Saturday, January 19, 2008

The universe, subjected unto mankind

Seluruh Alam Semesta Tunduk pada Manusia

(Allah membayar janji-Nya berlipat ganda)

Tono Sakosno, Ph.D

Kita semua tahu bahwa ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad SAW adalah surat 96, Al-Alaq: 1 yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Namun sebetulnya, ayat pertama yang menandai awal peradaban umat manusia adalah surat Al-Baqarah: 33 yang artinya: Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Ayat ini adalah merupakan sebuah manifestasi janji Allah yang akan mengangkat seorang khalifah di muka Bumi seperti ayat sebelumnya, Al-Baqarah: 30.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 2, Al-Baqarah: 30).

Mungkin banyak di antara kita yang kurang menghayati betapa besarnya rasa tanggung jawab Allah atas janjinya untuk menjadikan manusia (Adam dan keturunannya) menjadi khalifah di muka Bumi. Apa sebetulnya konsekuensi Allah ketika menjadikan Nabi Adam AS dan anak keturunannya menjadi khalifah di muka Bumi? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya. Bila kita mengamati dengan seksama kitab suci Al-Qur’an, maka kita akan sadar betapa beratnya tugas kekhalifahan ini, dan betapa Allah telah memberikan kepercayaan yang sangta besar pada manusia.

Kebebasan, rahmat Allah terbesar

Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang sangat inspiring dan kemudian penggalan kalimatnya saya jadikan judul buku saya yang insya Allah akan segera terbit berjudul: MENEMBUS PENJURU LANGIT & BUMI. Buku ini sebetulnya telah didaftarkan ke Perpustakaan Nasional dan telah memiliki ISBN namun belum dapat terbit karena lamanya waktu mencari sponsor untuk penerbitannya. Ayat yang saya maksud adalah surat Ar-Rahman: 33 yang berbunyi:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai sekalian jin dan manusia! Jika kamu dapat menembus penjuru ruang angkasa dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (QS 55, Ar-Rahmaan: 33)

Yang sangat menarik, ternyata ayat di atas dimulai dengan kata-kata: ”Hai sekalian jin dan manusia”....dan bukan ”hai kaum muslimin” atau ”hai manusia beriman”. Ini berarti tantangan Allah ini diberikan secara terbuka bagi seluruh umat manusia tanpa sekat primordialisme, bahkan tantangan ini ditujukan juga bagi jin baik yang beriman maupun yang kafir! Kesempatan berkompetisi secara terbuka inilah yang telah dimanfaatkan oleh para ilmuwan dan masyarakat di dunia barat untuk menguasai alam semesta berupa pencapaian teknologi yang luar biasa sampai saat ini. Para ilmuwan barat ini tidak perlu tahu bahwa Allah sudah memberikan kesempatan pada mereka untuk mencapai apa yang telah mereka capai, namun sunnatullah telah mengatur ini.

Bila kita renungkan lagi ternyata bahwa Allah memberikan karunia kebebasan pada manusia itupun betul-betul tanpa batas, bahkan termasuk bagi mereka yang akan bermaksiat terhadap Allah. Kita tentu sudah sangat akrab dengan simbol kedholiman dan dipersonifikasikan oleh Fir’aun. Inilah merupakan puncak kemaksiatan manusia terhadap Allah karena Fir’aun menganggap dirinya Tuhan.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

(Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (QS 79, An-Naziat: 24)

Jadi untuk manusia yang paling durhaka seperti Fir’aun pun, Allah juga memberi kesempatan bagi mereka untuk mencapai kejayaan duniawi yang tertinggi.

Dengan demikian jelaslah bahwa karunia terbesar yang telah Allah berikan bagi manusia adalah kebebasan untuk memilih: apakah manusia mau mengakui keberadaan-Nya, mematuhi semua petunjuk melalui rasul-rasul Nya, dan akhirnya penyerahan diri secara total pada Sang Khalik penciptanya, ataukah manusia mau mengingkari semuanya bahkan menjadi kafir sekalipun. Kebebasan memilih tersebut ternyata tidak mau dipikul oleh isi semesta alam lain selain manusia seperti yang dijelaskan oleh ayat-ayat berikut:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat1234 kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS 33, Al-Ahzab: 72)

Derajat manusia lebih tinggi dari seluruh alam semesta

Sebagai konsekuensi janji Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka Bumi ini juga ternyata dibayar dengan sangat mahal sekali oleh Allah dengan menundukkan semua isi alam semesta (baca: bukan hanya Bumi!) bagi manusia. Dengan kata lain, Allah telah memposisikan kedudukan manusia di suatu tempat yang sangat terhormat dibandingkan dengan makhluk lain di seluruh isi alam semesta! Ada beberapa kata kunci dalam Al-Qur’an yang memiliki arti yang hampir sama bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris bermakna tunduk, patuh, atau kadang-kadang berarti menyerahkan diri.

Ada tiga kategori kata tunduk ini di dalam Al-Qur’an:

1) Kategori Pertama. Kata tunduk yang semata-mata diperuntukkan bagi Allah. Ini seperti kata ruku dengan segala kata perubahannya (arkau’, rookii’in, warkai’, dan sebagainya). Kata lain adalah: islam dengan segala kata perubahannya (aslim, aslamuu, aslamtu, aslama, muslimuun, dan lainnya). Dalam bahasa Indonesia, kata ini diterjemahkan dengan menyerahkan diri (kata kerja) atau penyerahan diri (kata benda), sedangkan dalam bahasa Inggris kedua kata di atas diterjemahkan dengan to submit (kata kerja) atau submission (kata benda). Kata ruku muncul sebanyak 50 kali dalam 27 surat Al-Qur’an, sedangkan kata islam muncul 28 kali 18 surat Al-Qur’an;

2) Kategori Kedua. Kata tunduk, namun obyek yang ditundukkan di sini adalah diperuntukkan khusus bagi manusia (baca: melalui kekuasaan Allah). Kata tersebut adalah sakhkhoro dan segala kata perubahannya (musakhkhorootin, sakhkhorootun, dan sebagainya). Dalam bahasa Inggris, kata di atas diterjemahkan dengan to subject. Sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan berbeda-beda seperti: diatur, diserahkan, ditundukkan, dan sebagainya. Al-Qur’an menyebutkan kata ini 19 kali dalam 14 suratnya;

3) Kategori Ketiga. Kata bermakna tunduk, namun kata tersebut kadang-kadang diperuntukkan bagi manusia, kadang-kadang diperuntukkan bagi Allah yaitu kata sujud dengan segala kata perubahannya (isjuduu, sajidiin, tasjuda, fasajada, fasajaduu, asjudu, dan sebagainya). Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan dengan to prostrate, sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan sujud atau memberi hormat. Al-Qur’an menyebutkan kata sujud ini sebanyak 51 kali (sujud bagi Allah dan manusia), 14 kali di antaranya adalah untuk manusia yang tercantum dalam dalam 7 suratnya.

Salah satu ayat yang termasuk dalam kategori kedua dikutip di bawah ini:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Apakah tidak kamu perhatikan bahwa Allah telah menyerahkan (untukmu) semua isi ruang angkasa dan bumi. Dan Dia telah menyempurnakan kepadamu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebagian manusia tidak mempercayai bahwa Allah Maha Tunggal, tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tidak pula ada kitab yang memberi penerangan. (QS 31, Luqman: 20).

Dari uraian di atas, kita dapat menghayati betapa Allah telah membayar sangat mahal janji-Nya (berlipat-lipat ganda) dengan mengangkat manusia menjadi khalifah di muka Bumi. Ternyata sebetulnya kita diminta untuk menjadi khalifah untuk seluruh alam semesta! Dengan indikasi yang sangat kuat tersebut, seperti yang telah saya tulis dalam buku-buku hasil kajian the Center for Islamic Studies kami, saya berhipotesis bahwa hanya di Bumi kita inilah terdapat makhluk yang bernama manusia. Makhluk-makhluk lain yang disebutkan Allah sebagai ad-dawaab atau daabbah di dalam Al-Qur’an, sangat boleh jadi bukan jenis manusia.

Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

6 comments:

Anonymous said...

Assalamualaikum...
Pak Tono yth, sy dapat info blog ini dari milis alumni T. Geodesi.
BTW, salut dan menambah cakrawala sya dan untuk semakin sadar bahwa isi otak kita hanya SETETES AIR YANG MENETES DR UJUNG JARI YG DICELUPKAN DI LAUTAN...SUBHANALLAH..!
Wassalam.
Tri Fatah S.

siraj al-soloni said...

Assalammu'alaikum wr wb,

Hanya sekadar fikiran pribadi yang mungkin bisa dipertimbangkan. Masalah yang hendak Bapak sampaikan ini apa tidak bisa dipersempit dalam konotasi dengan esensi manusia sebagai mahluq. Agar lebih terarah kepada PENGUBAHAN atau PENINGKATAN ahlaq biologis ke ahlaq Qurani. Menurut hemat saya ahlaq biologis masih berada pada tahap DASAR PENCIPTAAN sedangkan ahlaq Qurani berada pada tahap IDEALISME PENCIPTAAN. Dari data menuju idea berlaku hukum proses dialektis. Proses ini akan berlangsung sesuai dengan PETUNJUK QURANI.

Wassalam,

Tono Saksono said...

Mas Tri Fatah, terima kasih atas komentarnya.

Mas Siraj, apakah enggak sebaiknya Mas Siraj tulis saja gagasannya tentang pemahaman alam semesta ini ke dalam sebuah tulisan. Silahkan kirimkan ke saya melalui tsaksono@gmail.com. Bila sesuai dg misi the Center for Islamic Studies, insya Allah akan kami muat. Memang media ini kita rancang sebagai media komunikasi pemikiran Qur'anic Science, sebuah sumber ilmu yang penuh pesona. Wassalam.

Anonymous said...

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 2, Al-Baqarah: 30).

renung kelana:

Dari Ayat ini Seingat saya entah benar atau salah tolong diluruskan ada yang menafsirkan menjadi dua hal :
1. Bahwa Buku Takdir telah dibuka kepada para malaikat sehingga mereka tahu bahwa banyak kerusakan yang akan terjadi di muka bumi oleh umat manusia (pengerusakan hutan penambangan tanpa memperhatikan amdal dll), bahkan sampai terjadi pertumpahan darah (PD I, PD II dan perang2 lainnya)

2. Bahwa para malaikat berkata demikian berdasarkan kejadian sejarah yang terjadi sebelumnya (pernah ada Bumi lain (masa atau galaksi lain) yang dipasrahkan kepada makhluk serupa manusia bumi kini
dan mereka membuat kerusakan di sana dan pertumpahan darah) sehingga malaikat mempertanyakan mengapa hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di Bumi padahal dari sejarahnya pernah ada makhluk yg menyerupai manusia kini di jadikan khalifah di bumi pada masa atau galaksi lain dan hanya menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah sehingga malaikat khawatir kejadiannya akan sama saja dengan di bumi kita ini (ini yang diyakini memperkuat teori bahwa kita manusia tidak sendiri di alam semesta ini, The truth is out there)

ya kedua hal ini hanya berdasarkan ingatan saya tentang pembahasan yang saya pernah dengar mengenai ayat ini, mohon jika ada kekeliruan pandangan tolong diluruskan

Tono Saksono said...

Saya pernah menanyakan pertanyaan persis seperti ini pada seorang ustad di mesjid kami. Belaiu bukan seorang ustad tradisional, pandangan sangat luas, bahasa Arabnya bahkan lebih baik dari bahasa Indonesianya, bahasa Inggrisnya sangat baik krn mantan wartawan senior koran berbahasa Inggris. Jawaban beliau begini: "Ya mungkin Allah pernah menjelaskan perjalanan Bumi ini nantinya kepada para Malaikat, krn Malaikat tidak mungkin juga dapat melihat apa yg belum terjadi tanpa izin Allah". Saya pun berfikiran seperti Anda, tapi juga enggak terlalu yakin. Barangkali waktu yg akan mengajarkan pada kita rahasia di atas.

Masyhudi Zuhairi said...

Masyhudi Zuhairi.
Ada beberapa alternatif tafsir untuk memahami siapa "manusia" sebelum Adam yang dimaksud oleh malaikat.
1. Manusia sebelum alam semesta kita ini. Q.S 21, Al-Anbiya:104 mengisyaratkan Allah akan mengulangi ciptaanNya. Kalau alam semesta ini ciptaan yang ke x kali, mungkin yang dimaksud malaikat adalah namusia di alam semesta ciptaan ke x-1.
2. Manusia di galaksi lain alam semesta kita ini.
3. Manusia di bumi kita ini sebelum Adam diciptakan.
Anthropologist menemukan bahwa bumi ini dulu dihuni oleh manusia purba dengan spesies Homo Erectus yang punah pada jaman es. Manusia modern sekarang ini adalah spesies Homo Sapiens yang punya perbedaan signifikans dalam volume otaknya.
Apakah Homo Erectus ini yang dimaksud malaikat sebagai makhluk yang saling bunuh, sedang Adams adalah Homo Sapiens yang pertama?
Allahu a'lam