Monday, December 17, 2007

Analisis Iedul Adha 1428H

oleh: Tono Saksono, Ph.D
(Ketua the Center for Islamic Studies, Jakarta. Email: tsaksono@gmail.com)



Pendahuluan

Oleh karena terlalu seringnya pemerintah Arab Saudi menentukan hari Iedul Adha yang menyimpang dari common sense di dunia muslim internasional, pada tulisan sebelumnya (judul: Mewaspadai Perbedaan Penetapan Iedul Adha 1428H), saya memperkirakan bahwa pemerintah Arab Saudi akan menetapkan Iedul Adha 1428H akan jatuh pada tanggal 21/12/07 agar Iedul Adha hari itu jatuh dalam kategori Haji Akbar. Namun kenyataannya, justru sebaliknya, ternyata pemerintah Arab Saudi malah menetapkannya lebih awal yaitu pada tanggal 19/12/07.


Tetap menyalahi common sense

Memundurkan atau memajukan dalam penetapan hari Iedul Adha 1428H oleh pemerintah Arab Saudi ini memang tetap menyalahi common sense bagi sebagian besar umat Islam di dunia. Jordanian Astronomical Sosiety (JAS), misalnya, memberikan komentar sebagai berikut: Neglecting all the scientific basics and facts, Saudi had accepted claim of sighting on Sunday 09 December 2007, and announced the beginning of Thul Hijjah to be on Monday 10 December 2007, and hence Eid will be on Wednesday 19 December 2007”. Selanjutnya, JAS juga memberikan analisisnya sebagai berikut: According to the Universal Hejric Calendar (UHC), which is based on the calculated crescent visibility, the start of this month in the Eastern Region will be on Tuesday 11 December 2007, and in the Western Region will be on Tuesday 11 December 2007 also. Thus, Eid Al-Adha should start on Thursday 20 December 2007 in both regions.

Pada tanggal 13/12/07 lalu, saya juga menerima telepon dari seorang kyai Indonesia yang kebetulan sedang berada di Denver, Colorado. Beliau minta penjelasan tentang posisi astronomis hilal terutama di wilayah Amerika Utara, karena ternyata keputusan pemerintah Arab Saudi ini juga telah menyebabkan kebingungan di antara umat muslim di Amerika Utara termasuk beliau yang sedang menengok cucunya. Menurut beliau, msulim Amerika terpecah menjadi tiga. Ada yang merayakan Iedul Adha 1428H pada tanggal 19, 20 dan 21 Desember 2007. Saya kemudian menghitung karakteristik hilal di beberapa tempat yang meliputi wilayah Timur Tengah dan sekitarnya (ArabSaudi, Iran, Libya, Turki), Amerika Utara (Amerika, Kanada), Amerika Selatan (Chile, Peru), di samping tentu saja Jakarta.

1-Dzulhijjah-1428H

Seperti kita ketahui, Iedul Adha adalah bertepatan dengan tanggal 10-Dzulhijjah. Dengan demikian, bila 10-Dzulhijjah-1428 ditetapkan jatuh pada 19/12/2007, maka 1-Dzulhijjah seharusnya jatuh pada tanggal 10/12/2007. Untuk ini maka posisi hilal pada maghrib 9/12/2007 harus dianalisis. Sebaliknya, bila 10-Dzulhijjah-1428 ditetapkan jatuh pada 20/12/2007, maka 1-Dzulhijjah seharusnya jatuh pada 11/12/2007, dan oleh karenanya, karakteristik hilal pada maghrib tanggal 10/12/2007 menjadi penting. Untuk melakukan analisis karakteristik hilal pada dua hari yang sangat penting ini, beberapa kota di wilayah-wilayah tersebut di atas telah dipilih, dan selanjutnay karakteristik hilal di wilayah tersebut diberikan pada Tabel -1 dan Tabel-2 berturut-turut.

Karakteristik hilal pada 9/12/2007

Karakteristik hilal di beberapa kota yang mewakili tiga benua diberikan pada Tabel-1. Dari tabel ini, tampaklah bahwa di hampir seluruh belahan bumi, posisi hilal pada maghrib tanggal 9/12/2007 ternyata masih di bawah ufuk. Di Mekah sendiri posisi hilal pada tanggal 9/12/2007 kemarin ternyata masih 4,5 derajat di bawah ufuk. Dengan posisi ini, Bulan tenggelam sekitar 22 menit lebih awal daripada Matahari (lihat kolom moon lag time). Bahkan sebetulnya menurut perhitungan astronomis, konjungsi (ijtima’) sendiri baru terjadi pada jam 21:46 waktu lokal pada tanggal 9/12/2007 tersebut. Jadi memang betul-betul menyalahi common sense kalau dikatakan bahwa orang mengklaim melihat hilal pada maghrib 9/12/2007 atau sekitar 5 jam sebelum ijtima’ karena maghrib pada hari itu jatuh pada jam 17:42 waktu lokal।

Di Jakarta sendiri, posisi hilal pada tanggal 9/12/2007 ini masih di bawah ufuk sekitar 4,8 derajat. Ini berarti Matahari tenggelam sekitar 27 menit setelah Bulan tenggelam, dan oleh karenanya tidak terpenuhi persyaratan untuk menentukan maghrib pada 9/12/2007 tersebut telah masuk awal bulan Dzulhijjah.

Dari Tabel-1 ini dapat dilihat pula bahwa hanya di wilayah-wilayah Amerika Selatanlah posisi hilal telah memenuhi syarat wujud, yaitu di Lima (Peru) sekitar 2,5 derajat dan Santiago (Chile) sekitar 4,1 derajat di atas ufuk ketika Matahari tenggelam (maghrib). Namun demikian, menurut beberapa software perhitungan astronomis, ketinggian hilal di atas ufuk di Amerika Selatan inipun tidak mungkin dapat dilihat dengan mata.

Karakteristik hilal pada 10/12/2007

Untuk selanjutnya, karakteristik hilal pada tanggal 10/12/2007 diberikan pada तबेल-2.

Barulah pada maghrib tanggal 10/12/2007 posisi hilal telah berada di atas ufuk di seluruh wilayah. Khusus untuk wilayah Lima (Peru), dan Santiago (Chile), posisi hilal telah sangat tinggi karena pada hari itu, telah memasuki tanggal 2-Dzulhijjah-1428H.

Kesimpulan

Dari analisis singkat di atas dapat disimpulkan bahwa umat Islam dan pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan yang benar dengan menetapkan bahwa perayaan Iedul Adha dilakukan pada tanggal 20/12/2007 karena memang 1-Dzulhijjah-1428H jatuh pada tanggal 11/12/2007 (sejak maghrib 10/12/2007). Sekali lagi dan untuk yang kesekian kalinya, pemerintah Arab Saudi telah membuat sebuah keputusan yang tidak sesuai dengan common sense.

0 comments: