Monday, January 21, 2008

Fake apostle phenomena: an antropological overview

Fenomena Nabi Palsu: sebuah kajian antropologi

Tono Saksono, Ph.D

Pendahuluan

Kisah 25 Nabi yang terekam di dalam kitab suci Al-Qur’an sebetulnya adalah sebuah potret perjalanan peradaban manusia yang sangat kompleks. Namun, banyak orang yang terjebak, hanya melihatnya dengan kacamata yang sempit sebagai potret perjalanan moral dan cara penyerahan diri (submission) pada Allah SWT. Betul yang terakhir ini memang berada pada posisi yang sangat penting sebagai pedoman bagi manusia beriman dalam mempersiapkan perjalanan panjangnya menuju kehidupan yang kekal di akhirat, namun potret perjalanan peradaban manusia yang diliput oleh kisah 25 Nabi tersebut seharusnya juga digali olah umat Islam. Kita akan lihat dalam tulisan singkat ini bahwa fenomena Rasulullah Muhammad sebagai nabi penyempurna pembawa (messenger) risalah rangkaian kitab suci Allah yang diturunkan bagi umat manusia juga ternyata merupakan fenomena antropologi yang sangat kaya luar biasa.

Kisah 25 Nabi ini sebetulnya secara lengkap telah saya tulis dalam buku yang berjudul Menembus Penjuru Langit dan Bumi yang insya Allah akan segera terbit. Dalam tulisan singkat ini, hanya beberapa Nabi saja yang kebetulan memberikan benchmark yang paling signifikan dalam perjalanan peradaban manusia di muka Bumi, yang ditulis kembali secara singkat.


Rasulullah Adam AS

Bagi ummat muslim, karena dengan sangat jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka Rasulullah Adam diimani sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Nama Rasulullah Adam disebutkan sebanyak 56 kali dalam 48 ayat Al-Qur’an. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat-ayat tersebut adalah:

1) Rasulullah Adam diciptakan dari tanah liat, merupakan karya seni yang indah dan sempurna, kemudian ditiupkan-Nya roh sehingga hidup. Ini adalah standard operating procedure (SOP) Allah;

2) Adam diciptakan langsung menjadi makhluk cerdas, bukan hasil evolusi dari hewan primata (lihat Teori Evolusi: logika kartun ala Tom Jerry di blog ini);

3) Ibunda Hawa diciptakan dari Adam (tafsir: dari tulang rusuk Adam?) yang sangat boleh jadi merupakan paradigma pemodelan rekayasa genetika seperti yang kita kenal dengan cloning sekarang ini;

4) Umat manusia yang sekarang menghuni Bumi adalah anak keturunan hasil pembuahan pasangan Adam dan Hawa, yang kemudian bertebaran di seluruh muka Bumi.

Dapatkah kita melihat antropological paradigm bagi sebuah perkembangan peradaban manusia dari kisah ini? Dunia migrobiologi moderen kini mengenal cloning sebagai rangkaian DNA, misalnya gen, yang ditransfer dari satu organisme ke organisme lain dan digandakan dengan teknik rekayasa genetika. Kemungkinan cloning pada manusia mengemuka ketika ilmuwan Skotlandia yang bekerja pada Roslin Institute melahirkan domba Dolly (Nature 385, 810-13, 1997) sebagai hasil rekayasa genetika. Dengan mempelajari Al-Qur’an secara tadabbur, kita harus bisa melihat ini sebagai kasus syariat (hukum) yang menyangkut etika kedokteran pertama. Apakah cloning untuk manusia memang halal menurut Al-Qur’an pada saat ini, adalah merupakan bahan kajian para ahli syariat Islam setelah Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam tertinggi yang disempurnakan pada misi kerasulan Muhammad.


Perintah Allah agar Nabi Adam menikahkan pasangan anak-anak kembarnya secara bersilang (Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima) adalah potret kasus syariat (hukum) tentang perkawinan yang pertama. Meskipun perkawinan antar-saudara kandung dilakukan justru atas perintah Allah pada saat itu, Allah kemudian mengharamkan perkawinan antar-saudara kandung setelah menyempurnakan Al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi melalui misi kerasulam Muhammad SAW. Ini juga menjadi bukti lebih jauh bahwa Rasulullah Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah, dan memang pada saat itu belum ada manusia lain.


Ayat berikut adalah sebuah pelajaran yang sangat jelas bahwa Rasulullah Adam AS hidup di era di mana teknologi sama sekali belum dikenal (bahkan peralatan batupun belum dikenal).

فَبَعَثَ اللّهُ غُرَاباً يَبْحَثُ فِي الأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَـذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya410. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS 5, A-Maaidah: 31)

Ayat di atas juga merupakan potret kasus sosial, teknologi, lingkungan dan kesehatan pertama dalam sejarah kebudayaan manusia, karena untuk menguburkan jenazah tentunya diperlukan peralatan (teknologi), untuk menghindari pencemaran (lingkungan dan kesehatan). Dengan membandingkan pemahaman teknologi yang masih sangat sederhana pada saat itu beserta bukti-bukti paleontologi yang ada, kita dapat memperkirakan bahwa peristiwa ini setidaknya terjadi pada awal-awal Paleolithic (Jaman Batu Tua) sekitar 1-1,5 juta tahun sebelum masehi.


Rasulullah Idris AS

Di dalam Al-Qur’an, Nabi Idris hanya disebutkan sebanyak dua kali. Dalam beberapa hikayat, Rasulullah Idris digambarkan telah memiliki keterampilan seni yang tinggi, pandai baca-tulis (meskipun mungkin baru berupa simbol-simbol), pandai menjahit, menguasai ilmu astronomi, terampil menunggang kuda, bahkan mengajari kaumnya tentang gunung salju sebagai sumber air bersih. Dengan demikian diduga Nabi Idris hidup di jaman neanderthal man pada sekitar 300.000 tahun sebelum masehi. Hasil penemuan paleontologi membuktikan bahwa neanderthal man telah memiliki keterampilan menjahit dengan ditemukannya jarum (mungkin terbuat dari tulang).

Bila tesis ini benar, maka diduga ada kesenjangan kerasulan selama sekitar 700 ribu - 1 juta tahun atau lebih antara Nabi Adam dan Nabi Idris. Kesenjangan ini mungkin diisi oleh 315 rasul yang diturunkan Allah, namun nama-nama mereka tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Selain itu, harmonisasi dengan silsilah nabi juga cukup masuk akal karena ada enam generasi yang memisahkan Rasulullah Adam dan Idris.


Rasulullah Nuh AS

Allah menyebut Nabi Nuh sebanyak 59 kali dalam 56 ayat Al-Qur’an. Ini berarti, nama Nabi Nuh disebut bahkan lebih banyak dari Nabi Adam sebagai nenek moyang umat manusia. Sangat mungkin penyebabnya adalah:

1) Mulai dikenal komunitas umat pengikut (belum ada nama, disebut kaum Nuh saja) untuk sebuah misi kerasulan, sehingga penting dijadikan contoh problem sosial bagi umat manusia saat ini. Beberapa hikayat menyebutkan bahwa umat Nabi Nuh ini hanya sekitar 70-80 orang saja meskipun misi kerasulan Nabi Nuh hampir sekitar 500 tahun;

2) Dimulai adanya pembangkangan massal kaumnya (termasuk anaknya) atas ajaran-ajaran keimanan yang dibawa oleh Rasulullah Nuh;

3) Pertama kali teknologi tinggi (perahu) diperkenalkan dalam sejarah kebudayaan manusia. Untuk membangun sebuah perahu besar diperlukan gabungan beberapa ilmu seperti: ilmu fisika, ilmu bahan (khususnya kayu), serta ilmu rekayasa dan keteknikan meskipun masih sederhana;

4) Kasus upaya manusia melestarikan kondisi keseimbangan lingkungan dan menjaga jenis hewan tertentu dari kepunahan di muka Bumi pertama kali dalam peradaban manusia.

Betapapun kecilnya perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh, pembuatan karya enjiniring seperti perahu tentu memerlukan craftmanship yang baik dan paralatan yang cukup memadai. Peralatan tersebut diperkirakan sudah terbuat dari logam, dan dengan demikian manusia telah mengenal api dan bahkan memiliki kemampuan teknologi pengecoran logam untuk pembuatan peralatan. Selain itu, adanya faktor air yang cukup melimpah mengindikasikan telah berakhirnya abad es (ice age) pada akhir masa cromagnon. Dengan demikian, Nabi Nuh diperkirakan hidup pada sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.

Rasulullah Ibrahim AS

Rasulullah Ibrahim adalah nenek moyang nabi-nabi berikutnya yang selalu berasal dari etnis Yahudi dan Arab. Baru di jaman Rasulullah Ibrahimlah dikenal sistem patriarki sosial yang cukup canggih sesuai dengan peradaban manusia saat itu. Telah ada otoritas politik yang disebut sebagai raja, sementara ayah Nabi Ibrahim sendiri (bernama Azar) menjadi orang penting (pembuat berhala yang dijadikan idola dalam upacara penyembahan) di dalam sebuah sistem sosial dan politik kerajaan Babylonia, raja Namrud pada saat itu.

Kisah peradilan yang tidak adil atas Nabi Ibrahim akibat tindakan beliau menghancurkan berhala-berhala sesembahan pembesar dan rakyat Babylonia pada saat itu, dipercaya merupakan kasus hukum, alibi hukum, diplomasi dan taktik pembelaan, bukti rasionalitas untuk pembuktian atas sebuah tuduhan dalam sebuah peradilan pertama dalam peradaban umat manusia. Demikian pula kasus pernikahan beliau dengan Siti Hajar setelah pernikahan beliau dengan Siti Sarah lama tidak menghasilkan keturunan, merupakan kasus poligami pertama dalam peradaban manusia (meskipun perseliran, bahkan praktek perzinahan tanpa melalui pernikahan yang diizinkan Allah melalui ajaran rasul-rasul terdahulu telah banyak dilakukan khususnya oleh para penguasa dan raja). Dengan demikian, poligami bukanlah contoh yang diberikan oleh Rasulullah Muhammad karena telah dipraktekkan oleh nenek moyang bangsa Israil, Nasrani dan Islam ini.

Peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim, pencincangan burung, penghancuran berhala oleh Nabi Ibrahim dilakukan dengan menggunakan peralatan yang tajam sejenis kapak, juga peristiwa penyembelihan puteranya, Nabi Ismail (yang kemudian digantikan dengan domba), cara-cara pertanian yang bersistem, jelas menunjukkan bahwa secara teknologis pembuatan peralatan dari logam (melalui pemanasan api) telah cukup maju. Di samping itu, telah dikenal sebuah sistem patriarki sosial, otoritas politik dalam sebuah komunitas (semacam raja), bahkan sebuah sistem peradilan menunjukkan telah berkembangnya sistem sosial yang cukup maju dalam masyarakat di jaman Nabi Ibrahim. Bila dilakukan harmonisasi dengan bukti-bukti antropologi yang ada, maka diperkirakan Nabi Ibrahim hidup pada masa early civilization sekitar 3.000-2.500 tahun sebelum masehi di mana mulai dikenal pertanian bersistem, terbentuk kerajaan-kerajaan yang mengawali jaman dinasti (pre-dynastic period).

Dalam konteks ini, sangat jelas sekali betapa semuanya itu berada dalam skenario Allah yang telah menempatkan posisi Rasulullah Ibrahim AS sebagai rasul yang sangat penting dalam setiap prosesi spiritual kaum muslimin. Pada masa-masa 3.000 tahun SM juga merupakan peristiwa sejarah yang sangat penting dalam peradaban umat manusia yang mengawali kemajuan peradaban umat manusia secara teknologis maupun spiritual (kelahiran dua agama besar Hindu dan Budha terjadi setelah masa Nabi Ibrahim ini, sehingga Wikipedia berspekulasi bahwa Dewa Brahma kaum Hindu adalah sebetulnya personifikasi Nabi Ibrahim yang disebut Abraham dalam kitab Perjanjian Baru). Pada sekitar 2.500 tahun sebelum masehi juga merupakan masa kebesaran kaum beragama Majusi. Pada saat itulah diperkirakan dibangunnya pyramid agung Giza di sekitar Cairo, Mesir, yang sampai saat ini menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia. Pada periode sekitar 1.000 tahun (dari 3.500 – 2.500 tahun SM) tersebut rupanya telah terjadi sebuah kemajuan peradaban yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia. Nabi Ibrahim disebutkan sebanyak 66 kali dalam 52 ayat Al-Qur’an.

Rasulullah Yusuf AS

Pada masa Nabi Yusuf AS, sistem ketatanegaraan kerajaan telah sangat maju bahkan telah menyerupai sistem ketatanegaraan kerajaan masa kini. Dalam kasus hukum telah dikenal sistem rehabilitasi nama baik, sementara dalam kebijaksanaan pangan telah dikenalkan perencanaan prinsip pertanian yang berkelanjutan (sustainable) termasuk logistik pangan, dan sistem sosial yang berlaku lintas teritori politik (Mesir dan Palestina). Telah dikenal pula sistem meritokrasi dalam ketatanegaraan, sehingga di samping raja sebagai otoritas politik dan kekuasaan, dikenal pula menteri (perdana menteri) sebagai chief executive officer (CEO) atau pelaksana kebijaksanaan negara yang dianggap memiliki merit dan keahlian manajemen dan komunikasi dalam peneyelenggaraan ketatanegaraan. Di masa tersebut telah pula dikenal negosiasi bisnis lengkap dengan trik-triknya, dan telah dikenal pula spirit kampanye bagi calon pemimpin seperti yang dikatakan oleh Nabi Yusuf:

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَآئِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS 12, Yusuf: 55)

Catatan: ayat ini sekaligus mematahkan anggapan umum di kalangan umat Islam (khususnya di Indonesia) yang menganggap seorang pemimpin yang menunjukkan ambisinya tidaklah patut dipilih menjadi pemimpin.

وَكَذَلِكَ مَكَّنِّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَاء وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS 12, Yusuf: 56)

Kondisi masyarakat seperti ini diperkirakan telah terjadi pada masa Kerajaan Pertengahan (Middle Kingdom) di era Mesir kuno dalam rentang dinasti ke 11 sampai dengan akhir dinasti ke 14, yaitu sekitar 2.030–1.640 SM. Nabi Yusuf sendiri diperkirakan hidup sekitar tahun 1.700 SM. Kisah Nabi Yusuf ini tidak lagi hanya memberikan contoh tentang tauhid (keimanan) tapi sudah memberi pelajaran tentang kompleksitas sebuah masyarakat moderen. Barangkali karena sebagai contoh problem masyarakat moderen itulah yang menyebabkan Allah mengabadikan nama Nabi Yusuf menjadi nama sebuah surat dalam Al-Qur’an (surat Yusuf). Selain itu, praktis, nama Nabi Yusuf hanya disebutkan khusus dalam surat Yusuf di samping hanya dua kali pada surat yang lain yaitu pada Al-An’aam: 84 dan Al-Mukmiin: 34.

Rasulullah Musa AS

Allah menyebut nama Nabi Musa tersebar sebanyak 183 kali dalam 37 surat, atau dalam 171 ayat Al-Qur’an. Bila dalam kisah Nabi Yusuf telah digambarkan problem sosial masyarakat moderen (profesionalisme, sosial, ekonomi, perdagangan, strategi pertanian berkelanjutan dan problem logistik, politik, dan lain-lain, dalam kisah Nabi Musa ini telah dicontohkan pertentangan sebuah umat dengan penguasa. Bila pada masa Nabi Ibrahim perlawanan pada penguasa dholim dilakukan sendiri oleh Nabi Ibrahim, pada masa Nabi Musa telah terjadi pembangkangan kolektif dalam sebuah sistem sosial yang semakin kompleks. Di samping itu, diberikan contoh pula problem sosial pembinaan tauhid untuk sebuah umat yang berkembang semakin besar dan kompleks. Ada problem pangan, tempat bernaung, bahkan intrik dan benturan di dalam sebuah komunitas yang harus diselesaikan oleh seorang pemimpin umat. Rasulullah Musa diperkirakan hidup pada sekitar abad 13-12 sebelum masehi.

Rasulullah Muhammad SAW

Sebagai rasul penutup, misi, peran, dan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW sebetulnya merupakan gabungan dari semua rasul-rasul terdahulu. Semua rasul tentu saja adalah pimpinan spiritual yang telah dipilih oleh Allah SAW untuk membimbing umatnya. Namun, skala yang dibawakan oleh misi dan perjuangan kerasulan Muhammad SAW adalah sangat spesial ditinjau dari segala aspek baik magnitud maupun kompleksitasnya. Beliau adalah pemimpin spiritual umat manusia (bukan hanya etnis atau bangsa Arab atau etnis tertentu). Tidak seperti Nabi Nuh sebagai pemimpin spiritual kaum Nuh, tidak seperti Nabi Musa yang merupakan pemimpin spiritual bangsa Israil, Nabi Muhammad adalah pemimpin umat manusia.

Nabi Yusuf adalah seorang birokrat karena beliau adalah seorang CEO (perdana menteri) dari sebuah kerajaan, namun beliau bukanlah seorang kepala negara. Terlebih lagi, Nabi Yusuf bukanlah seorang pemimpin militer. Nabi Sulaiman memang seorang kepala negara (raja), tapi beliau bukan seorang panglima perang. Ayah Nabi Sulaiman, Nabi Daud, barangkali yang paling mendekati peran tiga dimensi Nabi Muhammad yaitu sebagai rasul (pimpinan spiritual), kepala negara, dan sekaligus panglima perang. Namun dalam konteks magnitudnya, jelas Nabi Muhammad memikul misi yang jauh lebih kompleks karena beliau membawa misi untuk semua umat manusia (dalam seruannya banyak sekali menggunakan: ya ayyuhannas – hai manusia, bukan ya qoumi – hai kaumku). Peran tiga dimensi Nabi Daud AS hanya berkisar di sekitar wilayah-wilayah Zobah dan Aram (sekarang Syria), Edom dan Moab (sekarang Yordania), dan Philistines (Palestina), sedangkan agama Islam sebagai risalah yang dibawa Nabi Muhammad sekarang telah diimani oleh sekitar 1,3 miliar manusia di seluruh penjuru Bumi.

Dari kisah-kisah para nabi di atas, terlihat jelas sebuah skenario Allah SWT yang mengkulminasi ke arah kesempurnaan peran, misi, dan ajaran Rasulullah Muhammad SAW dibandingkan dengan pendahulu-pendahulu beliau. Dengan demikian sudah jelaslah, bahwa pengakuan atas kenabian oleh beberapa orang tertentu akhir-akhir ini adalah merupakan penurunan fungsi kenabian yang telah mencapai puncaknya pada Rasulullah Muhammad. Bila ada manusia mengklaim sebagai seorang Nabi setelah Rasulullah Muhammad, maka ada tiga fungsi dimensi spiritual dan kemanusiaan yang harus dibuktikan lebih baik dari Muhammad, yaitu: peran spiritual (moral sebagai nabi), peran sebagai kepala negara, dan peran sebagai panglima perang. Seluruh umat manusia di Bumi ini akan menjadi saksi atas klaim orang tersebut dalam peran-peran tersebut pada peradaban kemanusiaan. Sudah dapat dipastikan bahwa orang-orang ini pasti tidak akan bahkan menyamai peran tiga dimensi Rasulullah SAW, karena semuanya itu palsu. Jadi ukuran kenabian itu sebetulnya sudah sangat gamblang, mengapa masih juga banyak orang yang tertipu oleh klaim kenabian yang palsu ini? Sesungguhnya klaim-klaim tersebut sebenarnya adalah upaya pelecehan atas peradaban kemanusiaan. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Bekasi, 21 Januari 2008

Saturday, January 19, 2008

The universe, subjected unto mankind

Seluruh Alam Semesta Tunduk pada Manusia

(Allah membayar janji-Nya berlipat ganda)

Tono Sakosno, Ph.D

Kita semua tahu bahwa ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan pada Rasulullah Muhammad SAW adalah surat 96, Al-Alaq: 1 yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Namun sebetulnya, ayat pertama yang menandai awal peradaban umat manusia adalah surat Al-Baqarah: 33 yang artinya: Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Ayat ini adalah merupakan sebuah manifestasi janji Allah yang akan mengangkat seorang khalifah di muka Bumi seperti ayat sebelumnya, Al-Baqarah: 30.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 2, Al-Baqarah: 30).

Mungkin banyak di antara kita yang kurang menghayati betapa besarnya rasa tanggung jawab Allah atas janjinya untuk menjadikan manusia (Adam dan keturunannya) menjadi khalifah di muka Bumi. Apa sebetulnya konsekuensi Allah ketika menjadikan Nabi Adam AS dan anak keturunannya menjadi khalifah di muka Bumi? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya. Bila kita mengamati dengan seksama kitab suci Al-Qur’an, maka kita akan sadar betapa beratnya tugas kekhalifahan ini, dan betapa Allah telah memberikan kepercayaan yang sangta besar pada manusia.

Kebebasan, rahmat Allah terbesar

Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang sangat inspiring dan kemudian penggalan kalimatnya saya jadikan judul buku saya yang insya Allah akan segera terbit berjudul: MENEMBUS PENJURU LANGIT & BUMI. Buku ini sebetulnya telah didaftarkan ke Perpustakaan Nasional dan telah memiliki ISBN namun belum dapat terbit karena lamanya waktu mencari sponsor untuk penerbitannya. Ayat yang saya maksud adalah surat Ar-Rahman: 33 yang berbunyi:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Hai sekalian jin dan manusia! Jika kamu dapat menembus penjuru ruang angkasa dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (QS 55, Ar-Rahmaan: 33)

Yang sangat menarik, ternyata ayat di atas dimulai dengan kata-kata: ”Hai sekalian jin dan manusia”....dan bukan ”hai kaum muslimin” atau ”hai manusia beriman”. Ini berarti tantangan Allah ini diberikan secara terbuka bagi seluruh umat manusia tanpa sekat primordialisme, bahkan tantangan ini ditujukan juga bagi jin baik yang beriman maupun yang kafir! Kesempatan berkompetisi secara terbuka inilah yang telah dimanfaatkan oleh para ilmuwan dan masyarakat di dunia barat untuk menguasai alam semesta berupa pencapaian teknologi yang luar biasa sampai saat ini. Para ilmuwan barat ini tidak perlu tahu bahwa Allah sudah memberikan kesempatan pada mereka untuk mencapai apa yang telah mereka capai, namun sunnatullah telah mengatur ini.

Bila kita renungkan lagi ternyata bahwa Allah memberikan karunia kebebasan pada manusia itupun betul-betul tanpa batas, bahkan termasuk bagi mereka yang akan bermaksiat terhadap Allah. Kita tentu sudah sangat akrab dengan simbol kedholiman dan dipersonifikasikan oleh Fir’aun. Inilah merupakan puncak kemaksiatan manusia terhadap Allah karena Fir’aun menganggap dirinya Tuhan.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

(Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (QS 79, An-Naziat: 24)

Jadi untuk manusia yang paling durhaka seperti Fir’aun pun, Allah juga memberi kesempatan bagi mereka untuk mencapai kejayaan duniawi yang tertinggi.

Dengan demikian jelaslah bahwa karunia terbesar yang telah Allah berikan bagi manusia adalah kebebasan untuk memilih: apakah manusia mau mengakui keberadaan-Nya, mematuhi semua petunjuk melalui rasul-rasul Nya, dan akhirnya penyerahan diri secara total pada Sang Khalik penciptanya, ataukah manusia mau mengingkari semuanya bahkan menjadi kafir sekalipun. Kebebasan memilih tersebut ternyata tidak mau dipikul oleh isi semesta alam lain selain manusia seperti yang dijelaskan oleh ayat-ayat berikut:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat1234 kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS 33, Al-Ahzab: 72)

Derajat manusia lebih tinggi dari seluruh alam semesta

Sebagai konsekuensi janji Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka Bumi ini juga ternyata dibayar dengan sangat mahal sekali oleh Allah dengan menundukkan semua isi alam semesta (baca: bukan hanya Bumi!) bagi manusia. Dengan kata lain, Allah telah memposisikan kedudukan manusia di suatu tempat yang sangat terhormat dibandingkan dengan makhluk lain di seluruh isi alam semesta! Ada beberapa kata kunci dalam Al-Qur’an yang memiliki arti yang hampir sama bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris bermakna tunduk, patuh, atau kadang-kadang berarti menyerahkan diri.

Ada tiga kategori kata tunduk ini di dalam Al-Qur’an:

1) Kategori Pertama. Kata tunduk yang semata-mata diperuntukkan bagi Allah. Ini seperti kata ruku dengan segala kata perubahannya (arkau’, rookii’in, warkai’, dan sebagainya). Kata lain adalah: islam dengan segala kata perubahannya (aslim, aslamuu, aslamtu, aslama, muslimuun, dan lainnya). Dalam bahasa Indonesia, kata ini diterjemahkan dengan menyerahkan diri (kata kerja) atau penyerahan diri (kata benda), sedangkan dalam bahasa Inggris kedua kata di atas diterjemahkan dengan to submit (kata kerja) atau submission (kata benda). Kata ruku muncul sebanyak 50 kali dalam 27 surat Al-Qur’an, sedangkan kata islam muncul 28 kali 18 surat Al-Qur’an;

2) Kategori Kedua. Kata tunduk, namun obyek yang ditundukkan di sini adalah diperuntukkan khusus bagi manusia (baca: melalui kekuasaan Allah). Kata tersebut adalah sakhkhoro dan segala kata perubahannya (musakhkhorootin, sakhkhorootun, dan sebagainya). Dalam bahasa Inggris, kata di atas diterjemahkan dengan to subject. Sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan berbeda-beda seperti: diatur, diserahkan, ditundukkan, dan sebagainya. Al-Qur’an menyebutkan kata ini 19 kali dalam 14 suratnya;

3) Kategori Ketiga. Kata bermakna tunduk, namun kata tersebut kadang-kadang diperuntukkan bagi manusia, kadang-kadang diperuntukkan bagi Allah yaitu kata sujud dengan segala kata perubahannya (isjuduu, sajidiin, tasjuda, fasajada, fasajaduu, asjudu, dan sebagainya). Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan dengan to prostrate, sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan sujud atau memberi hormat. Al-Qur’an menyebutkan kata sujud ini sebanyak 51 kali (sujud bagi Allah dan manusia), 14 kali di antaranya adalah untuk manusia yang tercantum dalam dalam 7 suratnya.

Salah satu ayat yang termasuk dalam kategori kedua dikutip di bawah ini:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Apakah tidak kamu perhatikan bahwa Allah telah menyerahkan (untukmu) semua isi ruang angkasa dan bumi. Dan Dia telah menyempurnakan kepadamu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebagian manusia tidak mempercayai bahwa Allah Maha Tunggal, tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tidak pula ada kitab yang memberi penerangan. (QS 31, Luqman: 20).

Dari uraian di atas, kita dapat menghayati betapa Allah telah membayar sangat mahal janji-Nya (berlipat-lipat ganda) dengan mengangkat manusia menjadi khalifah di muka Bumi. Ternyata sebetulnya kita diminta untuk menjadi khalifah untuk seluruh alam semesta! Dengan indikasi yang sangat kuat tersebut, seperti yang telah saya tulis dalam buku-buku hasil kajian the Center for Islamic Studies kami, saya berhipotesis bahwa hanya di Bumi kita inilah terdapat makhluk yang bernama manusia. Makhluk-makhluk lain yang disebutkan Allah sebagai ad-dawaab atau daabbah di dalam Al-Qur’an, sangat boleh jadi bukan jenis manusia.

Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Wednesday, January 16, 2008

Where is God?

Dimanakah Allah?

Tono Saksono, Ph.D

Saya pernah terlibat diskusi dengan seorang ahli komputer berkebangsaan Jerman, yang akhirnya melebar ke diskusi spiritual. Dia mengatakan: “Ah, saya sama sekali enggak bisa mengerti kalau Tuhan itu benar-benar ada. Bagaimana mungkin Dia menurunkan hujan di sini, kemudian menciptakan ribuan mungkin jutaan bayi di seantero Bumi, sementara Dia juga mematikan jutaan orang lain pada saat yang sama, menumbuhkan jutaan pohon di tempat lain, semua sendirian. Coba bayangkan betapa sibuknya Tuhan?”. Menurut saya, pertanyaan ini sangat naif. Saya kemudian bertanya: “Apakah Anda percaya bahwa diperlukan hanya satu orang saja untuk memadamkan semua saluran listrik di seantero Jakarta ini dengan hanya menekan satu tombol di sebuah pusat pengendali?” Jadi memang meskipun seorang ahli komputer, sahabat saya ini ternyata sangat naif karena menganggap hanya manusialah yang memiliki kemampuan menciptakan komputer. Padahal mungkin Allah juga menggunakan perangkat sejenis, atau minimal sebuah perangkat otomatis sejenis yang namanyapun tidak harus komputer, tapi dengan fungsi yang justru jauh lebih canggih, bahkan tak terbayangkan betapa canggihnya. Semua pengoperasian isi jagat raya ini juga mungkin dikendalikan oleh Allah melalui sebuah pusat pengendali yang telah terprogram layaknya manusia mengendalikan pusat catu daya tenaga listrik di seantero Jakarta tadi.

Pertanyaan-pertanyaan semacam di atas banyak dikirimkan ke saya oleh para pembaca melalui email setelah membaca tulisan-tulisan saya di blog ini. Pertanyaan itu: sejenis: “Dimanakah Allah?” Menurut saya, pertanyaan seperti ini sangatlah wajar. Sebagai satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang memiliki kecerdasan, pesaing kita hanyalah seekor chimpanse atau burung betet yang paling banter bisa mencocok-cocokan angka atau huruf dalam pertunjukan-pertunjukan sirkus. Itupun setelah dilatih bertahun-tahun dan hanya sampai di sanalah kemampuan “kognitif” hewan-hewan tersebut. Dengan hanya pesaing-pesaing seperti ini, wajarlah bahwa manusia merasa bahwa semua isi alam semesta ini bisa dia mengerti A, B, dan C nya. Jadi memang wajar kalau manusia terlalu memiliki kepercayaan diri yang kadang-kadang terlalu berlebihan. Terminologi yang lebih halus untuk mengatakan terlalu sombong.

Buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk

Ketika di Sekolah Menengah Pertama dulu, buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk (TKVDW) karangan Buya HAMKA adalah buku wajib yang harus dibaca oleh semua murid SMP dalam mata pelajaran Kesusasteraan. Ini adalah kisah roman antara dua tokoh utamanya yang sangat menyentuh hati, meskipun saya sudah agak lupa juga tentang kisah detilnya. Padahal saya bahkan masih dapat mengingat sebagian besar tokoh kisah silat Siauw Tiauw Eng Hiong atau Sin Tiauw Hiap Lu saduran Boe Beng Tjoe. Para pembaca TKVDW mungkin ada yang bertanya-tanya: “mana HAMKA nya, kok enggak ada di buku ini?” Tentu saja Buya Haji Amdul Malik Karim Amrullah, ulama kharistamik ini tidak ada di buku tersebut karena beliau adalah pengarang (baca: “pencipta”) buku roman TKVDW tersebut. Beliau sedang menceriterakan kisah roman dua tokoh buku ini, namun beliau tidak harus ada dalam buku tersebut. Demikianlah padanan sederhana bagaimana menghayati keberadaan Allah SWT. Allah sedang membentangkan sebuah hikayat kehidupan seluruh jagat raya dengan tokoh utamanya manusia, karena hanya manusialah yang memiliki kelebihan kecerdasan dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Untuk itu, kemudian Allah memberikan sebuah pedoman pengelolaan seluruh isi jagat raya ini dalam bentuk kitab suci Al-Qur’an. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa seluruh jagat raya ini sebetulnya ditundukkan untuk manusia (tentang ini, saya jelaskan dalam buku saya yang dalam proses penerbitan berjudul: Menembus Penjuru Langit dan Bumi). Perbedaannya, karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia, maka Allah menyebut-nyebut diri-Nya dalam kitab ini. Kitab ini adalah petunjuk bagi manusia, jadi Allah sendiri sesungguhnya tidak memiliki kepentingan dengannya. Kesimpulannya, Allah tidak harus menjadi bagian dari isi alam raya ini, karena Dia-lah pencipta, pemilik dan penguasa semuanya.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Apakah tidak kamu perhatikan bahwa Allah telah menyerahkan (untukmu) semua isi ruang angkasa dan bumi. Dan Dia telah menyempurnakan kepadamu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan sebagian manusia tidak mempercayai bahwa Allah Maha Tunggal, tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tidak pula ada kitab yang memberi penerangan. (QS 31, Lukman 20)

Kisah Arsitek Jenius

Mari saya ajak ke sebuah kisah khayal. Alkisah ada seorang arsitek jenius yang mampu membuat perencanaan dan pembangunan kota Jakarta dan sekitarnya seorang diri, tidak ada orang lain yang membantunya. Khayalkanlah bahwa tidak ada manusia lain di kota Jakarta tersebut. Selain itu, hiduplah pada lansekap perkotaan Jakarta itu beberapa jenis binatang melata dan sekumpulan kumbang. Si arsitek jenius ini kemudian memberikan sebuah buku pedoman hidup dan cara-cara pengelolaan ekosistem kota bagi para penghuninya, beberapa jenis binatang tadi, yang kebetulan bisa membacanya dan mendiskusikannya dengan hewan-hewan lainnya.

Seekor kadal, katak, dan hewan melata lain kemudian bertanya: “Di mana si Jenius kok enggak pernah kelihatan? Karena kita tidak pernah ketemu si Jenius, pastilah ini hanya pedoman bohong-bohongan!” Beberapa ekor lebah kemudian menimpali: “Memang, saya bahkan sudah terbang ke Tangerang, ke Bekasi, dan ke semua pelosok wilayah Jabotabek ini, tapi saya enggak pernah ketemu si Jenius! Jadi buku pedoman ini memang cuman bohong! Keberadaan si Jenius ini berarti hanyalah hayalan dan kebohongan, dan oleh karenanya lansekap kota Jakarta ini telah ada sejak awalnya, muncul dengan sendirinya dan tidak ada yang menciptakan.” Si kumbang berkata dengan sangat sombong karena dialah satu-satunya mahluk yang dapat terbang sehingga hanya kaumnyalah yang mampu menjelajahi semua sudut kota untuk mencari si Jenius.

Padahal, para hewan penghuni Jakarta ini tidak akan mampu menemukan si Jenius karena sebetulnya sang arsitek terus bermukim di Singapura yang tidak terjangkau oleh kepakan sayap si kumbang apalagi oleh hewan-hewan lain yang harus beringsut-ingsut merayap berusaha mencari sang Jenius. Perumpamaan di atas juga adalah perumpamaan yang sangat disederhanakan karena kita tidak akan mampu memberikan padanan yang persis untuk Sang Maha Pencipta Allah SWT. Betapa jeniuspun si arsitek “menciptakan” lansekap perkotaan Jakarta seperti dalam kisah dongeng di atas, kita membuat asumsi bahwa seluruh material yang diperlukan oleh si arsitek untuk membangun lansekap tersebut telah tersedia, begitu juga penghuni-penghuninya yang berupa kumpulan hewan-hewan di atas. Untuk kasus penciptaan yang dilakukan oleh Allah, semua isi alam semesta ini adalah milik-Nya dan Dia ciptakan dengan segala hak esklusif-Nya. Jadi padanan di atas juga jauh terlalu sederhana untuk membandingkannya dengan cara menghayati keberadaan Allah. Keberadaan si arsitek tidak terjangkau oleh pengamatan para hewan penghuni Jakarta ini, meskipun si Jenius masih berada dalam lingkup dimensi yang sama dengan para hewan tersebut. Apalagi dengan Allah yang berada dalam dimensi lain yang manusia tidak akan mampu menginderanya kecuali dengan mata “keimanan”.

Terlalu banyak yang manusia tidak dapat buktikan

Dalam buku saya Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya, saya memberikan tiga buah contoh bahwa semua infrastruktur sosial, ekonomi, teknologi peradaban manusia sebetulnya dibangun berdasarkan sebuah asumsi yang dogmatis, termasuk faham ateime dan materialisme (lihat tulisan berjudul: Logika kartun Tom & Jerry: di balik Teori Evolusi di blog ini). Dogma ini tidak akan pernah dapat dibuktikan, tapi harus dipercaya dulu sebagai dogma postulat, persis seperti kita mengimani keberadaan Allah SWT.

Salah satu contoh yang saya berikan dalam buku di atas adalah keberadaan Ibu dan Ayah kita. Saya sangat yakin, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah berusaha membuktikan siapa Ibu dan siapa Bapaknya kecuali menerimanya sebagai dogma postulat (keimanan), berdasarkan: kata si Emang, Pa De, Bibi, Teteh, Simbah dan orang sekampung. Dalam strata sosial masyarakat yang lebih ”civilized” ini bisa berupa akte kelahiran dan pencatatan sipil, yang di Indonesia kemewahan seperti ini barangkali baru dikenal oleh sebagain kecil penduduknya. Namun apakah kita harus percaya saja pada administrasi birokrasi semacam ini? Mengapa kita tidak pernah menggugat? Coba bayangkanlah, bila semua orang di dunia ini mempertanyakan dan harus membuktikan siapa Ibu dan Bapaknya. Bila ini terjadi, maka seluruh infrastruktur sosial peradaban manusia harus di reformat (diformat ulang) seperti hardisk yang terkena virus. Sungguh sangat mengerikan.

Jadi jangankan kita menuntut untuk tahu keberadaan Allah, membuktikan siapa Ibu dan Ayah kita saja kita tidak mungkin dapat melakukannya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bekasi, 16 Januari 2008.

Domination of American universities in the world

The number of American universities included in the 100 elite world’s best universities is even larger than the rest of the world combined. Read more …..

Jumlah perguruan tinggi Amerika yang masuk ke dalam daftar elit 100 universitas terbaik dunia ternyata bahkan lebih besar dari sisa dunia digabung. Baca artikel lengkapnya …

Darwin’s Evolution Theory: an illusion ala Tom & Jerry cartoon

The building blocks of Darwinian Theory of Evolution is apparently a baseless illusion ala Tom & Jerry cartoon. Nothing is logical from the stand point of science. Read more…

Di balik Teori Evolusi Darwin ternyata adalah logika kartun Tom & Jerry yang tidak masuk akal. Baca selengkapnya…

How science explains the Day of Resurrection?

It applies to many even to the believers, who are still uncertain whether or not the Day of Resurrection will really happen after our body and bones become dust in the grave. How science explains this? Read the complete article.

Bagaimana sains menjelaskan Hari Kebangkitan?

Banyak bahkan orang yang mengklaim sebagai beriman masih meragukan apakah betul akan terjadi Hari Kebangkitan (the Day of Resurrection) setelah jasad kita hancur di dalam kubur. Bagaimana sains menjelaskan ini? Baca artikel selengkapnya.

Forelock is very important during ablution and prostrate

Forelock is very important during ablution and prostrate.
This article is a translation from the original one entitled Forelock by Dr. Sharif Kaf Al Ghazal (Reflections on the Medical Miracles of the Holy Quran).

Dahi ternyata memerlukan perhatian penting saat kita berwudu dan sujud. Baca terjemahan dari artikel asli berjudul Forelock karya Dr. Sharif Kaf Al Ghazal ini.

Why not consider ru'yatul bil 'ilm

This paper was originally submitted to the Islamic Research Foundation International (IRFI) in the US as a response to a contoversy over the astronomical calculation versus the moonsighting methods for the determination of the beginning of Ramadan, Syawal, and Dzulhijjah, in a Muslim calendar.

Makalah ini aslinya dikirimkan pada the Islamic Research Foundation International (IRFI), Amerika Serikat sebagai tanggapan atas kontroversi antara cara perhitungan astronomi dengan cara pengamatan hilal secara visual untuk penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, dalam kalender Muslim.

Astronomical calculation, a foundation to unify Muslim calendar: science perspective

The method to determine the beginning of a month in the Muslim calendar has been a controversy for many decades. The majority of Muslims are the proponent of the moonsighting method, whilst the other group firmly believe in the astronomical (ie. mathematical) calculation in view the fact that moonsighting is unrealibale in many respects. This paper was presented at an international conference attended by tens of astronomers from the Organization of Islamic Countries (OIC).

Cara untuk menentukan permulaan bulan dalam kalender Islam telah menjadi kontroversi selama beberapa dekade. Mayoritas umat Islam memang adalah penganut cara pengamatan hilal secara visual, sementara kelompok lainnya meyakini cara perhitungan secara astronomis dengan menyadari pengamatan hilal secara visual banyak mengalami kendala. Makalah ini dipresentasikan pada sebuah konferensi internasional yang dihadiri oleh puluhan ahli astronomi dari negara Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Monday, January 14, 2008

Logika Kartun ala Tom & Jerry di balik Teori Evolusi

Oleh: Tono Saksono, Ph.D

Pendahuluan

Kaum ateis dan materialis selalu berdalih bahwa prinsip-prinsip ilmiah yang mereka dewa-dewakan adalah merupakan logika yang dapat dijelaskan dengan bukti-bukti yang gamblang. Mereka beranggapan, semua yang ada di jagat raya ini sebetulnya adalah materi yang bisa berbentuk massa atau energi. Semua materi di alam raya ini harus bisa dikelompokkan ke dalam salah satu di antara dua komponen ini. Batu, air, dan udara, misalnya, memiliki massa dan oleh karenanya ketiganya adalah materi. Massa dapat berubah bentuk (misal dari padat menjadi cair dan bahkan kemudian menguap, namun tidak dapat hilang), ini sesuai dengan hukum kekekalan materi yang sebetulnya logis. Sebaliknya cahaya, meskipun tidak memiliki massa, tapi cahaya dapat dijelaskan sebagai energi, maka cahayapun adalah materi. Dampak dari prinsip logika ilmiah yang mereka dewa-dewakan ini kemudian mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan materi maka tidak ada, termasuk Tuhan. Apalagi Malaikat, Setan, dan segala macam yang ghaib yang harus diimani oleh seorang Muslim.

Kalau kita teliti dengan seksama pijakan kaum ateis dan materialis ini ternyata bukan juga merupakan logika ilmiah, tapi adalah merupakan dogma postulat yang tidak dapat dibuktikan dengan logika ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan kita lihat dua fenomena ilmiah dalam skala makro kosmos dan mikro kosmos berikut ini.


Logika kartun dalam skala makro-kosmos

Sampai saat ini, paradigma pemodelan terbentuknya jagat raya yang dianggap paling sahih oleh para ilmuwan, khususnya para astronomer, adalah bahwa jagat raya ini terbentuk akibat sebuah ledakan besar yang terjadi pada sekitar 13,7 miliar tahun lalu dengan apa yang dipercaya dengan proses Big Bang (Dentuman Besar). Ledakan ini terjadi akibat kepadatan yang tak terperikan atas sebuah partikel yang saking kecilnya mereka namakan sebagai zero volume atau singularity. Secara rinci, proses ini terdiri atas tujuh tahap:

1) Pada ketukan 10-43 detik setelah Big Bang, kosmos mengembang dg sangat cepat dari seukuran atom menjadi sebesar bola pingpong. Kecepatan pengembangan kosmos pada saat itu triliunan kali kecepatan cahaya;

2) Pada ketukan waktu 10-22 detik. temperatur kosmos turun menjadi 1027 C. Jagat raya masih berupa sup panas elektron, quarks dan partikel lain;

3) Pada ketukan waktu 10-6 detik, temperatur kosmos terus turun secara drastis menjadi 1013 C. Quark membeku menjadi proton & neutron;

4) Pada ketukan waktu 3 menit setelah Big Bang, temperatur terus turun menjadi 108 C. Kosmos masih terlalu panas untuk terbentuknya atom. Muatan listrik elektron dan proton masih menghalangi terbentuknya sinar. Jagat raya masih berupa kabut yang sangat panas;

5) 300.000 tahun kemudian setelah Big Bang, temperatur menjadi 10.000 C. Elektron, proton dan neutron membentuk atom, terutama hidrogen dan helium, sehingga sinar mulai tampak;

6) Satu miliar tahun setelah Big Bang, temperatur: menjadi -200 C. Gaya gravitasi memungkinkan hidrogen dan helium bergabung membentuk awan raksasa cikal-bakal galaxi. Gumpalan awan yang kecil pecah sehingga terbentuklah bintang pertama;

7) Belasan miliar tahun kemudian setelah Big Ban, temperatur masih turun lagi menjadi -270 C. Kumpulan galaxi tergabung akibat gravitasi. Bintang pertama mati dan memuntahkan elemen super padat ke angkasa sehingga terbentuklah bintang baru dan planet seperti yang kita lihat sekarang

Sementara itu, Allah berfirman bahwa memang antara Bumi dan Langit sebetulnya semula menjadi satu kesatuan dan kemudian dipisahkan oleh Allah seperti pada surat Al-Anbiya: 30. Bahkan jagat raya yang terus mengembangpun dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat: 47 berikut.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa ruang angkasa dan bumi adalah (semula) satu kesatuan? Kemudian keduanya Kami pisahkan. Dan dari air Kami ciptakan segala sesuatu yang hidup. Mengapakah mereka tidak juga beriman? (QS 21, Al-Anbiyaa: 30)

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dengan kekuatan kami membangun langit. Sesungguhnya kami mampu mengembangkan keluasan ruang setelahnya (QS 51 Adz-Dzaariyaat: 47)

Memang Allah tidak menjelaskan proses pemisahan ini melalui sebuah dentuman karena pemodelan Big Bang itu sendiri bisa saja suatu saat terbantahkan dengan sebuah pemodelan baru yang lebih sesuai dengan paradigma perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Harus diingat bahwa selama 2000 tahun, para ilmuwan juga menganggap bahwa pusat jagat raya adalah Bumi kita, sampai Nikolai Copernicus (1473-1543) memperkenalkan teori baru yang lebih sahih yang mengatakan bahwa Mataharilah sebagai pusat tatasurya.

Sementara itu, ada tujuh ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa seluruh alam semesta ini diciptakan Allah dalam enam tahap yaitu pada: Al-’Araaf: 54, Yunus: 3, Huud: 7, Al-Furqaan: 59, Sajdah: 4, Qaaf: 38, dan Al-Hadiid: 4.. Salah satunya dikutip sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

Sesungguhnya telah Kami ciptakan ruang angkasa dan bumi dalam enam tahap dan Kami tidak merasa lelah. (QS 50, Qaaf: 38)

Logika kartun Tom & Jerry muncul ketika kaum ateis dan materisalis ini ditanyakan: dari mana asal-muasal datangnya partikel singularity sebelum Big Bang terjadi? Mereka mengatakan, itu terjadi dengan sendirinya dan telah ada sejak bahkan waktupun belum terdefinisikan. Padahal, dengan hukum kekekalan materi yang sama-sama kita percayai, bila hasil ledakan itu kemudian menjadi jagat raya yang sangat kompleks seperti yang kita saksikan sekarang ini, partikel singularity asal muasal semuanyapun tentunya juga merupakan sebuah benda yang sama kompleknya. Kaum ateis dan materislais tidak mau mengatakan ada sebuah zat omniscient dan omnipotent sebagai pencipta titik singularity ini, karena itulah Allah SWT.


Logika kartun dalam skala mikro-kosmos

Pada sekitar 4,5 miliar tahun lalu, atau sekitar 9 miliar tahun setelah Big Bang, barulah Bumi ini dipercaya mulai terbentuk, meskipun bukti ilmiah yang mengatakan bahwa Bumi ini habitable baru terjadi sekitar 3 miliar tahun lalu sesuai dengan umur fosil organisme yang ditemukan. Para aties dan materialis kemudian berilusi bahwa setelah Bumi menjadi habitable, maka terbentuklah sebuah substance organisme bersel tunggal, yang kemudian ber-evolusi selama miliaran tahun menjadi tumbuhan, binatang bahkan manusia seperti kita sekarang ini. Charles Darwin lebih memerinci lagi proses evolusi ini melalui dua komponen utamanya yaitu natural selection dan random mutation. Darwin mengatakan bahwa karena dua komponen evolusi itulah kemudian yang menjadikan perubahan fisik dan morfologi atas hewan primata yang berjalan dengan kaki empat selama miliaran tahun sehingga menjadi makhluk primata yang berdiri tegak dan sel-sel otaknya terus ber-evolusi menjadi manusia cerdas seperti kita sekarang ini.

Eukaryotic (ki) organisme multi-sel, dan prokaryotic (ka) organisme bersel tunggal.

(sumber: Wikipedia)

Kalaupun semua proses itu memang terjadi, ketika ditanyakan pada kaum ateis dan meterisalis ini: dari mana substans organisme bersel tunggal sebagai asal-muasal makhluk hidup (tumbuhan, binatang, dan manusia) ini berasal? Persis sama seperti logika kartun yang menjelaskan zero volume pada skala makro-kosmos, mereka mengatakan substance organisme hidup itu terjadi dengan sendirinya akibat badai, angin topan, hujan, angin, salju, perubahan cuaca yang ektrim atas primordial earth (periode Bumi dari saat mulai terbentuk sampai menjadi habitable) selama miliaran tahun. Ini sekali lagi adalah logika kartun ala Tom & Jerry, dengan memperhatikan kaidah-kaidah saintifik berikut:

1) Ilmu mikro biologi molekuler moderen menjelaskan bahwa makhluk bersel tunggal ini bila diperbesar jutaan kali ternyata bahkan lebih kompleks dari infrastruktur kota New York sekalipun. Bila DNA-nya dikode, maka akan merupakan sebuah ensiklopedi setebal 450.000 halaman. Logika awam sekalipun tidak mungkin akan dapat menerima bahwa hujan, badai, halilintar, panas, salju dan perubahan iklim selama miliaran tahun akan mampu merubah unsur-unsur silikat, besi, aluminium, karet, dan sebagainya di atas permukaan Bumi ini bahkan menjadikannya sebuah metro mini rongsok! Jadi bagaimana mungkin malah menghasilkan substance bersel tunggal yang sekompleks kota New York?

2) Perry Marshal, seorang communication engineer yang kemudian menjadi penginjil mengembangkan pemodelan sederhana untuk proses mutasi random atas kalimat-kalimat sederhana secara on-line melalui internet dan mendapatkan bahwa sebuah kalimat dengan struktur yang baik akan mengalami chaos hanya setelah terjadi 5 kali mutasi random (sebetulnya prinsip kerjanya persis sama seperti penggunaan random number generator dalam statistik). Kalimat ini kemudian menjadi sebuah kalimat yang messegeless yang menunjukkan tidak adanya intelligent design pada kalimat output. Sementara kalimat aslinya yang terstruktur baik adalah bukti adanya intelligent design manusia sebagai pembuat kalimat sederhana ini. Kesimpulannya, mutasi random secara saintifik dapat dibuktikan sebagai sebuah proses yang merusak dan tidak mungkin menghasilkan makhluk yang berkualitas lebih baik (misal: monyet menjadi manusia). Contoh proses perusakan akibat mutasi acak adalah tumbuhnya sel-sel kanker.

3) Survival of the fittest adalah manifestasi dari natural selection-nya Teori Evolusi Darwin. Artinya, agar selamat dan tidak dimangsa oleh makhluk lainnya, seekor hewan kemudian berubah bentuk, morfologi, dan sifatnya agar tetap survive. Seekor antelop lehernya menjadi panjang (berubah menjadi jerapah) karena ranting-ranting pohon di bagian bawah pohon yang menjadi makanannya semakin langka sehingga dia harus menjangkau dahan pohon yang lebih tinggi. Inipun logika kartun Tom & Jerry karena seorang juara dunia sprint 100 m tidak akan otomaris menghasilkan seorang anak yang mampu berlari sekencang bapaknya bila dia tidak berlatih keras untuk menjadi seorang sprinter. Seorang yang diamputasi kakinya tidak akan otomatis menghasilkan keturunan yang tanpa kaki.

4) Bayangkanlah seekor makhluk primata yang secara perlahan kehilangan keterampilannya memanjat dengan empat kaki, sementara kemapuan otaknya belum berkembang cukup baik untuk membuat senjata? Makhluk seperti ini tentu akan cepat punah karena akan semakin mudah menjadi mangsa binatang lainnya. Jadi sebetulnya kalau memang terjadi, Teori Evolusi itu lebih cocok mengatakan bahwa manusia ber-evolusi menjadi monyet karena di zaman itu dia harus secara perlahan merubah morfologinya akibat perkembangan keterampilannya untuk berlari lebih kencang dan memanjat lebih terampil dalam menghindari predatornya.


Proses penciptaan Allah yang Maha Kuasa

Bayangkanlah sebuah peristiwa yang absurd. Gabungkanlah semua kecerdasan enam miliar manusia di muka Bumi. Bila perlu gabungkan juga kecerdasan para jenius yang telah meninggal seperti Newton, Einstein, Hubble dan sebagainya, untuk membuat miniatur ledakan Big Bang. Ledakkanlah sebuah gunung yang hasil ledakannya tidak hanya akan berupa onggokan puing yang tak berarti, tapi menjadi sebuah (sekali lagi: hanya satu saja) rumah sederhana tipe 21. Logika awam yang sederhanapun tidak akan percaya gabungan kecerdasan manusia ini akan mampu melakukannya meskipun semua unsur-unsur material untuk membangun sebuah kota sekompleks Jakartapun ada pada gunung tersebut. Apa sebabnya tidak mungkin? Karena ledakkan gabungan kecerdasan 6 miliar manusia ini adalah proses perusakan (katastrofi), sedangkan Big Bang adalah hasil sebuah maha karya dari sebuah omnipotent yang dilandasi dengan sebuah proses perencanaan yang sempurna (creation) oleh sebuah zat Yang Maha Agung, Allah SWT. Allah befirman:

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS 40, Ghaafir: 57).

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً

Sesungguhnya Allah memegang (mengatur) ruang angkasa dan bumi agar tidak hancur berantakan. Dan jika keduanya hancur berantakan, tidaklah ada seorang juapun yang dapat menahan (mengaturnya) selain Allah. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS 35, Faathir: 41)

Pada tulisan lalu (Bagaimana sains menjelaskan Hari Kebangkitan?), saya telah sampaikan bahwa Rasulullah Adam diciptakan Allah langsung menjadi manusia cerdas seperti yang dijelaskan dalam firman Allah Al-Baqarah: 33.

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّا أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?" (QS 2, Al-Baqarah: 33).

Dalam firman Allah di atas, Rasulullah Adam AS menjelaskan visi dan misi kekhalifahan beliau pada makhluk cerdas Malaikat, seperti layaknya seorang calon CEO yang menjelaskan proposal corporate profilenya dengan segala macam power point presentation yang sangat canggih, karena itu dilakukan ketika Nabi Adam masih di surga. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Saturday, January 12, 2008

Dahi: penting saat wudu dan sujud

Dahi ternyata memerlukan perhatian penting saat kita berwudu dan sujud. Baca terjemahan dari artikel asli berjudul Forelock ini.

Bagaimana sains menjelaskan Hari Kebangkitan?

Banyak bahkan orang yang mengklaim sebagai beriman masih meragukan apakah betul akan terjadi Hari Kebangkitan (the Day of Resurrection) setelah jasad kita hancur di dalam kubur. Bagaimana sain menjelaskan ini? Baca artikel selengkapnya.

Dominasi perguruan tinggi Amerika di dunia

Haisl studi sejak 2003-2006 lalu menunjukkan bahwa jumlah perguruan tinggi Amerika Serikat yang masuk dalam daftar 100 elit perguruan tinggi terbaik dunia ternyata lebih besar daripada SISA DUNIA digabung. Mengapa demikian?

Dominasi Perguruan Tinggi Amerika di Dunia


Tono Saksono, Ph.D[1]

Ada sebuah gurauan yang mengatakan bahwa betapa tinggipun kualitas pendidikan dasar dan menengah suatu bangsa, namun hadiah Nobel di bidang kedokteran, kimia, dan fisika saat ini adalah ’milik’ ilmuwan-ilmuwan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya gurauan ini memang hampir betul. Sudah bukan merupakan rahasia bahwa pendidikan dasar sampai menengah di Amerika sebetulnya tidak terlalu ’bermutu’ jika dibandingkan dengan pendidikan dasar di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, bahkan mungkin dengan beberapa sekolah unggulan di Indonesia sekalipun. Konon, pendidikan menengah terbaik di dunia adalah di Finlandia.

Pada pertengahan tahun 2000, anak ke dua saya mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat pada saat dia naik ke kelas tiga SMU di Indonesia. Dengan demikian, kelas tiga SMU nya dia jalani di sebuah public school di kota Seattle, Washington, Amerika Serikat. Begitu majunya pelajaran yang telah dia peroleh di Indonesia terutama dalam pelajaran Matematika dan Fisika, sehingga ketika lulus SMU (high school) pada tahun 2001, dia memperoleh hasil tertinggi dalam kedua mata pelajaran ini. Untuk prestasinya ini, dia bahkan memperoleh sertifikat penghargaan dari Presiden Bush dan Nyonya Bush dengan logo Gedung Putihnya. Tentu saja penghargaan seperti ini menjadi kenang-kenangan yang tidak mungkin terlupakan bagi anak kami maupun kami sebagai orang tuanya.

Profesor pembimbing saya ketika kuliah di Amerika adalah seorang berkebangsaan Jerman. Sebelum pindah ke Amerika, beliau mengajar di Jerman sehingga ketika datang ke Amerika, anak pertama beliau telah cukup dewasa dan duduk di kelas 10 (padanan 1 SMU) di public school di Columbus, Ohio. Menurut beliau, pelajaran-pelajaran matematik, fisika, dan kimia yang diperoleh anaknya ketika di Jerman telah jauh lebih maju. Pelajaran-pelajaran yang diterima anaknya di Amerika ternyata telah diperoleh di Jerman pada kelas 8 atau 9.

Ceritera-ceritera di atas adalah suatu indikasi bahwa pendidikan menengah di Amerika sebetulnya tidak terlalu hebat. Yang menarik adalah, mengapa dengan pendidikan menengah yang katakanlah biasa-biasa saja seperti ini tapi pendidikan tinggi di Amerika Serikat begitu luar biasa majunya? Yang jelas sangat menonjol, sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Amerika terutama diselenggarakan untuk merangsang kreatifitas murid-muridnya. Selain itu, program pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi juga telah terintegrasi dengan sangat baik. Contoh: karena anak saya pindah ke public school langsung masuk kelas 12 (setara dengan kelas 3 SMU), dia tidak memperoleh dua pelajaran penting di kelas 11 yaitu: American History dan Physical Education. Namun, ternyata kedua pelajaran ini sama sekali tidak menghambat kelulusan dia dari SMU tersebut. Baru setelah dia menjadi mahasiswa community college di kota yang sama, kedua pelajaran tersebut harus diambilnya.

Institusi pemeringkat universitas dunia

Sebetulnya ada puluhan institusi riset yang secara berkala melakukan pemeringkatan universitas-universitas di dunia atau di wilayah-wilayah regional tertentu (Asia, Eropa, Asia-Pasifik, dan sebagainya). Metodologi penilaian pendidikan tinggi yang dilakukan oleh institusi pemeringkat di atas pada dasarnya dilakukan berdasarkan salah satu atau kombinasi dari: 1) data survey; 2) informasi dari pihak ketiga, dan 3) informasi dari universitas yang bersangkutan. Dalam beberapa tahun terakhir Asiaweek adalah institusi yang paling banyak dirujuk oleh para pengamat pendidikan Indonesia (lihat Kompas 31 Juli 2000). Namun demikian, beberapa kelemahan institusi-institusi pemeringkat tersebut adalah:

· Umumnya tidak konsisten melakukannya setiap tahun, karena survey untuk pemeringkatan universitas di seluruh dunia memang cukup mahal;

· Tidak banyak yang melakukannya untuk semua perguruan tinggi di dunia;

· Banyak yang kriterianya tidak terlalu transparan, sehingga bahkan untuk mengakses metodologinyapun, kita harus membayar sejumlah subscription fee.

The Center for Measuring University Performance (CMUP), misalnya, melakukan pemeringkatan atas universitas-universitas Amerika, dengan menggunakan sembilan parameter pemeringkat yang sangat komprehensif dan reliable. Namun kelemahannya, parameter-parameter tersebut sukar diterapkan untuk perguruan tinggi di luar Amerika Serikat. Hasil pemeringkatan CMUP yang menghasilkan 50 universitas riset terbaik Amerika Serikat diberikan pada tabel terlampir. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa John Hopkins University, misalnya, menerima total dana riset sebesar hampir $1,4 milyar (termasuk di dalamnya dana riset dari pemerintah Federal hampir sebesar $1,3 milyar) pada tahun 2004 saja. Sementara itu, Harvard University memiliki aset hibah terbesar sebesar lebih dari $25 milyar pada tahun 2005. Total dana riset 50 universitas top Amerika pada tabel ini adalah lebih dari $22 milyar atau setara dengan 220 trilyun rupiah, sedangkan total aset hibah 50 universitas ini bernilai lebih dari $163 milyar atau sekitar 1.600 trilyun rupiah. Bandingkanlah dengan belanja negara Indonesia (dana pembangunan dan dana rutin) yang hanya sebesar $75,45 milyar, dan cadangan devisa Indonesia (emas dan forex) sebesar $43,04 milyar – data menurut CIA Fact Book (akses Juli 2007).

Dari puluhan institusi pemeringkat yang ada, melalui pengamatan secara cepat, saya berpendapat bahwa Institute of Higher Education, Shanghai Jiao Tong University (IHE-SJTU) memberlakukan parameter pemeringkatan yang paling komprehensif dan transparan. Selain itu, IHE-SJTU secara konsisten melakukan pemeringkatan perguruan tinggi dunia setiap tahun sejak tahun 2003 sampai dengan 2006.


Hasil pemeringkatan 2003-2006 IHE-SJTU

Hasil pemeringkatan perguruan tinggi dunia oleh Institute of Higher Education Shanghai Jiao Tong University (IHE-SJTU) dikelompokkan berupa peringkat 500 universitas terbaik di dunia. Selanjutnya, khususnya mulai tahun 2006 lalu, daftar 500 universitas terbaik dunia ini kemudian dikelompokkan ke dalam peringkat universitas menurut wilayah-wilayah tertentu yaitu: a) Wilayah Asia-Pasifik; b) Wilayah Eropa; c) Wilayah Amerika (Utara dan Latin); d) Wilayah Afrika. Sayangnya, universitas di wilayah ASEAN hanya diwakili oleh dua universitas Singapura yaitu: National University of Singapore pada peringkat 102 (2006) dan Nanyang Technological University pada peringkat 301 (2006) yang mampu menembus jajaran 500 universitas terbaik dunia menurut penilaian IHE-SJTU.

Setidaknya ada dua fenomena yang sangat menarik yang dapat diambil kesimpulannya dari empat periode pemeringkatan yang dilakukan IHE-SJTU 2003-2006.

1. Tampak begitu dominannya universitas-universitas Amerika Serikat dalam konstelasi peradaban dunia. Jika kita batasi sampai dengan kelompok 100 universitas terbaik, maka jumlah universitas Amerika yang masuk dalam kelompok ini bahkan lebih besar daripada sisa kekuatan dunia digabung;

2. Universitas-universitas China mulai menyodok masuk dalam jajaran elit universitas terbaik dunia secara signifikan.

Semua upaya sebuah universitas riset akan berkontribusi pada dua komponen yang paling fundamental yaitu: pengajaran/pendidikan dan riset. Semua upaya lainnya akan merupakan kontribusi pada atau merupakan turunan dari, atau, akan memberikan kontribusi dan akan merupakan hasil dari kedua komponen penting dalam kehidupan sebuah kampus ini. Bila aktifitas sebuah perguruan tinggi menghasilkan revenue dalam bentuk paten, misalnya, maka ini merupakan keberhasilan dan akan memberikan kontribusi pada keberhasilan selanjutnya bagi perguruan tinggi tersebut dalam pendidikan dan riset. Sebaliknya, bila sebuah aktifitas menghasilkan defisit bagi perguruan tinggi tersebut, maka ini akan berakibat pada menurunnya dana untuk pendidikan dan risetnya.

Tampaknya terdapat korelasi yang sangat kuat antara melimpahnya dana penelitian pada perguruan tinggi Amerika Serikat dengan begitu dominannya perguruan tinggi Amerika di dunia. Namun, ternyata tidak ada korelasi yang terlalu kuat antara kualitas pendidikan dasar dan menengah sebuah bangsa dengan kualitas perguruan tingginya. Perlu studi yang jauh lebih komprehensif, memang. Namun, setidaknya kita dapat merenungkan bersama, kemana kebijaksanaan pendidikan nasional kita akan dibawa.


[1] Penulis buku: Kuliah ke Luar Negeri Tidak Perlu Mahal (dalam proses cetak); Ketua Umum the Center for Islamic Studies, dan Ketua Umum Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO).