Wednesday, January 2, 2008

January 2008

Tanggal: 1 Januari

Ustadz: Ilham Tabrani

Topik: Khusyu

Salah satu perbuatan hati yang menjadi kejian para ulama. Khusyu berarti menikmati, merasa dekat, berkonsentrasi dalam ibadah seorang hamba. Khusyu bukan saja dalam sholat, tapi dalam semua aspek ibadah. Banyak orang sholat, puasa, membaca Al-Qur’an dll, tapi hatinya tidak di dalamnya. Dikatakan orang tersebut tidak khusyu. Khusyu adalah roh dari sebuah ibadah, sehingga ibadah sesorang akan kurang bermakna atau sama sekali tidak bermakna manakala dia tidak melakukannya dengan khusyu.

Hadits/do’a (hal 23 buku Nikmatnya Khusyu): “Allahumma inni a’udzubika min ilmin laa ya’faa, wamin qalbin laa yakhsyaa, wamin nafsin laa tasyfaa, wamin da’watin laa yustajabulaha” (ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak puas (rakus), dan dari do’a yang tidak dikabulkan).

Berarti ada ilmu yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Ilmu yang tak berguna disebabkan oleh:

  1. Tidak ikhlas ketika mempelajarinya (hanya karena uang, ketenaran, memperdaya yang bodoh, pujian dan sebagainya). Tentu saja yang dimaksud di sini adalah ilmu agama. Rasul juga diminta menyebarkan ilmunya dengan gratis karena beliau memperolehnya juga dengan gratis. Jadi harus hanya semata-mata karena Allah (ilmu keduniawian tentu saja berbeda, karena tujuan utama ilmu keduniawian adalah untuk pengembangan profesi dan tentu saja terkait erat dengan imbalan);
  2. Jika ilmu itu ilmu yang benar (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits).

Allah melarang kita rakus atas kehidupan dunia. Allah berfirman, semua dunia ini terlaknat kecuali dua saja:

  1. Mereka yang berdzikir (selalu mengingat Allah) dan yang bertaqwa.kepada Allah;
  2. Orang yang berilmu dan yang menuntut ilmu.

Mereka yang mencari harta kekayaan secara rakus, maka harta kekayaannnya tidak akan menerima rakhmat dari Allah. Nabi: “harta itu memang indah. Barangsiapa yang mengambil harta itu dengan jiwa yang khusyu (tenang, tidak rakus), maka harta itu akan diberkati Allah.”

Do’a yang tidak dikabulkan adalah karena segala apa yang dimilikinya dan dimakannya adalah barang-barang yang haram (hasil korupsi atau mengandunga substans yang haram, misal: babi, khamr).


Al-Mu’minun: 1-9:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

dan orang-orang yang menunaikan zakat,

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki995; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Barangsiapa mencari yang di balik itu996 maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

(ya'ni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Yang pertama disebut oleh Allah sebagai mukmin yang beruntung adalah yang khusyu dalam sholatnya, yang menjauhkan diri dari laghwi (hal-hal yang tak berguna), membayar zakat, dan yang tidak melakukan hubungan sex kecuali dengan istri atau budaknya.

Budak di sini bukan pembantu dalam terminologi kehidupan sosial moderen sekarang. Budak adalah tawanan perang yang hanya dipelihara oleh tuannya saja sendiri. Jadi Allah membolehkan menggaulinya hanya oleh tuannya saja. Ini tidak seperti tawanan-tawanan lain yang kemudian digauli secara beramai-ramai (contoh: jugun ianfu sebagai pemuas tentara Jepang yang dilakukan secara beramai-ramai). Dalam ajaran Islam, bila budak yang digauli kemudian hamil, maka wajib atasnya untuk dinikahi (menjadi isterinya). Dalam kehidupan sosial moderen, sudah tidak ada lagi budak. Pembantu adalah bukan budak. Yang melampaui batas juga termasuk yang beristeri lebih dari empat, maka yang ke lima dan setelahnya adalah zina karena melampaui batas.

Yang beruntung dihadapan Allah juga adalah yang menjaga amanat (kepercayaan) yang diberikan kepadanya, dan yang menjaga agar sholatnya tetap baik (kualitas, tepat waktu, dll).


Kiat khusyu dalam sholat:

  1. Mempunyai niyat yang kuat (dalam hati, karena niyat yang diucapkan bukan niyat, adalah ngomong), termasuk niat untuk khusyu, tuma’ninah, dan tidak untuk terburu-buru. Sebelum takbir, berdirilkah dengan tenang untuk berniyat untuk khusyu;
  2. Perhatikanlah tempat kita sholat agar jangan benyak benda-benda yang akan mengganggu kekhusyuan kita. Sholat di mesjid akan mendukung kekhusyu’an kita karena mesjid memang adalah rumah ibadah;
  3. Perhatikan waktu-waktu sholat. Lakukanlah pada awal waktu karena bila dilakukan pada akhir waktu pastilah dilakukan dengan terburu-buru dan akibatnya tidak khusyu;
  4. Berusaha mengerti apa yang dibaca. Lebih baik membaca surat-surat pendek yang dimengerti daripada membaca surat-surat panjang tapi tidak mengerti maknanya. Dalam sholat sunnah, kita diperbolehkan mengulang-ulang membaca ayat/surat yang kita sukai atau mengerti maknanya. Namun dalam sholat wajib tidak boleh;
  5. Lakukanlah sholat dengan tuma’ninah (tenang, tidak tergesa-gesa). Ulama: tuma’ninah adalah termasuk rukun sholat. Dalam sholat sunnah juga kita boleh menyelingi dengan do’a manakala kita membaca kata-kata atau ayat tertentu. Misalnya kita membaca kata naar (neraka), kita boleh menyelingi dengan do’a: Allahumma inni a’udzubika mina naar (ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari api neraka). Namun dalam sholat wajib, tidak boleh;
  6. Hindarkan diri dari hal-hal yang akan mengganggu konsentrasi (kekhusyu’an). Jika kita betul-betul lapar sementara makanan telah tersedia, lebih baik makan dulu sebelum sholat (tapi ini tidak boleh hanya direkayasa). Bila kita dalam keadaan disperate (kebelet menahan hajat) maka lakukanlah hajat-hajat terlebih dahulu (ini termasuk bila akan melaksanakan sholat Jum’at. Bila kita kehilangan sholat Jum’at karena ini, maka gantilah dengan sholat dzuhur 4 rakaat). Bila kita benar-benar ngantuk akibat terlalu kecapaian (misal: dari perjalanan jauh yang melelahkan, sementara waktu sholat hampir masuk, boleh tidur dulu dan membayar dengan qadla);
  7. Bayangkanlah bahwa kita akan segera meninggal tidak lama lagi, seolah-olah ini adalah sholat perpisahan kita. Ini akan mendorong kita untuk beribadah dengan kualitas yang lebih baik. (Hadits: “ingatlah tentang kematian di saat sholat – ini diperbolehkan, sedangkan mengingat yang lain tidak diperbolehkan). Diperbolehkan juga memikirkan prinsip-prinsip agama yang penting (misalnya: tentang amanah yang harus segera dilakukan dalam membayar zakat). Jadi khusyu bukan berarti harus 100% tanpa memikirkan apa-apa;
  8. Membaca ta’awudz (audzubillahi mina syaithoni rojim) sebelum membaca Al-Fatihah. Ini diperbolehkan (sunnah) meskipun bacaan ini tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah dan tidak sebagai rukun sholat;
  9. Lakukanlah sholat dengan berjamaah (di samping pahalanya lebih besar) karena sholat berjamaah, khususnya di mesjid, akan menghasilkan kualitas sholat yang lebih khusyu dan lebih berkualitas;
  10. Persiapkan kondisi fisik kita sebaik-baiknya. Membersihkan diri dulu (mandi, gosok gigi, memakai wewangian, dan sebagainya).


Hal-hal yang tidak mengurangi khusyu

  1. Melakukan gerakan-gerakan yang memang diperbolehkan, misalnya sholat sambil menggendong bayi (pernah Rasul sholat sambil menggendong cucunya). Mencegah (dengan merentangkan tangan) apapun melintas di depan kita saat sholat, meskipun hanya seekor kucing. Rasul pernah melangkah maju saat sholat agar anak kambing melintas di bagian belakang beliau, baru kemudian Rasul mundur kembali setelah anak kambing ini melintas (itulah sebabnya makruh hukumnya sholat dilakukan dengan menutup mata);
  2. Mendengarkan sesuatu di luar sholat yang bukan mudharat. Di zaman Rasul, para sahabat sedang sholat di mesjid Quba, kemudian mendengar kabar bahwa kiblat dirubah dari arah ke Masjid Aqsa ke Ka’bah, maka para sahabat langsung merubah arah kiblat sambil tetap sholat. Dalam sholat sunnah, kita boleh membatalkan bila kita mendengar dipanggil oleh orang tua kita, khususnya ibu;
  3. Menggerak-gerakan jari telunjuk selama duduk tasyahud?


Hal-hal yang membantu kekhsyu’an

  1. Ma’rifatullah (mengenal Allah dengan sifat-sifat dan nama-nama-Nya, asma’ul husna). Rendahkanlah suara do’a dengan lemah lembut, karena dengan mengeraskan suara tanpa ada tuntunannya berarti meragukan bahwa Allah adalah Maha Mendengar. Menggunakan suara yang lembut adalah etika dalam meminta termasuk pada Allah;
  2. Ilmu (tahu cara-cara beribadah yang baik, tahu bahwa Allah akan menghisabnya, dsb di hari pembalasan);
  3. Mengerti (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca;
  4. Secara konsisten berdzikir pada Allah.


Qadla dalam sholat diperbolehkan bila:

  1. Tertidur akibat kecapaian yang luar biasa (kehilangan kesadaran yang tidak permanen). Meninggalkan sholat secara sengaja tidak bisa diqadla!;
  2. Betul-betul lupa;
  3. Kehilangan kesadaran (pingsan) yang tidak permanen. Bila kehilangan kesadaran ini berlangsung lama (misalnya akibat koma), maka tidak diharuskan meng-qadla;
  4. Qadla dapat dilakukan setelah sadar, terbangun, atau siuman;
  5. Qadla untuk sholat Jum’at adalah sholat Dzuhur 4 rakaat;
  6. Qadla untuk sholat Ied harus dilakukan pada waktu yang sama pada keesokan harinya.

0 comments: