Tuesday, August 3, 2010

Sun’s and Crescent’s characteristics toward Ramadan 1431-H



Menjelang 1 Ramadan 1431-H yang akan datang, karakteristik hilal akan kurang menguntungkan bagi umat Islam yang menganut madzhab bahwa hilal harus dapat dlihat oleh mata (khususnya bila harus tampak dengan mata telanjang). Penyebabnya karena ketinggian hilal pada tanggal 10 Agustus 2010 yang akan datang akan hanya sekitar 2,8 derajat di atas horizon Jakarta (lihat Tabel-12 pada buku Mengkompromikan Rukyat & Hisab, hal 197). Di horizon Kuala Lumpur, Malaysia, ketinggian hilal bahkan lebih rendah, sekitar 2,3 derajat. Keduanya hanya sedikit di atas nilai ambang ketinggian minimum hilal yang dipersayaratkan oleh Departemen Agama Indonesia (2 derajat) untuk menentukan syahnya masuk tanggal satu bulan Islam.

Berikut ini analisis karakteristik Matahari dan hilal (Bulan) dari tanggal 9-26 Agustus 2010 yang akan datang. Perhitungan astronomis pada tabel-tabel berikut dilakukan dengan menggunakan beberapa software astronomi sebagai pembanding dan upaya double check. Perbedaan waktu-waktu Matahari tenggelam, Bulan terbit, dan Bulan tenggelam pada umumnya sama antara beberapa software. Ada beberapa perbedaan di sana-sini sampai maksimum satu menit (baca: menit waktu). Ini disebabkan oleh pendefinisian koordinat yang berbeda antara kota-kota tersebut. Harus diingat bahwa perbedaan satu detik (baca: detik sudut) koordinat (lintang atau bujur), berarti perbedaan lokasi yang kira-kira sebesar 30 meter di permukaan Bumi. Dengan demikian perbedaan waktu terbit dan tenggelam benda-benda langit tersebut masih dalam batas yang tolerable. Terutama karena penentuan waktu-waktu ibadah mahdoh umat Islam umumnya menyangkut wilayah geografi yang cukup luas, misalnya dalam satu wilayah kabupaten yang rentang diameternya sampai puluhan kilometer.

Untuk kota Jakarta, ketika Matahari tenggelam pada jam 17:55 tanggal 10 Agustus yang akan datang, hilal baru akan tenggelam sekitar 12 menit kemudian (jam 18:07), sedangkan ketinggian hilal adalah 2,8 derajat di atas horizon lokal Jakarta. Secara astronomis maka pada maghrib tanggal 10 Agustus 2010, maka 1 Ramadan telah syah, dan dengan demikian tanggal 10 Agustus malam, umat Islam seharusnya telah mulai sholat tarawih, dan melaksanaan saur dan puasa pada tanggal 11 Agustus. Namun, bagi mereka yang masih ragu-ragu untuk menggunakan perhitungan astronomis, akan tetap melakukan rukyat (melihat hilal) di posisi-posisi tertentu yang telah ditetapkan oleh Departemen Agama Indonesia. Dengan ketinggian hilal yang sangat rendah dan bagian Bulan yang tersinari Matahari hanya kurang dari 1% saja (lihat tabel), pada umumnya upaya melihat hilal akan gagal. Pada kebiasannya pula, umat Islam yang tetap berketetapan bahwa hilal harus dapat dilihat, akan menetapkan 1 Ramadan pada hari berikutnya yaitu pada 11 Agustus, sehingga baru akan puasa pada tanggal 12 Agustusnya.

Namun demikian, seperti juga analisis pada tahun-tahun yang lalu, sbagai upaya konfirmasi akan syahnya 1 Ramadan jatuh pada saat maghrib 10 Agustus 2010 yang akan datang, posisi astronomis Matahari dan Bulan pada tanggal-tanggal 22, 23, dan 24 Agustus 2010 yang bertepatan dengan tanggal 13, 14, dan 15 Ramadan juga diberikan pada tabel. Seperti diketahui, pada tanggal-tanggal 13, 14, dan 15 inilah yang dinamakan hari-hari ayyami al-biydh atau hari-hari putih Dinamakan demikian karena pada hari-hari ini kota Jakarta akan mengalami siang terus menerus karena sebelum Matahari tenggelam, Bulan purnama (13, 14 dan 15 bulan Islam) telah terbit, sehingga selama 3 hari ini Bumi tidak mengalami malam (gelap). Di luar bulan Ramadan, maka pada hari-hari putih inilah umat Islam disunnahkan berpuasa.

Tabel ini jelas menunjukkan bahwa bila hari pertama puasa 1 Ramadan jatuh pada 12 Agustus, maka tanggal 25 Agustus bukan merupakani salah satu dari tiga hari putih (al-ayymi al-biydh) dan oleh karenanya, seharusnya hari pertama puasa 1 Ramadan memang jatuh bertepatan dengan 11 Agustus 2010.

Penjelasan yang sama dengan data astronomis yang sedikit berbeda dapat dilihat juga untuk tabel karakteristik Bulan dan Matahari untuk wilayah Kuala Lumpur sebagai pedoman menentukan awal bulan Ramadan 1431-H. Wallahu ‘alam bi shawab.



0 comments: