Monday, March 31, 2008

Globalization, Ethical Code and Professionalism: What We Can Learn from A Junior High School Student


Globalisasi, Etika Profesi dan Profesionalisme:
Pelajaran dari Murid SMP


Tono Saksono, Ph.D


Dalam acara televisi Star World ada sebuah acara yang berjudul Are You Smarter than a 5th Grader? (Apakah Anda Lebih Pandai daripada Anak SD Kelas V?). Acara yang sangat menarik ini ternyata memberi pelajaran yang sangat berharga: dalam banyak hal kita sebagai orang tua ternyata harus banyak belajar dari anak-anak kelas V SD (5th grader), dalam hal kematangan berfikir, membangun tatalaku profesi, dan membina profesionalisme.

Sejak kecil, anak saya yang nomor tiga (sekarang kelas II SMP) ternyata memiliki minat yang cukup besar pada dunia seni (art). Sejak kelas IV SD dia rajin mengikuti acara ‘ART ATTACK’ melalui Disney Channel yang dipandu oleh seorang seniman Inggris dengan aksen Skotlandianya yang sangat kental. Si Pemandu memberi pelajaran kreatifitas dalam menghasilkan karya-karya seni dengan menggunakan bahan-bahan yang digali dari lingkungan, bahkan sampah di sekitar kita. Acara ini memang sangat menarik. Selanjutnya, ketika dia duduk di kelas VI SD, minatnya pada bidang seni mulai lebih terarah karena pengetahuannya tentang pengoperasian program desain grafis semacam Adobe Photoshop dan pembuatan blog pribadi semakin membaik. Dalam saat yang bersamaan, dia mulai masuk ke komunitas deviant art (http://www.defiantart.com/) peminat disain grafis remaja. Pada dasarnya deviant art adalah situs yang menyediakan galeri bagi para peminat disain grafis anggotanya dalam berbagi pengalaman. Maka mulailah dia masuk ke dalam komunitas berskala global.

Yang menarik, komunitas anak-anak remaja ini ternyata merupakan komunitas pembinaan profesi yang sangat moderen, dengan tanda-tandanya sebagai berikut:



  • Anggotanya adalah jutaan remaja di seluruh dunia. Tidak semuanya merupakan anggota aktif yang memang memiliki minat meningkatkan keterampilan disain grafisnya. Lebih banyak lagi di antara anggotanya adalah anggota pasif yang hanya menjadi penikmat hasil karya anggota komunitas maya yang lain;

  • Mereka saling berbagi segala sesuatu tentang disain grafis yang meliputi hardware, software maupun teknik-teknik pembuatan disain grafis yang detil;

  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, etika profesi dan saling kontrol. Bila ada sebuah gambar yang dipublikasikan oleh anggotanya, seluruh anggotanya di seluruh dunia akan memantau apakah ini merupakan sebuah karya asli atau hanya jiplakan. Plagiarism betul-betul diperangi oleh komunitas ini, sehingga anggota yang melakukan plagiat, langsung akan dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari komunitas ini;

  • Pembinaan kesetiakawanan yang tulus telah mulai dibangun. Pernah ada seorang anggotanya di Spanyol kebetulan sakit. Maka sekelompok anggota ini kemudian berinisiatif untuk mendisain sebuah poskar (postcard) sebagai tanda simpati dan mendoakan agar cepat sembuh. Anak saya kebetulan yang menjadi salah seorang kontributor yang diminta untuk menyumbangkan gambarnya. Sungguh sangat menyentuh ketulusan dan kesetiakawanan anak-anak globalisasi ini.

Gambar-gambar para remaja ini umumnya adalah gaya Manga School, gaya komik Jepang yang sangat populer di kalangan remaja dengan tokoh sentralnya yang terkenal seperti Naruto. Karena pengaruh budaya Jepang inilah, maka komunikasi juga dilakukan bukan saja dengan bahasa Inggris tapi juga, to a lesser extent, dalam bahasa Jepang. Yang menakjubkan adalah: anak-anak ini mempelajari bahasa Jepang ini justru dengan menggunakan buku teks yang berbagasa Inggris. Mereka juga saling berbagi buku-buku teks semacam ini. Pernah suatu ketika saya mengkritik teks blog anak saya yang saya pikir salah secara gramatikal bahasa Inggris. Anak saya menjawab: Papah sih enggak gaul, ini kan bahasa slang di Amerika. Semua kegiatan di atas dilakukan sepenuhnya dalam dunia maya. Beberapa kelompok yang tinggal di kota yang berdekatan mungkin saja melakukan copy darat (jumpa secara fisik para anggota komunitas maya), namun sebagian besar anggota komunitas ini tidak pernah berjumpa sama sekali.

Pada minggu lalu, bertempat di Sekolah Insan Cendekia (sekolah menengah unggulan yang didirikan oleh Presiden Habibie dalam mempersiapkan tunas-tunas muda Indonesia masa depan), diselenggarakanlah beberapa lomba ilmiah antara murid-murid SMP dan SMA se Jabodetabek. Anak saya terpilih mewakili sekolahnya sebagai peserta lomba disain grafis. Alhamdulillah dia terpilih menjadi Juara-1 lomba dengan peserta murid SMP & SMA se Jabodetabek ini. Karyanya menampilkan tiga buah poster yang bertemakan: Love & Prosperity, Freedom & Justice, dan Faith & Obedience. Selain gambarnya memang bagus, ternyata salah satu nilai penting yang dia peroleh adalah karena dia menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika profesi dalam karyanya. Pada poster yang pertama dalam gambar terlampir, dia menjelaskan bahwa gambar padi dan kapas yang dipegang oleh si anak gadis dia ambil dari wikipedia. Banyak peserta lain yang ternyata dalam ujian wawancara baru ketahuan bahwa beberapa gambarnya adalah hasil comot sana-sini dari gambar yang tersedia di internet, tanpa memberikan acknowledgement. Jadi prinsip-prinsip kejujuran akademis dalam komunitas ilmiah telah diterapkan oleh anak saya, karena dia telah terdidik dalam komunitas deviantart yang telah membangun profesionalisme anggotanya.

Sebagai follow up dari prestasinya ini, ada sebuah majalah terkenal dan sebuah perusahaan games yang kemudian mengontak anak saya untuk menjadi ilustratornya. Katanya, dimulai dengan status non commercial. Namun, saya sangat yakin, inilah pintu masuknya menuju sebuah dunia pembelajaran sesuai dengan minat dan profesinya di masa yang akan datang. Penghargaan berupa pengakuan profesionalisme dalam indutri ini tentunya akan otomatis mengikuti sesuai dengan perjalanan waktu. Semoga Allah menuntunnya meniti jalan yang lurus dalam menuntut ilmu dan memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya nanti.


Jadi, para orang tua, ternyata kita juga harus banyak belajar dari anak-anak kita.