Saturday, December 8, 2007

Mewaspadai Perbedaan Penetapan Iedul Adha 1428H

Tono Saksono, Ph.D[1]

(tsaksono@gmail.com)

Pendahuluan

Perayaan Iedul Adha 1428H (10-Dzulhijjah-1428H) yang akan bertepatan dengan hari Kamis 20/12/2007, insya Allah tidak akan menimbulkan perbedaan antara dua madzhab (rukyat dan hisab) di Indonesia yang sering berbeda penetapannya. Prakiraan ini berdasarkan hasil hitungan astronomi untuk posisi (altitud) hilal pada tanggal 1-Dzulhijjah-1428H yang akan bertepatan dengan maghrib tanggal 10/12/2007 nanti yang akan cukup tinggi sekitar 7,5o untuk basis hitungan Jakarta. Konjungsinya (ijtima) sendiri telah terjadi pada tanggal 10/12/2007 jam 00:25:19 sehingga pada maghrib hari itu, umur Bulan telah hampir 18 jam. Bila hitungan astronomi dilakukan dengan basis Mekah, pada maghrib 10/12/2007 nanti, ketinggian hilal agak lebih rendah yaitu sekitar 5,9o. Altitud hilal di Mekkah ini juga cukup tinggi sehingga sebetulnya tidak ada cukup alasan teknis yang akan menyebabkan Arab Saudi akan menetapkan hari Iedul Fitri selain tanggal 20/12/2007, karena tanggal 11/12/2007 telah masuk ke 1-Dzulhijjah-1428H. Namun demikian, kebiasaan penetapan pemerintah Arab Saudi yang dianggap sering aneh oleh umat muslim di seluruh dunia tetap harus diwaspadai.

Pengalaman Iedul Adha 1427H lalu

Untuk perhitungan Iedul Adha 1427H lalu, baik perhitungan astronomi dan kesaksian rukyat di Indonesia menetapkan bahwa tanggal 1-Dzulhijjah-1427H jatuh bertepatan dengan tanggal 22/12/2006. Menurut hitungan astronomi, parameter hilal pada maghrib 21/12/2006 dengan basis hitungan Jakarta adalah sebagai berikut:

Basis hitungan: Jakarta (106:49:45 BT; 6:10:27 LS; elevasi 25 m)
Tanggal: 21-Desember-2006
Tinggi hilal: 10,7o
Lebar hilal: 0,29’
Magnitud: -5,07

Moon lag time
: 48m 48d (hilal tenggelam 48 menit dan 48 detik setelah Matahari).

Dengan hasil penetapan 1-Dzulhijjah-1427H baik secara hisab maupun kesaksian rukyat pada 21/12/2007 seperti di atas, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan bahwa Iedul Adha 1427H (10-Dzulhijjah-1427H) jatuh pada hari Minggu 31/12/2006. Anehnya, pemerintah Arab Saudi ternyata menetapkan satu hari lebih awal yaitu pada hari Sabtu 30/12/2006. Konsekuensinya, bila tanggal 10-Dzulhijjah-1427H ditetapkan pada 30/12/2006, maka penentuan 1-Dzulhijjah-1427H nya pun harus maju yaitu pada tanggal 21/12/2006. Padahal, secara astronomis ini tidak mungkin terjadi karena pada maghrib tanggal 20/12/2006 dengan basis hitungan Mekah, posisi hilal adalah sebagai berikut:

Basis hitungan: Mekah (39:49:31 BT; 21:25:22 LS; elevasi 304 m)
Tanggal: 20-Desember-2006
Tinggi hilal: -2,6o
Lebar hilal: 0,07’
Magnitud: -4,47

Moon lag time
: -13m 13d (hilal tenggelam 13 menit dan 13 detik sebelum Matahari).

Jadi pada tanggal 20/12/2006 tersebut sebetulnya posisi hilal masih berada di bawah ufuk pada saat Matahari tenggelam. Ketika Matahari tenggelam pada maghrib 20/12/2006, hilal sudah tenggelam 13 menit dan 13 detik sebelumnya. Bahkan pada saat itu, ijtimak (konjungsi) pun belum terjadi karena konjungsi baru terjadi pada jam 21:45:34 tanggal 20/12/2006 waktu lokal. Dengan kata lain, penetapan tanggal 1-Dzulhijjah-2006 oleh pemerintah Arab Saudi adalah sekitar 3 jam 45 menit sebelum konjungsi. Akibat keputusan pemerintah Arab Saudi ini, maka wuquf telah dilaksanakan pada hari Jum’at 29/12/2006. Sebagai pembanding, hitungan parameter hilal pada tanggal 21/12/2006 dengan basis hitungan Mekah diberikan seperti di bawah ini.

Basis hitungan: Mekah (39:49:31 BT; 21:25:22 LS; elevasi 304 m)
Tanggal: 21-Desember-2006
Tinggi hilal: 9,5o
Lebar hilal: 0,41’
Magnitud: -5,27

Moon lag time
: 47m 01d (hilal tenggelam 47 menit dan 01 detik setelah Matahari).

Pelaksanaan Iedul Adha 1427H di Indonesia

Meskipun pemerintah Indonesia dan dua ormas besar Islam Indonesia Nakhdatul Ulama (berdasarkan rukyat) dan Muhammadiyah (berdasarkan hisab) telah menetapkan Iedul Adha 1427H jatuh pada 31/12/2006, kebingungan masih tetap melanda umat Islam Indonesia. Organisasi Islam DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan mesjid agung Al-Azhar Jakarta, misalnya, kemudian menetapkan Iedul Adha dengan mengikuti Arab Saudi yaitu pada tanggal 30/12/2006. Tidak terlalu jelas alasannya, namun diperkirakan karena apapun yang terjadi, peristiwa haji (termasuk wuquf sebagai salah satu rangkaian prosesi ibadah haji) toh dilakukan di Mekah, Arab Saudi, sehingga mungkin sikap sami’na waato’na yang diambil.

Sementara itu, bagi umat Islam yang meskipun telah istiqomah untuk ber-Iedul Adha tanggal 31/12/2006 juga ternyata terpecah menjadi dua dalam menyikapi pelaksanaan prosesi puasa sunnah Arafahnya. Sebagian karena menganggap bahwa puasa Arafah adalah dalam rangka menghormati saudara-saudaranya yang sedang berwuquf pada hari Jum’at 29/12/2006, maka mereka berpuasa pada hari Jum’at tersebut meskipun sholat Iedul Adhanya tetap dilakukan pada Minggu 31/12/2006. Namun ada sebagian umat Islam yang berpedoman bahwa puasa Arafah seharusnya tetap dilakukan pada tanggal 9-Dzulhijjah, jadi kelompok ke dua ini melakukan puasa Arafahnya pada hari Sabtu 30/12/2007 dengan mengabaikan kenyataan bahwa wuquf telah dilakukan pada hari Jum’at sehari sebelumnya. Mana yang benar, wallahu alam bis sawab.

Haji Akbar pada hari Jum’at

Ketetapan yang telah diputuskan oleh pemerintah Arab Saudi yang menyimpang dari common sense di antara umat Islam di seluruh penjuru dunia lain telah menyebabkan spekulasi bahwa pemerintah Arab Saudi selalu membuat keputusan yang cenderung menetapkan agar prosesi haji jatuh menjadi Haji Akbar yang jatuh bertepatan pada hari Jum’at. Ada spekulasi lain bahwa pada Haji Akbar seperti ini, semua pegawai pemerintah akan memperoleh bonus tambahan sebesar 300% dari honorarium yang biasa diterima pada perayaan haji biasa. Kecenderungan dan spekulasi seperti ini tidak/belum dapat dikonfirmasi dan masih menjadi berita yang sifatnya rumor. Namun sudah pasti, bahwa ketetapan pemerintah Arab Saudi memang sering dianggap aneh oleh umat Islam bukan saja di Indonesia, tapi juga oleh umat Islam di Eropa dan Amerika Utara.

Kalau memang spekulasi kecenderungan untuk selalu menjadikan perayaan haji menjadi haji akbar ini memang betul, maka Iedul Adha 1428H ini justru menyimpan potensi bahwa kemungkinan pemerintah Arab Saudi akan menunda satu hari ketetapan Iedul Adha 1428H yang seharusnya jatuh pada Kamis 20/12/07 menjadi Jum’at 21/12/07. Dengan demikian, walaupun di Indonesia insya Allah semua ormas Islam dan pemerintah akan bersatu melaksanakan Iedul Adha 1428H pada Kamis 20/12/2007, tetap ada potensi perbedaan manakala ada sekelompok umat Islam yang mengambil sikap sami’na waato’na dengan Arab Saudi yang ada kemungkinan menunda hari Iedul Adha menjadi hari Jum’at 21/12/07 dalam rangka menjadikannya lagi Haji Akbar. Wallahu alam.

Bekasi, 8-Desember-2007



[1] Ketua Umum, the Center for Islamic Studies. Jl. Kemang Raya 17-A, Jakarta 12730, Indonesia.

0 comments: