Wednesday, January 16, 2008

Where is God?

Dimanakah Allah?

Tono Saksono, Ph.D

Saya pernah terlibat diskusi dengan seorang ahli komputer berkebangsaan Jerman, yang akhirnya melebar ke diskusi spiritual. Dia mengatakan: “Ah, saya sama sekali enggak bisa mengerti kalau Tuhan itu benar-benar ada. Bagaimana mungkin Dia menurunkan hujan di sini, kemudian menciptakan ribuan mungkin jutaan bayi di seantero Bumi, sementara Dia juga mematikan jutaan orang lain pada saat yang sama, menumbuhkan jutaan pohon di tempat lain, semua sendirian. Coba bayangkan betapa sibuknya Tuhan?”. Menurut saya, pertanyaan ini sangat naif. Saya kemudian bertanya: “Apakah Anda percaya bahwa diperlukan hanya satu orang saja untuk memadamkan semua saluran listrik di seantero Jakarta ini dengan hanya menekan satu tombol di sebuah pusat pengendali?” Jadi memang meskipun seorang ahli komputer, sahabat saya ini ternyata sangat naif karena menganggap hanya manusialah yang memiliki kemampuan menciptakan komputer. Padahal mungkin Allah juga menggunakan perangkat sejenis, atau minimal sebuah perangkat otomatis sejenis yang namanyapun tidak harus komputer, tapi dengan fungsi yang justru jauh lebih canggih, bahkan tak terbayangkan betapa canggihnya. Semua pengoperasian isi jagat raya ini juga mungkin dikendalikan oleh Allah melalui sebuah pusat pengendali yang telah terprogram layaknya manusia mengendalikan pusat catu daya tenaga listrik di seantero Jakarta tadi.

Pertanyaan-pertanyaan semacam di atas banyak dikirimkan ke saya oleh para pembaca melalui email setelah membaca tulisan-tulisan saya di blog ini. Pertanyaan itu: sejenis: “Dimanakah Allah?” Menurut saya, pertanyaan seperti ini sangatlah wajar. Sebagai satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang memiliki kecerdasan, pesaing kita hanyalah seekor chimpanse atau burung betet yang paling banter bisa mencocok-cocokan angka atau huruf dalam pertunjukan-pertunjukan sirkus. Itupun setelah dilatih bertahun-tahun dan hanya sampai di sanalah kemampuan “kognitif” hewan-hewan tersebut. Dengan hanya pesaing-pesaing seperti ini, wajarlah bahwa manusia merasa bahwa semua isi alam semesta ini bisa dia mengerti A, B, dan C nya. Jadi memang wajar kalau manusia terlalu memiliki kepercayaan diri yang kadang-kadang terlalu berlebihan. Terminologi yang lebih halus untuk mengatakan terlalu sombong.

Buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk

Ketika di Sekolah Menengah Pertama dulu, buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk (TKVDW) karangan Buya HAMKA adalah buku wajib yang harus dibaca oleh semua murid SMP dalam mata pelajaran Kesusasteraan. Ini adalah kisah roman antara dua tokoh utamanya yang sangat menyentuh hati, meskipun saya sudah agak lupa juga tentang kisah detilnya. Padahal saya bahkan masih dapat mengingat sebagian besar tokoh kisah silat Siauw Tiauw Eng Hiong atau Sin Tiauw Hiap Lu saduran Boe Beng Tjoe. Para pembaca TKVDW mungkin ada yang bertanya-tanya: “mana HAMKA nya, kok enggak ada di buku ini?” Tentu saja Buya Haji Amdul Malik Karim Amrullah, ulama kharistamik ini tidak ada di buku tersebut karena beliau adalah pengarang (baca: “pencipta”) buku roman TKVDW tersebut. Beliau sedang menceriterakan kisah roman dua tokoh buku ini, namun beliau tidak harus ada dalam buku tersebut. Demikianlah padanan sederhana bagaimana menghayati keberadaan Allah SWT. Allah sedang membentangkan sebuah hikayat kehidupan seluruh jagat raya dengan tokoh utamanya manusia, karena hanya manusialah yang memiliki kelebihan kecerdasan dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Untuk itu, kemudian Allah memberikan sebuah pedoman pengelolaan seluruh isi jagat raya ini dalam bentuk kitab suci Al-Qur’an. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa seluruh jagat raya ini sebetulnya ditundukkan untuk manusia (tentang ini, saya jelaskan dalam buku saya yang dalam proses penerbitan berjudul: Menembus Penjuru Langit dan Bumi). Perbedaannya, karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia, maka Allah menyebut-nyebut diri-Nya dalam kitab ini. Kitab ini adalah petunjuk bagi manusia, jadi Allah sendiri sesungguhnya tidak memiliki kepentingan dengannya. Kesimpulannya, Allah tidak harus menjadi bagian dari isi alam raya ini, karena Dia-lah pencipta, pemilik dan penguasa semuanya.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Apakah tidak kamu perhatikan bahwa Allah telah menyerahkan (untukmu) semua isi ruang angkasa dan bumi. Dan Dia telah menyempurnakan kepadamu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebagian manusia tidak mempercayai bahwa Allah Maha Tunggal, tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tidak pula ada kitab yang memberi penerangan. (QS 31, Lukman 20)

Kisah Arsitek Jenius

Mari saya ajak ke sebuah kisah khayal. Alkisah ada seorang arsitek jenius yang mampu membuat perencanaan dan pembangunan kota Jakarta dan sekitarnya seorang diri, tidak ada orang lain yang membantunya. Khayalkanlah bahwa tidak ada manusia lain di kota Jakarta tersebut. Selain itu, hiduplah pada lansekap perkotaan Jakarta itu beberapa jenis binatang melata dan sekumpulan kumbang. Si arsitek jenius ini kemudian memberikan sebuah buku pedoman hidup dan cara-cara pengelolaan ekosistem kota bagi para penghuninya, beberapa jenis binatang tadi, yang kebetulan bisa membacanya dan mendiskusikannya dengan hewan-hewan lainnya.

Seekor kadal, katak, dan hewan melata lain kemudian bertanya: “Di mana si Jenius kok enggak pernah kelihatan? Karena kita tidak pernah ketemu si Jenius, pastilah ini hanya pedoman bohong-bohongan!” Beberapa ekor lebah kemudian menimpali: “Memang, saya bahkan sudah terbang ke Tangerang, ke Bekasi, dan ke semua pelosok wilayah Jabotabek ini, tapi saya enggak pernah ketemu si Jenius! Jadi buku pedoman ini memang cuman bohong! Keberadaan si Jenius ini berarti hanyalah hayalan dan kebohongan, dan oleh karenanya lansekap kota Jakarta ini telah ada sejak awalnya, muncul dengan sendirinya dan tidak ada yang menciptakan.” Si kumbang berkata dengan sangat sombong karena dialah satu-satunya mahluk yang dapat terbang sehingga hanya kaumnyalah yang mampu menjelajahi semua sudut kota untuk mencari si Jenius.

Padahal, para hewan penghuni Jakarta ini tidak akan mampu menemukan si Jenius karena sebetulnya sang arsitek terus bermukim di Singapura yang tidak terjangkau oleh kepakan sayap si kumbang apalagi oleh hewan-hewan lain yang harus beringsut-ingsut merayap berusaha mencari sang Jenius. Perumpamaan di atas juga adalah perumpamaan yang sangat disederhanakan karena kita tidak akan mampu memberikan padanan yang persis untuk Sang Maha Pencipta Allah SWT. Betapa jeniuspun si arsitek “menciptakan” lansekap perkotaan Jakarta seperti dalam kisah dongeng di atas, kita membuat asumsi bahwa seluruh material yang diperlukan oleh si arsitek untuk membangun lansekap tersebut telah tersedia, begitu juga penghuni-penghuninya yang berupa kumpulan hewan-hewan di atas. Untuk kasus penciptaan yang dilakukan oleh Allah, semua isi alam semesta ini adalah milik-Nya dan Dia ciptakan dengan segala hak esklusif-Nya. Jadi padanan di atas juga jauh terlalu sederhana untuk membandingkannya dengan cara menghayati keberadaan Allah. Keberadaan si arsitek tidak terjangkau oleh pengamatan para hewan penghuni Jakarta ini, meskipun si Jenius masih berada dalam lingkup dimensi yang sama dengan para hewan tersebut. Apalagi dengan Allah yang berada dalam dimensi lain yang manusia tidak akan mampu menginderanya kecuali dengan mata “keimanan”.

Terlalu banyak yang manusia tidak dapat buktikan

Dalam buku saya Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, saya memberikan tiga buah contoh bahwa semua infrastruktur sosial, ekonomi, teknologi peradaban manusia sebetulnya dibangun berdasarkan sebuah asumsi yang dogmatis, termasuk faham ateime dan materialisme (lihat tulisan berjudul: Logika kartun Tom & Jerry: di balik Teori Evolusi di blog ini). Dogma ini tidak akan pernah dapat dibuktikan, tapi harus dipercaya dulu sebagai dogma postulat, persis seperti kita mengimani keberadaan Allah SWT.

Salah satu contoh yang saya berikan dalam buku di atas adalah keberadaan Ibu dan Ayah kita. Saya sangat yakin, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah berusaha membuktikan siapa Ibu dan siapa Bapaknya kecuali menerimanya sebagai dogma postulat (keimanan), berdasarkan: kata si Emang, Pa De, Bibi, Teteh, Simbah dan orang sekampung. Dalam strata sosial masyarakat yang lebih ”civilized” ini bisa berupa akte kelahiran dan pencatatan sipil, yang di Indonesia kemewahan seperti ini barangkali baru dikenal oleh sebagain kecil penduduknya. Namun apakah kita harus percaya saja pada administrasi birokrasi semacam ini? Mengapa kita tidak pernah menggugat? Coba bayangkanlah, bila semua orang di dunia ini mempertanyakan dan harus membuktikan siapa Ibu dan Bapaknya. Bila ini terjadi, maka seluruh infrastruktur sosial peradaban manusia harus di reformat (diformat ulang) seperti hardisk yang terkena virus. Sungguh sangat mengerikan.

Jadi jangankan kita menuntut untuk tahu keberadaan Allah, membuktikan siapa Ibu dan Ayah kita saja kita tidak mungkin dapat melakukannya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bekasi, 16 Januari 2008.

7 comments:

barjono said...

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda : "Yaa Muhammad ! inna ummataka laa yazaaluuna yaquuluuna maa kadzaa, wa maa kadzaa. Hattaa yuquuluu hadzailaahu khalqal khalqa, faman khalaqallaahu", artinya : "Wahai Muhammad, sesungguhnya umatmu senantiasa bertanya : Apa ini ? Apa itu ?, sampai suatu ketika mereka mengatakan : "Inilah Allah yang telah menciptakan makhluk, tapi siapakah yang menciptakan Allah sendiri ?" (HR Anas, Muslim dan Abu 'Awanah, dari Anas r.a)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda : "Laa yuzaalunnaasu yatasaa-aluuna, hattaa yuqaala khalaqallahul khalqa, faman khalaaqallahu. Faman wajada min dzaalika syai'an falyaqul aamantu billah", artinya : "Menusia senantiasa senang bertanya-tanya, sampai mengatakan "Allah telah menciptakan mahluk, siapa pula yaang menciptakan Allah ?". barang siapa yang terkilas (dalam hatinya) pertanyaan yang demikian, hendaklah ia mengucapkan (dngan sepenuh hati) : aku beriman kepada Allah SWT" (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain pula, Rasulullah SAW bersabda : "tafakkaruu fii khalqillaahi wa laa tatafakkaruu fillaahi, fa 'innakum lantaqduruu qad rahu". Artinya : "Berfikirlah tentang makhluk Allah dan jangan sekali-kali berfikir tentang Dzat Allah, karena kalian tidak akan dapat menduga-duga dengan sebenarnya". (HR al-Ashbihani dan Abusy-Syaikh dari Ibnu Abbas r.a)

Apa yang ingin saya sampaikan adalah agar kita jangan sampai terjebak untuk memikirkan Dzat Allah terlalu jauh karena itu jelas-jelas di luar kemampuan kita. Dalam artikel-artikel mengenai ketauhidan yang sudah pernah saya baca - dalam hal Dzzat Allah, kita hanya perlu mempelajari segi-segi uluhiyah, rububiyah dan asma' wa shifat saja. Itu saja yang saya ketahui.
Wallaahu a'lam bish-showab.

Tono Saksono said...

Itu bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah memiliki tauhid kuat seperti Bapak. Yang jadi persoalan, banyak yang menanyakan hal-hal yg muskil seperti ini. Kalau saya menjawab dg jawaban unt orang-2 yg telah tak ada ruang lagi di dalam hatinya dari keraguan atas keberadaan Allah (spt uraian Bpk), memang sangat pas. Yg saya lakukan adl pada orang yg bahkan tak percaya pd keberadaan Allah. Sy berusaha menunjukkan bahwa manusia itu sebetulnya enggak perlu merasa terlalu pintar unt memikirkan zat Allah, karena memikirkan hal2 yg sangat dekat dengan dirinya, yg dihadapinya sehari-haripun enggak mampu menjawab. Jadi spiritnya sebetulnya sama antara pesan2 hadis di atas dg apa yg saya lakukan.

arjunadi said...

Assalamu'alaikum Wr wb
Yth,Pak TOno
Untuk analogi si arsitek jenius yang membuat kota sementara para hewan kebingungan mencari si arsitek yg ternyata bermukim di singapura , apakah analogi tersebut tidak malah menggambarkan betapa jauhnya Sang arsitek dari hewan2 tersebut , trus bagai mana jika membutuhkan pertolongan kalau arsiteknya sangat jauh sekali . dan bagaimana dengan ayat bahwa Allah maha meliputi sesuatu , dan Allah sangat dekat ???

wassalam mua'laikum Wr wb
arjunadi

siraj al-soloni said...

Assalammu'alaikum wr wb,

Sesungguhnya Allah swt sendiri sudah menjawab pertanyaan manusia bab "di mana Allah swt berada". Allah swt menjawab melalui wahyu Qurani (baca Al-Quran dengan teliti)bahwa, Allah swt berada DEKAT dengan manusia, bahkan berada LEBIH DEKAT dari urat nadi leher manusia terhadap dirinya. Demikian pula pertanyaan-pertanyaan mengenai "apa dan siapa" sesungguhnya Allah swt telah dijawab secara gamblang, logis dan rasional serta dialektis, oleh Allah swt di dalam wahyu Qurani sehingga dapat DIBUKTIKAN oleh manusia sendiri. Kunci utama untuk pemahaman logis, rasional,dialektis Islami adalah AKUMULASI ILMU PENGETAHUAN manusia atas alam semesta seisinya termasuk atas DIRI manusia sendiri. Pada zaman wahyu Qurani diturunkan kepada rasulullah Muhammad saw, akumulasi ilmu pengetahuan manusia masih belum sedalam dan seluas dewasa ini. Sehingga horizon pengamatan manusia masih banyak dihalangi oleh banyak halangan budaya, tradisi dan ahlaq biologis manusia. Dewasa ini sudah lahir banyak sekali sarjana Muslim yang menguasai ilmu pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan yang memungkinkan meluasnya dan mendalamnya horizon pengamatan kaum Muslimin. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa, Allah swt telah menurunkan ayat-ayat NYA kepada alam semesta seisinya langsung dan kepada manusia melalui para utusan NYA dalam model ayat-ayat Torah, Zabur, 'Injil dan Al-Quranu al-Kariim. Al-Quran memang betul PETUNJUK untuk hidup secara manusiawi dalam konteks sebagai WAKIL ALLAH SWT DI BUMI (kholifatan fii al-ardzh)tetapi juga merupakan PEDOMAN dalam memahami alam semesta seisinya termasuk diri manusia sendiri. Alam semesta seisinya dan Al-Quranu al-Kariim itu seperti mata uang logam dengan dua muka berbeda gambar dan tulisannya tetapi adalah KESATUAN MANUNGGAL yang tidak mungkin dipisah-pisahkan.

Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam,

Wassalam,

Tono Saksono said...

Pa Arjunadi & Pa Siraj Yth,

Ya memang perumpamaan yg saya berikan jauh sekali dari yg ideal. Saya juga sudah sampaikan dalam tulisan saya. Si arsitek membangun kota Jakarta tapi kan asumsinya semua materialnya sudah disediakan. Padahal bila Allah menciptakan maka semuanya Allah ciptakan sendiri. Tidak akan ada contoh yg dapat digunakan bahkan untuk menggambarkan kemahakuasaan Allah selain keimanan atas kemutlakan-Nya.

Anonymous said...

Greetings Mr.Tono,

I'm a Malaysian citizen and i've came upon your blog. Saya fikir.. do you think there is a purpose God created humans? dan adakah Islam hanya sekadar satu agama sahaje?

Looking towards your reply. Thank you

Tono Saksono said...

Thanks for ur interests in my blog. The only purpose Allah created humans as indicated in the Qur'an is to submit themselves completely to Allah. Therefore whatever activity we are doing, they should comply with a absolute devotion to Allah. Islam is not the only guidance from Allah of course. He mentions in the Qur'an three other holy books (zabur, toreh, and bible), each came after the other as guidance for men in way of the submission to Allah. However, all of them are concluded by Qur'an. There are other what has been claimed as religions other that the four above. But, look at all of them. Only Qur'an that guides us to the full submission to the ceator of the universe. And only Qur'an guides us that He is incomparable to other things. He is even much greater that the whole universe.
Anyway, since ten months back, I am lecturing in Malaysia, so maybe we can discuss further should you think it is necessary.