Tuesday, November 22, 2011

WASPADA! Potensi perbedaan 1 Ramadan pada 3 tahun berturut-turut (2012 – 2014)



Potensi umat Islam untuk kembali dirundung kesedihan akibat perbedaan penentuan awal Ramadan akan berulang selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada 2012, 2013, dan 2014. Data astronomi untuk 1 Ramadan tahun 1433-H, 1434-H, dan 1435-H tersebut disusun pada Tabel 1 (semua hitungan dilakukan dengan basis Jakarta).


Pada 19 Juli 2012, ijtima akan terjadi pada sekitar jam 11:10 pagi. Saat matahri tenggelam pada jam 17:54, hilal akan berada pada ketinggian 1.9 derajat di atas ufuk. Departemen Agama RI biasanya akan menganulir syahnya saat ini sebagai awal bulan Ramadan karena presumption hilal yang dapat dilihat itu adalah minimum 2 derajat.


Pada 8 Juli 2013, ijtima insya Allah akan terjadi pada jam 16:00 dan saat matahri tenggelam pada jam 17:52, hilal hanya memiliki ketinggian 0.7 derajat. Apalagi ini. Ini pastilah akan tertolak juga oleh otoraitas di Jakarta.


Sedangkan pada 27 Juni 2014, ijtima akan terjadi lebih lambat lagi yaitu pada sekitar jam 17:02. Saat matahari tenggelam pada jam 17:49, hilal akan sangat tipis dan berada pada ketinggian sekitar 0.7 derajat. Jelas inipun rasanya akan ditolak oleh otoritas di Jakarta sebagai awal Ramadan.

ISLAMIC
CALENDAR
GREGORIAN CALENDAR
(dd-mm-yy)
CONJUNCTION
(hh:mm)
SUNSET (hh:mm)
MOONSET (hh:mm)
HILAL ALTITUDE (o)
1 Ramadan 1433-H
19 July 2012
11:10
17:54
18:02
1.9
1 Ramadan 1434-H
08 July 2013
16:00
17:52
17:54
0.7
1 Ramadan 1435-H
27 June 2014
17:02
17:49
17:52
0.7
Tabel 1: Karakteristik matahari dan bulan pada awala Ramadan 1433-H, 1434-H, dan 1435-H
Persoalannya, syarat imkan-rukyat 2 derajat ini jelas mengada-ada karena pada zaman Rasul, ada dua kali dimana ketinggian hilal itu hanya 1.7 dan 1.8 derajat (lihat Tabel 14 di buku Mengkompromikan Rukyat dan Hisab di hal 203 yang saya tulis pada tahun 2007). Selanjutnya, telah secara spesifik disebut oleh Rasul, bahwa melihat hilal itu diperuntukkan bagi kaum ummiy yang tidak memiliki akses pada informasi saintifik dan teknologi. 

Sebetulnya kesulitan melihat hilal itu bukan karena ketinggiannya. Problem yang terbesar adalah karena waktunya yang sangat pendek. Dalam kasus 19 Juli 2012 nanti waktunya hanya 8 menit. Sedangkan pada 8 Juli 2013 dan 27 Juni 2014 berturut-turut akan hanya sekitar 2 dan 4 menit. Jadi ibaratnya perukyat ini mau garuk2 pun enggak bakal sempat. Kondisi psikologis itulah sebetulnya problem terbesarnya. Belum lagi adanya halangan awan, kabut, dan tekanan psikologis pesan sponsor “pokoknya harus enggak kelihatan”.

Selain itu, kelemahan terbesar dari praktek pengamatan hilal yang dilakukan oleh kebanyakan perukyat dan otoritas yang mengorganisasinya (termasuk expert dan konsultanya) adalah tidak adanya sebuah mekanisme untuk memverifikasi apakah betul hilal tersebut kelihatan atau tidak kelihatan. Dalam sebuah masyarakat modern, code of conduct seorang professional itu adalah: apapun keputusan yang diambil harus dapat diverifikasi oleh siapapun, setiap saat. Apalagi jika keputusan itu menyangkut syah dan tidaknya sebuah ibadah bagi ratusan juta umat Islam. Praktek rukyat yang ada tidak memberikan ruang sama sekali bagi masyarakat untuk memverifikasi.

Dalam statistik, jika anda harus mengukur sebuah obyek tapi dilakukan hanya satu kali saja, maka anda akan masuk dalam sebuah perangkap yang dinamakn zero variance. Artinya, sebesar apapun kesalahan dari pengukuran anda, anda tidak mungkin akan mengetahuinya. Kesalahan ini tidak akan dapat diditeksi. Secara sederhana, saya berikan ilustrasi seperti berikut. Anda akan membeli tanah di kampung yang belum mengenal sertifikat tanah. Si pemilik mengklaim panjang tanahnya adalah 30 meter. Ketika anda ukur, ternyata panjangnya cuma 27 meter. Anda tidak mungkin akan dapat mengatakan bahwa ukuran yang yang anda lakukan adalah yang benar. Mengapa? Karena obyek yang diukur cuma satu, dan andapun hanya melakukannya satu kali. Tidak ada redundancy di sana. Bagaimana untuk memverifikasinya, anda harus mengukurnya kembali. Akan lebih baik jika yang mengukur kali kedua adalah orang lain yang independen menggunakan pita ukur yang berbeda dari yang anda gunakan. 

Tapi keadaanpun akan tidak terlalu banyak menolong jika orang independen ini memperoleh angka 28 meter. Apa sebabnya? Karena jika redundant observationnya cuma satu, maka tetap reliability hasil pengukuran tersebut masih rendah. Maka pengukuran ketiga dan lebih baik lagi oleh orang lain lagi akan menolong. Jadi rangkaian pengukuran itu diperlukan sebagai upaya cek untuk memverifikasi pengukuran anda. Kondisi untuk membangun hasil pengukuran hilal yang reliable inilah yang tidak dibangun oleh otoritas di Jakarta. Ngukur hilal (secara kualitatif, kelihatan atau enggak kelihatan), tapi dilakukan tanpa mekanisme cek dan verifikasi. Memang dilakukan oleh ratusan orang di 90 lokasi yang berbeda. Tapi kondisi psikologisnya semua sama, dibawah tekanan yang “garuk2 pun enggak sempat” karena cuma punya waktu beberapa menit saja. Ditambah lagi dengan tekanan politik “pokoknya jangan sampe kelihatan”.

Cilakanya, ratusan juta umat Islam harus percaya pada kuputusan ini tanpa upaya diberdayakan agar mereka mampu memverifikasi keputusan ulil amrinya. Ini bukan saja pseudo science, tapi harus ditambah lagi dengan despotism in science. Persis seperti Moammar Khadafy yang menetapkan bahwa interpretasi Revolusi Rakyat Libya itu ya harus yang persis seperti yang dia maui. Sangat berbahaya pseudo science and despotism in science ini.

Islamic
Calendar
Cities in
American
Continent
Local
Date
Sunset (LT)
Moonset (LT)
(hh:mm)
Hilal
Altitude
(o)
Synchronization
with Jakarta
Date
Time
1 Ramadan
1433-H
Porto Alegre,
Brazil
19/07/2012
17:45
18:27
8.3
20/07/2012
03:45

Santa Cruz,
Bolivia
19/07/2012
17:55
18:32
8.3
20/07/2012
04:55
1 Ramadan
1434-H
Papeete,
Tahiti
08/07/2013
17:38
18:20
9.2
09/07/2013
10:38

Adamstown,
Pitcairn Island
08/07/2013
18:06
18:49
8.9
09/07/2013
09:06
1 Ramadan
1435-H
Papeete,
Tahiti
27/06/2014
17:35
18:17
9.2
28/06/2014
10:35

Adamstown,
Pitcairn Island
27/06/2014
18:02
18:44
8.8
28/06/2014
09:02
Tabel 2: Alternatif kota2 dengan hilal yang cukup tinggi untuk pengamatan hilal pada tahun 2012-2014

Bagaimana cara memverifikasi hasil pengamatan rukyat? Yang jelas, jika di Jakarta saja sudah begitu rendah, adalah groundless untuk melakukan pengamatan di wilayah2 lebih ke timur. Persoalannya, ke barat memang ahirnya jadi merambah pada wilayah teritori politik negara lain. Namun, ibadah kan memang harus bebas dari domain politik, maka upaya melakukan rukyat di wilayah lain adalah syah secara syar’i. Salah satunya diusulkan dilakukan di kota2 seperti pada Tabel 2.  Pada saat magrib tanggal 19 Juli 2012 di Porto Alegre, Brazil, hilal akan ada pada ketinggian sekitar 8.3 derajat. Hilal itu adalah hilal yang sama yang seharusnya kelihatan pada 10 jam sebelumnya ketika maghrib di Jakarta. Kalau enggak kelihatan, itu karena beban psikologis, bukan teknis. Pada saat maghrib di Porto Alegre, tentu saja di Jakarta sudah jam 03:45 tanggal 20 Juli 2012. Tapi, cukup waktu bagi otoritas di Jakarta untuk memberi tahu umat Islam untuk tidak berpuasa karena telah dikonfirmasi bahwa hilal telah lahir dan besar.

Pada Ramadan tahun berikutnya, memang verifikasi harus dilakukan di tempat lain seperti Papeete (Tahiti) dan Adamstown (Pitcairn Island). Saat itu di Jakarta sudah sekitar jam 9 atau 10 pagi (masuk 1 Syawal), tapi masih cukup bagi otoritas di Jakarta untuk meminta umat Islam membatalkan puasanya. Untuk sholat Iedul Fitri dapat dilakukan pada 2 Syawal paginya karena hari itu telah terlambat. Tapi yang paling penting, umat telah diminta membatalkan puasa di hari yang diharamkan.

Nah, dalam hal inilah metode hisab memiliki keunggulan karena compliant dengan kaidah2 professional conduct manusia modern. Ia dapat diverifikasi oleh siapapun dan kapanpun. Kalau ada yang tidak bisa memverifikasi, sebetulnya yang tepat belum mampu. Kalau mau sedikit belajar, akan sangatt mudah bagi setiap orang untuk melakukan verifikasi. Yang paling penting, kita enggak bakal punya Kelender Islam bila tetap harus merukyat. Hisablah satu2 nya cara untuk membangun Kalender Islam yg kredibel. Wallahu ‘alam bis showab.

Wassalam,
Tono Saksono

Tuesday, November 1, 2011

Moon phase animation


Assalamu’alaykum WW,

Remember we were split in concluding our Ramadan fast three months back? Some Muslims in South-East Asian countries performed Ied prayer on 30/8/2011, but some of them did it on 31/8/2011. Ever wonder why and how this happens? This moon-phase simulation might be useful for you to understand the complexity of astronomical phenomena graphically. A UTHM computer science student who is completing his PSM has helped me coding this, as part of my research. This is an exe file, so you just need to download it from my blog, extract it (winrar), and there it is, ready to run. Please DOWNLOAD here by opening Shared Documents and look for Moonphase Window.

The animation is composed of three modules.

The main module shows the position of three celestial bodies, the moon, the earth and the sun. You can drag the moon freely to show the phase of the moon at any position you like. You can also drag the man standing on the earth’s surface which actually representing the rotation of the earth along its axis and produces apparent movement of the sun and the moon so they look orbiting the earth.

The right module consists of two parts. The upper one is called “Moon Phase” that is showing the illuminated part of the moon that is facing to us on the earth’s surface regardless whether or not it is visible. The invisibility of the illuminated part of the moon is caused by: 1) When the sunlight is too bright e.g. during daytime so that it attenuates visibility quality of the moon, or 2) We and the moon are in different hemispheres so that we won’t be able to see it. The lower part is called “Horizon Diagram”. You can change its orientation so you can see the western, eastern, northern, or southern parts of our hemisphere by dragging it using mouse. It also shows the projected position of the sun and the moon onto the celestial sphere at radius of infinity in such a way that the moon and the sun at their apparent movement look in the same apparent orbit. This is exactly as indicated by Ya-Sin 38-40 in the Qur’an. Please note that the upper hemisphere where the man is standing is dark when the sun sets in the western horizon, and it is bright when the sun rises in the eastern horizon.

The bottom module has two parts as well. The left one “Animation Time Control” gives you options to run the simulation automatically at animation rate you like, or if you want to run the simulation manually by animation increment choice of you like (minutely, hourly, or daily). The right part, “Diagram Option”, is an option you may choose as benchmark (self explanatory).

In order to understand the disputed conclusion of last Ramadan, please start the simulation at sunset position (that is when the whole sun’s UPPER disk touches the horizon); however, put only the LOWER moon’s disk touches the horizon. You can obtain these positions by dragging the man and the moon in the central module by looking at the position of the sun and the moon in the “Horizon Diagram”. To some extents you might need to combine it by functioning “Animation Increment” control manually. At this position, the whole moon’s disk is still perfectly above the horizon and therefore the altitude of the moon is roughly 0.5 angular degrees. MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, and Singapore) countries put a prerequisite that the minimum moon altitude is 2 angular degree (there are additional prerequisites, but we do not discuss it here) in order to confirm the beginning of an Islamic month i.e. lunar month. However, for a pure proponent of astronomical calculation, this position (even less than 0.5 degrees) has already confirmed the commencement of an Islamic month because the hilal (crescent) has actually been born although it might not be visible to human eyes because its altitude is too low. In the mean time, you actually can see an illuminated slit in the “Moon Phase” diagram on your top right module. For the time being, define this as sunset of 29/8/2011.

Now, tick “show time tick-marks” in “Increment Animation” module and click the “hour increment” until the man is at observer’s local time of about 4:00 AM. Be reminded that the man is now at 4:00 AM on 30/8/2011. The crescent in “Moon Phase” module is also getting larger. However, the man and the moon are located in different hemispheres; therefore, the hilal is not visible although it was 300% wider than 9-10 hours ago (when the sun set). However, if you called your relatives or friends in Chile, at that particular time the sun was about to set in Santiago, Chile. At sunset on 29/8/2011 in Santiago, the hilal’s altitude was about 11 angular degrees in Santiago, much higher than the minimum 2 degrees required by MABIMS. At that particular moment in time, it was about dawn time (subuh) 30/8/2011 in Malaysia, and hilal’s altitude was about -37 angular degrees (below eastern horizon of Kuala Lumpur).

You may proceed clicking the “hour increment” until about 10:00 AM Malaysian time. If you called your friend in San Diego, it was about sunset in California, and the hilal was at an altitude of 3 angular degrees in San Diego. At that particular point in time (sunset on 29/8/2011 in San Diego), the hilal was actually located at an altitude of +34 angular degrees (above of eastern KL’s local horizon) on 30/8/2011 at about 10:00 AM. We should have been able to see an even larger hilal (about 500% wider); however, at 10AM, the sunlight intensity was just too strong, therefore the hilal was invisible either. Will you dare to say that the hilal has not been born because you are unable to see it?

It is therefore obvious that the hilal’s birth does not need to be confirmed by physical sighting except for illiterate people as clearly indicated in Rasul’s hadith. For those who are literate, rather than practicing moonsighting at random geographical points, one should have gone to either Santiago or San Diego to confirm the birth of the hilal. They should then text their brothers and sisters in South-East Asia to refrain from fasting as the hilal is already born (even pretty large). Remember, it is actually prohibited to fast on that day. Either way, one will not be able to construct an Islamic calendar; otherwise the maximum duration of the Islamic calendar is only exactly one month. Every month we have to do moonsighting, and Islamic calendar never exists. This is exactly the situation we have today. Please bear in mind also that cities for confirming the birth of the hilal are actually changing from one month to the next because the lunar date line (LDL) is also changing in somewhat random manner. Of course, astronomical calculation will be able to determine accurately which cities are to be used to confirm the hilal’s birth every month, even well in advance. At the end of the day however, you then have to trust astronomical calculation to confirm the birth of the hilal. Only with a robust astronomical calculation, an Islamic calendar for 100 years to come can be constructed accurately today, just like people are capable of determining solar eclipse that will happen 100 years from now.

This moon-phase simulation has not applied a robust calculation as its purpose is just to show graphical simulation of the moon phase by changing the associated parameters namely, position of the moon in its orbit, position of the man on the earth’s surface, etc. However, we are currently developing robust simulation software based on a robust astronomical software platform Stellarium (open source). Several benchmarks to further reconfirm the commencement of an Islamic month (from scientific and shariah view points) will be given as well. These two animation software, in addition to other software, will be provided as bonuses for my book (writing in progress) that isnya Allah will be published by Penerbit UTHM.

Please feel free to contact me should you find any shortcomings or difficulty in understanding the animation. DOWNLOAD HERE by opening Shared Documents and look for Moonphase Window

Wassalam,

Tono Saksono