Sunday, September 13, 2009

Astronomical Analysis of Iedl Fitr 1430H

Astronomically, insya Allah, Ramadan 1430H will end when the Sun sets on the early eve of 19 September 2009. Conducted checks using astronomical software independently developed by three independent organizations reveal that the conjunction that marks the transition of monthly cycle of the moon orbiting the earth will occur at about 1:43 AM Jakarta time, or 2:43 AM Kuala Lumpur time on 19 September 2009. Conjunction refers to the very near approach of one celestial object (e.g. the sun) to another (e.g. the moon), as seen in the sky from a third heavenly body (the earth). In this position, the unlit part of the moon surface is perfectly facing to the observer on the earth; therefore, the moon will be totally black and invisible to our eyes. This condition marks the ‘new moon' in astronomy.

5 comments:

ahmad said...

Pak, Tulisan ini sangat Bagus dan sangat berguna buat acuan Lebaran teman-teman di tanah air. Tapi saya mendapatkan kesulitan untuk men "FORWARD" nya ke teman-teman lain nya. Saya kira Tulisan yang sangat strategis ini ada baiknya jika di sebar luaskan dengan cara yang mudah untuk diteruskan pada masyarakat luas, misalnya juga melalui e-mail. Terima kasih.

Tono Saksono said...

Pa Dayat, sebetulnya gampang, Pa. Pada link berikut ini di 'klik kanan', akan muncul pull down menu. Kemudian ikuti dan masuk ke 'copy link address' dg menggunakan mouse kiri (klik kiri), maka link tersebut akan tersimpan di memory. Kemudian Bapk tulis apa saja introduction unt temen2, kemudian selipkan link pd memory tadi dg menggunakan 'klik kiri' dan pilih 'paste' spt berikut http://cis-saksono.blogspot.com/2009/09/astronomical-analysis-of-iedl-fitr.html. Saya enggak bisa mengirim ini ke Bapak bila melalui FB. Jadi itu yg termudah. Maaf dan selamat mencoba

Amir said...

As, wr, wb. Pak Tono yg baik. Saya juga gak bisa buka artikel lengkapnya. Kalau bisa di kirim ke INKINDO akan lebih baik Pak.
Terima kasih banyak
Wassalam
Amir Sartono

rois said...

Assalaamu'alaikum, wr, wb.

Pak Tono, saya ingin bertanya dua hal:
1. Ketika tinggi hilal 0 derajat, darimanakah jarak o derjat itu dihitung dari horizon: dari titik pusat lingkaran rembulan ataukah dari bagian keliling lingkaran rembulan yang terdekat dengan horizon?
2. Pada saat tinggi hilal 0 derajat, berapakah persen iluminasi bulan? Jika tidak bisa diukur, mungkinkah kita menyatakan bahwa hilal sudah wujud?
Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang Bapak berikan.
Wassalaamu'alaikum, wr, wb.

Tono Saksono said...

Benda langit dikatakan tenggelam kalo seluruh bolanya tlh hilang dibawah ufuk (terbit, jika bagian teratas bolanya baru muncul dari ufuk). Tinggi benda langit itu selalu diukur thd titik pusatnya. Jadi ketika dikatakan tinggi hilal 0, sbtulnya msih ada tanduk yg di atas ufuk, dan belum tenggelam seluruhnya. Jadi menurut sy udah wujud.