Tuesday, December 4, 2007

February 2007

Tanggal: 10 Februari
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir surat Al-Kautsar (lanjutan)

Kata anhar dan qurban pada pertemuan lalu bermakna shodaqah yang bisa berbentuk zakat atau infaq.

1) Sesungguhnya penciptaan manusia dan jin adalah hanya untuk satu tugas berbakti (لِيَعْبُدُونِ) pada Allah seperti yang difirmankan Allah dalam Adz-Dzariyat: 56 dan dengan satu tujuan untuk mencari ridho Allah seperti tercantum pada Al-Baqarah: 207.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(QS 51, Adz-Dzariyat: 56)

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS 2, Al-Baqarah: 207)

Allah telah memberikan fasilitas baik internal (16: 78) maupun external (16: 4-7):

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS 16, An-Nahl: 78)

خَلَقَ الإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (QS 16, An-Nahl: 4)

Selanjutnya surat An-Nahl: 4-17 bahkan menunjukkan fasilitas-fasilitas yang telah Allah berikan baik secara internal maupun external untuk manusia yang kemudian ditutup dengan ayat ke 18 yang seandainya kita harus menghitung nilai kenikmatan tersebut niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Ayat tersebut berbunyi:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 16, An-Nahl: 18)

Namun semua fasilitas dan kenikmatan yang Allah berikan tersebut sering menyebabkan manusia lupa akan tujuan utamanya untuk berbakti pada-Nya akibat self interest (hawa al-nafsu) seperti dijelaskan dalam Al-Qashash: 50 berikut:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS 28, A--Qashash: 50)

Untuk itu, sebetulnya Allah memerintahkan para penguasa sebuah negeri untuk mengambil zakat dari umat Islam untuk mensucikannya dari hawa al-nafsu yang telah mengabaikan nikmat Allah yang telah diberikan tersebut, seperti yang termuat dalam At-Taubah: 103.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS 9, At-Taubah: 103).

Tanggal: 11 Februari
Ustadz: KH. Alief Syukri
Topik: Musibah sebagai peringatan Allah

Ketika terjadi bencana alam di zaman Khalifah Umar bin Khattab, hal pertama yang ditanyakan oleh Umar RA adalah: “dosa besar apakah yang kita pernah lakukan yang telah menyebabkan bencana ini.” Ini adalah gambaran introspeksi diri dalam ajaran Islam, karena azab Allah ternyata tidak hanya akan menimpa khusus untuk kaum yang dzalim seperti diberikan dalam Al-Anfal: 25, Ar-Rum: 41.

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS 8, Al-Anfal: 25).


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(QS 30, Ar-Rum: 41).

Menurut hadits, bencana alam akan selalu muncul dan ditandai oleh 15 fenomena yang terkait erat dengan tingkah laku manusia seperti berikut:

  1. Bila kekayaan negara hanya berputar pada sekelompok orang saja. Seperti kita lihat saat ini bahkan parsel justru mengalir dari si miskin untuk para pejabat yang kaya, bukan sebaliknya;

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
(QS 59, Al-Hashr: 7)

  1. Bila amanah (kepercayaan) digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi, khususnya untuk kekayaan pribadi;
  2. Bila zakat dijadikan hutang (tidak dibayarkan);
  3. Bila para suami tunduk pada istri-istrinya (karena suami adalah pemimpin keluarga);
  4. Bila anak-anak telah durhaka pada orang tuanya, khususnya pada ibunya;
  5. Bila anak-anak lebih dekat pada temannya daripada pada orang tuanya;
  6. Bila anak-anak menjauhi bapaknya;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
(QS 17, Al-Isra: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS 17, Al-Isra: 24).

  1. Mengeraskan suara dalam masjid;
  2. Para pemimpin suatu negeri adalah justru orang-orang yang tercela di antara rakyatnya;
  3. Seseorang dihormati justru karena perbuatannya yang tercela dan jahat;
  4. Minuman keras dan mabuk dilakukan secara terbuka;
  5. Sutera dipakai secara umum oleh kaum pria;
  6. Para penyanyi perempuan dielu-elukan oleh publik secara terbuka;
  7. Musik dimainkan terlalu banyak sehingga menyebabkan dilupakannya ibadah;
  8. Suatu generasi menyalahkan generasi sebelumnya.

Tanggal: 17 Februari
Ustadz: KH. Sulaiman Zachawerus
Topik: Hijrah

Melakukan perbuatan yang dipersangkakan baik oleh manusia itu belum tentu cukup baik di mata Allah. Jadi perbuatan baik itu, harus dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah.

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS 9, At-Taubah: 19).

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS 9, At-Taubah: 20).

Umat Islam mengalami hijrah sebanyak tiga kali yaitu ke Ethiopia, ke Taif dan ke Madinah. Setelah itu tidak ada lagi hijrah secara fisik seperti ini, kecuali hijrah yang maknanya perubahan seperti:

  1. Dari kebodohan menjadi pandai;
  2. Dari ahli bid’ah menjadi ahli sunnah.

Kualitas iman manusia terbagi menjadi lima kelompok:

Iman yang berada dalam pinggiran (alal harfi), seperti pada surat Al-Hajj: 11;

Iman yang tergerogoti (roddah) seperti pada surat Al-Maidah: 54;

Dzalim seperti yang digambarkan pada surat Faathir: 32 dan At-Taubah: 101;

Iman yang naik turun (zig-zag atau muqtasid) seperti yang digambarkan dalam surat At-Taubah: 102, Faathir: 32, An-Nisa: 137.

Iman haqiqi (mu’minuna haqqo) yaitu yang berlomba-lomba melakukan kebaikan (saabikun bil khoirot) seperti yang digambarkan dalam surat Faathir: 32.


وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi[980]; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang[981]. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
(QS 22, Al-Hajj: 11)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
(QS 5, Al-Maidah: 54).

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS 35, Faathir: 32).

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu[657] itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS 9, At-Taubah: 101)


Cobaan Allah pada pada kaum yang beriman dapat dilakukan dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan bahan makanan/pokok, minuman, kehilangan harta benda dan sebagainya. Orang yang teguh dengan imannya akan selalu yakin bahwa pertolongan Allah itu adalah dekat.

Mengikuti sebagaian cara hidup (way of life) orang kafir akan menyeret kita ke arah kekafiran.

Dzalim bisa berbentuk syirik atau iman yang terkontaminasi dengan ajaran lain. Di antara sahabat yang mengikuti hijrah Nabi, di antara merekja ada juga yang munafik. Allah berfirman: “Kamu tidak tahu (la ta’lamun), kamilah yang tahu (nahnu na’lamhum)”. Jadi Rasul saja tidak memiliki kekuatan supranatural yang mengetahui isi hati. Bagaiman mungkin ada manusia yang mengklaim dapat membaca isi hati seseorang?

Sedangkan kaum mu’minuna haqqo dijelaskan dalam Al-Qur’an seperti berikut:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS 9, At-Taubah: 100).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS 8, Al-Anfal: 2).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (WS 49, Al-Hujurat: 15).

Iman yang zig-zag digambarkan dalam An-Nisa: 137 sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ ثُمَّ آمَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ ثُمَّ ازْدَادُواْ كُفْراً لَّمْ يَكُنِ اللّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلاَ لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلاً
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya[362], maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS 4, An-Nisa: 137).

Tanggal: 18 Februari
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Khusu’ dalam sholat

Khusu’ terdiri atas tiga komponen yaitu:

  1. Sihatun niyah (niat yang benar);
  2. Almasru’iyah (sikap dan indikasi yang benar);
  3. Alkaifiyah (mengikuti cara yang benar)

Dengan demikian khusu’ selalu bersama-sama dengan sikap ikhlas untuk mengikuti cara Nabi beribadah (sholli roaytumuni usholli).

Khusu’: adalah sikap menyerahkan (merendahkan) diri di hadapan Allah dengan konsentrasi yang penuh , sementara seluruh anggota tubuh diserahkan ke haribaan Allah.

Menurut hadits: Bila hatinya khusu’ maka otomatis seluruh bagian tubuhnya akan khusu’.


Tanggal: 24 Februari
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir Al-Ma’un

Dalam surat Al-Ma’un, kita diharuskan melaksanakan sholat hanya untuk Allah, bukan untuk bisa dilihat karena riya.

Al-ma’un dalam bahasa Arab berarti hal-hal kecil yang tampaknya trivial dalam kehidupan sehari-hari namun dapat mencerminkan sikap toleransi dan tolong menolong yang sangat tulus (misal: memberi garam bagi tetangga jika mereka kehabisan di dalam pergaulan rumah tangga, meminjamkan pulpen, dan hal-hal kecil lain).

Banyak ulama yang menganggap surat Al-Ma’un adalah surat Makiyah, namun sebagian ulama mengatakan ini adalah surat Madaniyah. Ada juga sebagain ulama yang menganggap bahwa sebagian ayat surat Al-Ma’un diturunkan di Mekkah (ayat 1-3) dan sebagian yang lain di Madinah (ayat 4-7).

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Itulah orang yang menghardik anak yatim,

وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ
orang-orang yang berbuat riya[1603],

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
dan enggan (menolong dengan) barang berguna[1604].


أَ menunjukkan kalimat tanya, sedangkan رَأَيْ bermakna melihat baik secara visual maupun secara kognitif, sementara kata تَ berarti kamu. Kata يُكَذِّبُ bermakna membohongi yang berasal dari kata yakdzibu. Sedangkan kata لدِّينِ berarti agama.

Sementara itu, para ahli tafsir mengatakan bahwa kata رَأَيْ bermakna melihat secara visual bila obyek yang dilihat hanya satu benda, sementara dia berarti melihat secara kognitif bila obyek yang dilihat berjumlah dua atau lebih.

Pada ayat ke 2, kita mendapati kata-kata kunci seperti: Kata دُعُّ yang berarti menolak yang berubah menjadi يَدُعُّ. Semantara itu, kata طَعَامِ berasal dari kata thoima, ath’ama yang berarti memberi makan. Kata يَحُضُّ berasal dari hadhon yang berarti menganjurkan. Kata وَيْلٌ berarti hancur, binasa atau celaka, sedangkan kata مُصَلِّينَ merupakan bentuk jama dari musholla yang bermakna mereka yang sholat. Kata riya sendiri adalah perubahan dari kata رَأَيْ yang berubah menjadi yuro’i, roa’a yang bermakna agar kelihatan (pamer).


Tanggal: 25 Februari
Ustadz: Drs. Tarmizi Firdaus
Topik: Memelihara (mengamankan) sunnah

Mengamankan sunnah adalah menjadi kewajiban setiap Muslim karena diperintahkan Allah dalam Ali-Imran: 31.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 3, Ali-Imran: 31).

Dengan demikian, ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan adalah:

  1. Jangan menambah-nambah apapun yang tidak ada tuntunan dari Rasul;
  2. Sebaliknya, jangan mengurangi sesuatu dari tuntunan yang diberikan Rasul.

Dengan cara ini, kita akan selalu dekat dengan Rasul melalui pertautan jiwa (meskipun tidak secara fisik). Perhatikan pula surat Al-Hasyr: 7, Al-Ahzab: 21, An-Nisa: 59 dan 65 berikut:

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS 59, Al-Hasyr: 7).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33, Al-Ahzab: 21).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS 4, An-Nisa: 59).

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS 4, An-Nisa: 65).

Larangan untuk menambah-nambahi hal-hal yang tidak kita ketahui (tanpa ilmu pengetahuan seperti yang diajarkan melalui Rasul) dapat dilihat dari surat Al-A’raf: 31, Al-Isra: 36, dan Huud: 46.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(QS 7, Al-A’raf: 31).

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS 17, Al-Isra: 36).

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS 11, Hud: 46).

0 comments: