Friday, August 22, 2008

How much gold do you have in your coffer

Tono Saksono, Ph.D

Sejak dulu kala, bahkan sejak peradaban kuno seperti zaman Pharaoh (raja-raja Mesir kuno), bangsa Inca, bangsa Indian sub-kontinen, Persia, bahkan kisah-kisah seribu satu malam dan perjalanan Jalan Sutera (silk route), emas telah menyihir umat manusia sebagai simbol kemewahan duniawi. Di dalam Al-Qur’an pun, Nabi Sulaiman AS, yang diperkirakan hidup pada sekitar 978-920 tahun sebelum Masehi, juga digambarkan sebagai nabi yang sangat kaya di mana istana kerajaan beliau selalu digambarkan dengan sangat mewah dan penuh dengan emas dan permata. Di sisi lain, emas juga telah lama menjadi sumber ketamakan dan simbol kerakusan manusia.

Ketika tentara kerajaan Spanyol pimpinan Francisco Pizarro menundukkan kerajaan Inca dan menahan rajanya, Atahualpa, pada tahun 1529-M, dikisahkan Atahualpa berjanji akan memberikan tebusan emas sepenuh kamar tahanannya ditambah dengan perak sebanyak dua kalinya, untuk pembebasannya. Dengan janji emas ini, tentara Spanyol kemudian membunuh rival Atahualpa, Huascar, meskipun akhirnya Atahualpapun dibunuh oleh Pizarro pada tahun 1533.

Di jaman moderen, kita mengenal gold fever (demam emas) yang melanda peradaban manusia. Kita mengenal Klondike Gold Rush di Amerika pada tahun 1896 ketika George Carmack menemukan deposit emas yang cukup besar di Bonanza Creek, yang kemudian menyebar secara cepat ke seluruh Amerika Utara. Sebelumnya pada tahun 1848, dunia juga mengenal California Gold Rush yang pertama kali ditemukan oleh James Marshall. Berita penemuan ini dengan cepat menyebar yang kemudian mengundang para pemburu emas bahkan dari seluruh dunia. Gold rush seperti ini dalam skala tertentu memang berdampak positif. San Francisco yang semula merupakan desa kecil kemudian berkembang menjadi kota besar. Jalan, sekolah, gereja dan beberapa kota satelit kemudian dibangun, sistem hukum dan pemerintahan juga dikembangkan yang berujung diterimanya California sebagai salah satu negara bagian dari Amerika Serikat pada tahun 1850. Namun demikian, dampak negatifnya juga sangat luar biasa karena penduduk asli Amerika diserang, dibunuh atau setidak-tidaknya terusir dari tanah leluhurnya yang menimbulkan ketegangan etnis dan ras, bahkan genosida. Sementara lingkungan hidup telah menjadi rusak akibat aktifitas penambangannya.

Allah telah berfirman:


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali-Imran: 14).

Emas telah lama dijadikan ukuran seberapa kaya seseorang. Dengan demikian, berapakah emas yang telah Anda berhasil kumpulkan selama hidup Anda dan telah menyita waktu Anda untuk menghitung-hitung nilai koleksi Anda itu? Marilah kita lihat peristiwa yang maha dahsyat berikut.

Pada sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu, sebagai cikal-bakal seluruh alam semesta ini, para ahli astrofisika mempercayai bahwa terdapat sebuah massa yang sangat kecil yang saking kecilnya dianggap tidak memiliki dimensi (dimensionless atau zero volume) sebagai upaya penolakan bahwa sebetulnya semula tidak ada apa-apa. Penolakan ini dilakukan karena bila dikatakan tidak ada apa-apa dan kemudian menjadi ada maka konsekuensinya adalah adanya pengakuan pada proses penciptaan oleh Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Namun demikian, para ahli astrofisika percaya bahwa partikel zero volume ini memiliki kepadatan yang sangat luar biasa sehingga kemudian menimbulkan sebuah ledakan yang sangat besar, kemudian dikenal dengan Big Bang, dan kini telah menghasilkan benda-benda langit (bintang, planet, satelit, komet, asteroid, dll). Sekumpulan benda langit tersebut tergabung dalam galaxi, sementara galaxi-galaxi ini terkumpul menjadi kelompok galaxi (clusters of galaxies), dan kemudian menjadi super bahkan super-super clusters of galaxies. Ukuran dan bentuk galaxi juga bermacam-macam. Sebuah galaxi kecil hanya terdiri atas beberapa puluh miliar bintang, galaxi berukuran sedang merupakan himpunan atas ratusan miliar bintang, sementara galaxi besar dapat memuat dua triliun bintang. Untuk melengkapi keheranan kita semua akan betapa luasnya alam semesta ini, ternyata diperkirakan ada 100-200 miliar galaxi di alam raya ini.

Gugusan bintang sendiri baru terbentuk pada sekitar satu miliar tahun kemudian setelah Big Bang. Bumi tempat kita berhuni, misalnya, baru terbentuk sekitar 4-5 miliar tahun yang lalu, sementara kehidupan di Bumi ini baru terditeksi pada sekitar satu miliar tahun lalu dimana Bumi pada saat itu, mulai dianggap habitable.

Dari tiliunan-triliun jumlah benda langit (secara aritmatik mungkin jumlahnya adalah sekitar 1 dengan 23 nol di belakangnya), ukuran Bumi kita ini sangat kecil sekali. Akan diperlukan sekitar 1,3 juta Bumi untuk mengisi seluruh ruang Matahari yang kita lihat karena radius Matahari adalah 103 kali radius Bumi. Padahal dalam galaxi Bima Sakti di mana tatasurya kita berada terdapat sekitar 100 miliar bintang yang ukurannya jauh lebih besar dari Matahari. Bintang Antares yang letaknya sekitar 600 ribu tahun cahaya dari Bumi kita, misalnya, memiliki radius sekitar 700 kali radius Matahari kita. Lihat perbandingan dimensi Matahari yang berupa satu titik, bintang Orange Star, dan Red Giant Antares pada gambar berikut yang bersumber dari Wikipedia.
Dengan demikian, bisakah kita membayangkan betapa tidak berartinya Bumi kita yang sudah sangat luas ini jika dibandingkan dengan ukuran seluruh jagat raya ciptaan Allah. Pantas Allah berfirman seperti berikut ini.


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali-Imran: 91).

Jadi, jika cuplikan ayat Kursi berikut mengatakan:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (Al-Baqarah: 255).

Ini bermakna bahwa bila wujud Allah dapat divisualisasikan secara materi, maka Allah itu memang sangat besar dan sangat tinggi, persis seperti ungkapan pada potongan ayat Kursi di atas. Ini sekaligus menjelaskan bahwa emas sebesar Bumi inipun tidak ada artinya apa-apa di depan Allah. Sungguh Allah Maha Besar.

1 comments:

purwati said...

nice article

purwati
http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
http://purwati-ningyogya.blogspot.com
http://purwatining.multiply.com