Thursday, November 29, 2007

October 2007

Tanggal: 7 Oktober
Ustadz: KH. Muchdi Cholil
Topik: Bacaan Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab suci memuat dan mengatur semua aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dibandingkan (unparalleled) dengan kitab apapun.

Bila kita mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, maka kita harus diam (tidak berisik) dan mendengarkan, maka insya Allah, kita akan memperoleh rakhmat Allah SWT, seperti yang tercantum dalam surat Al-A’raf: 204 sebagai berikut:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS 7, Al-A’raf: 204)

Dengan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bagi mereka yang membacanya, rakhmat Allah yang lebih besar akan dilimpahkan, seperti yang tercantum dalam surat Al-An’am: 160.

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS 6, Al-An’am: 160)



Tanggal: 20 Oktober
Ustadz: KH. Sulaiman Zachawerus
Topik: Allah yang akan mempersatukan umat Islam

Membesarkan nama Allah pada akhir bulan Ramadhan adalah sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al-Baqarah: 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(QS 2, Al-Baqarah: 185)


Ini memiliki implikasi bahwa kita harus selalu merendahkan diri di hadapan Allah. Dengan saling merendahkan diri, maka semua perbedaan yang terjadi terutama terkait dengan perbedaan hari Iedul Fitri 1427-H akibat ego manusia dapat dihilangkan. Hanya Allah-lah zat yang Maha Agung akan mampu mempersatukan hati kaum Muslimin seperti yang tercantum dalam Al-Anfal: 63.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS 8, Al-Anfal: 63)


Sementara itu, terhadap kemusyrikan, Islam tidak memberikan toleransi. Pernah suatu saat Rasulullah SAW diminta untuk hanya ‘meraba’ kaki Latta berhala kaum pagan Arab. Mereka membujuk bahwa Rasul tidak usah menyembah Latta, hanya cukup meraba kakinya saja hanya untuk menunjukkan toleransi pada kepercayaan kaum musyrik. Namun ketika Rasulullah hampir saja melakukan permintaan tersebut, turunlah surat Al-Isra: 73.

وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17, Al-Isra: 73)

Ayat ini dilanjutkan lagi dengan ayat 74 dan 75 yang dikutip:

وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (QS 17, Al-Isra: 74)


إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً
kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.
(QS 17, Al-Isra: 75)


Ternyata, pada kemusyrikan, memang tidak ada toleransi dalam Islam.

Sementara itu, hikmah saling memaafkan dalam Iedul Fitri adalah dalam rangka saling mencintai sesama Muslim seperti dalam hadis: waaw sathuha yuhibbu liakhihi maa yuhibbu linafsi (persamaannya adalah seperti mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya).



Tanggal: 21 Oktober
Ustadz: Drs. Bachtiar Kartasasmita
Topik: Halal bil halal

Halal bil halal berasal dari anjuran Allah dalam surat Ali-Imran: 133 dan At-Taghabun: 14 seperti berikut.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS 3, Ali-Imran: 133)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64, At-Taghabun: 14)

Maaf memaafkan dalam Islam memiliki empat bentuk yaitu:
1. Memaafkan (waan ta’fu);
2. Membuka lembaran baru (watasfahu);
3. Berjabatan tangan (wata’faru), dan di atas segala-galanya adalah
4. Saling mencari ampunan Allah (wataghfiru).

Cara pemberian maaf yang paling besar dicontohkan di dalam Al-Qur’an, atas penyebaran berita bohong tentang tindakan nista yang dituduhkan pada istri Rasulullah, Siti Aisyah RA. Semua berita ini hanyalah bohong yang ternyata awalnya disebarkan oleh sepupu Abu Bakar Siddiq RA sendiri. Semua berita nista itu adalah fitnah seperti firman Allah pada An-Nur: 12-20.

Setelah mengetahui sumber berita bohong tersebut adalah sepupunya, Abu Bakar kemudian bersumpah bahwa beliau tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. namun, tindakan ini kemudian ditegur oleh Allah melalui Rasul dengan turunnya surat An-Nur: 22 sebagai berikut:

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 24, An-Nur: 22)

Allah juga pernah menegur Rasulullah yang merasa sangat kecewa atas perangai para sahabat yang telah menyebabkan kekalahan besar umat Isalm dalam perang Uhud. Allah memperingatkan Rasul untuk memberikan maaf seperti terdapat dalam Ali-Imran: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS 3, Ali-Imran: 159)



Tanggal: 27 Oktober
Ustadz: Drs. Rikza Abdullah
Topik: Tafsir surat At-Takatsur

At-Takatsur berasal dari kata katsirun dan katsaro. Kata takatsur sendiri berarti persaingan atau perlombaan. Surat ini memiliki keterkaitan erat dengan surat-surat lainnya seperti surat Al-Qariah dan Al-‘Asr. Ketiga surat ini pada dasrnya mengajarkan bahwa semua makhluk memiliki masa hidup (life span) yang terbatas – dalam bahasa Arab: abalin musamma.

Surat Al-Qariah mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu di seluruh alam raya ini pada akhirnya akan lenyap dan hancur. Semua kehidupan umat manusia akan ditransfer ke kehidupan berikutnya yang kekal. Business-wise, ini sungguh merupakan sebuah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia. Bila kita hidup sesuai dengan perintah Allah yang hanya berlangsung beberapa puluh tahun saja, tapi akan dibalas dengan ganjaran berupa kenikmatan yang berlangsung tanpa batas. Analogi untuk ini adalah seperti dalam olah raga maraton. Kita diberi petunjuk untuk jangan menghambur-hamburkan kesenangan dunia yang hanya sesaat, karena kita akan menghadapai kesenangan yang kekal di akhirat kelak.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Berlomba-lomba telah melalaikan kamu

Ayat ini terkait sangat erat sekali dengan surat Al-Asr: 2

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kata al hakum berasal dari lahwun lahaa alhaa yang berarti melalaikan atau membelokkan (divert).

Kompetisi (berlomba-lomba) ini meliputi semua aspek hidup bukan hanya berlomba dalam menumpuk kekayaan. Pesan intinya adalah: dalam setiap hal, manusia dilarang melakukannya berdasarkan hawa nafsu (self interest). Dengan kata lain, kita sesungguhnya harus mampu me-manage hawa nafsu (self interest).

Dalam pengertian sekuler: hidup dianggap ada bila terjadi pertumbuhan. Dalam Islam, hidup terjadi bila adanya pertemuan antara jasad (physical condition) dan ruh. Sementara pertemuan antara jasad dan ruh ini akan menghasilkan kelakuan (behavior). Bila jasad kita sakit, maka ini akan mempengaruhi jiwa. Demikian juga sebaliknya bila jiwa kita sakit, maka akan mempengaruhi badan/jasad kita. Statistik mengatakan bahwa 70% oarang sakit sebetulnya kondisi fisiknya tidak sakit, jadi lebih karena kondisi kejiwaannya yang sakit (psychomatic).

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS 2, Al-Baqarah: 28)

Al-Qur’an memberikan garansi bahwa: bagi mereka yang bertaqwa dan melakukan amal sholeh, maka akan terbebas dari ketakutan dan kesedihan.

Ayat ke 2 At-Takatsur diberikan di sini:

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
sampai kamu mengunjungi (masuk ke dalam) kubur.

Ayat ini ada yang menterjemahkan: sampai kamu mengunjungi kuburan, sedangkan beberapa tafsir menafsirkan: sampai kamu masuk liang kubur (mati). Tafsiran yang pertama lebih baik karena dengan demikian, manusia akan memiliki waktu untuk memperbaiki dirinya ketika dia mengunjungi kubur dan ingat akan kematian yang segera akan datang.

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

ta’lamun mempunyai kata dasar ‘ilma, ya’lamu dan ilman. (............. bersambung).


Tanggal: 28 Oktober
Ustadz: Drs. Tarmidzi Firdaus
Topik: Korupsi adalah musuh Islam

Seusai perang Uhud, Rasulullah tidak menemukan salah seorang sahabat yang bernama Said bin Rabid RA. Beliau kemudian memerintahkan beberapa sahabat lainnya untuk mencari Said bin Rabid ini untuk memastikan bila Said telah gugur, terluka parah atau sebab lain yang mengakibatkan ketidakhadirannya. Ternyata, akhirnya Said ditemukan dalam keadaan terluka akibat 12 tusukan pedang yang menyebabkan dirinya tidak dapat hadir bersama Rasulullah. Namun, kata-kata pertama yang ditanyakan oleh Said ketika ditemui adalah kekhawatirannya tentang nasib Rasulullah. Inilah gambaran betapa besarnya kecintaan para sahabat terhadap Rasul yang melebihi kecintaan pada dirinya sendiri, bahkan ketika dirinya dalam keadaan sekarat.

Suatu saat Rasulullah menolak ketika diminta untuk melaksanakan shalat jenazah atas seorang sahabat yang meninggal, meskipun Rasul tetap mendorong sahabat yang lain untuk tetap menyolatkannya. Tindakan Rasul ini dilakukan ternyata karena si sahabat pernah mengambil harta rampasan untuk dirinya sendiri sebelum resmi dibagikan, meskipun nilainya hanya sekitar 2 dirham. Kesimpulannya: korupsi betapapun kecilnya tidak dapat ditoleransi dalam Islam.

Seusai sebuah peperangan, Rasulullah diberi hadiah seorang budak berkulit hitam. Dalam peperangan berikutnya, si budak ini akhirnya juga terbunuh. Para sahabat mengira bahwa si budak ini akan dijamin segera masuk surga kelak karena telah mati sahid. Namun Rasul mengatakan si budak ini akan tertolak masuk surga karena dia telah mengambil sepasang tali terompah (sandal) untuk dirinya sendiri sebelum harta rampasan tersebut semuanya dilaporkan dan dibagikan secara resmi. Kesimpulannya: kita masih tetap harus bertanggung jawab atas semua hutang kita meskipun kita meninggal dalam jihad. Mati dalam jihad tidak serta merta menggugurkan hutang-hutang kita.

Ketika sedang berlangsung suatu pertempuran, seorang sahabat beristirahat sambil makan buah kurma. Kemudian dia mencampakkan buah kuram tersebut seraya berkata: “Bila aku tetap menghabiskan makan buah kurma ini sementara perang sednag berlangsung, niscaya aku termasuk orang yang serakah dan dholim.” Maka dia campakkan buah kurma tersebut dan mengangkat pedangnya untuk berperang.

Semua itu adalah pelajaran bagaimana kredo Islam dibangun semasa Rasulullah.

1 comments:

Tono Saksono said...

This is just a trial to check if any comment can get across. Once this really works, then anyone can give any comment and suggestion for the improvement of my blog in the future.

Thanking you.
TS