Monday, January 21, 2008

Fake apostle phenomena: an antropological overview

Fenomena Nabi Palsu: sebuah kajian antropologi

Tono Saksono, Ph.D

Pendahuluan

Kisah 25 Nabi yang terekam di dalam kitab suci Al-Qur’an sebetulnya adalah sebuah potret perjalanan peradaban manusia yang sangat kompleks. Namun, banyak orang yang terjebak, hanya melihatnya dengan kacamata yang sempit sebagai potret perjalanan moral dan cara penyerahan diri (submission) pada Allah SWT. Betul yang terakhir ini memang berada pada posisi yang sangat penting sebagai pedoman bagi manusia beriman dalam mempersiapkan perjalanan panjangnya menuju kehidupan yang kekal di akhirat, namun potret perjalanan peradaban manusia yang diliput oleh kisah 25 Nabi tersebut seharusnya juga digali olah umat Islam. Kita akan lihat dalam tulisan singkat ini bahwa fenomena Rasulullah Muhammad sebagai nabi penyempurna pembawa (messenger) risalah rangkaian kitab suci Allah yang diturunkan bagi umat manusia juga ternyata merupakan fenomena antropologi yang sangat kaya luar biasa.

Kisah 25 Nabi ini sebetulnya secara lengkap telah saya tulis dalam buku yang berjudul Menembus Penjuru Langit dan Bumi yang insya Allah akan segera terbit. Dalam tulisan singkat ini, hanya beberapa Nabi saja yang kebetulan memberikan benchmark yang paling signifikan dalam perjalanan peradaban manusia di muka Bumi, yang ditulis kembali secara singkat.


Rasulullah Adam AS

Bagi ummat muslim, karena dengan sangat jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka Rasulullah Adam diimani sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Nama Rasulullah Adam disebutkan sebanyak 56 kali dalam 48 ayat Al-Qur’an. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat-ayat tersebut adalah:

1) Rasulullah Adam diciptakan dari tanah liat, merupakan karya seni yang indah dan sempurna, kemudian ditiupkan-Nya roh sehingga hidup. Ini adalah standard operating procedure (SOP) Allah;

2) Adam diciptakan langsung menjadi makhluk cerdas, bukan hasil evolusi dari hewan primata (lihat Teori Evolusi: logika kartun ala Tom Jerry di blog ini);

3) Ibunda Hawa diciptakan dari Adam (tafsir: dari tulang rusuk Adam?) yang sangat boleh jadi merupakan paradigma pemodelan rekayasa genetika seperti yang kita kenal dengan cloning sekarang ini;

4) Umat manusia yang sekarang menghuni Bumi adalah anak keturunan hasil pembuahan pasangan Adam dan Hawa, yang kemudian bertebaran di seluruh muka Bumi.

Dapatkah kita melihat antropological paradigm bagi sebuah perkembangan peradaban manusia dari kisah ini? Dunia migrobiologi moderen kini mengenal cloning sebagai rangkaian DNA, misalnya gen, yang ditransfer dari satu organisme ke organisme lain dan digandakan dengan teknik rekayasa genetika. Kemungkinan cloning pada manusia mengemuka ketika ilmuwan Skotlandia yang bekerja pada Roslin Institute melahirkan domba Dolly (Nature 385, 810-13, 1997) sebagai hasil rekayasa genetika. Dengan mempelajari Al-Qur’an secara tadabbur, kita harus bisa melihat ini sebagai kasus syariat (hukum) yang menyangkut etika kedokteran pertama. Apakah cloning untuk manusia memang halal menurut Al-Qur’an pada saat ini, adalah merupakan bahan kajian para ahli syariat Islam setelah Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam tertinggi yang disempurnakan pada misi kerasulan Muhammad.


Perintah Allah agar Nabi Adam menikahkan pasangan anak-anak kembarnya secara bersilang (Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima) adalah potret kasus syariat (hukum) tentang perkawinan yang pertama. Meskipun perkawinan antar-saudara kandung dilakukan justru atas perintah Allah pada saat itu, Allah kemudian mengharamkan perkawinan antar-saudara kandung setelah menyempurnakan Al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi melalui misi kerasulam Muhammad SAW. Ini juga menjadi bukti lebih jauh bahwa Rasulullah Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah, dan memang pada saat itu belum ada manusia lain.


Ayat berikut adalah sebuah pelajaran yang sangat jelas bahwa Rasulullah Adam AS hidup di era di mana teknologi sama sekali belum dikenal (bahkan peralatan batupun belum dikenal).

فَبَعَثَ اللّهُ غُرَاباً يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَـذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya410. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS 5, A-Maaidah: 31)

Ayat di atas juga merupakan potret kasus sosial, teknologi, lingkungan dan kesehatan pertama dalam sejarah kebudayaan manusia, karena untuk menguburkan jenazah tentunya diperlukan peralatan (teknologi), untuk menghindari pencemaran (lingkungan dan kesehatan). Dengan membandingkan pemahaman teknologi yang masih sangat sederhana pada saat itu beserta bukti-bukti paleontologi yang ada, kita dapat memperkirakan bahwa peristiwa ini setidaknya terjadi pada awal-awal Paleolithic (Jaman Batu Tua) sekitar 1-1,5 juta tahun sebelum masehi.


Rasulullah Idris AS

Di dalam Al-Qur’an, Nabi Idris hanya disebutkan sebanyak dua kali. Dalam beberapa hikayat, Rasulullah Idris digambarkan telah memiliki keterampilan seni yang tinggi, pandai baca-tulis (meskipun mungkin baru berupa simbol-simbol), pandai menjahit, menguasai ilmu astronomi, terampil menunggang kuda, bahkan mengajari kaumnya tentang gunung salju sebagai sumber air bersih. Dengan demikian diduga Nabi Idris hidup di jaman neanderthal man pada sekitar 300.000 tahun sebelum masehi. Hasil penemuan paleontologi membuktikan bahwa neanderthal man telah memiliki keterampilan menjahit dengan ditemukannya jarum (mungkin terbuat dari tulang).

Bila tesis ini benar, maka diduga ada kesenjangan kerasulan selama sekitar 700 ribu - 1 juta tahun atau lebih antara Nabi Adam dan Nabi Idris. Kesenjangan ini mungkin diisi oleh 315 rasul yang diturunkan Allah, namun nama-nama mereka tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Selain itu, harmonisasi dengan silsilah nabi juga cukup masuk akal karena ada enam generasi yang memisahkan Rasulullah Adam dan Idris.


Rasulullah Nuh AS

Allah menyebut Nabi Nuh sebanyak 59 kali dalam 56 ayat Al-Qur’an. Ini berarti, nama Nabi Nuh disebut bahkan lebih banyak dari Nabi Adam sebagai nenek moyang umat manusia. Sangat mungkin penyebabnya adalah:

1) Mulai dikenal komunitas umat pengikut (belum ada nama, disebut kaum Nuh saja) untuk sebuah misi kerasulan, sehingga penting dijadikan contoh problem sosial bagi umat manusia saat ini. Beberapa hikayat menyebutkan bahwa umat Nabi Nuh ini hanya sekitar 70-80 orang saja meskipun misi kerasulan Nabi Nuh hampir sekitar 500 tahun;

2) Dimulai adanya pembangkangan massal kaumnya (termasuk anaknya) atas ajaran-ajaran keimanan yang dibawa oleh Rasulullah Nuh;

3) Pertama kali teknologi tinggi (perahu) diperkenalkan dalam sejarah kebudayaan manusia. Untuk membangun sebuah perahu besar diperlukan gabungan beberapa ilmu seperti: ilmu fisika, ilmu bahan (khususnya kayu), serta ilmu rekayasa dan keteknikan meskipun masih sederhana;

4) Kasus upaya manusia melestarikan kondisi keseimbangan lingkungan dan menjaga jenis hewan tertentu dari kepunahan di muka Bumi pertama kali dalam peradaban manusia.

Betapapun kecilnya perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh, pembuatan karya enjiniring seperti perahu tentu memerlukan craftmanship yang baik dan paralatan yang cukup memadai. Peralatan tersebut diperkirakan sudah terbuat dari logam, dan dengan demikian manusia telah mengenal api dan bahkan memiliki kemampuan teknologi pengecoran logam untuk pembuatan peralatan. Selain itu, adanya faktor air yang cukup melimpah mengindikasikan telah berakhirnya abad es (ice age) pada akhir masa cromagnon. Dengan demikian, Nabi Nuh diperkirakan hidup pada sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.

Rasulullah Ibrahim AS

Rasulullah Ibrahim adalah nenek moyang nabi-nabi berikutnya yang selalu berasal dari etnis Yahudi dan Arab. Baru di jaman Rasulullah Ibrahimlah dikenal sistem patriarki sosial yang cukup canggih sesuai dengan peradaban manusia saat itu. Telah ada otoritas politik yang disebut sebagai raja, sementara ayah Nabi Ibrahim sendiri (bernama Azar) menjadi orang penting (pembuat berhala yang dijadikan idola dalam upacara penyembahan) di dalam sebuah sistem sosial dan politik kerajaan Babylonia, raja Namrud pada saat itu.

Kisah peradilan yang tidak adil atas Nabi Ibrahim akibat tindakan beliau menghancurkan berhala-berhala sesembahan pembesar dan rakyat Babylonia pada saat itu, dipercaya merupakan kasus hukum, alibi hukum, diplomasi dan taktik pembelaan, bukti rasionalitas untuk pembuktian atas sebuah tuduhan dalam sebuah peradilan pertama dalam peradaban umat manusia. Demikian pula kasus pernikahan beliau dengan Siti Hajar setelah pernikahan beliau dengan Siti Sarah lama tidak menghasilkan keturunan, merupakan kasus poligami pertama dalam peradaban manusia (meskipun perseliran, bahkan praktek perzinahan tanpa melalui pernikahan yang diizinkan Allah melalui ajaran rasul-rasul terdahulu telah banyak dilakukan khususnya oleh para penguasa dan raja). Dengan demikian, poligami bukanlah contoh yang diberikan oleh Rasulullah Muhammad karena telah dipraktekkan oleh nenek moyang bangsa Israil, Nasrani dan Islam ini.

Peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim, pencincangan burung, penghancuran berhala oleh Nabi Ibrahim dilakukan dengan menggunakan peralatan yang tajam sejenis kapak, juga peristiwa penyembelihan puteranya, Nabi Ismail (yang kemudian digantikan dengan domba), cara-cara pertanian yang bersistem, jelas menunjukkan bahwa secara teknologis pembuatan peralatan dari logam (melalui pemanasan api) telah cukup maju. Di samping itu, telah dikenal sebuah sistem patriarki sosial, otoritas politik dalam sebuah komunitas (semacam raja), bahkan sebuah sistem peradilan menunjukkan telah berkembangnya sistem sosial yang cukup maju dalam masyarakat di jaman Nabi Ibrahim. Bila dilakukan harmonisasi dengan bukti-bukti antropologi yang ada, maka diperkirakan Nabi Ibrahim hidup pada masa early civilization sekitar 3.000-2.500 tahun sebelum masehi di mana mulai dikenal pertanian bersistem, terbentuk kerajaan-kerajaan yang mengawali jaman dinasti (pre-dynastic period).

Dalam konteks ini, sangat jelas sekali betapa semuanya itu berada dalam skenario Allah yang telah menempatkan posisi Rasulullah Ibrahim AS sebagai rasul yang sangat penting dalam setiap prosesi spiritual kaum muslimin. Pada masa-masa 3.000 tahun SM juga merupakan peristiwa sejarah yang sangat penting dalam peradaban umat manusia yang mengawali kemajuan peradaban umat manusia secara teknologis maupun spiritual (kelahiran dua agama besar Hindu dan Budha terjadi setelah masa Nabi Ibrahim ini, sehingga Wikipedia berspekulasi bahwa Dewa Brahma kaum Hindu adalah sebetulnya personifikasi Nabi Ibrahim yang disebut Abraham dalam kitab Perjanjian Baru). Pada sekitar 2.500 tahun sebelum masehi juga merupakan masa kebesaran kaum beragama Majusi. Pada saat itulah diperkirakan dibangunnya pyramid agung Giza di sekitar Cairo, Mesir, yang sampai saat ini menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia. Pada periode sekitar 1.000 tahun (dari 3.500 – 2.500 tahun SM) tersebut rupanya telah terjadi sebuah kemajuan peradaban yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia. Nabi Ibrahim disebutkan sebanyak 66 kali dalam 52 ayat Al-Qur’an.

Rasulullah Yusuf AS

Pada masa Nabi Yusuf AS, sistem ketatanegaraan kerajaan telah sangat maju bahkan telah menyerupai sistem ketatanegaraan kerajaan masa kini. Dalam kasus hukum telah dikenal sistem rehabilitasi nama baik, sementara dalam kebijaksanaan pangan telah dikenalkan perencanaan prinsip pertanian yang berkelanjutan (sustainable) termasuk logistik pangan, dan sistem sosial yang berlaku lintas teritori politik (Mesir dan Palestina). Telah dikenal pula sistem meritokrasi dalam ketatanegaraan, sehingga di samping raja sebagai otoritas politik dan kekuasaan, dikenal pula menteri (perdana menteri) sebagai chief executive officer (CEO) atau pelaksana kebijaksanaan negara yang dianggap memiliki merit dan keahlian manajemen dan komunikasi dalam peneyelenggaraan ketatanegaraan. Di masa tersebut telah pula dikenal negosiasi bisnis lengkap dengan trik-triknya, dan telah dikenal pula spirit kampanye bagi calon pemimpin seperti yang dikatakan oleh Nabi Yusuf:

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَآئِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS 12, Yusuf: 55)

Catatan: ayat ini sekaligus mematahkan anggapan umum di kalangan umat Islam (khususnya di Indonesia) yang menganggap seorang pemimpin yang menunjukkan ambisinya tidaklah patut dipilih menjadi pemimpin.

وَكَذَلِكَ مَكَّنِّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَاء وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS 12, Yusuf: 56)

Kondisi masyarakat seperti ini diperkirakan telah terjadi pada masa Kerajaan Pertengahan (Middle Kingdom) di era Mesir kuno dalam rentang dinasti ke 11 sampai dengan akhir dinasti ke 14, yaitu sekitar 2.030–1.640 SM. Nabi Yusuf sendiri diperkirakan hidup sekitar tahun 1.700 SM. Kisah Nabi Yusuf ini tidak lagi hanya memberikan contoh tentang tauhid (keimanan) tapi sudah memberi pelajaran tentang kompleksitas sebuah masyarakat moderen. Barangkali karena sebagai contoh problem masyarakat moderen itulah yang menyebabkan Allah mengabadikan nama Nabi Yusuf menjadi nama sebuah surat dalam Al-Qur’an (surat Yusuf). Selain itu, praktis, nama Nabi Yusuf hanya disebutkan khusus dalam surat Yusuf di samping hanya dua kali pada surat yang lain yaitu pada Al-An’aam: 84 dan Al-Mukmiin: 34.

Rasulullah Musa AS

Allah menyebut nama Nabi Musa tersebar sebanyak 183 kali dalam 37 surat, atau dalam 171 ayat Al-Qur’an. Bila dalam kisah Nabi Yusuf telah digambarkan problem sosial masyarakat moderen (profesionalisme, sosial, ekonomi, perdagangan, strategi pertanian berkelanjutan dan problem logistik, politik, dan lain-lain, dalam kisah Nabi Musa ini telah dicontohkan pertentangan sebuah umat dengan penguasa. Bila pada masa Nabi Ibrahim perlawanan pada penguasa dholim dilakukan sendiri oleh Nabi Ibrahim, pada masa Nabi Musa telah terjadi pembangkangan kolektif dalam sebuah sistem sosial yang semakin kompleks. Di samping itu, diberikan contoh pula problem sosial pembinaan tauhid untuk sebuah umat yang berkembang semakin besar dan kompleks. Ada problem pangan, tempat bernaung, bahkan intrik dan benturan di dalam sebuah komunitas yang harus diselesaikan oleh seorang pemimpin umat. Rasulullah Musa diperkirakan hidup pada sekitar abad 13-12 sebelum masehi.

Rasulullah Muhammad SAW

Sebagai rasul penutup, misi, peran, dan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW sebetulnya merupakan gabungan dari semua rasul-rasul terdahulu. Semua rasul tentu saja adalah pimpinan spiritual yang telah dipilih oleh Allah SAW untuk membimbing umatnya. Namun, skala yang dibawakan oleh misi dan perjuangan kerasulan Muhammad SAW adalah sangat spesial ditinjau dari segala aspek baik magnitud maupun kompleksitasnya. Beliau adalah pemimpin spiritual umat manusia (bukan hanya etnis atau bangsa Arab atau etnis tertentu). Tidak seperti Nabi Nuh sebagai pemimpin spiritual kaum Nuh, tidak seperti Nabi Musa yang merupakan pemimpin spiritual bangsa Israil, Nabi Muhammad adalah pemimpin umat manusia.

Nabi Yusuf adalah seorang birokrat karena beliau adalah seorang CEO (perdana menteri) dari sebuah kerajaan, namun beliau bukanlah seorang kepala negara. Terlebih lagi, Nabi Yusuf bukanlah seorang pemimpin militer. Nabi Sulaiman memang seorang kepala negara (raja), tapi beliau bukan seorang panglima perang. Ayah Nabi Sulaiman, Nabi Daud, barangkali yang paling mendekati peran tiga dimensi Nabi Muhammad yaitu sebagai rasul (pimpinan spiritual), kepala negara, dan sekaligus panglima perang. Namun dalam konteks magnitudnya, jelas Nabi Muhammad memikul misi yang jauh lebih kompleks karena beliau membawa misi untuk semua umat manusia (dalam seruannya banyak sekali menggunakan: ya ayyuhannas – hai manusia, bukan ya qoumi – hai kaumku). Peran tiga dimensi Nabi Daud AS hanya berkisar di sekitar wilayah-wilayah Zobah dan Aram (sekarang Syria), Edom dan Moab (sekarang Yordania), dan Philistines (Palestina), sedangkan agama Islam sebagai risalah yang dibawa Nabi Muhammad sekarang telah diimani oleh sekitar 1,3 miliar manusia di seluruh penjuru Bumi.

Dari kisah-kisah para nabi di atas, terlihat jelas sebuah skenario Allah SWT yang mengkulminasi ke arah kesempurnaan peran, misi, dan ajaran Rasulullah Muhammad SAW dibandingkan dengan pendahulu-pendahulu beliau. Dengan demikian sudah jelaslah, bahwa pengakuan atas kenabian oleh beberapa orang tertentu akhir-akhir ini adalah merupakan penurunan fungsi kenabian yang telah mencapai puncaknya pada Rasulullah Muhammad. Bila ada manusia mengklaim sebagai seorang Nabi setelah Rasulullah Muhammad, maka ada tiga fungsi dimensi spiritual dan kemanusiaan yang harus dibuktikan lebih baik dari Muhammad, yaitu: peran spiritual (moral sebagai nabi), peran sebagai kepala negara, dan peran sebagai panglima perang. Seluruh umat manusia di Bumi ini akan menjadi saksi atas klaim orang tersebut dalam peran-peran tersebut pada peradaban kemanusiaan. Sudah dapat dipastikan bahwa orang-orang ini pasti tidak akan bahkan menyamai peran tiga dimensi Rasulullah SAW, karena semuanya itu palsu. Jadi ukuran kenabian itu sebetulnya sudah sangat gamblang, mengapa masih juga banyak orang yang tertipu oleh klaim kenabian yang palsu ini? Sesungguhnya klaim-klaim tersebut sebenarnya adalah upaya pelecehan atas peradaban kemanusiaan. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Bekasi, 21 Januari 2008

2 comments:

Anonymous said...

Renung Kelana :

Maaf seinggat Saya Rasulullah adalah Nabi Pembawa Ajaran Kitab (Zabur,Taurat,Injil dan Alquran) jadi tidak semua Nabi, akan tetapi saya setuju tentang perlunya kita mempelajari perjalanan para Nabi dan RasulNya

Salah satu penyebab kemunduran Umat adalah kurangnya Umat mempelajari Kisah Nabi dan RasulNya kemudian bukan sekedar percaya dan mengimani akan tetapi direnungkan dan berusaha diaplikasikan. salah satu sisi yang harus dipelajari adalah bidang teknologi disini umat cenderung pasif padahal ada pameo siapa kuasai ekonomi dan teknologi akan kuasai dunia,
(disini saya coba contohkan 2 teknologi yang tampak kontradiktif dengan ungkapan seandainya ):

1: Kapal Selam : Seandainya Umat merenungkan perjalanan Nabi Yunus As dalam perut ikan Paus maka Kapal selam tidak tercipta untuk keperluan militer yang telah menjatuhkan jutaan korban manusia dalam peperangan melainkan tercipta dalam situasi damai oleh umat Islam kemungkinan sebagai alat transportasi alternatif perjalanan Ibadah Haji dimana kita bisa berdzikir didalamnya

2. Pesawat Jet dan Roket Luar Angkasa : Sekiranya Umat merenungkan Peristiwa Israq Miraj maka pesawat jet tercipta oleh Umat dan Orang pertama dibulan adalah Umat Islam (misalnya Syeik Ahmad maulana dan bukannya Neil Amstrong)

beberapa contoh lain :
- Bendungan/Dam :Nabi Musa AS
- Kapal Induk : Nabi Nuh
- Bahan Tahan Api: Nabi Ibrahim
- Kedokteran (Bedah), Siaran Langsung TV dan recorded : Nabi Muhammad SAW

Mari mulai kita pikirkan kalau dalam sejarah kita mengenal Ibnu sina sbg ahli kedokteran maka ciptakan umat-umat yang unggul yang akan menciptakan teknologi baru atau memanfaatkan teknologi yang ada untuk aplikasi yang sejalan syariat islam dan berguna untuk kehidupan manusia

"Mengapa Umat tidak berpikir menggunakan tenaga matahari yang dijanjikan tidak akan habis sebelum kiamat dan terbukti sebagai salah satu sumber kehidupan di bumi dibandingkan merusak alam dengan menambang minyak bumi dan menggunakan nuklir yang bisa fatal akibatnya jika meledak (Cernobyl)"

Media said...

Tulisan Dimana tuhan (ALLAH)dan munculnya nabi-nabi palsu.merupakan tulisan yang memancing satu pemikiran tentang keimanan seseorang ( dalam hal ini) Umat islam,maka pada kesempatan ini saya coba berpendapat dari kajian pribadi saya.
Dengan Iman,Ilmu dan Amal maka orang tidak lagi akan bertanya dimana tuhan (ALLAH) dan percaya akan ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW,Karena dengan kepercayaan dan Ilmu yang didapat serta Amal ( Ibadah Cs )yang dikerjakan selama ini,maka orang tersebut telah bertemu dengan TuhanNYA.
Karena sampai dengan saat ini orang-orang belum memperoleh Makna apa yang ada dan dapat diperbuat antara Otak (yg berada dibagian atas tubuh )dan Hati yang berada ditengah bagian tubuh.Itulah sebabnya orang selalu mencari apa yang ingin didapatnya.
Jika kemudian orang percaya ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.maka orang tersebut sudah tidak mencari lagi,karena orang tersebut telah mati akal (Otaknya )dan mati Hati ( Imannya ).tentu saja apapun yang dilakukan (Amalnya ) sudah tidak dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan. kehidupanya