Saturday, January 12, 2008

Dominasi Perguruan Tinggi Amerika di Dunia


Tono Saksono, Ph.D[1]

Ada sebuah gurauan yang mengatakan bahwa betapa tinggipun kualitas pendidikan dasar dan menengah suatu bangsa, namun hadiah Nobel di bidang kedokteran, kimia, dan fisika saat ini adalah ’milik’ ilmuwan-ilmuwan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya gurauan ini memang hampir betul. Sudah bukan merupakan rahasia bahwa pendidikan dasar sampai menengah di Amerika sebetulnya tidak terlalu ’bermutu’ jika dibandingkan dengan pendidikan dasar di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, bahkan mungkin dengan beberapa sekolah unggulan di Indonesia sekalipun. Konon, pendidikan menengah terbaik di dunia adalah di Finlandia.

Pada pertengahan tahun 2000, anak ke dua saya mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat pada saat dia naik ke kelas tiga SMU di Indonesia. Dengan demikian, kelas tiga SMU nya dia jalani di sebuah public school di kota Seattle, Washington, Amerika Serikat. Begitu majunya pelajaran yang telah dia peroleh di Indonesia terutama dalam pelajaran Matematika dan Fisika, sehingga ketika lulus SMU (high school) pada tahun 2001, dia memperoleh hasil tertinggi dalam kedua mata pelajaran ini. Untuk prestasinya ini, dia bahkan memperoleh sertifikat penghargaan dari Presiden Bush dan Nyonya Bush dengan logo Gedung Putihnya. Tentu saja penghargaan seperti ini menjadi kenang-kenangan yang tidak mungkin terlupakan bagi anak kami maupun kami sebagai orang tuanya.

Profesor pembimbing saya ketika kuliah di Amerika adalah seorang berkebangsaan Jerman. Sebelum pindah ke Amerika, beliau mengajar di Jerman sehingga ketika datang ke Amerika, anak pertama beliau telah cukup dewasa dan duduk di kelas 10 (padanan 1 SMU) di public school di Columbus, Ohio. Menurut beliau, pelajaran-pelajaran matematik, fisika, dan kimia yang diperoleh anaknya ketika di Jerman telah jauh lebih maju. Pelajaran-pelajaran yang diterima anaknya di Amerika ternyata telah diperoleh di Jerman pada kelas 8 atau 9.

Ceritera-ceritera di atas adalah suatu indikasi bahwa pendidikan menengah di Amerika sebetulnya tidak terlalu hebat. Yang menarik adalah, mengapa dengan pendidikan menengah yang katakanlah biasa-biasa saja seperti ini tapi pendidikan tinggi di Amerika Serikat begitu luar biasa majunya? Yang jelas sangat menonjol, sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Amerika terutama diselenggarakan untuk merangsang kreatifitas murid-muridnya. Selain itu, program pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi juga telah terintegrasi dengan sangat baik. Contoh: karena anak saya pindah ke public school langsung masuk kelas 12 (setara dengan kelas 3 SMU), dia tidak memperoleh dua pelajaran penting di kelas 11 yaitu: American History dan Physical Education. Namun, ternyata kedua pelajaran ini sama sekali tidak menghambat kelulusan dia dari SMU tersebut. Baru setelah dia menjadi mahasiswa community college di kota yang sama, kedua pelajaran tersebut harus diambilnya.

Institusi pemeringkat universitas dunia

Sebetulnya ada puluhan institusi riset yang secara berkala melakukan pemeringkatan universitas-universitas di dunia atau di wilayah-wilayah regional tertentu (Asia, Eropa, Asia-Pasifik, dan sebagainya). Metodologi penilaian pendidikan tinggi yang dilakukan oleh institusi pemeringkat di atas pada dasarnya dilakukan berdasarkan salah satu atau kombinasi dari: 1) data survey; 2) informasi dari pihak ketiga, dan 3) informasi dari universitas yang bersangkutan. Dalam beberapa tahun terakhir Asiaweek adalah institusi yang paling banyak dirujuk oleh para pengamat pendidikan Indonesia (lihat Kompas 31 Juli 2000). Namun demikian, beberapa kelemahan institusi-institusi pemeringkat tersebut adalah:

· Umumnya tidak konsisten melakukannya setiap tahun, karena survey untuk pemeringkatan universitas di seluruh dunia memang cukup mahal;

· Tidak banyak yang melakukannya untuk semua perguruan tinggi di dunia;

· Banyak yang kriterianya tidak terlalu transparan, sehingga bahkan untuk mengakses metodologinyapun, kita harus membayar sejumlah subscription fee.

The Center for Measuring University Performance (CMUP), misalnya, melakukan pemeringkatan atas universitas-universitas Amerika, dengan menggunakan sembilan parameter pemeringkat yang sangat komprehensif dan reliable. Namun kelemahannya, parameter-parameter tersebut sukar diterapkan untuk perguruan tinggi di luar Amerika Serikat. Hasil pemeringkatan CMUP yang menghasilkan 50 universitas riset terbaik Amerika Serikat diberikan pada tabel terlampir. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa John Hopkins University, misalnya, menerima total dana riset sebesar hampir $1,4 milyar (termasuk di dalamnya dana riset dari pemerintah Federal hampir sebesar $1,3 milyar) pada tahun 2004 saja. Sementara itu, Harvard University memiliki aset hibah terbesar sebesar lebih dari $25 milyar pada tahun 2005. Total dana riset 50 universitas top Amerika pada tabel ini adalah lebih dari $22 milyar atau setara dengan 220 trilyun rupiah, sedangkan total aset hibah 50 universitas ini bernilai lebih dari $163 milyar atau sekitar 1.600 trilyun rupiah. Bandingkanlah dengan belanja negara Indonesia (dana pembangunan dan dana rutin) yang hanya sebesar $75,45 milyar, dan cadangan devisa Indonesia (emas dan forex) sebesar $43,04 milyar – data menurut CIA Fact Book (akses Juli 2007).

Dari puluhan institusi pemeringkat yang ada, melalui pengamatan secara cepat, saya berpendapat bahwa Institute of Higher Education, Shanghai Jiao Tong University (IHE-SJTU) memberlakukan parameter pemeringkatan yang paling komprehensif dan transparan. Selain itu, IHE-SJTU secara konsisten melakukan pemeringkatan perguruan tinggi dunia setiap tahun sejak tahun 2003 sampai dengan 2006.


Hasil pemeringkatan 2003-2006 IHE-SJTU

Hasil pemeringkatan perguruan tinggi dunia oleh Institute of Higher Education Shanghai Jiao Tong University (IHE-SJTU) dikelompokkan berupa peringkat 500 universitas terbaik di dunia. Selanjutnya, khususnya mulai tahun 2006 lalu, daftar 500 universitas terbaik dunia ini kemudian dikelompokkan ke dalam peringkat universitas menurut wilayah-wilayah tertentu yaitu: a) Wilayah Asia-Pasifik; b) Wilayah Eropa; c) Wilayah Amerika (Utara dan Latin); d) Wilayah Afrika. Sayangnya, universitas di wilayah ASEAN hanya diwakili oleh dua universitas Singapura yaitu: National University of Singapore pada peringkat 102 (2006) dan Nanyang Technological University pada peringkat 301 (2006) yang mampu menembus jajaran 500 universitas terbaik dunia menurut penilaian IHE-SJTU.

Setidaknya ada dua fenomena yang sangat menarik yang dapat diambil kesimpulannya dari empat periode pemeringkatan yang dilakukan IHE-SJTU 2003-2006.

1. Tampak begitu dominannya universitas-universitas Amerika Serikat dalam konstelasi peradaban dunia. Jika kita batasi sampai dengan kelompok 100 universitas terbaik, maka jumlah universitas Amerika yang masuk dalam kelompok ini bahkan lebih besar daripada sisa kekuatan dunia digabung;

2. Universitas-universitas China mulai menyodok masuk dalam jajaran elit universitas terbaik dunia secara signifikan.

Semua upaya sebuah universitas riset akan berkontribusi pada dua komponen yang paling fundamental yaitu: pengajaran/pendidikan dan riset. Semua upaya lainnya akan merupakan kontribusi pada atau merupakan turunan dari, atau, akan memberikan kontribusi dan akan merupakan hasil dari kedua komponen penting dalam kehidupan sebuah kampus ini. Bila aktifitas sebuah perguruan tinggi menghasilkan revenue dalam bentuk paten, misalnya, maka ini merupakan keberhasilan dan akan memberikan kontribusi pada keberhasilan selanjutnya bagi perguruan tinggi tersebut dalam pendidikan dan riset. Sebaliknya, bila sebuah aktifitas menghasilkan defisit bagi perguruan tinggi tersebut, maka ini akan berakibat pada menurunnya dana untuk pendidikan dan risetnya.

Tampaknya terdapat korelasi yang sangat kuat antara melimpahnya dana penelitian pada perguruan tinggi Amerika Serikat dengan begitu dominannya perguruan tinggi Amerika di dunia. Namun, ternyata tidak ada korelasi yang terlalu kuat antara kualitas pendidikan dasar dan menengah sebuah bangsa dengan kualitas perguruan tingginya. Perlu studi yang jauh lebih komprehensif, memang. Namun, setidaknya kita dapat merenungkan bersama, kemana kebijaksanaan pendidikan nasional kita akan dibawa.


[1] Penulis buku: Kuliah ke Luar Negeri Tidak Perlu Mahal (dalam proses cetak); Ketua Umum the Center for Islamic Studies, dan Ketua Umum Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO).

1 comments:

Nonon Vinolia said...

*Senang bisa membaca informasi tentang Berbagai Macam Universitas ini,
sangat membantu saya dan keluarga saya dalam mencari universitas, sekolah, dan konsultan terbaik di negri ini.. :) btw baca juga ya review aku tentang : ICAN Education Consultant, Konsultan Pendidikan Luar Negeri, Sekolah di Luar Negeri, Kuliah di Luar Negeri, Universitas di Luar Negeri, Studi ke Luar Negeri