaranya: Accurate Times, dan Time And Date (www.timeanddate.com). Sedangkan basis hitungan dilakukan berdasarkan pada kota Makassar (GMT+8), Sulawesi Selatan.

Ijtima (konjungsi geosentris) pada 19 Juli 2012 yang akan datang akan terjadi pada sekitar jam 12:25 waktu lokal Makassar. Sedangkan pada saat maghrib 19 Juli 2012 (jam 18:04) yang akan datang di Makassar, hilal akan berada pada ketinggian sekitar 1.4 derajat karena Bulan baru akan tenggelam pada sekitar jam 18:10, atau 6 menit kemudian setelah maghrib.

Dengan kondisi astronomis seperti ini, jelas hilal akan sangat sukar tampak oleh mata karena meskipun bola Matahari telah tenggelam sepenuhnya (saat maghrib), atmosfir di sekeliling Bumi masih cukup kuat memantulkan cahayanya sehingga masih cukup menyilaukan untuk dapat melihat hilal. Apalagi bagian Bulan yang tersinari Matahari yang menghadap ke Makassar (hilal) masih hanya 0.05 menit (angular minutes) atau sekitar 0.13% saja (dibandingkan dengan 100% yang terjadi saat purnama yang sempurna). Biasanya, pemerintah Indonesia (Departemen Agama) akan menganulir ini sebagai kondisi syah untuk mengawali sebuah bulan Islam, utamanya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dengan demikian hampir bisa dipastikan bahwa maghrib 19 Juli 2012 yang akan datang tidak akan diakui sebagai awal Ramadan 1433H.

Sesuai dengan prinsip imkan-rukyat yang dianut pemerintah yang mempersyaratkan ketinggian hilal minimum 2 derajat, maka biasanya, Departemen Agama akan meminta umat Islam Indonesia untuk melakukan isti’mal (menggenapkan) bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dengan demikian Departemen Agama akan menetapkan secara otomatis maghrib 20 Juli 2012 sebagai awal Ramadan 2012. Pertanyaannya: betulkah hilal yang tidak tampak pada maghrib 19 Juli 2012 tersebut sebagai bukti bahwa hilal memang belum terbentuk?

Harus diingat bahwa bagian permukaan Bulan yang tersinari Matahari (hilal) yang menghadap ke kita (dalam kasus ini Makassar) sebetulnya terus membesar dari waktu ke waktu. Tidak peduli apakah itu tampak oleh mata kita ataupun tidak. Misalnya:
  1. Sejak Bulan tenggelam pada jam 18:10 pada 19 Juli 2012 yang akan datang, sampai dengan Bulan terbit kembali di ufuk Timur Makassar pada sekitar jam 6:47 tanggal 20 Juli 2012, sebetulnya hilal terus membesar dengan pertumbukan ketebalannya yang sebesar 0.02 menit (angular minutes) per jam. Namun, meskipun hilal terus semakin membesar selama sekitar 10.5 jam dengan tingkat pertumbuhan 0.02 menit per jam, penduduk Makassar dan Bulan berada pada belahan langit yang berbeda karena Bulan sekarang terhalang oleh bola Bumi sendiri.
  2. Karena ijtima telah terjadi di hari sebelumnya, ketika Bulan terbit kembali di belahan Timur Makassar pada 6:47 tanggal 20 Juli 2012, Matahari telah terbitlebih  awal sekitar 34 menit karena Matahari terbit pada jam 6:13. Dengan demikian, selama sekitar 11 jam lebih juga, hilal tetap tidak akan kelihatan karena Matahari bersinar terang benderang sampai maghrib jam 18:05 pada 20 Juli 2012 yang akan datang. Padahal, harus diingat lagi, selama 11 jam lebih ini, hilalpun terus bertambah tebal sekitar 0.02 menit (sudut) per jamnya.


Untuk animasi kondisi hilal yang semakin tebal selama sekitar 23 jam tersebut, pembaca dapat mengunduh program animasi pertumbuhan fase Bulan ini, tanpa biaya, dari alamat berikut: http://cis-saksono.blogspot.com/2011/10/program-simulasi-hilal.html.

Sekarang mari kita lihat bagaimanakan sebetulnya kondisi hilal pada beberapa menit sebelum maghrib 20 Juli 2012 yang akan datang yang diberikan oleh program Stellarium yang tersedia gratis untuk umum. Gambar 1 berikut menunjukkan kondisi hilal pada jam 17:45 pada 20 Juli 2012 di Makassar, sekitar 20 menit sebelum Matahari tenggelam. Gambar ini jelas menunjukkan kondisi hilal yang telah setebal 1.6% (sekitar 0.5 menit sudut). Namun, meskipun hilal sudah sangat besar, tetap saja hilal tidak akan tampak karena Matahari masih bersinar terang benderang sekitar 20 menit sebelum temggelam pada jam 18:05.


Persoalannya, jika umat Islam tidak mengakui ini sebagai hilal hanya karena tidak tampak oleh mata, apakah dengan demikian kita menganggap bahwa hilal itu akan keluar begitu saja (Jawa: mecothot, Sunda: pucunghul) dari langit pada saat maghrib 20 menit kemudian? Ini jelas tidak masuk akal karena akan mirip dengan cerita tahayul.

Sekarang kita coba lihat kondisi hilal menurut Stellarium jika ditarik mundur ke belakang pada sekitar jam 6:55 atau sekitar 42 menit setelah Matahari terbit jam 6:13 di ufuk timur Makassar seperti tampak pada Gambar 2. Meskipun tebal hilal masih hanya 0.9% dari bagian Bulan yang tersinari Matahari pada jam 6:45 tersebut, jelas Gambar 2 juga telah memperlihatkan hilal yang telah terbentuk (catatan: hilal dalam gambar ini tanduknya mengarah ke bawah karena Matahari dan Bulan sedang mengorbit naik atau ascending). Memang hilal pada pagi hari inipun tetap tidak akan tampak karena Matahari telah terbit 42 menit yang lalu, sehingga sinarnya akan terlalu kuat jika dibandingkan dengan tingkat kecemerlangan hilalnya sendiri. 




Harus diingat bahwa bahkan “1st quarter moon” (Bulan hari ke 7) atau “3rd quarter moon” (Bulan hari ke 21) yang membentuk separuh piringan Bulan yang tersinaripun tidak akan tampak oleh mata jika Matahari terang benderang. Apalagi cuma hilal. Lihat dua vedeo berikut:











Jadi, sebaiknya umat Islam harus berpuasa pada 20 Juli 2012 yang akan datang karena sebetulnya hilal telah cukup besar meskipun tidak tampak oleh mata sejak maghrib 19 Juli 2012 yang akan datang. Kalau tetap ingin membuktikan bahwa hilal ini harus kelihatan secara fisik, maka harus dicari di belahan Bumi lain yang pada detik-detik tersebut sedang maghrib. Hilal yang tampak di tempat-tempat tersebut adalah hilal yang sama yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Angka ketebalannya mungkin berbeda, namun itulah hilal yang sama. Ingat Bumi dan Bulan itu sendiri bulat. Untuk mengetahui kota2 mana yang dapat digunakan mengintip hilal pada jam-jam tertentu tersebut, silahkan lihat screencast dengan host Screen-O-Matic berikut:

 
http://www.screencast-o-matic.com/watch/clh32HE8y
Atau dalam Youtube:


Semoga bermanfaat

3 comments:

Agus Salim said...

definisi hilal menurut Pak Tono itu seperti apa?

Tono Saksono said...

Lah menurut definisi antum, dua gambar yg saya berikan itu hilal atau bukan. Kalau iya kenapa, kalau bukan kenapa?

GIS-Kunmap said...

2:185 ....Siapa yang membuktikan (syahida) dari kamu bulan (syahro) itu hendaklah mempuasakannya....

Istilah SYAHIDA, syahada= mengakui (QS.3/52, QS.3/70), syahida=buktikan (QS.2/185, QS.3/18), syaahidu=penyaksi (QS.3/53,QS.9/17), syuhadaau (jamak)=pemberi-pemberi bukti (QS.22/78), syahaadatu=persaksian (QS.6/19), syuhuwdu=yang menjadi penyaksi (QS.85/3, QS.85/7, QS.10/61), syahiidu=pemberi bukti (QS.2/143, QS 28/75). SYAHIDA dapat diartikan membukti, membuktikan itu berkaitan dengan HISAAB (perhitungan secara matematis), membuktikan juga dapat mencocokkan fakta/bukti yang ada. Secara jelas pada QS.2/185 memang ALLAH tidak menyuruh melihat (ra a).

QS.2/189 ada istilah HILAL/AHILLAH (Qomar/Bulan Sabit),ini ada kaitannya dengan QS.2/185.