Friday, July 18, 2008

Analisis awal Ramadan & Syawal 1429H

Tono Saksono, Ph.D

Sebentar lagi, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut dan memasuki bulan suci Ramadan 1429H. Berdasarkan perhitungan astronomi, akhir Sya’ban 1429H akan jatuh bertepatan dengan maghrib pada tanggal 31 Agustus 2008. Dengan demikian 1 Ramadan 1429H akan jatuh pada hari Minggu malam tanggal 31 Agustus 2008 tersebut, dan mulai berpuasa pada Senin, 1 September 2008. Insya Allah tidak akan terjadi perbedaan antara umat penganut madzhab rukyat dan hisab dalam mengawali Ramadan ini karena pada maghrib 31 Agustus 2008 nanti, hilal akan berada pada posisi 6 derajat di atas ufuk (Jakarta), jauh di atas batas 2 derajat yang biasa digunakan oleh Departemen Agama RI. Dalam posisi seperti ini hilal akan tenggelam sekitar 24 menit kemudian setelah maghrib (Matahari terbenam). Sementara itu di kota Mekah, pada maghrib 31 Agustus 2008, posisi hilal akan ada pada ketinggian 4,6 derajat dan akan tenggelam sekitar 20 menit setelah maghrib. Posisi inipun cukup tinggi sehingga, insya Allah, para perukyatpun akan cukup mudah dapat melihat hilal di langit barat kota Mekah yang pada umumnya lebih jernih daripada Jakarta.

Sementara itu, akhir Ramadan yang berdasarkan perhitungan astronomi akan jatuh pada 30 September 2008. Pada maghrib hari itu, posisi hilal malah akan jauh lebih tinggi lagi yaitu pada ketinggian 10,4 derajat di atas ufuk Jakarta. Dalam posisi seperti ini, hilal akan tenggelam sekitar 43 menit kemudian setelah waktu maghrib Jakarta. Sedangkan di Mekah, posisinya akan ada di ketinggian 6,8 derajat di atas ufuk setempat, yang berarti akan tenggelam sekitar 30 menit setelah maghrib waktu lokal. Dengan demikian, potensi perbedaan antara madzhab rukyat dan hisab juga akan lebih tipis lagi (lihat tanda panah pada tabel).

Selanjutnya, seperti terlihat pada tabel terlampir, umat Islam di dunia tampaknya tidak akan mengalami perbedaan pada pendefinisian awal waktu Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah pada tahun 2009 (1430H) yang akan datang karena posisi hilal pada maghrib di waktu-waktu yang krusial tersebut akan cukup tinggi, sekitar 6,3 – 12,1 derajat di atas ufuk Jakarta (lihat tanda awan pada tabel). Potensi terjadi perbedaan baru akan kita alami pada tahun 2010 (1431H) karena posisi hilal pada awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah akan sangat rendah (hanya 1,6 – 2,8 derajat) di atas ufuk Jakarta (lihat tanda oval pada tabel terlampir).

Mudah-mudahan semakin terjadi konvergensi antara penganut madzhab rukyat dan hisab setelah kita semakin memahami tanda-tanda kekuasaan Allah berupa karakteristik pergerakan Bulan, Bumi, dan Matahari ini. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.