Thursday, October 18, 2012

Analisis awal Dzulhijjah 1433H

Semula, saya memang sengaja tidak melakukan analisis awal Dzulhijjah 1433H karena sebetulnya posisi hilal sudah sangat tinggi pada pergantian Dzulkahidah dan Dzulhijjah 1433H ini. Dengan referensi Jakarta misalnya, pada maghrib 16 Oktober, hilal berada pada ketinggian 11.5 derajat, karena konjungsi toposentris telah terjadi pada jam 20:23 (WIB) pada hari sebelumnya (15 Oktober). Dengan referensi Mekah pun, konjungsi toposentris telah terjadi pada jam 16:04 (waktu Mekah) pada 15 Oktober. Sehingga, pada maghrib 16 Oktober di Mekah (jam 17:58), ketinggian hilal juga sudah tinggi, yaitu sekitar 9.6 derajat. Baik di Jakarta maupun di Mekah, posisi hilal pada 15 Oktober 2012 masih negatif (di bawah ufuk).

Dengan demikian, saya anggap tidak mungkin terjadi perselisihan penentuan awal Dzulhijjah 1433H ini karena ketinggian hilal jauh di atas batas imkan rukyat. Karena maghrib 16 Oktober 2012 adalah awal masuknya 1 Dzulhijjah 1433H, maka dalam kalender Umm al Qura University, 1 Dzulhijjah 1433H adalah bertepatan dengan 17 Oktober 2012 (lihat http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/ummalqura.htm).

Namun, seperti telah saya diskusikan pada artikel sebelumnya (lihat http://cis-saksono.blogspot.com/2012/07/mengapa-78-umat-islam-mengawali-ramadan.html), Mahkamah Agung Arab Saudi memang sering menganulir hasil perhitungan hisab karena jika ada orang yang berani bersumpah melihat hilal pada 15 Oktober nya, misalnya, maka Mahkamah Agung Arab Saudi kemudian menetapkan maghrib 15 Oktober 2012 lah sebagai 1 Dzulhijjah. Meskipun kesaksian seperti ini disadari banyak yang salah (bertentangan dengan hasil hisab Umm al Qura Univ. atau bahkan perhitungan hisab umat Islam di dunia), namun Mahkamah Agung Arab Saudi tampaknya tidak berdaya apa-2 karena memang sunnah Rasul mengajarkan demikian. 

Alhamdulillah, tampaknya, kesaksian bersumpah seperti ini tidak ada pada 15 Oktober 2012 lalu. Sehingga, insya Allah, Mahkamah Agung dan selanjutnya Kerajaan Arab Saudi akan menetapkan tanggal 26 Oktober yang akan datang sebagai Hari Iedul Adha 1433H. Dengan kata lain, tanggal 25 Oktober 2012 nanti sebagai Hari Arafah dimana kita di seluruh dunia disunnatkan untuk berpuasa untuk menghromati tamu Allah yang sedang melakukan prosesi puncak haji di Padang Arafah.

Tentang Hari Arafah ini, the Islamic Society of North America (ISNA) dan the Fiqh Council of North America (FCNA) tetap konsisten mengikuti keputusan Mahkamah Agung Arab Saudi dalam merayakan Hari Arafah ini, meskipun keputusan Mahkamah Agung Arab Saudi ini dianggap salah dan bertentangan dengan hasil perhitungan hisab. Alasan meraka, karena puasa Arafah kan memang dimaksudkan untuk menghormati sudara-2 Muslim yang sedang berwuquf di Arafah. 



Posisi hilal pada maghrib 16 Oktober 2012 lalu dapat diperoleh melalui hasil animasi Stellarium seperti dua gambar di atas. Yang pertama adalah posisi Bulan saat Matahari hampir tenggelam sempurna pada 16 Oktober 2012 lalu, sedangkan gambar yang kedua adalah kenampakan hilal saat kita zoom. Dapat dilihat pada informasi astronomis di kedua gambar di sebelah kiri atas, ketinggian hilal adalah sekitar 9 derajat dengan referensi Mekah.

Monday, July 23, 2012

Mengapa rukyah sangat rawan kesalahan?

Dalam situsnya, Umm al-Qura University (UaQU) menyebutkan 42 kali Kalender Islam yang disusunnya (berdasar hisab) dianulir oleh Mahkamah Agung Arab Saudi akibat ada laporan bahwa seseorang telah melihat hilal (berumpah). Padahal, dalam perhitungan hisab UaQU, Bulan sebetulnya telah tenggelam mendahului Matahari pada hari tesebut (berarti ketinggian hilal masih negatif). Artinya, secara astronomis sebetulnya pergantian bulan Islam belum terjadi karena syarat seperti yang diberikan oleh Ya-Sin: 38-40 tidak terpenuhi. Lihat video berikut:






Namun, dari 42 kali tersebut menurut situs UaQU, ternyata lebih dari 50% setelah dilakukan cek, orang in telah melihat sesuatu benda yang bersinar mirip hilal. Benda itu mungkin bintang yang sedikit besar, atau planet Venus, atau bahkan contrail pesawat yang menjelang mendarat di ufuk barat pada lokasi yang berdekatan dengan posisi Bulan. Kita ingat pada sekitar tahun 2006 atau 2007 lalu, Arab Saudi mengumumkan hari Arafah sehari lebih cepat dari perhitungan hisab mayoritas umat Islam, termasuk Indonesia. Inilah sebetulnya kerawanan merukyat hilal. Perukyat dapat melihat benda lain yang dianggap hilal, atau hilal telalu tipis (meskipun ada) tapi tidak kelihatan. Secara statistik dikatakan: ada probabilitas 50% orang akan melakukan kesalahan sebesar 100% (ada tapi tak kelihatan, atau kelihatan tapi sebetulnya bendanya lain). Jadi lebih dari 50% kesalahan dari 42 kali dianulirnya hasil hisab UaQU oleh Mahkamah Agung Arab Saudi ternyata sangat cocok dengan probabilitas 50% teoretis yang saya sebutkan di atas.


Pada kelas Spring 1982 (Maret-Juni 1982), ketika saya mengambil program pasca sarjana dalam bidang Geodetic Science di Ohio State University (OSU) Amerika Serikat, saya mengambil mata kuliah wajib Geodetic Astronomy. Dosennya adalah, Prof. Ivan I. Mueller, yang sangat reputable secara internasional. Buku teksnya yang berjudul Geodetic Astronomy yang dapat dibuat bantal tidur, merupakan bible bagi orang yang belajar Geodesy di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pada intinya, Geodetic Astronomy mempelajari cara penentuan posisi (navigasi) di permukaan Bumi melalui pengamatan bintang. 


Dalam awal kuliahnya, beliau mengatakan: "Ini adalah kuliah Geodetic Astronomy yang terakhir, karena ilmu ini menjelang obsolete. Tahun depan, kuliah ini akan diganti dengan Global Positioning System (GPS)". Saat itu, GPS yang semula dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika, telah mulai dirilis untuk penggunaan sipil. Saya sempat melihat generasi pertama GPS receiver ini dalam sebuah pameran di Washington DC tahun itu juga. Dalam kuliah ini ada sebuah praktikum yang sangat melelahkan. Kami diminta untuk menentukan sebuah posisi di atas gedung tempat kami kuliah. Alat yang digunakan adalah Theodolite Wild-T3 buatan Switzerland yang sangat sensitif karena akurasinya yang sangat tinggi. Hasil akhirnya sebetulya adalah sangat sederhana: koordinat lintang dan bujur tempat kami mendirikan Theodolite T3 dengan akurasinya yang sangat tinggi. Secara teoretis, jika ada orang yang menggeser paku tempat berdirinya T3 ini sebesar 5 cm saja, maka kami akan mampu mendeteksinya. Tentu saja dengan melakukan ulang pekerjaan kami.


Dalam kelompok kami ada tiga orang, lab partners saya adalah dari Taiwan dan Polandia. Maka dimulailah kesengsaraan kami selama tiga minggu merukyat bintang karena: 


  1. Meski bintang sebetulnya jutaan juga bertebaran pada siang hari, tapi bintang hanya kelihatan pada malam hari. Maka kami harus merukyatnya pada malam hari.
  2. Musim spring di daerah mid-west seperti Ohio itu juga masih menyisakan dinginnya winter (Desember-Maret). Siang hari memang sering panas, tapi malam hari temperatur bisa sampai di bawah titik beku.
  3. Hari pertama malam berawan, hari kedua mendung, hari ketiga hujan, hari keempat mendung lagi...dst. Bintang jelas ngumpet terus, jadi ga mungkin melakukan rukyah. Begitu kami dapat hari bagus...eh...salah mengidentifikasi bintang. Karena pada detik tertentu kami mengarahkan teropong ke azimut dan ketinggian tertentu, maka ada mungkin belasan bintang yang masuk dalam teropong kami. Kami bingung, salah merukyat, dan pekerjaan harus diulang.
Jadi lengkaplah kami memerlukan waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan praktikum Geodetic Astronomy ini saja. Padahal tugas praktikum mata kuliah lain juga berjibun. Di OSU sistem perkuliahan adalah sistem quarter (10 minggu). Itupun terdiri atas: 9 minggu kuliah dan minggu ke 10 adalah ujian. Para profesor di OSU tentu saja tidak peduli bahwa kami kehilangan malam selama tiga minggu. The show must go on . . . . tugas lain harus diselesaikan, ujian harus siap.

Jadi, untuk menentukan koordinat lintang dan bujur satu titik ini saja dengan cara rukyah, kami harus menghabiskan waktu 3 minggu.

Sekarang, melalui GPS receiver, seorang surveyor hanya memerlukan waktu paling lama satu jam untuk memperoleh koordinat sebuah titik di Bumi dengan tingkat ketelitian yang mungkin jauh lebih baik. Mengapa? Karena bintang2 itu telah digantikan dengan satelit2 navigasi yang bertebaran. Seperti bintang2 itu juga, posisi satelit navigasi ini deketahui posisinya setiap detik. Satelit2 ini memancarkan signal aktif, sehingga praktis pengukuran navigasi dapat dilakukan hampir dalam kondisi cuaca apapun. Serorang supir yang tidak mengerti . . . ba . . bi . . bu nya navigasipun dapat mengoperasikan GPS navigasi untuk menjelajah pelosok kota dengan hiruk pikuk jalan satu arah, traffic light, round about yang bercabang-cabang sampai lima. Dan itu berarti melibatkan jutaan titik navigasi!! Semuanya dilakukan nyaris tanpa melakukan kesalahan. Mengapa?

  1. Karena filosofi pengembangan teknologi untuk keperluan manusia adalah untuk mempermudah manusia penggunanya. Daripada susah2 merukyat bintang selama 3 minggu, sekarang orang dapat melakukannya hanya dalam hitungan puluhan menit.
  2. Daripada melakukannya hanya pada malam hari karena siang hari tidak mungkin melihat bintang, orang dapat melakukannya kapan saja. Kata orang Barat: "24/7" yang berarti "24 hours a day, 7 days a week". Malam tetap untuk tidur. Dalam cuaca apapun. Bahkan sambil merokok, cengengesan dan tidur2 an pun bisa.
  3. Daripada orang melakukan kesalahan identifikasi bintang seperti yang terjadi pada kami, sekarang orang tidak perlu melakukan itu karena satelit yang manapun (sekarang ini sudah puluhan satelit yang tersedia) otomatis dapat terdidentifikasi begitu sinyalnya masuk ke receiver.
Jadi kata kuncinya, untuk mengatasi kesalahan manusia (personal error) yang dapat sangat fatal, maka diciptakanlah teknologi yang beroperasi secara otomatis. Bukan cuma urusan navigasi. Bahkan timbangan pun telah dibuat dijital dan otomatis, supaya orang enggak salah catat 2,5 kg daging di pasar, padahal berat sesungguhnya cuma 2,2 kg. Untuk melindungi konsumen dan pedagangnya sendiri agar jangan rugi. Ini kan justru sesuai dengan pesan "al-Muthaffifin"?


Jadi sunguh sukar dimengerti bahwa orang masih bersikukuh untuk melakukan rukyatul hilal padahal kesalahan seperti yang disebutkan dalam situs UaQU itu sangat mudah saja terjadi. Dengan perhitungan hisab, kesalahan2 seperti itu akan diminimalisasi, dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih baik sebetulnya. Tapi malah ditolak habis2 an justru oleh para ulama yang seharusnya sangat concerned dengan kepastian ibadahnya. Supaya ibadahnya lebih pasti dengan kesalahan yang minimum. Kalau tidak salah, Menteri Agama RI beberapa tahun lalu pernah mengatakan: "Orang sudah menginjak-injak Bulan, kok kita masih ribut Bulan ada di mana?" Ini betul, tapi mengapa dalam prakteknya kok malah jadi terbelakang? Dan tidak sesuai dengan arahan beliau yang technology savvy ini? Sungguh menyedihkan. Wallahu a'lam.

Saturday, July 21, 2012

Mengapa 78% umat Islam mengawali Ramadan pada 20 Juli 2012? (2 habis)


Jadi, Umm al-Qura University (UaQU) sebetulnya telah menyusun kalender Islam dan telah dipublikasikan beberapa tahun yang lalu. Kriterianya yang paling baru adalah ternyata “wujudul hilal” dan sangat sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Ya Sin: 38-40 di atas. 


Dalam kalender tersebut, 1 Ramadan 1433 lalu telah ditetapkan bertepatan dengan 20 Juli 2012. Kepastian ini kemudian disyahkan oleh Majlis al-Qada al-A‘la dalam sidangnya di Taif karena ada saksi yang bersumpah melihat hilal. Padahal beberapa data astronomi ketinggian hilal pada maghrib 19 Juli 2012 lalu yang dicatat untuk beberapa kota di Arab Saudi adalah sebagai berikut (data diambil dari Accurate Times, dalam satuan derajat):


Jeddah: 1.3
Mekah: 0.9
Madinah: 0.9
Taif: 1.3
Riyadh: 0.7


Kota2 yang lain belum dilihat, tapi diperkirakan di seluruh wilayah Arab Saudi akan berada di bawah 2 derajat. Di beberapa kota malah jauh di bawah 2 derajat. Dengan demikian, beberapa catatan penting yang harus dikemukakan di sini adalah:


  • Tidak betul bahwa kriteria wujudul hilal adalah kriteria yang usang seperti yang dikampanyekan oleh seorang ahli astronomi Indonesia. Kalau melihat perkembangan kriteria yang dikembangkan oleh UaQU, justru kriteria imkan rukyat adalah yang usang dan telah ditinggalkan hamper 40 tahun lalu.
  • Kriteria minimum 2 derajat itu ternyata tidak memiliki dasar. Kalau memang Rasul menghendaki ini, mengapa beliau tidak memberikan batasan ketinggian Bulan “sepenggalah” seperti minimum ketinggian Matahari sebagai syarat sholat dhuha? Mengapa umat Islam berani menambahi syarat minimum 2 derajat?


Beberapa organisasi besar seperti Islamic Society of North America (ISNA), Fiqh Council of North America (FCNA), dan European Council for Fatwa and Research (ECFR) yang dipimpin oleh ulama besar Mesir Prof. Yusuf Qaradawi dan banyak lagi (di 47 negara atau 61%) menyatakan “follow Saudi”. Meskipun dalam websitenya FCNA, "follow Saudi" dalam hal ini adalah khusus untuk hari Arafah, karena memang Arafah berlokasi di Arab Saudi. Untuk ibadah yang lainnya, tentu saja ISNA dan FCNA tetap menggunakan hitungan dengan referensi lokal di masing2 tempat di Amerika dan Kanada.


Siapakah ISNA dan FCNA?


Dr. Shaukat yang memimpin moonsighting.com (lihat tulisan seri pertama) dulunya adalah konsultan bagi ISNA dan FCNA ketika mereka memulai proyek eksperimen untuk melakukan rukyatul hilal di Amerika Utara (AS dan Kanada). Proyek ini dilakukan pertama kali pada 1994 dengan menyebar sekitar 2000 relawan perukyat ke seluruh Amerika Utara setiap bulan untuk melakukan rukyat. Harapannya, dengan hasil rukyat akan dapat disusun sebuah database model untuk kehadiran hilal berdasarkan rukyah. Sementara itu, ISNA dan FCNA terus dikejar oleh keperluan memperjuangkan agar umat Islam di Amerika memperoleh hak libur untuk melaksanakan ibadahnya (missal: sholat Iedul Fitri). 


Katakanlah ada 200 pekerja Islam di Boeing, 300 di Microsoft, dan ribuan lagi di industri yang lain, atau bahkan di pemerintahan Amerika. Saat mereka meminta izin libur terkait dengan Iedul Fitri, mereka selalu ditolak karena: 


  1. Pertama, permintaan izin dilakukan beberapa minggu atau bulan sebelumnya. 
  2. Kedua, tidak ada kepastian tanggalnya karena kepastian hanya dapat dipeoleh ketika hilal telah kelihatan. 
Bagaimana mungkin di sebuah organisasi modern dengan jadwal delivery produk yang sangat ketat, tiba2 ratusan orang minta libur dengan mendadak, dan tidak pasti hari dan tanggalnya?


Setelah 13 tahun melakukan riset ekperimental rukyatul hilal ini, maka pada 13 Agustus 2006, FCNA mengeluarkan fatwa bahwa kalender Islam harus dibuat berdasarkan perhitungan astronomi, dan kriteria yang dipakai adalah wujudul hilal, persis seperti yang dimiliki oleh UaQU. Jadi sangat wajar kalau ISNA dan FCNA kemudian menyatakan “follow Saudi” meskpun mereka memiliki hasil perhitungan sendiri yang sama akuratnya dengan hasil UaQU.


Ketika fatwa FCNA ini dikeluarkan, muncullah hujatan dari seluruh penjuru dunia dengan mengatakan: “ini Fatwa Syetan”, dll. FCNA tidak bergeming dan terus mengkampanyekan pentingnya kalender Islam untuk kehidupan umat Islam Amerika sampai sekarang.


Dan jerih payah ISNA dan FCNA ini telah berbuah manis dengan diakuinya Ramadan sebagai bulan suci umat Islam oleh Kongres Amerika pada 5 September 2007, hanya setahun setelah fatwa FCNA yang dihujat sebagai "Fatwa Syetan" itu. Ini merupakan langkah penting dalam sejarah umat Islam di Amerika (lihat gambar). 




Jadi kepastian hukumlah sebetulnya sumber persatuan. Persatuan dengan pemaksaan kehendak oleh penguasa seperti hasil sidang Istbat hanyalah persatuan yang semu. 


Pertanyaannya, mengapa justru Indonesia tidak belajar saja dari kegagalan dan keberhasilan sudara2 kita seperti di Amerika ini? Mengapa malah kita kemudian kembali ke square one? Padahal tingkat kesulitan melihat hilal di negara tropis seperti Indonesia akan jauh lebih tinggi. Akankah kita menghabiskan waktu puluhan tahun untuk sampai pada suatu kesimpulan seperti ISNA dan FCNA: tidak mungkin memperoleh kepastian penyusunan kalender Islam dengan rukyah.


Jadi pada pendapat saya, perpecahan umat Islam itu justru karena tidak adanya kepastian kalender Islam, yang berarti tidak ada kepastian hukum. Dan penyebabnya karena kita ngotot untuk merukyah. Saya tidak tahu apa landasan hukum yang mendasari Departemen Agama untuk melakukan Sidang Istbat ini? Kalender adalah domain hukum, bukan domain kebijakan publik. Mengapa eksekutif mengambil posisi untuk menentukan sesuatu yang di luar domain kekuasaannya? Jadi sebelum ada masyarakat yang mem PTUN kan Departemen Agama, sebaiknya sidang Istbat itu dihentikan saja. Jikapun telah ada landasan hukumnya, masyarakat tetap dapat mengajukan uji materi atas perundangan ini ke Mahkamah Konstitusi, demi menghindari power abuse. 

Mengapa 78% umat Islam mengawali Ramadan pada 20 Juli 2012 (1)

Pada awal Ramadan 20 Juli 2012 lalu, sebuah organisasi rukyatul hilal yang kondang Moonsighting merilis daftar negara2 yang pemerintahnya telah resmi mengumumkan awal Ramadan (http://moonsighting.com/1433rmd.html). Dari 77 negara yang ada, 60 negara (77.9%) menentukan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli 2012, dan 17 negara (22.1%) menentukan awal Ramadan jatuh pada 21 Juli 2012. Indonesia masuk dalam Kelompok 2.


Yang sangat menarik, dari ke 60 negara yang berada pada Kelompok 1 (20 Juli 2012), 47 di antaranya (61%) ternyata menyatakan "Follow Saudi". Apa penyebabnya?


Arab Saudi adalah satu2 nya negara di dunia yang menggunakan kalender Islam untuk semua aktifitas umumnya, kecuali bila aktifitas ini terkait sangat erat dengan sistem kalender internasional (Masehi). Untuk jadwal penerbangan, misalnya, karena ini terkait dengan jadwal2 penerbangan internasional, maka Arab Saudi tentu saja juga menggunakan kalender Masehi (Gregorian) ini. Nah, dalam penyusunan kalender Islam, peran Umm al-Qura University (UaQU) ternyata memegang peranan yang sangat penting. Dan, UaQU murni menyusun kalender Islam tersebut berdasarkan hisab (perhitungan astronomi). Hasilnyapun sangat akurat.


Kalau kita cek Yunus: 5 dalam AQ, memang kewajiban penyusunan kalender Islam adalah pada kaum yang berpengetahuan, dan universitas dalam hal ini dipercaya penuh untuk penyusunannya. Jadi sangat aneh mengapa di Indonesia kok malah otoritas politik (Departemen Agama) yang mengambil peran yang seharusnya diberikan pada para ilmuwan ini. Akibatnya tampak bias dan kental dengan politisasi dalam keputusan2 Departemen Agama dalam penyusunan kalender Islam di Indonesia.


Untuk penyusunan kalender Islam ini, UaQU telah melalaui 4 tahap perbaikan (catatan: ini berlajku untuk semua bulan Islam, bukan hanya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah). Untuk penjelasan yang lebih detil, silahkan kinjungi website UaQU.
  • Sebelum 1395 AH – tak menentu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketinggian hilal saat maghrib harus minimum 9° di atas hirizon Mekah. Jadi inilah kriteria imkan-rukyat yang digunakan saat itu.
  • 1395 AH - 1419 AH, kriteria yang digunakan adalah: Ketika ijtima terjadi kurang dari 3 jam daripada tengah malam di Saudi (baca: jam 0:00 GMT), bulan Islam dimulai pada maghrib sebelumnya. Sebaliknya, jika lebih dari 3 jam, maka maghrib hari berikutnya yang ditetapkan sebagai awal bulan Islam. 
  • 1420 AH - 1422 AH: Pada hari ke 29 sebuah bulan Islam, maka hari berikutnya ditetapkan sebagai awal bulan Islam jika Matahari tenggelam mendahului Bulan. Jika Bulan tenggelam mendahului Matahari, maka dilakukan isti'mal atas bulan yang sedang berjalan. Dengan kriteria ini, terjadi sekali dalam setiap dua tahun, sebuah bulan Islam akan dimulai bahkan sebelum terjadi konjungsi.
  • Sejak 1423 AH: Jika pada hari ke 29 dalam bulan Islam dua kondisi ini terpenuhi, maka awal bulan Islam telah syah, yaitu:
  1. Konjungsi geosentri terjadi sebelum maghrib.
  2. Bulan tenggelam setelah Matahari tenggelam.
  3. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (isti'mal).
Kriteria yang terakhir yang digunakan inilah yang ternyata cocok dengan kriteria Ya Sin: 38-40 seperti dalam animasi saya yang lalu:



Karena Kalender UaQU hanya digunakan untuk keperluan umum, khusus untuk keperluan ibadah dalam hal yang terkait dengan awal puasa, awal Syawwal, dan awal Dzulhijjah, Majlis al-Qada al-A‘la (Mahkamah Agung) dapat menerima kesaksian hadirnya hilal yang dilaporkan oleh siapa saja (bahkan termasuk oleh yang tidak memiliki pengalaman), jika orang ini mau bersumpah. Mungkin ini dilalukan karena Rasul juga menerima kesaksian rakyatnya seperti ini.


Namun dari 42 kasus kesaksian, lebih dari 50% ternyata telah melakukan "false sighting" alias salah melihat. Salah melihat benda yang besinar seperti Venus atau bintang yang agak besar, atau bahkan contrail pesawat yang menjelang mendarat di sekitar ufuk barat. Ketika saya menyampaikan kemungkinan kesalahan seperti ini dalam sebuah milis (melihat pesawat yang mungkin berkilau memantulkan cahaya matahari), ada beberapa orang yang mentertawakan: katanya, masa "merukyat pesawat". Namun, ternyata ini telah terjadi, dan saya katakan inilah sumber kesalahan terbesar dari pengamatan manual oleh manusia. Ini adalah personal error yang menyebabkan blunder. Sangat berbahaya. Itulah sebabnya dalam navigasi moderen, pengamatan melalui bintang telah digantikan sepenuhnya oleh GPS. Kesalahan2 seperti inilah yang telah menyebabkan beberapa kali pengumuman di Arab Saudi ternyata melenceng dari hasil perhitungan astronomi umat Islam lain di dunia. Kalau tidak salah, pada 2006 atau 2007 lalu, Arab Saudi telah menetapkan hari Arafah yang lebih cepat sehari dibandingkan dengan hasil hitungan di Indonesia. Beberapa ormas Islam kemudian protes ke Kerajaan Arab Saudi. Mudah2 an, setelah pengalaman kesalahan yang lalu, Mahkamah Agung Arab Saudi tidak dengan mudah menerima sembarang kesaksian bersumpah. Walaupun itu sunnah, tapi minimal harus diverifikasi dengan bukti2 lain.


Terlepas dari kesaksian yang salah seperti disebutkan di atas, peran Majlis al-Qada al-A‘la memang sangat tepat. Ini lagi yang membedakan dengan kasus di Indonesia. Penetapan kalender memang bukan domain kebijaksanaan publik, tapi domain hukum. Jadi bagaimana mungkin kok ekeskutif (Departemen Agama) mengambil porsi kebijakan yang bukan merupakan domain eksekutif? Perbedaan selanjutnya, kalau Mahkamah Agung Arab Saudi justru menerima apapun kesaksian yang disumpah (ini kan sunnahnya), Departemen Agama RI malah selalu menganulir kesaksian perukyat (misal: Cakung dan FPI meskipun mereka telah bersumpah) karena mereka bertentangan dengan "kehendak" Departemen yang mempertahankan syarat 2 derajat imkan-rukyat? Ini sekali lagi menunjukkan bias. Beberapa sahabat saya menyebutnya kok malah jadi "ingkar rukyat"


(bersambung)




Monday, July 16, 2012

Mengapa 1 Ramadan jatuh pada 20 Juli 2012?



Umat Islam tampaknya akan mengalami perbedaan penentuan awal bulan Ramadan bahkan dalam tiga tahun berturut-turut: 2012, 2013, dan 2014 yang akan datang. Tulisan ini akan menganalisis mengapa 1 Ramadan 1433 akan jatuh pada 20 Juli 2012 yang akan datang. Analisis ini dilakukan berdasarkan hasil perhitungan beberapa software perhitungan astronomi: di antaranya: Accurate Times, dan Time And Date (www.timeanddate.com). Sedangkan basis hitungan dilakukan berdasarkan pada kota Makassar (GMT+8), Sulawesi Selatan.

Ijtima (konjungsi geosentris) pada 19 Juli 2012 yang akan datang akan terjadi pada sekitar jam 12:25 waktu lokal Makassar. Sedangkan pada saat maghrib 19 Juli 2012 (jam 18:04) yang akan datang di Makassar, hilal akan berada pada ketinggian sekitar 1.4 derajat karena Bulan baru akan tenggelam pada sekitar jam 18:10, atau 6 menit kemudian setelah maghrib.

Dengan kondisi astronomis seperti ini, jelas hilal akan sangat sukar tampak oleh mata karena meskipun bola Matahari telah tenggelam sepenuhnya (saat maghrib), atmosfir di sekeliling Bumi masih cukup kuat memantulkan cahayanya sehingga masih cukup menyilaukan untuk dapat melihat hilal. Apalagi bagian Bulan yang tersinari Matahari yang menghadap ke Makassar (hilal) masih hanya 0.05 menit (angular minutes) atau sekitar 0.13% saja (dibandingkan dengan 100% yang terjadi saat purnama yang sempurna). Biasanya, pemerintah Indonesia (Departemen Agama) akan menganulir ini sebagai kondisi syah untuk mengawali sebuah bulan Islam, utamanya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dengan demikian hampir bisa dipastikan bahwa maghrib 19 Juli 2012 yang akan datang tidak akan diakui sebagai awal Ramadan 1433H.

Sesuai dengan prinsip imkan-rukyat yang dianut pemerintah yang mempersyaratkan ketinggian hilal minimum 2 derajat, maka biasanya, Departemen Agama akan meminta umat Islam Indonesia untuk melakukan isti’mal (menggenapkan) bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dengan demikian Departemen Agama akan menetapkan secara otomatis maghrib 20 Juli 2012 sebagai awal Ramadan 2012. Pertanyaannya: betulkah hilal yang tidak tampak pada maghrib 19 Juli 2012 tersebut sebagai bukti bahwa hilal memang belum terbentuk?

Harus diingat bahwa bagian permukaan Bulan yang tersinari Matahari (hilal) yang menghadap ke kita (dalam kasus ini Makassar) sebetulnya terus membesar dari waktu ke waktu. Tidak peduli apakah itu tampak oleh mata kita ataupun tidak. Misalnya:
  1. Sejak Bulan tenggelam pada jam 18:10 pada 19 Juli 2012 yang akan datang, sampai dengan Bulan terbit kembali di ufuk Timur Makassar pada sekitar jam 6:47 tanggal 20 Juli 2012, sebetulnya hilal terus membesar dengan pertumbukan ketebalannya yang sebesar 0.02 menit (angular minutes) per jam. Namun, meskipun hilal terus semakin membesar selama sekitar 10.5 jam dengan tingkat pertumbuhan 0.02 menit per jam, penduduk Makassar dan Bulan berada pada belahan langit yang berbeda karena Bulan sekarang terhalang oleh bola Bumi sendiri.
  2. Karena ijtima telah terjadi di hari sebelumnya, ketika Bulan terbit kembali di belahan Timur Makassar pada 6:47 tanggal 20 Juli 2012, Matahari telah terbitlebih  awal sekitar 34 menit karena Matahari terbit pada jam 6:13. Dengan demikian, selama sekitar 11 jam lebih juga, hilal tetap tidak akan kelihatan karena Matahari bersinar terang benderang sampai maghrib jam 18:05 pada 20 Juli 2012 yang akan datang. Padahal, harus diingat lagi, selama 11 jam lebih ini, hilalpun terus bertambah tebal sekitar 0.02 menit (sudut) per jamnya.


Untuk animasi kondisi hilal yang semakin tebal selama sekitar 23 jam tersebut, pembaca dapat mengunduh program animasi pertumbuhan fase Bulan ini, tanpa biaya, dari alamat berikut: http://cis-saksono.blogspot.com/2011/10/program-simulasi-hilal.html.

Sekarang mari kita lihat bagaimanakan sebetulnya kondisi hilal pada beberapa menit sebelum maghrib 20 Juli 2012 yang akan datang yang diberikan oleh program Stellarium yang tersedia gratis untuk umum. Gambar 1 berikut menunjukkan kondisi hilal pada jam 17:45 pada 20 Juli 2012 di Makassar, sekitar 20 menit sebelum Matahari tenggelam. Gambar ini jelas menunjukkan kondisi hilal yang telah setebal 1.6% (sekitar 0.5 menit sudut). Namun, meskipun hilal sudah sangat besar, tetap saja hilal tidak akan tampak karena Matahari masih bersinar terang benderang sekitar 20 menit sebelum temggelam pada jam 18:05.


Persoalannya, jika umat Islam tidak mengakui ini sebagai hilal hanya karena tidak tampak oleh mata, apakah dengan demikian kita menganggap bahwa hilal itu akan keluar begitu saja (Jawa: mecothot, Sunda: pucunghul) dari langit pada saat maghrib 20 menit kemudian? Ini jelas tidak masuk akal karena akan mirip dengan cerita tahayul.

Sekarang kita coba lihat kondisi hilal menurut Stellarium jika ditarik mundur ke belakang pada sekitar jam 6:55 atau sekitar 42 menit setelah Matahari terbit jam 6:13 di ufuk timur Makassar seperti tampak pada Gambar 2. Meskipun tebal hilal masih hanya 0.9% dari bagian Bulan yang tersinari Matahari pada jam 6:45 tersebut, jelas Gambar 2 juga telah memperlihatkan hilal yang telah terbentuk (catatan: hilal dalam gambar ini tanduknya mengarah ke bawah karena Matahari dan Bulan sedang mengorbit naik atau ascending). Memang hilal pada pagi hari inipun tetap tidak akan tampak karena Matahari telah terbit 42 menit yang lalu, sehingga sinarnya akan terlalu kuat jika dibandingkan dengan tingkat kecemerlangan hilalnya sendiri. 




Harus diingat bahwa bahkan “1st quarter moon” (Bulan hari ke 7) atau “3rd quarter moon” (Bulan hari ke 21) yang membentuk separuh piringan Bulan yang tersinaripun tidak akan tampak oleh mata jika Matahari terang benderang. Apalagi cuma hilal. Lihat dua vedeo berikut:











Jadi, sebaiknya umat Islam harus berpuasa pada 20 Juli 2012 yang akan datang karena sebetulnya hilal telah cukup besar meskipun tidak tampak oleh mata sejak maghrib 19 Juli 2012 yang akan datang. Kalau tetap ingin membuktikan bahwa hilal ini harus kelihatan secara fisik, maka harus dicari di belahan Bumi lain yang pada detik-detik tersebut sedang maghrib. Hilal yang tampak di tempat-tempat tersebut adalah hilal yang sama yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Angka ketebalannya mungkin berbeda, namun itulah hilal yang sama. Ingat Bumi dan Bulan itu sendiri bulat. Untuk mengetahui kota2 mana yang dapat digunakan mengintip hilal pada jam-jam tertentu tersebut, silahkan lihat screencast dengan host Screen-O-Matic berikut:

 
http://www.screencast-o-matic.com/watch/clh32HE8y
Atau dalam Youtube:


Semoga bermanfaat

Saturday, February 4, 2012

Winner of Best Paper Award GIMC 2012, Abu Dhabi

Assalamu 'alaykum WW,


For those who are interested in my paper entitled "Undisclosed Potential of Zakat Payment Deficit", the paper is downloadable from https://skydrive.live.com/?sc=documents&cid=69bb9406c840fccd#cid=69BB9406C840FCCD&id=69BB9406C840FCCD%21182&sc=documents


Alhamdulillah, the paper has won the Best Paper Award (1st prize money of US$ 5,000) at the 2nd Global Islamic Marketing Award (GIMC), 17-18 January 2012.


Moreover, I am delighted to inform you that I have been appointed a Country Chair for the Global Islamic Marketing Conference (GIMC) to cover Malaysia, Brunei, and Indonesia (other country chairmanships cover: Turkey, Egypt, Poland, Nigeria, Canada, and Pakistan). The next GIMC will be held in early January 2013. Herewith, I cordially invite you to participate in the GIMC-2013. Other country chairmanship members for Indonesia, Malaysia, and Brunei are joining shortly.

Please be advised that shariah economy now becomes a hot cake and grows quite steadily. These are the following facts that I quoted from the keynote speaker at GIMC-2012, 17-18 January 2012, two weeks back:

1) Islamic finance gains significant popularity follows the economic turmoil in the US and Europe;
2) Currently, Islamic marketing accounts for about US$ 3 trillion and grows at a rate of 15% annually;
3) Halal food market is managing some US$ 66.6 billion per annum;
4) Malaysia is managing the world’s biggest sukuk (Islamic bonds) industry of RM 30 billion;
5) Brazil has appointed a special envoy to manage halal trading with Muslim countries;
6) Researches in Islamic finance, banking, and trading coming from western scientists (i.e. non-Muslim) are growing in numbers.

We are about one year away from the next GIM-2013. The best paper and presentation in the conference will be granted larger prize money next year. In the last GIMC-2012, the 1st prize money was US$ 5,000. 

Herewith, I invite more Muslim scholars to participate in the research on Islamic economy. If you are not a “marketing man”, please do not be discouraged. The conference actually covers a diverse spectrum of Islamic economy.

So, give us your best shot. Come to Abu Dhabi in January 2013.

Wassalam,
Assoc. Prof. Dr. Tono Saksono
Country Chair, Global Islamic Marketing Conference 2013 for Malaysia, Brunei, and Indonesia