Tuesday, December 18, 2007

December 2007

Tanggal: 8 Desember
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir surat Al-Qari’ah


Azbabun nuzul surat Al-Qari’ah sukar diperoleh dari sumber-sumber yang ada. Namun, pada umumnya dengan surat ini Allah ingin mengirimkan pesan tentang akan datangnya hari kiamat. Dengan mengimani akan terjadinya hari kiamat, maka dalam semua tindakan selama manusia hidup di dunia akan menjadi lebih bertanggung jawab, karena semuanya itu akan kita pertanggung jawabkan di hari pembalasan (Inggris: hereafter). Banyak orang yang dengan mudah melanggar perintah Allah sebetulnya karena mereka kebanyakan tidak yakin pada hari kiamat dan hari pembalasan.

Menurut surat ini, seluruh alam semesta ini akan dihancurkan kembali sebelum diciptakannya kembali padang mahsyar untuk memperhitungkan semua amalan manusia selama hidup di dunia. Untuk memahami proses penghancuran alam semesta nantinya, kita harus memahami dulu proses penciptaannya.

Proses penciptaan alam semesta dapat dilihat dari surat Al-Anbiya: 30 yang berbunyi:


أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS 21, Al-Anbiya: 30).

Interpretasi (tafsir) yang paling cocok dalam konteks ilmu pengetahuan moderen untuk proses pemisahan langit dan bumi ini adalah proses yang dinamakan Big Bang. Setelah proses Big Bang ini, alam raya masih berupa asap (dukhan), dan setelah mengalami proses pendinginan suhunya, terbentuklah gugusan bintang dan semua benda-benda langit lain (termasuk bumi, matahari, bulan dsb) yang kemudian beredar di garis edarnya masing-masing.


لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS 36, Ya Sin: 40).

Terjemahan yang lebih tepat untuk kata يَسْبَحُونَ adalah berenang, dan memang kenyataannya, benda-benda langit tersebut seperti berenang di alam raya sana. Prof. Ahmad Baiquni menafsirkan kata الْأَرْضَ sendiri sebagai materi. Jadi tidak harus selalu bumi sebagai planet yang kita huni ini.

Dalam menjelaskan semua fenomena alam (sosial apalagi yang menyangkut fisika dan astronomi), Allah biasanya meminjam bahasa manusia karena sesungguhnya bahasa Allah adalah bahasa yang la harfa wala shouba (tidak berhuruf dan tidak bersuara). Itulah sebabnya, agar bahasa Allah dapat dimengerti oleh manusia, dikirimlah utusan untuk menyampaikannya pada para Rasul, yaitu malaikat Jibril, agar prinsip-prinsip can get the message across (failun balighun) yang dapat dipahami oleh manusia di segala strata pendidikan dan sosial.

Setelah penciptaannya, ilmu pengetahuan moderen juga membuktikan bahwa jagat raya ini sebetulnya terus berkembang yang diakibatkan oleh sisa energi pada saat Big Bang. Ini persis seperti yang dapat dikutip dari Adz-Dzariat: 47 berikut:

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
47. Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS 51, Adz-Dzariat: 47).

Kata لَمُوسِعُونَ adalah kalimat yang dalam bahasa Inggris berbentuk present continuous tense (Arab: ismi fi’il?). Jadi ini masih terus berlangsung. Dengan kata lain, jagat raya ini memang masih terus mengembang menjadi luas sampai suatu saat akan berhenti seperti yang dijelaskan dalam surat Fathir: 41.

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً
41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS 35, Fathir: 41).

Kata تَزُولَا berarti lenyap, sedangkan yang mencegah itu adalah kekuasaan Allah dalam mengontrol semua isi alam semesta ini (أَمْسَكَهُمَا) agar jangan lenyap (Jawa: mbedal).

Dalam proses penghancuran alam semesta ini, proses pengembangan ini akan dihentikan oleh Allah, dan proses ini akan jauh lebih cepat dari proses penciptaannya (bahkan akan sangat cepat sekali). Saat itulah yang oleh Allah dijelaskan dalam Al-Anbiya: 104 saat langit akan dilipat seperti lembaran kertas, dan Al-Qiyamah: 9 saat matahari dan bulan akan dikumpulkan menjadi satu, seperti berikut:

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاء كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْداً عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
104. (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS 21, Al-Anbiya: 104).

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
9. dan matahari dan bulan dikumpulkan, (QS 75, Al-Qiyamah: 9).

Sekarang kita tinjau surat Al-Qari’ah ini setiap ayatnya.

الْقَارِعَةُ
1. Hari Kiamat,

Kata qari’ah sebetulnya berasal dari qara’a dan yaqro’u yang berarti pukulan yang keras (the striking moment). Jadi Al-Qari’ah berarti suatu peristiwa pukulan yang keras. Pukulan ini tidak harus berasal dari sebuah ledakan seperti Big Bang. Bisa saja pukulan tersebut berasal dari air, angin, suara dan sebagainya). Untuk kaum Tsamud-nya (Nabi Soleh) ini berupa suara yang sangat memekakkan telinga namun telah menghancurkan semua kaun Tsamud. Dalam Al-Qur’an digambarkan bahwa pada kejadian kiamat tersebut akan sangat dahnyat yang digambarkan seperti: yauma yunfikkhu fish shouri (pada satu hari ketika terompet ditiupkan). Saat itu belum ada bom, jadi suara yang memkakkan hanya dapat diilustraskan sebagai suara terompet yang menggelegar.

Peristiwa hari itu akan terjadi sangat mendadak dan cepat sehingga hari kiamat sering disebut dengan sebutan-sebutan lain seperti: al-qari’ah, al-waqi’ah, asho-shokhah, al-ghasyiah, as-saa’ah dan sebagainya। Semua kata-kata di atas menggambarkan suatu momen yang sangat dahsyat (devastating).


مَا الْقَارِعَةُ
2. apakah hari Kiamat itu?

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
3. Apa yang membuat kamu jadi tahu apakah hari Kiamat itu?

Kata أَدْرَاكَ berasal dari daro dan ro’a yang berarti melihat secara kognitif (akal), dengan demikian berarti mengerti. Sedangkan kata مَا sesungguhnya dapat berarti sesuatu apapun, apa, atau tidak, sehingga ayat diatas diterjemahkan seperti di atas.

يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,

Pada saat itu, setiap manusia akan bertebaran kalang-kabut (seperti anai-anai atau laron) yang lupa bahkan pada apa yang biasanya sangat dicintainya. Digambarkan dalam surat Al-Hajj: 2 seperti berikut:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
2. (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (QS 22, Al-Hajj: 2).





Tanggal: 9 Desember
Ustadz: KH. Alief Syukri
Topik: Taqwa sebagai bekal hidup


Bekal hidup yang ke 7 bagi seorang muslim adalah taqwa dan ini merupakan bekal yang terpenting bagi seorang muslim, seperti yang dijelaskan dalam Al-Baqarah: 197 dan Al-Hashr: 18-19:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS 2, Al-Baqarah: 197).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS 59, Al-Hashr: 18-19).


Setiap muslim harus memfokuskan dirinya dalam mempersiapkan kehidupan di akirat yang kekal. Dengan memperhitungkan masa kecil dan kira-kira sepertiga umur yang kita pakai untuk tidur, maka kita pada dasarnya memiliki waktu hidup di dunia ini hanya sekitar 30 tahun saja (bila umur rata-rata kita 60 tahun). Kesimpulannya, Al-Qur’an banyak menyitir bahwa: ad dunya mata’ul ghurur (hidup di dunia hanyalah kesenangan yang menipu). Mereka yang melupakan hari akhirat berarti melupakan Allah dan disebut kaum yang fasik. Sebaliknya, Allah akan selalu memberikan jalan keluar bagi hambanya yang bertaqwa berupa kemudahan dalam hidup di dunia seperti yang dijelaskan pada At-Talaq: 2-5.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْراً
….. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
…..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
….. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
….. dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS 65, Ath-Thalaq: 2-5).


Sedangkan di akhirat, Allah akan memberikan surga yang luasnya meliputi langit dan bumi (Ali-Imran: 133):

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS 3, Ali-Imran: 133).

Ganjaran bagi kaum yang bertaqwa ini diberikan dalam Ali-Imran: 15, sementara yang harus dilakukan oleh umat yang bertaqwa adalah seperti apa yang diberikan dalam Ali-Imran: 16.

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
15. Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS 3, Ali-Imran: 15).

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
16. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (QS 3, Ali-Imran: 16).

Penggalan Ali-Imran: 16 di atas ini (garis bawah) adalah do’a yang disunnatkan dibaca setiap sebelum sholat shubuh (رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ).

Kaum yang bertaqwa juga harus sabar dari segala macam cobaan seperti: rasa takut, kelaparan, kehilangan kekayaan, bahkan jiwa seperti yang diberikan dalam Al-Baqarah: 155, dan yang selalu berpasrah diri sepenuhnya pada Allah bila mengalami musibah (Al-Baqarah:156).

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS 2, Al-Baqarah: 155).

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS 2, Al-Baqarah: 156).

Secara lebih rinci, kesabaran atas cobaan Allah tersebut diberikan sebagai berikut:

1) Kesabaran dalam menerima ketentuan Allah (Al-Insan: 24). Pada ayat-ayat selanjutnya dalam surat Al-Insan ini dijelaskan ketentuan Allah tersebut termasuk dalam malaksanakan sholat yang seharusnya dilakukan dengan tuma’ninah. Hendaknya kita selalu mendahulukan kemauan Allah.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِماً أَوْ كَفُوراً
24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka. (QS 76, Al-Insan: 24).

2) Kesabaran dengan selalu mengikuti orang yang bersama-sama menyeru nama Allah pada pagi dan petang (Al-Kahfi: 28) dan larangan untuk mengikuti orang yang melalaikan Allah.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS 18, Al-Kahfi: 28).

Sayidina Ali mengatakan: Lihatlah apa yang disampaikan, buka siapa yang menyampaikan. Sepanjang yang disampaikan adalah Al-Qur’an, kita harus sabar mengikutinya.

3) Sabar dalam menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT (Al-Ma’idah: 90, An-Naml: 91). Bahkan harus sabar untuk tidak mendekatinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS 5, Al-Ma’idah: 90).

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS 27, An-Naml: 91).

Jadi berbakti itu bukan pada negeri yang hanya makhluk। Berbakti hanya boleh kepada Allah sebagai pencipta negeri।

4) Sabar dalam membela dan menegakkan firman-firman Allah (Ali-Imran: 142).

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS 3, Ali-Imran: 142).

Harus diingat bahwa Nabi Nuh menyeru umatnya agar mengimani Allah dan ajaran yang beliau bawakan selama sekitar 950 tahun. Nabi Ibrahim sampai harus dihukum bakar dalam usaha beliau untuk menegakkan agama Allah. Nabi Muhammad juga tetap sabar ketika beliau selalu dihina oleh kaum musyrik Arab saat itu. Bahkan katika malaikat Jibril meminta izin untuk menimpakan bukit Uhud ke arah mereka, Rasululah tetap bersabar karena mengharapkan anak-cucu mereka yang mungkin akan memeluk agama Islam. Adalah kesabaran pula yang telah menyebabkan para penyebar agama Islam pada tahun 1500-an ke Nusantara dengan segala macam keculitan transportasi sata itu.

Dapat disimpulkan bahwa orang-orang sabar adalah seperti yang digambarkan dalam Ali-Imran: 17) berikut:

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ
17. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS 3, Ali-Imran: 17).

Kebenaran ini selalu dimaksudkan kebenaran dari Allah (صَّادِقِينَ), dengan konsentrasi penuh (قَانِتِينَ) dalam melaksanakannya, menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah padanya (مُنفِقِينَ), dan memohon ampunan Allah (مُسْتَغْفِرِينَ) sebelum shubuh/sahur (أَسْحَارِ).





Tanggal: 15 Desember
Ustadz: Muhammad Mourits
Topik: Istiqomah

Seorang sahabat, Amr as-Sufyan bin Abdillah, memohon pada Nabi setelah mendengar Nabi pernah bersabda: “Kalian yang hidup setelahku akan mendapati perselisihan yang banyak, di kalangan umat”. Nabi melanjutkan: ”Maka bergeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku”. Dia bertanya (hadits Arba’in #21): Qul lii fil islami qoulan la as-aluu ahadan ghoirotan (berikan saya pegangan dalam Islam, saya tidak akan bertanya selain pada engkau). Nabi menjawab singkat: qul amantu billahi tsumma staqimu (katakan aku beriman kepada Allah dan kemudian istiqomah).

Dalam Al-Qur’an banyak sekali perintah untuk istiqomah (konsistensi dalam hal kebaikan) seperti dalam surat Fusilat: 30-31.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS 41, Fusilat: 30).

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS 41, Fusilat: 31).

Istiqomah berarti teguh dalam pendirian (berdasarkan pengetahuan). Lain dengan keukeuh (tanpa pengetahuan). Istiqomah ada pula dalam Al-Ahqaf: 13. Istiqomah dapat dicapai bila telah amantu billah (beriman kepada Allah).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46, Al-Ahqaf: 13).

Orang yang istiqomah tidak akan merasaa takut dan khawatir। Ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim yang telah istiqomah bertaqwa kepada Allah, seperti ayat berikut:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6, Al-An’am: 79).

Derajat ini diperoleh Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan, dan beliau menemukan-Nya karena melakukannya dengan istiqomah dan dengan ilmu pengetahuan.
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (QS 6, Al-An’am: 75).

Pencarian itu dilakukan dengan penuh keteguhan dengan mengamati fenomena alam semesta:.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." (QS 6, Al-An’am: 76).

Kata كَوْكَباً berbentuk jamak yang sering diterjemahkan dengan bintang (an-najmu), padahal ini bisa pula berarti planet lain (seperti Venus yang tampak dari Bumi).
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (QS 6, Al-An’am: 77).

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS 6, Al-An’am: 78).

Barulah setelah proses pencarian yang panjang, Nabi Ibrahim kemudian menarik kesimpulan tentang Rabb pencipta seluruh alam semesta tersebut seperti pada Al-An’am: 79 di atas. Proses pencarian yang panjang itu memperoleh ujian dengan melihat kaumnya yang menyembah berhala, namun beliau tidak hanyut. Kemudian ujian untuk menyembelih puteranya yang akan kita peringati dalam rangka Iedul Adha yad, setelah beliau mendambakan kelahiran seorang anak yang saleh.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS 37, Ash-Shaaffaat: 100).

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS 37, Ash-Shaaffaat: 101).

Namun ketika anak ini telah baligh, datanglah perintah untuk menyembelihnya. Padahal Nabi Ibrahim telah meninggalkan isteri dan puteranya ini di suatu lembah yang tandus, dan ketika beliau kembali dan puteranya telah baligh, beliau malah akan menyembelihnya.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS 37, Ash-Shaaffaat: 102).

Nabi Ibrahim adalah contoh seorang hamba Allah yang sangat istiqomah:
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِيناً قِيَماً مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS 6, Al-An’am: 161).

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS 6, Al-An’am: 162).


Perbedaan Iedul Adha 1428H
Berkenaan dengan perbedaan hari Iedul Adha (19 dan 20 Desember 2007), memang menurut perhitungan tanggal 19/12/2007 belum masuk 10-Dzulhijjah. Namun Al-Baqarah: 198 hanya menyebutkan tempat, tidak menyebut waktu.
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS 2, Al-Baqarah: 198).

Dalam hadits juga hanya menyebutkan tempat dan tidak menyebutkan waktu. Lihat juga Bulughul Maram #698: Nabi bersabda: puasa pada hari ‘Arafah akan menghapus dosa satu tahun sebelum dan satu tahun sesudahnya. Kebetulan orang di Arafah pada tangal 9-Dzulhijjah, maka kita berpuasa pada hari tersebut, terlepas dari kesalahan dalam menetapkan tanggal 9-Dzulhijjahnya.

Jadi jika karena suatu hal, misalnya terjadi peperangan yang menyebabkan tidak ada yang melaksanakan haji, maka tidak ada juga puasa Arafah. Begitu juga misalnya ada manusia hidup di planet lain, maka jika mereka akan melaksanakan haji, maka mereka harus datang ke Arafah yang hanya ada di Bumi kita. Kalau mereka menghitung dengan referensi waktu planetnya, maka selamanya tidak akan pernah berhaji. Jadi dalam kasus ini, kita tidak perlu menghitung dengan referensi waktu kita sendiri. Jika memang terjadi kesalahan, maka itu menjadi tanggung jawab otoritas Arab Saudi yang telah melakukan kesalahan. Jadi ini sangat berbeda dengan Iedul Fitri dan puasa Ramadhan yang jelas menetapkan waktunya, tapi tempatnya bisa di mana saja, seperti pada surat Al-Baqarah: 185 berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS 2, Al-Baqarah: 185).

Begitu juga dalam hadits: summu liru’yatihi, wa afthiru liru’yatihi. Kita berpuasa setelah hilal muncul meskipun di tempat lain belum muncul karena ini hanya menjelaskan waktu, bukan tempat. Ini juga terjadi pada ibadah sholat yang harus mengikuti waktu setempat, bukan tempatnya. Jadi perbedaan penetapan hari ini menjadi porsi otoritas Indonesia (MUI, Departemen Agama RI untuk memberi saran pada pemerintah Arab Saudi).

Milata Ibrahim
Tentang milah Ibrahim sebagai petunjuk bagi kita untuk napak tilas, dimulai dengan
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS 14, Ibrahim: 35).

Nabi Ibrahim sebetulnya pada saat itu tidak tinggal di Mekah, tapi beliau mendoakan kota tersebut. Kita harus merenungkan kekuatan do’a beliau ini. Pernahkah kita mendoakan untuk negeri kita dengan sungguh-sungguh? Himbauan: berdo’alah selalu dengan sungguh-sungguh untuk kota, daerah dan negeri kita. Juga menyerahkan sepenuhnya pada Allah bila kaumnya tetap mendurhakainya, menyerahkan sepenuhnya keselamatan pada perlindungan Allah.

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 14, Ibrahim: 36).

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS 14, Ibrahim: 37).

Tidak ada yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh Allah seperti berikut:
رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللّهِ مِن شَيْءٍ فَي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS 14, Ibrahim: 38).

Berdoa agar anak keturunannya termasuk orang yang mendirikan sholat.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS 14, Ibrahim: 40).

Berdoa untuk pengampunan kedua orang tua dan semua orang mukminin (termasuk mukminat).
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS 14, Ibrahim: 41).

Tentang perintah berqurban disyariatkan dalam Al-Hajj: 34 untuk orang-orang yang patuh. Penjelasan tentang orang yang patuh diberikan dalam ayat berikutnya, sebagai berikut:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS 22, Al-Hajj: 34).

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS 22, Al-Hajj: 35).

Akhirnya, Nabi Ibrahim memberikan contoh bahwa dalam sebuah sistem penguasa alam semesta yaitu Allah hendaknya tidak diciptakan nakhoda-nakhoda lain (syirik). Ini juga termasuk di mesjid, rumah tangga, dll, hendaknya tidak ada dua nakhoda. Nabi Ibrahim telah memberikan pelajaran tentang job description ini seperti berikut:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَSekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS 21, Al-Anbiya: 22).



Tanggal: 22 Desember
Ustadz: Rikza Abdullah
Topik: Tafsir Al-Qari’ah (lanjutan)

Qoro’a berarti sebuah hentakan yang mengejutkan dan akan terjadi hanya sekali saja, dan semua mahluk akan merasakannya bersama-sama. Hentakan itu begitu dahsyat sehingga semua benda-benda akan terlempar. Kadang-kadang Allah menjelaskan betapa menggelegarnya kedahsyatan hari kiamat tersebut dengan tiupan terompet karena pada zaman Rasul suara-suara yang paling memekakkan adalah suara-suara seperti suara terompet itu (belum ada bom dan semacamnya) – lihat petikan Al-Kahfi: 99 di bawah.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ
kemudian ditiup lagi 8sangkakala

Sekarang, kita membayangkan bahwa hentakan itu akan berupa ledakan yang sangat dahsyat pada saat Allah melipat seluruh alam raya ini seperti gulungan kertas – lihat Al-Anbiya: 104.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاء كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْداً عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.

Ini untuk menggambarkan bahwa alam raya yang terus mengembang (expanding universe) ini pada suatu saat kelak akan berhenti dan kemudian mengkerut kembali secara tiba-tiba. Ini akibat energi sisa ledakan Big Bang mungkin telah habis dan alam raya berhenti mengembang. Hentakan inilah yang akan menyebabkan benda-benda langit yang sekarang dalam posisi yang sangat harmonis untuk kehidupan kemudian akan berubah dengan tiba-tiba. Matahari yang saat ini menjadi terlempar semakin dekat terhadap Bumi kita sehingga gaya gravitasi Matahari akan begitu besar (lebih besar dari gravitasi Bumi yang saat ini kita alami) yang akan menyebabkan manusia beterbangan seperti laron (فَرَاشِ) seperti yang digambarkan dalam Al-Qari’ah.

Kata Al-Qari’ah (الْقَارِعَةُ) sendiri diakhiri dengan ta marbuthoh (ةُ) yang dalam bahasa Arab menjelaskan jender perempuan (female) atau satuan (unit). Ekspresi jender dapat dilihat dari contoh kata muslimun (orang Islam laki-laki) dan muslimatun (orang Islam perempuan). Ekspresi satuan dapat dilihat dari contoh kata tsamrotun (buah satu biji) yang berubah menjadi tsamrotaani (buah yang berjumlah banyak). Dalam bahasa Inggris collective noun seperti kata furniture yang sudah bermakna jamak meskipun tanpa tambahan ‘s’ di belakangnya.

Kata Al-Qari’ah di atas menjelaskan satuan (satu hentakan saat kiamat nanti) seperti yang dijelaskan dengan kata zajaro (زَجْرَ) yang bermakna teriakan atau hentakan yang tiba-tiba dalam As-Saaffat: 19 seperti berikut.

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنظُرُونَ
Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan (hentakan) saja; maka tiba-tiba mereka meIihatnya.

Dalam menafsirkan Al-Qur’an kita harus membandingkan ayat satu dengan lain (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an) agar kita memperoleh tafsiran yang lebih akurat. Ini untuk menghindari penafsiran yang narrow minded sehingga akan mempersempit karir dan kemampuannya sebagai manusia. Contoh diberikan di sini:

Ada seorang asing yang masuk Islam (mualaf) yang merasa bingung apakah dia boleh bekerja di sebuah instansi atau perusahaan yang dipimpin oleh orang non-muslim karena dia membaca: laa tattakhidzu mal yahuudu wannshoro awliyaa (jangan kau ambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai ‘awliya’).

Kata awliyaa sama dengan waliyyun yang sebetulnya dapat memiliki arti sebagai pelindung, tapi dapat juga berarti kekasih. Kata waliyullah memiliki arti kekasih Allah. Jadi sebetulnya kata awliyaa dalam kalimat di atas lebih memiliki arti: jangan kau ambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai kekasih (teman dekat) sebagai tempat curhat di mana semua rahasia kita ceriterakan. Kesimpulannya, bekerja dan berbisnis dengan kaum Yahudi dan Nasrani tidak dilarang oleh Allah, seperti yang dapat kita lihat pada Al-Mumtahanah: 8-9 berikut:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Kata tawallawhum (تَوَلَّوْهُمْ) di atas sama dengan kata awliyaa.

0 comments: