Tuesday, December 11, 2007

April 2007

Tanggal: 7 April

Ustadz: Bobby Herwibowo

Topik: Shalawat Nabi

Membaca (menyampaikan shalawat) adalah perintah Allah, karena para malaikat, atau bahkan Allah-pun, melakukan shalawat untuk menunjukkan rasa hormat dan cinta pada Rasulullah SAW seperti yang tercantum dalam surat Al-Ahzab: 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS 33, Al-Ahzab: 56).

Atribut-atribut yang dipakai oleh Nabi juga penting untuk ditiru karena Allah mencintai Rasulullah, dan Allah mencintai juga umat Muhammad yang menyerupainya. Atribut ini meliputi: kelakuan, tingkah-laku, dan asesori yang digunakan Rasul).

Lakukanlah sebanyak mungkin puji-pujian atas Rasul karena melalui inilah syafaat Rasul akan diperoleh dan kita perlukan di hari pembalasan kelak.

Shalawat yang terbaik adalah shalawat Ibrahimiyah.

Tanggal: 8 April

Ustadz: KH. Alief Syukri

Topik: Visi dan misi Rasul

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS 62, Al-Jumu’ah: 2).

Selama 13 tahun pertama Rasul tidak lain hanya mengajarkan tauhid (prinsip keimanan) karena masyarakat yang dihadapinya pada saat itu memang penuh kebodohan (jahiliyah).

Sedangkan visi Rasul dapat dilihat dari tiga buah surat di dalam kitab suci Al-Qur’an yang secara tekstual praktis sama, yaitu: At-Taubah: 33, Ash-Shaff: 9, dan Al-Fath: 28.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS 9, At-Taubah: 33).

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. (QS 61, Ash-Shaff: 9).

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS 48, Al-Fath: 28).

Misi Rasul adalah segala daya upaya dalam rangka menegakkan agama yang haq dengan sumber ajarannya adalah kitab suci Al-Qur’an dan ucapan dan perilaku beliau dalam Al-Hikmah (As-Sunnah). Ini dapat dilihat pada Al-Fath: 29, At-Taubah: 28, An-Nur: 55, dan Al-Mu’minun: 71 berikut ini:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS 48, Al-Fath: 29).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[634], maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[635] sesudah tahun ini[636]. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin[637], maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS 9, At-Taubah: 28).

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS 24, An-Nur: 55).

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS 23, Al-Mu’minun: 71).

Tanggal: 14 April

Ustadz: Drs. Rikza Abdullah

Topik: Tafsir surat Quraisy (lanjutan)

Bila dilihat dari aturan tanda-tanda bacaannya yang berupa washol (berlanjut), waqof (berhenti), dan la waqof fihi (jangan berhenti di sini), surat Quraisy sebetulnya terdiri hanya atas satu ayat.

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,

إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاء وَالصَّيْفِ

(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).

الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Inti dari surat ini adalah perintah: maka beribadahlah (فَلْيَعْبُدُوا) seperti yang tercantum dalam ayat ke tiga.

Jadi dalam kehidupan sehari-haripun, cara-cara memberi pengertian semacam inilah yang sehrausnya diberikan pada anak-anak kita. Jangan dekati mereka dengan ancaman-ancaman tentang dosa dan siksa neraka, tapi ajaklah supaya mereka berterima kasih atas semua nikmat Allah yang diberikan secara gratis (anggota tubuh yang berfungsi, udara untuk bernafas, bumi yang subur sebagai media sumber makanan, dsb).

Surat ini meskipun ditujukan untuk kaum Quraisy, namun esensinya adalah untuk kita semua. Contoh-contoh nikmat Allah berikut diberikan:

1) Allah menciptakan bayang-bayang sebagai pertanda siang dan malam. Dengan perubahan ini maka terjadi perbedaan temperatur, maka terjadilah sirkulasi udara dari tempat yang dingin (malam, temperatur rendah) ke tempat yang lebih panas (siang, temperatur tinggi).

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِناً ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلاً

Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, (QS 25, Al-Furqan: 45).

وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً وَظِلالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS 13, Ar-Rad: 15).

Ayat-ayat berikut menggambarkan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, seperti yang diberikan dalam Al-Waqi’ah: 68-70, Ya Sin: 33, Al-An’am: 63, Al-Anfal: 11.

وَاللّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ظِلاَلاً وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْجِبَالِ أَكْنَاناً وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS 16: An-Nahl: 81).

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ

أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ

لَوْ نَشَاء جَعَلْنَاهُ أُجَاجاً فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.

Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?

Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (QS 56, Al-Waqi’ah: 68-70).

وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبّاً فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. (QS 36, Ya Sin: 33).

قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً لَّئِنْ أَنجَانَا مِنْ هَـذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur"." (QS 6, Al-An’am: 63).

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّن السَّمَاء مَاء لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأَقْدَامَ

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS 8, Al-Anfal: 11).

Tanggal: 28 April

Ustadz: Drs. Rikza Abdullah

Topik: Tafsir surat Al-Fiil

Beribadah pada Allah seharusnya dilakukan sebagai sebuah kebutuhan daripada sebagai sebuah keharusan. Ini hanya dapat dicapai bila kita selalu menempatkan ibadah kita sebagai rasa syukur atas semua nikmat Allah yang telah kita terima.

Setiap langkah yang kita jalani dalam hidup adalah merupakan prekondisi dari kenikmatan berikutnya. Misalnya:

1) Setelah perjalanan jauh kemudian kite beristirahat, maka ini adalah sebuah kenikmatan dari Allah;

2) Setelah lama menahan lapar kemudian bertemu dengan makanan yang kita santap adalah merupakan kenikmatan dari Allah;

3) Bahkan langkah kita ke lavatory juga merupakan kenikmatan dari Allah.

Bisakah kita semua hidup tanpa semua kenikmatan tersebut? Jadi pada dasarnya, setiap langkah adalah merupakan prekondisi dari kenikmatan-kenikmatan Allah berikutnya.

Kata taqdir berasal dari qadara yang bermakna: semua proses yang dilakukan Allah melalui sistem internal dari seluruh alam semesta. Inilah yang dinamakan sunnatullah. Sedangkan qadha merupakan bagian dari taqdir ini, dan biasa disebut nasib. Ini adalah suatu momen pada saat mana sebuah peristiwa terjadi. Kita mungkin akan mampu merubahnya untuk saat yang lain (misalnya yang tadinya bodoh, dengan belajar menjadi pandai), tapi kita tidak dapat merubahnya pada saat yang terdahulu pada sata kejadian tersebut terjadi. Namun dalam kondisi apapun (baik maupun buruk), kita tetap diminta untuk mengagungkan Allah: falakal hamdu ‘ala ma qadhaifi (hanya kepada-Mu segala pujian atas segala sesuatu).

Surat Al-Fiil diturunkan setelah diturunkannya ayat: waylun lukulli humazatin lumazah dan setelah ayat: liila fi quraisyin.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

1) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah

Kata تَرَ berasal dari رَأَيْ. Sebetulnya huruf ya di sini tanpa titik dua karena ini adalah huruf alif. Huruf يْ ini hilang karena ada kata أَلَمْ. Kata أَصْحَابِ yang dapat berubah menjadi shohib berarti pemilik/penduduk atau teman.

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

2) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?

Kata كَيْدَ bermakna agenda tersembunyi. Karena tujuan utama penghancuran Ka’bah oleh gubernur Abrahah adalah sebetulnya untuk menguasai Jazirah Arab yang telah lama menjadi daerah tak bertuan dan menjadi rebutan antara kekuasaan kerajaan Persia dan Roma.

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ

3) dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,

Kata أَرْسَلَ berasal dari kata rosula dan mursilun yang berarti pesuruh (Inggris: messenger). Kata طَيْر berarti burung, sedangkan kata أَبَابِيلَ berarti berbondong-bondong (Inggris: in flock).

Kata benda/obyek dalam sebuah kalimat bahasa Arab yang ditempatkan di bagian akhir kalimat sudah umum dalam tata-bahasa Arab. Misalnya kalimat yang secara logika bahasa Indonesia seharusnya berbunyi: innallaha qodirun ‘ala syai berubah menjadi innallaha ‘ala kulli syai’in qodir (sesungguhnya kehendak/takdir Allah meliputi segala sesuatu).

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

4) yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

4) lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

0 comments: