Tuesday, December 11, 2007

March 2007

Tanggal: 3 Maret
Ustadz: Agus Hendra
Topik: Akhlaq dan hak kaum Muslim

Pemberian hibah dalam Islam diatur tidak boleh melebihi jumlah tertentu untuk melindungi hak ahli waris. Bila Islam tidak mengatur ini, banyak kaum Muslim yang akan kehilangan haknya atas harta benda. Hadits yang diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqash dikutip sebagai berikut:

Ya Rasul, tampaknya aku sudah dekat dengan ajalku, bolehkah aku menghibahkan 2/3 kekayaanku? Rasul menjawab: “Tidak”. “Bagaimana jika 1/2 nya?”. Rasul menjawab lagi: “Tidak”. “Bagaimana jika 1/3 nya?”. Rasul menjawab: “Ya, 1/3 sudah cukup dan itu terlalu banyak”.

Hak seorang Muslim adalah:

1) Jika kamu ketemu dengannya, sampaikanlah salam;

2) Jika engkau diundang olehnya, maka hendaknya datang;

3) Jika dia bersin, maka berdo’alah untuknya;

4) Jika dia sakit, maka tengoklah;

5) Bagi mereka yang mengunjungi saudaranya yang Muslim, maka itu layaknya dia berjalan sepanjang taman di surga, sambil menerima shalawat dari 70.000 malaikat.

Hadits: Adalah merupakan sunnah untuk mengunjungi orang non-Muslim yang sakit, tapi akan jauh lebih berpahala jika menengok saudaranya yang Muslim.

Prioritas untuk memberikan shodaqoh kepada: kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya.

Orang miskin yang bertaqwa akan masuk surga lebih awal daripada orang kaya yang bertaqwa. Namun, orang kaya yang bertaqwa meskipun masuk surga lebih lambat dari orang miskin, dia akan ditempatkan di tempat yang lebih baik di surga karena:

1) Dia mampu menunaikan haji;

2) Dia mampu memberikan shodaqoh;

3) Dia mampu membangun mesjid.


Wasiat adalah pertalian (connection, link, tie). Yaitu yang mengikat kekayaan seseorang secara terus-menerus dengan dengan pahala Allah meskipun dia telah meninggal. Amal baik yang akan selalu memberikan pertalian dengan pahala Allah adalah:

1) Ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak;

2) Membuat saluran (irigasi maupun air kotor) yang berguna untuk orang banyak;

3) Membuat sumur yang berguna untuk orang banyak;

4) Menanam pohon;

5) Membangun mesjid;

6) Meninggalkan Qur’an;

7) Meninggalkan anak-anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.



Tanggal: 10 Maret
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir Al-Kautsar

Di dalam surat Al-Kautsar, Allah menceriterakan tentang akhlaq Nabi Muhammad SAW yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk Allah SWT.

Sejak manusia lahir, hawa nafsu (self interest) selalu mendominasi hidup kita, padahal, pengajaran agama Islam tradisional selalu menekankan pada kehidupan akhirat dan ajaran untuk membunuh semua hawa nafsu untuk kehidupan duniawi. Akibatnya, terutama untuk kaum muda kurang menarik. Seharusnya, perlu diajarkan juga cara-cara pengelolaan hawa nafsu (yang positif) dalam hal untuk pencapaian prestasi di dunia menjadi yang terbaik dalam semua bidang profesi di level manapun.

Surat Al-Kautsar berisi:

1) Pengabdian penuh pada Allah untuk melawan semua nafsu untuk tidak mempercayai hari pembalasan;

2) Membuang jauh-jauh semua penghalang untuk selalu memperkuat keimanan tentang akan datangnya hari kiamat. Meyakini sepenuhnya bahwa diri kita selalu diawasi oleh Allah SWT dari jarak yang sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita.


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS 50, Qaf: 16)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS 20, Toha: 14)

وَمِنَ الأَعْرَابِ مَن يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَاتٍ عِندَ اللّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَّهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 9, At-Taubah: 99).

Sifat kikir sebetulnya merupakan proses yang cukup panjang karena ini adalah akibat sikap manusia dalam mempertahankan eksistensi dirinya agar tetap survive (tetap bertahan hidup). Sikap harus tetap hidup inilah yang menyebabkan manusia berdaya upaya untuk memperoleh pekerjaan atau penghasilan agar dirinya survive. Dan Allah telah menjamin sumber-sumber kehidupan (ma’isyah).

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS 7, Al-A’raf: 10).

Di fihak lain, terdapat banyak sekali tantangan yang menjadi sumber rasa takut (khauf) dalam mempertahan hidup. Salah satu rasa takut terbesar adalah takut pada kematian. Padahal Allah telah telah menjamin seperti dijelaskan dalam Al-Ahqaf: 13.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah[1388] maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46, Al-Ahqaf: 13).

Rasa takut akan tidak dapat bertahan hidup inilah yang telah menyebabkan nafsu untuk menikmati hidup seperti firman Allah dalam Ar-Rad: 26 berikut.

اللّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقَدِرُ وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS 13, Ar-Rad: 26)

Selanjutnya takut tidak dapat bertahan hidup inilah yang mengakibatkan sifat rakus dan sifat mengagung-agungkan kekayaan pada manusia (عَدَّدَهُ menghitung-hitung kekayaan) yang sering menyebabkan pelanggaran atas hak orang lain (penipuan, korupsi, dll) seperti yang digambarkan dalam Al-Humazah: 1-2 seperti berikut:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS 104, Al-Humazah: 1).

الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ

2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. (QS 104, Al-Humazah: 2).

Sifat-sifat di atas akan menyebabkan manusia menjadi kikir, suka memamerkan kekayaannya. Semuanya itu adalah bentuk-bentuk syirik (kufur) karena di mata Allah mereka adalah budak dari kekayaannya seperti firman-firman Allah berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS 3, Ali-Imran: 14).

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِي هِـذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّهُ وَلَـكِنْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

(QS 3, Ali-Imran: 117).



Tanggal: 11 Maret
Ustadz: KH. Alief Syukri
Topik: Musibah sebagai peringatan Allah
(lanjutan)

Kebanyakan musibah yang timbul di dunia ini adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri. Beberapa penyebabnya adalah:

8) Meninggikan suara di mesjid (kecuali untuk adzan). Atas dasar itu pulalah, berdzikir maupun bacaan-bacaan dalam sholat harus dilakukan dengan suara yang lembut, jangan sampai mengganggu orang lain yang sedang berdzikir dan sholat juga di mesjid.

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS 7, Al-A’raf: 55).


وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS 7, Al-A’raf: 205).


9)
Para pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang tercela di antara mereka seperti yang digambarkan dalam


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS 7, Al-A’raf: 179).

Padahal pemimpin yang ideal di mata Allah adalah seperti yang diberikan dalam At-Taubah: 128 dan bahkan setiap Muslimpun seharusnya seperti yang digambarkan dalam Al-Furqan: 63-67.

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS 9, At-Taubah: 128).

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS 25, Al-Furqan: 63).

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَاماً

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS 25, Al-Furqan: 64).

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَاماً

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal." (QS 25, Al-Furqan: 65).

إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً

Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (QS 25, Al-Furqan: 66).

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS 25, Al-Furqan: 67).

10) Bila seseorang yang dihormati karena reputasina sebagai penjahat, pelanggar hukum, koruptor dan sebagainya.

11) Minuman keras dikonsumsi dan mabuk-mabukan dilakukan secara terbuka dan diterima secara umum, padahal Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan di atas.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبيِّنُ اللّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS 2, Al-Baqarah: 219).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS 5, Al-Ma’idah: 90).

12) Pakaian sutra telah dipakai secara umum oleh kaum pria untuk memamerkan kekayaannya.

13) Para penyanyi disorak-soraki dan dielu-elukan secara besar-besaran di publik bukan karena kualitas kesenainnya, tapi karena tontonan sex-appeal-nya yang vulgar.

14) Musik (dan tontonan lain) diperdengarkan dan dipertontonkan terlalu banyak sehingga menyita dan melupakan waktu bagi manusia untuk mengingat Tuhannya.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS 31, Luqman: 6).

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِراً كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْراً فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan apabila dibacakan kepadanya[1179] ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (QS 31, Luqman: 7).

15) Sebuah generasi menyalahkan generasi sebelumnya yaitu generasi para shahabat.

Bila ke lima belas tanda-tanda tersebut telah muncul semua dalam sebuah kelompok umat, maka Allah akan mengirimkan berbagai bencana dalam bentuk angin putting beliung, gempa bumi, banjir bandang dan sebagainya.



Tanggal: 17 Maret
Ustadz: H. Muhammad Maurits
Topik: Memahami arti taubat

Tobat atas dosa yang diperbuat manusia digambarkan oleh Allah dalam An-Nisa: 17-18 sebagai berikut:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan[277], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS 4, An-Nisa: 17).

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS 4, An-Nisa: 18).

Syarat dikabulkannya tobat adalah:

1) Berhenti melakukan perbuatan maksiat tersebut;

2) Merasa menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan tapi bukan saat menjelang kematiannya (seperti Fir’aun yang digambarkan dalam surat Yunus: 90-92), atau saat Matahari telah terbit di sebelah barat (mendekati kiamat).

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS 10, Yunus: 90)

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 10, Yunus: 91)

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS 10, Yunus: 92)

3) Mengembalikan semua yang telah diambil dengan cara tidak halal;

4) Mengakui dan menyadari bahwa dirinya adalah budak (hamba) Allah.



Tanggal: 18 Maret
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Ibadah

Ada dua jenis ibadah yaitu: mahdhoh dan ghoiru mahdhoh.

Ibadah mahdhoh sendiri memiliki tiga komponen penting yaitu:

1) Sikhotun niyah (niyat yang benar);

2) Almasyru iyyah (menunjukkan tanda akan beribadah);

3) Al-kaifiyyah (mengikuti cara yang benar).

Ketiganya itu dalam rangka memperoleh al-ittibau’ manhajan wakaifiyyah.

Ibadah ghoiru mahdhoh sendiri memiliki dua komponen yaitu:

1) Ikhlasun niyah (niat yang tulus);

2) Al-‘amalu sholihah (amal yang sholeh).

Keduanya itu dalam rangka memperoleh al-ittibau’ manhajja.

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS 39, Az-Zumar: 11).

وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ
Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri." (QS 39, Az-Zumar: 12).

Ikhlas berasal dari kata kholaso yang bermakna: membentengi ibadah dari niyat-niyat yang lain. Sedangkan kata yang benar (sikhot) di atas bermakna: hati yang tulus dari segala macam hawa nafsu, seperti yang dilukiskan oleh ayat selanjutnya dalam surat Az-Zumar: 13.

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku." (QS 39, Az-Zumar: 13).

Dalam beribadah juga harus mengikuti ketentuan bahwa apapun yang diperintahkan Allah melalui Rasulullah maka harus diikuti, sementara apa yang dilarang Allah melalui Rasulullah juga harus diikuti. Surat Al-Hasyr: 7 berikut memang berbicara tentang harta rampasan perang, namun pada dasarnya ketentuan ini berlaku pula untuk semua jenis amal ibadah umat Islam. Perhatikan pula surat Al-A’raf: 156.

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
7. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS 59, Al-Hasyr: 7)

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
156. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS 7, AlA’raf: 156).

Sesungguhnya Rasulullah adalah seorang manusia biasa namun telah terpilih menjadi penyebar ilmu yang bersumber langsung dari Al-Qur’an sebagai firman Allah SWT. Hadits: Barangsiapa yang menyebarkan ilmu pengetahuan dan terus mencari ilmu, semua makhluk yang dilaluinya, termasuk Malaikat akan memohonkan ampunan bagi dirinya.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS 18, Al-Kahfi: 110).



Tanggal: 19 Maret
Ustadz: H. Tabrani
Topik: Syafaat (pertolongan)

Syafaat di sini adalah pertolongan yang akan diharapkan oleh semua manusia di akhirat kelak dalam menghadapi hisab yang akan dilakukan langsung oleh Allah SWT. Namun demikian, syafaat (pertolongan) ini hanya akan diterima bila ada izin dari Allah. Pada dasarnya, Rasulullah dan para Malaikat sangat ingin untuk membantu kita agar siksa yang akan kita terima diperingan oleh Allah. Namun syafaat seperti ini tidak mungkin diterima tanpa izin Allah. Perhatikan ayat-ayat berikut:

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS 2, Al-Baqarah: 255).

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat[958] melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS 21, Al-Anbiya: 28).

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 10, Yunus: 3).

يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً
Pada hari itu tidak berguna syafa'at[945], kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS 20, Toha: 109).

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَى
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (QS 53, An-Najm: 26).

Syafaat hanya ditetapkan bagi umat Islam, sementara syafaat akan ditolak bagi kaum kafir, seperti yang disampaikan dalam ayat-ayat berikut:

وَأَنذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُواْ إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. (QS 6, Al-An’am: 51).

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ
Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS 23, Al-Mu’minun: 18).

وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ
Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan[86] seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS 2, Al-Baqarah: 123).

Ada tiga kelompok yang menyikapi syafaat ini:

1) Tafrid. Ini adalah kelompok rasionalis yang menganggap enteng syafaat karena pada dasarnya mereka tidak terlalu percaya atas syafaat ini;

2) Ifrad. Adalah kelompok yang melebih-lebihkan syafaat sehingga imam mereka juga mampu memberikan syafaat;

3) Akhlus sunnah wal jamaah yang manarima dan menolak manfaat syafaat berdasarkan dalil-dalil mereka sendiri.

Syafaat di hari pembalasan akan terbagi atas dua kelompok:

1) Syafaat umum, yang datang selain dari Rasulullah SAW;

2) Syafaat khusus, yang datang dari Rasulullah SAW. Ini dinamakan juga syafaat uzma (syafaat besar) di Padang Mahsyar ketika Rasulullah akan membukakan pintu surga termasuk bagi paman beliau Abu Tholib (?)

Sementara syafaat umum terbagi menjadi 3 kelompok:

a) Yang akan memadamkan api neraka bagi dirinya;

b) Bagi mereka yang hampir dilemparkan ke dalam api neraka namun kemudian dibatalkan;

c) Kenaikan tingkat bagi penghuni surga akibat doa anak-anaknya yang sholeh dan akibat doa yang belum terkabulkan selama di dunia.



Tanggal: 24 Maret
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir surat Quraisy

Surat ini diberi nama berdasarkan kata قُرَيْشٍ yang muncul pada ayat pertama surat. Pada saat itu, kakek Rasulullah, Abdul Mutholib, adalah merupakan pemimpin suku Quraisy yang sangat dihormati dan suku Quraisy adalah pemegang otoritas tradisi untuk menguasai dan mengelola sumur zam-zam. Abdul Mutholib kemudian membangun permukiman di sekitar sumur zam-zam. Surat ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan surat Al-Fiil.

Salah seorang sahabat bernama Ubay bin Ka’ab adalah satu-satunya yang berpendapat bahwa surat Quraisy dan Al-Fiil adalah sebetulnya satu surat. Namun, dia kalah dalam sebuah voting sehingga akhirnya dua surat tersebut dipisahkan.

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy

إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاء وَالصَّيْفِ
(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).

Kata ilafa (kebiasaan) pada ayat pertama dan ke dua nmenunjukkan ikatan yang sangat erat antara surat ini dengan surat Al-Fiil.



Tanggal: 25 Maret
Ustadz: Drs. Tarmizi Firdaus
Topik: Kesempurnaan Islam

Penggalan bagian dari surat Al-Ma’idah: 3 berikut menunjukkan bahwa agama Islam telah sempurna dan tidak lagi memerlukan tambahan sumber hukum lain selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bila seseorang tidak dapat menemukan rujukan hukum dari kedua sumber hukum di atas (Al-Qur’an dan Hadits), maka ijtihad dapat dilakukan oleh para mujahid yang telah menguasai kedua sumber utama hukum Islam di atas.

…. الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ….
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS 5, Al-Ma’idah: 3)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS 4, An-Nisa: 65).

0 comments: