Saturday, November 24, 2007

Mengantisipasi Potensi Perbedaan Penentuan Idul Fitri 1428-H


Tono Saksono, Ph.D[1]
Pendahuluan
Isu tentang cara melihat hilal untuk penentuan awal bulan qomariah yang terkait dengan prosesi ibadah Islam telah sekitar lima puluh tahun menjadi kontroversi di Indonesia. Kontroversi ini terjadi, khususnya bila menyangkut persyaratan dan metodologinya yaitu dengan cara melihat secara langsung (rukyat) atau melalui perhitungan astronomis dan matematik (hisab). Di satu sisi, kontroversi ini telah menyebabkan terkurasnya energi umat Islam dengan segala macam pro dan kontranya akan suatu metoda yang dianggap paling sahih. Di sisi lain, kontroversi ini juga telah menyebabkan kebingungan di kalangan umat Islam saat harus menentukan harus memilih yang mana di antara pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Bagi umat Islam yang kebetulan menjadi anggota organisasi tertentu yang menjadi pendukung salah satu madzhab tentu saja tidak terlalu direpotkan karena biasanya mereka memiliki ikatan emosional dan kultural dengan organisasinya untuk selalu mendukung madzhab-nya. Namun demikian, untuk umat Islam yang tidak terkait dengan salah satu madzhab tentu saja pilihan tersebut menjadi hal yang sangat sulit.

Terjadi juga pada umat Islam Amerika
Kontroversi serupa rupanya mulai pula dialami oleh umat Islam di Amerika Utara. Pasalnya, the Islamic Society of North America (ISNA) pada 13-Agustus-2006 lalu memutuskan untuk mulai menggunakan metoda hisab untuk menentukan awal bulan Islam, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Keputusan ini diambil ISNA setelah selama beberapa puluh tahun juga mempraktekkan metoda rukyat yang akhirnya menyimpulkan bahwa umat Islam Amerika Utara perlu memiliki suatu sistem kalender Islam yang lebih pasti untuk menentukan hari-hari libur Muslim. Dengan kepastian yang baik, setidak-tidaknya setahun sebelumnya, ISNA akan memiliki perangkat hukum yang jelas untuk bernegosiasi dengan pemerintah Amerika maupun kalangan bisnisnya dalam hal memperoleh hak libur untuk melaksanakan prosesi ibadah Islam bagi pegawai dan karyawan Muslim di Amerika. Selama ini, cara-cara penentuan awal bulan Islam dengan metoda rukyat telah menyebabkan ISNA tidak pernah berhasil memperjuangkan hak libur dan beribadah umat Islam karena ketidakpastiannya yang sangat tinggi.

Keputusan ISNA ini tentu saja telah mengundang gelombang protes para ulama Islam dari seluruh dunia, meskipun sebetulnya keputusan ISNA ini dilakukan setelah selama sekitar 13 tahun melakukan riset yang dimulai ketika ISNA bergabung dengan Committee for Crescent Observation (CFCO) pada tahun 1994. Selama 13 tahun penelitian itu, ISNA telah melakukan pengamatan hilal (rukyat) di berbagai tempat di Amerika dan Kanada dengan menurunkan ratusan sukarelawan perukyat yang melakukan praktek rukyat setiap bulan selama 13 tahun.

Perbedaan adalah rakhmat
Banyak sumber yang menyebabkan perbedaan penentuan awal/akhir bulan Ramadhan dan awal bulan Dzulhijjah. Yang pertama tentu saja akibat kelakuan makhluk ciptaan Allah memang tidak sama. Kita dapat melihatnya sejak pada skala mikrsokopis sampai skala kosmos. Kalau kita mau memperhatikan lebih seksama ciptaan Allah, marilah kita lihat tubuh kita sebagai ciptaan Allah. Penduduk bumi ini diperkirakan berjumlah 6 miliar, namun tidak ada di antara penduduk bumi ini yang memiliki organ tubuh terkecil, misalnya alis matanya, yang persis sama. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa organ tubuh yang lainnya mungkin sama. Ternyata tidak, karena setiap individu manusia itu ternyata sangat unik. Artinya, setiap individu manusia memiliki alis mata yang berbeda, bentuk telinga, bibir, jari kaki maupun tangan, bahkan DNA sebagai pembawa sifat-sifat keturunannya juga unik. Perhatikan juga pohon mangga yang ada di halaman rumah kita. Pada pohon mangga yang cukup besar, jumlah daunnya dapat mencapai jutaan lembar dalam satu pohon. Namun coba perhatikan, tidak ada dari jutaan daun mangga tersebut yang persis sama. Kalau kita himpun semua pohon mangga di permukaan bumi ini, maka akan ada miliaran triliun jumlah daunnya yang ternyata semuanya juga tidak sama. Setiap daun mangga ternyata juga unik. Keunikan ini terjadi pula untuk semua makhluk Allah. Kalau kita menarik analogi ini ke skala kosmos, maka miliaran triliun benda langit penghuni ratusan miliar galaxi di langit sanapun semuana juga berbeda antara satu dengan lainnya, baik ukuran maupun sifatnya. Yang lebih menakjubkan lagi, meskipun setiap individu makhluk Allah itu berbeda, namun masing-masing ternyata tetap memiliki dan mempertahankan kesempurnaan sendiri.

Jadi perbedaan pada hakikatnya adalah rakhmat Allah SWT termasuk perbedaan dalam menafsirkan ayat suci Al-Qur’an maupun Hadis Rasulullah. Bila kita perhatikan ternyata ayat Al-Qur’an maupun Hadis yang digunakan oleh pengikut dua madzhab rukyat dan hisab juga sebetulnya sama, namun telah diinterpretasikan secara berbeda. Yang harus selalu disadari, umat Islam ternyata memiliki pedoman yang sangat kokoh. Bila terjadi perbedaan, maka segala sesuatunya harus dikembalikan pada pedoman utamanya yaitu Al-Qur’an dan Hadis seperti firman Allah berikut: ”Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS 4, An-Nisa: 59)”.

Apakah hilal itu?
Ahli linguistik Arab, Raghib al-Isbahani menjelaskan: Bulan sabit (hilal) berarti Bulan yang khusus kelihatan pada hari pertama dan kedua dalam sebuah bulan, setelah itu, maka dinamakan “Bulan” (qamar) saja. Ahli bahasa lainnya, Ibnu Manzur, mangatakan hilal dapat pula berasal dari teriakan gembira karena melihat atau mengalami sesuatu, misalnya tangisan bayi ketika baru lahir (ihlal al-saby), atau teriakan gembira: bulan sabit telah muncul! (ahalla al-hilal!). Dari penjelasan ini jelaslah bahwa secara linguistik ada proses melihat secara visual dalam kaitan dengan bulan sabit (hilal) di atas. Selain itu ada sebuah nuansa fisik yang karena melihatnya, maka tercetuslah sebuah kegembiraan sebagai interpretasi yang dapat diterima untuk kata ahalla/yuhillu. Bahkan ada dugaan bahwa kata hallelujah dalam bahasa Ibrani yang berarti memuji Tuhan berasal dari kata yang sama dengan bahasa Arab halla yang berarti: muncul, mulai bersinar, menyanyi, bergembira, atau menyembah Tuhan.

Rukyatul bil ’ilm dalam Al-Qur’an
Salah satu hadis yang menggambarkan dimulai dan diakhirinya berpuasa dikutip sebagai berikut: Dari Ibnu Umar. Ia berkata: Saya dengar Rasulullah SAW bersabda: ”Apabila kamu lihat dia (dia, maksudnya hilal) maka bershaumlah; dan apabila kamu lihat dia, maka berbukalah; tetapi jika dimendungkan atas kamu, qadarkanlah baginya”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no.1900 dan Muslim no. 2501).

Penggal kalimat melihat dia pada hadis di atas diterjemahkan dari kata roaytumuhu. Pada hadis lain ada juga kata tarawul hilalu (diterjemahkan: melihat hilal). Kedua kata penting tersebut berasal dari kata dasar ro-a yang dapat berubah sesuai dengan konteksnya menjadi ar-rokyun. Secara bahasa ar-rokyun sebetulnya dapat berarti melihat secara visual, namun dapat juga berarti melihat bukan dengan cara visual seperti: melihat dengan: logika, pengetahuan, dan kognitif. Kata ro-a bila digabungkan dengan orang kedua sebagai subyeknya maka kata ini berubah menjadi taro (kamu melihat atau kamu memperhatikan). Bila dihubungkan dengan orang pertama jamak sebagai subyeknya, kata ini berubah menjadi naro (kami melihat atau kami memperhatikan, sementara kalau dihubungkan dengan subyek orang ke tiga maka kata ini berubah menjadi yaro (dia melihat atau dia memperhatikan).

Di dalam Al-Qur’an, kata
ro-a dan segala macam perubahan sesuai dengan konteksnya seperti dijelaskan di atas ternyata muncul sebanyak 187 kali, 146 kali (78%) di antaranya bermakna melihat secara kognitif (rukyatul bil ilmi) dan hanya 41 kali (22%) yang bermakna melihat secara visual (rukyatul bil fi’li). Bila ditinjau dari jumlah surat yang memuat ayat-ayat di atas, maka seluruhnya termuat dalam 90 surat. Yang bermakna rukyatul bil ilmi termuat dalam 61 surat (68%), sedangkan yang bermakna rukyatul bil fi’li terdapat dalam 29 surat (32%). Dari proporsi statistik ini saja, kita dapat memperoleh isyarat yang sangat jelas bahwa kata rukyat dalam hadis yang banyak dikutip oleh para ulama Islam, sebetulnya adalah isyarat Allah agar manusia lebih banyak berfikir dan menggunakan pengetahuan dan kemampuan intelektualnya dari hanya sekadar melihat secara visual. Dengan demikian, kata faqdurulahu yang sering diterjemahkan dengan hitunglah memang betul berarti hitunglah seperti yang diterjemahkan pada kitab Bulughul Maram, dan ini berarti memperkuat isyarat Allah agar manusia lebih banyak menggunakan olah pikirnya daripada olah pirsanya. Demikian pula terjemahan kata faqdurulahu pada hadis yang dikutip dari kitab Fathul Baari yang diterjemahkan dengan tetapkanlah (bilangan Sya’ban) untuknya juga jelas berarti hitunglah karena hanya tafsiran inilah yang sangat sesuai dengan spirit begitu dominannya indikasi Allah agar manusia lebih banyak menggunakan kemampuan intelektualnya daripada hanya mengandalkan kemampuan visualnya.

Bila kita perhatikan, proses melihat dimulai dengan sebuah sumber sinar (matahari atau lampu) yang jatuh pada sebuah benda yang kemudian dipantulkan oleh benda tersebut masuk dalam lensa mata kita. Proses melihatnya sendiri terjadi melalui sebuah proses yang bertahap. Sekumpulan sinar yang berupa photons berjalan dari obyek dan masuk ke mata melalui lensa yang terletak di bagian depan mata kita. Berkas sinar yang masuk tersebut kemudian dikumpulkan dan membentuk gambar (citra) dalam ukuran yang lebih kecil dan terletak terbalik pada retina mata. Kumpulan cahaya tersebut kemudian dikirim ke otak dalam bentuk sinyal listrik melalui simpul syaraf (neurons) yang terus dialirkan ke sebuah titik kecil yang dinamakan center of vision di bagian belakang otak. Jadi, proses melihat sebetulnya terjadi pada titik kecil center of vision ini yang terletak di bagian belakang otak yang sangat gelap karena betul-betul kedap terhadap sinar sama sekali. Warna-warninya bunga dan keindahan panorama duniawi yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari sebetulnya hanya merupakan sinyal-sinyal listrik yang sampai ke dalam otak kita. Selanjutnya otak manusia juga melakukan proses yang tidak kalah pentingnya yaitu proses mental atau psikis. Dalam proses ini otak manusia melakukan interpretasi benda (bentuk, posisi, orientasi, ukuran, warna, tekstur, dan rona) benda yang dilihatnya, dan kemudian membandingkannya dengan segudang memori (secara kuantitas jumlahnya tak terhitung) yang telah direkam di dalam otaknya selama proses hidup manusia tersebut. Proses interpretasi ini merupakan proses mental atau psikis yang merupakan proses kognitif (yaitu proses pemahaman dengan membandingkan atau matching apa yang tergambar dalam center of vision dengan apa yang telah direkam dalam memori). Jadi sejatinya, yang terpenting dalam proses melihat adalah proses berfikirnya.

Potensi perbedaan Idul Fitri 1428
Dengan perhitungan astronomi dan matematik hampir semua kelakuan benda langit sebetulnya telah dapat dihitung dengan akurasi yang sangat tinggi. Dalam ilmu navigasi secara astronomis misalnya, pada tahun 1980-an, manusia telah mampu menentukan posisi di muka bumi dengan hasil ketelitian sampai dengan 3 cm. Cara-cara navigasi moderen melalui satelit Global Positioning System bahkan telah mampu menghitung ini sampai ketelitian sub-milimeter (fraksi milimeter), bila diinginkan. Dengan prinsip-prinsip perhitungan itulah para ahli astronomi telah mampu menghitung terjadinya gerhana (bulan maupun matahari) yang akan terjadi seratus tahun yang akan datang dengan sangat teliti sampai dengan menit dan detiknya kapan akan terjadi, lama terjadinya gerhana, bahkan sampai ukuran umbra-nya.

Para ulama penganut madzhab rukyat sering mempersyaratkan bahwa ketinggian hilal saat dirukyat tidak boleh lebih rendah dari angka tertentu. Ada juga syarat bahwa jarak matahari dan hilal tidak boleh kurang dari besaran tertentu. Keduanya dipersyaratkan agar sinar matahari yang telah tenggelam tidak menyilaukan ketika kita melakukan rukyat.. Departemen Agama RI, menentukan bahwa ketinggian hilal harus lebih besar dari empat derajat saat matahari tenggelam. Bila ketinggian ini kurang dari angka minimum di atas, maka para ulama lebih mengisyaratkan agar umat Islam melakukan isti’mal yaitu menggenapkan puasanya menjadi 30 hari. Anehnya, bila kita melakukan perhitungan astronomis kembali sekitar 1.400 tahun lalu untuk mengkaji Ramadhan di jaman Rasulullah Muhammad, beberapa fakta berikut terungkap: 1) Rasulullah melakukan ibadah puasa hanya sembilan tahun diawalai pada tahun 2H (624M) sampai dengan tahun 10H (631M); 2) Ada enam kali Ramadhan yang berumur 29 hari dan hanya tiga kali yang berumur 30 hari. Dalam beberapa riwayat hadis memang disebutkan bahwa di jaman itu, Rasulullah hanya melaksanakan 2-3 kali saja berpuasa selama 30 hari, selebihnya hanya 29 hari. Jadi ternyata ada kesesuaian antara riwayat hadis dan perhitungan astronomis; 3) Di antara sembilan kali Ramadhan tersebut, ada enam kali di mana ketinggian hilal berada jauh di bawah angka minimum 4 derajat seperti ketentuan Departemen Agama RI. Bahkan, empat kali di antaranya adalah saat Ramadhan hanya berumur 29 hari. Beberapa kali bahkan ketinggian hilal pada saat itu ternyata sangat rendah sekitar 1,7 – 2,7 derajat. Ini menunjukkan fakta bahwa Rasulullah dan para sahabat saat itu jauh lebih serius saat melakukan rukyat dan tidak terlalu mudah memberlakukan isti’mal.

Untuk Ramadhan 1428H yang akan datang, akhir bulan Sya’ban insya Allah akan terjadi bertepatan dengan saat maghrib 12 September 2007. Saat itu, ketinggian hilal akan sekitar 8,5 derajat, jauh lebih tinggi dari ketentuan Departemen Agama. Selain itu, hilal akan tenggelam sekitar 34 menit dan 42 detik kemudian setelah matahari tenggelam. Dengan demikian, insya Allah tidak akan terjadi perbedaan penentuan awal bulan Ramadhan yang akan jatuh pada 13 September 2007. Namun, akhir Ramadhan 1428H akan terjadi pada 11 Oktober 2007 di mana ketinggian hilal akan hanya sekitar 0,6 derajat, sedangkan hilal akan tenggelam hanya 2 menit dan 35 detik kemudian setelah matahari tenggelam. Dengan fakta hitungan astronomis seperti ini, sangat besar kemungkinan akan terjadi perbedaan beribadah Idul Fitri 1428H bagi umat Islam. Sangat besar kemungkinan penganut madzhab rukyat akan melakukan isti’mal sehingga tanggal 12 Oktober 2007 masih diwajibkan berpuasa sebagai hari ke 30, sementara penganut madzhab hisab akan ber-Idul Fitri pada 12 Oktober 2007nya. Perhitungan astronomis untuk akhir bulan Dzulqaidah akan terjadi pada 10 Desember 2007 dengan ketinggian hilal sekitar 7,5 derajat (hilal akan tenggelam 34 menit dan 2 detik kemudian setelah matahari tenggelam) sehingga insya Allah tidak akan terjadi perbedaan penentuan waktu ibadah Idul Adha 1428H. Wallahu alam.
[1] Penulis buku Mengkompromikan Rukyat dan Hisab, dan beberapa buku kajian Islam dan teknologi, Ketua Center for Islamic Studies (CIS), di Jakarta.

0 comments: